Sang Musafir

Sang Musafir
Jika Kalian Sudah Mengetahui Rahasiaku, Aku Juga Harus Mengetahui Rahasia Kalian


__ADS_3

LIMA gulungan besar kayu bakar datang tak lama kemudian. Kayu-kayu itu berasal dari sisa puing yang tidak bisa diselamatkan lagi. Tiga orang yang membawa kayu bakar tampak kelelahan, sedangkan teman-teman mereka yang menunggu tampak sangat segar seolah baru saja mandi.


“Terima kasih, kalian bisa bebas beristirahat, tidak perlu menjagaku, aku tidak akan ke mana-mana.” Mantingan tersenyum lembut sebelum berjalan mendekati tungku besar.


Prajurit-prajurit yang mengawasi Mantingan sebagian duduk di pinggiran halaman, sebagian lainnya mengambil rehat di dalam rumah.


Mantingan meletakkan satu ikatan kayu bakar ke dalam tungku pembakaran, sedangkan panci besar berisi air di atasnya. Dikarenakan tidak ada batu api, Mantingan memakai tenaga dalamnya untuk menciptakan api, kali ini ia tidak kesulitan lagi sebab kualitas tenaga dalamnya terus meningkat seiring berjalannya waktu.


Api besar tercipta, berkobar membakar tungku. Prajurit-prajurit melihat Mantingan dengan tatapan takjub, kini mereka menyadari bahwa sebenarnya Mantingan dapat mengalahkan mereka dengan mudah seandainya dia mau.


Mereka juga menyadari bahwa Mantingan adalah orang baik dan benar-benar berniat membantu tanpa maksud tertentu.


Kewaspadaan mereka mulai menurun terhadap Mantingan, bahkan kini mereka mulai berpikir untuk melindungi bukan mengawasi Mantingan.


Secercah harapan muncul sehangat mentari yang berkobar di dalam tungku.


Mantingan masuk ke dalam rumah untuk mengambil lontar, kali ini tidak ada yang mengikutinya. Mantingan mengambil setidaknya lima ratu lontar sekaligus dalam satu ikatan, ia membawanya kembali ke tungku pembakaran.


Sesampainya di sana, Mantingan menuang lontar-lontar tersebut pada air dalam panci yang belum terlalu mendidih. Setelah itu, Mantingan duduk bersila di atas rumput halaman sambil mengeluarkan sekantung penuh rempah-rempah.


“Apakah kalian bisa menolongku?” Mantingan berkata pada prajurit-prajurit di pinggir halaman.


Mereka semua mengangguk.


“Kalau begitu, tolong cari dan bawakan alat penumbuk.”


Salah satu dari mereka lekas berdiri tanpa terpaksa, dengan cepat berjalan ke dalam rumah.


Sembari menunggu prajurit itu datang membawakan sebuah penumbuk, Mantingan membuka kantung dan memeriksa rempah-rempah. Kemudian ia mengangguk puas saat melihat kualitas rempah-rempah yang didapatkannya layak untuk pembuatan Lontar Sihir.


Setelah ulekan datang padanya, Mantingan mulai mencampur rempah-rempah secara berurutan. Gerakannya tangkas dan tanpa keraguan, seolah-olah sudah terbiasa membuat Lontar Sihir sebelumnya. Sama seperti penulisan aksara pada Lontar Sihir, peleburan rempah-rempah juga tidak boleh dilakukan terlalu cepat dan terburu-buru.

__ADS_1


Ini adalah pelajaran yang berharga bagi prajurit yang menjaga Mantingan. Mereka sering bertemu dengan pendekar ahli sihir, tetapi pendekar-pendekar itu selalu bersembunyi saat membuat mantera atau ramuan agar ilmunya tidak bocor. Tetapi Mantingan tanpa khawatir dan tanpa keberatan menunjukkan tata-caranya dengan jelas.


Setelah semua rempah-rempah hancurkan menjadi halus, Mantingan menuangnya ke dalam panci. Air setengah mendidih saat itu. Mantingan mengambil bambu panjang di tepi halaman dan digunakannya untuk mengaduk-aduk isi panci.


