Sang Musafir

Sang Musafir
Toko Obat Wira


__ADS_3

SEBAB JIKA benar ada pendekar lain di sini, sudah pasti mereka melihat pergerakan Mantingan yang melenting-lenting di atas atap itu. Lalu mereka akan menelusuri siapa yang sedang Mantingan ikuti, dan saat itulah Bidadari Sungai Utara berada dalam bahaya.


Dengan Mantingan menyamar sebagai orang lain, bukan saja ia bersembunyi dari Bidadari Sungai Utara melainkan juga dari pendekar-pendekar lain.


Namun jika penyamarannya terungkap, maka habislah ia dan Bidadari Sungai Utara cepat atau lambat.


Mantingan selalu bersembunyi di balik tembok bangunan saat Bidadari Sungai Utara berjalan. Ia tidak pernah langsung menampakkan diri di tengah jalan, melainkan bergerak dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Jika seperti itu, kemungkinan Bidadari Sungai Utara menyadari kehadirannya adalah kecil.


Dikarenakan pasar sudah sepi pengunjung, maka tidak banyak yang menaruh curiga pada Mantingan. Mereka-mereka yang menaruh curiga pun hanya takut jika Mantingan mencuri barang di toko, namun kecurigaan mereka tidak bertahan lama karena melihat Mantingan terus bergerak.


Jauh di depannya, Bidadari Sungai Utara terlihat masuk ke dalam toko ramuan.


Mantingan mengernyitkan dahi. Untuk apa Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam toko obat-obatan? Apakah dia memiliki luka yang belum sembuh? Mantingan merasa tidak yakin, ia telah mengikuti dan mengawasi Bidadari Sungai Utara sepanjang waktu—kecuali untuk saat-saat tertentu, tetapi ia tidak melihat gadis itu menunjukkan gejala sakit. Sedikitpun tidak. Itulah yang membuat Mantingan merasa perlu lebih dekat dengan Bidadari Sungai Utara.


Mantingan menyusun rencana dalam waktu yang singkat, lalu berjalan cepat menuju toko obat itu. Setelah sampai di depan toko, Mantingan melihat papan besar yang bertuliskan “Toko Obat Wira” yang merupakan nama toko obat tersebut. Setelah memastikan tidak ada Lontar Penjebak di sekitarnya, Mantingan melangkah masuk ke dalam toko.


Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia melihat Bidadari Sungai Utara menatapnya dengan curiga, namun Mantingan berpura-pura untuk tidak menghiraukannya dan kembali melangkahkan kaki menuju meja pengobatan.


Sekitar empat langkah di samping kanannya adalah Bidadari Sungai Utara.


“Selamat datang, Saudara. Mohon tunggu sebentar, sahaya akan berbicara pada Saudari ini sejenak.” Wanita paruh baya tersenyum hangat dan berkata sopan pada Mantingan.


Mantingan mengangguk dan mengulurkan tangannya ke samping, mempersilakan.


“Jadi, Saudari, kalau saja telingaku tadi tidak salah dengar, engkau berkata telah memahami banyak tentang ilmu pengobatan?”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara berdeham beberapa kali sebelum berkata, “Tidak terlalu banyak sebenarnya, Ibu. Tetapi, ilmu pengobatan yang daku kuasai ini berasal dari dataran utara ....”


Mantingan mengangguk di dalam benaknya, mulai memahami apa yang sedang terjadi.


“Dataran utara? Kalau aku tidak salah menebak, yang dikau maksudkan ialah Negeri Atap Langit?”


Bidadari Sungai Utara mengangguk. “Benar, Ibu.”


“Wah, orang seperti dikau jarang ada di sini. Sebenarnyalah toko daku ini sebenarnya tidak terlalu besar dan tidak sedang membutuhkan orang baru. Tapi menerima dikau tidak masalah.”


Mata Bidadari Sungai Utara memancarkan sinar penuh suka-cita. Jarang sekali Mantingan melihat matanya seperti ini, langsung merasa telah gagal membahagiakan gadis itu.


“Tapi kalau boleh aku tahu ....” Setelah perempuan parobaya mengatakan itu, sinar mata Bidadari Sungai Utara seakan direngut seluruhnya. Melihat itu, pemilik Toko Obat Wira segera melanjutkan, “apa yang membuat dikau ingin bekerja di tempat ini?”


Bidadari Sungai Utara segera menjawab, “Aku ingin meneruskan perjalanan dan kembali ke Kekaisaran Jin setelah angin muson barat berakhir, tentu itu membutuhkan uang yang tidak sedikit Ibu.”


Sinar wajah Bidadari Sungai Utara yang baru tumbuh kini redup kembali, harap-harap cemas mendengar pertanyaan penjual obat itu.


“Daku memiliki nama Wiranti, sebut saja begitu. Yang ingin aku tanyakan adalah nama dikau. Siapakah?”


Jantung Bidadari Sungai Utara berdegup cepat sampai-sampai Mantingan dapat dengan jelas mendengarnya.


“Apakah bisa aku tidak menyebutkan namaku?”


“Saudari, banyak pendekar aliran hitam yang berkeliaran dan menipu orang tua sepertiku ini, aku tidak bisa tidak menaruh curiga pada diri engkau. Maafkanlah, tetapi dikau harus menyebut namamu atau keluarlah dari sini.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara menunduk sejenak dan menegup ludah. Mantingan berharap gadis itu tidak menyebut namanya, bahkan ia telah bersiaga untuk menotok jalan darah Bidadari Sungai Utara jika dia terlihat ragu untuk waktu yang lama.


“Namaku Sasmita, Ibu.”


Mantingan terlambat melancarkan totokannya walau ia sudah menggerakkan tangan. Bidadari Sungai Utara dan Wiranti menatap Mantingan dengan curiga. Mantingan segera bertindak seolah membenarkan lengan baju panjangnya yang kusut.


Ada sesuatu yang Mantingan bingungkan. Apakah nama Sasmita adalah nama asli Bidadari Sungai Utara atau hanya nama samaran yang dibuat-buatnya?


“Saudari Sasmita, engkau diterima di sini. Jadi kapankah dikau bisa mulai bekerja?”


Sasmita atau Bidadari Sungai Utara cepat menjawab, “Kalau bisa, mulai hari ini saja, Ibu."


“Bisa, bisa.” Wiranti menganggukkan kepalanya. “Apakah dikau punya tempat tinggal di sini?”


Kali ini dibutuhkan waktu yang lumayan lama bagi Bidadari Sungai Utara untuk menjawab, “Daku tidak memiliki tempat tinggal selain tempat tinggalku di Negeri Atap Langit.”


Raut wajah Wiranti berubah. “Bagaimana bisa? Dikau datang dari Negeri Atap Langit ke sini hanya untuk mencari pekerjaan?”


Bidadari Sungai Utara lekas menggeleng. “Tidak, Ibu Wiranti. Sebenarnya dulu daku memiliki teman seperjalanan yang dengan kehadirannya saja bisa membuatku merasa berada di dalam sebuah rumah nyaman. Namun dia memutuskan untuk meninggalkanku demi kekasihnya yang semu.”


Mantingan batuk keras beberapa kali setelah ia tersedak ludahnya sendiri. Wiranti dan Bidadari Sungai Utara kembali memandanginya heran. Beruntung dari yang terlihat, Bidadari Sungai Utara tidak mengenali suara batuk Mantingan. Padahal, suara batuk itu tidak dibuat-buat, merupakan suaranya yang sejati.


Segera Mantingan mengambil sikap. “Ibu Wira, kapankah daku yang sakit parah ini mendapat pengobatan. Sesungguhnya suatu racun ganas telah menyebar ke seluruh tubuhku, jika tidak segera diobati, daku khawatir tidak memiliki umur panjang.”


Suara yang Mantingan keluarkan saat itu adalah suara yang berbeda jauh dari suara aslinya. Bidadari Sungai Utara tidak menatap Mantingan seolah ia mengenal dirinya, maka siasat Mantingan dapat dianggap berhasil.

__ADS_1


Wiranti beralih pada Mantingan. “Maafkan daku yang sepertinya telah kelewat lama menganggurkan calon pelanggan. Kalau diriku tidak salah dengar, tadi Saudara berkata suatu racun ganas tmenyebar ke seluruh tubuh Saudara?”


__ADS_2