“Tinggal tunggu saja penyulingan ini selesai.” Mantingan menepuk-nepuk tangannya. “Ah, rasa-rasa aku butuh tidur. Pembuatan mantera sihir memang selalu melelahkan.” Mantingan lalu menoleh kepada para prajurit. “Apakah kalian ingin tidur bersamaku juga?”


“Kami tidak akan mengganggu Saudara lagi. Sudah begitu banyak yang Saudara lalukan untuk kami, silakan istirahat dengan tenang.”


Mantingan tersenyum lebar. “Terima kasih, ini belum apa-apa.”


***


Mantingan hanya tidur sebentar. Atau lebih tepatnya, pemuda itu ha,pir tidak tidur. Ia sekadar memejamkan mata, hanya tubuhnya saja yang beristirahat. Mantingan melakukan latihan pernapasan, agar ilmu paling penting dari Kiai Guru Kedai ini tidak dilupakan seiring dengan berjalannya waktu.


Mantingan membuka matanya karena merasa penyulingan lontar sudah bisa dianggap selesai. Ia keluar dari ruangan, menemukan prajurit-prajurit yang menjaganya tidur di lantai kayu tanpa alas apa pun. Mereka adalah prajurit, sekumpulan orang-orang yang dilatih untuk tidur di mana dan kapan saja.


Dalam menjaga kota, mereka pasti tidak bisa banyak mengambil waktu istirahat. Adalah hal wajar jika mereka mengambil kesempatan tidur selagi bisa. Dalam peperangan, kurang tidur bisa saja menjadi sumber maut.


Mantingan berjalan meninggalkan mereka. Ia juga cukup senang karena prajurit-prajurit itu telah menunjukkan rasa kepercayaan mereka pada dirinya.


Mantingan mengambil jaring besar yang disediakan di dekat tungku, lalu mencelupkan jaring itu untuk menyerok lontar-lontar di dalamnya. Kondisi lontar masih terikat sehingga Mantingan tidak mengalami kesulitan berarti saat mengangkatnya.


Mantingan meniriskan air sambil mematikan api. Seikat berisi lima ratus lontar itu dibawa ke dalam ruangannya untuk mulai menuliskan aksara mantera.


***


Hingga malam hari Mantingan hanya mendekam di dalam ruangannya. Tidak ada satupun prajurit yang mengusiknya, tetapi perdebatan terjadi di antara prajurit-prajurit itu. Perdebatan dimulai saat salah satu prajurit mencetus bahwa sebenarnya Mantingan tengah melakukan ritual sesat di dalam ruangannya. Karena itu adalah ritual yang sesat, Mantingan tidak mengapa menunjukkan ilmunya di depan mereka.


Sebagian kecil prajurit percaya, sebagian besar lainnya membantah itu habis-habisan. Tetapi kecemasan semakin besar adanya ketika malam telah menjemput dan Mantingan belum juga keluar dari ruangannya.


Masih belum ada yang berani mengganggu Mantingan, tetapi mereka juga sudah mempersiapkan rencana jika kemungkinan terburuknya terjadi; mendobrak pintu dan membunuh Mantingan di tempat meski nyawa bertaruh.

__ADS_1


Rasa gusar yang tak tertahan lagi membuat mereka memutuskan mereka melaksanakan rencana. Masing-masing menarik pedang dari sarungnya, saling menatap satu sama lain untuk meyakinkan satu sama lain pula.


Orang pertama maju perlahan sampai di depan pintu, ia bersiap-siap mendobrak pintu ruangan dengan punggungnya.


"Dalam hitunganku," katanya, “Satu ... dua ... tiga!”


Pintu terbuka. Tanpa didobrak. Mantingan yang membuka pintu itu. Ia mengernyitkan dahinya heran melihat mereka menghunuskan pedang di depan ruangannya.


“Apakah semuanya baik-baik saja?”


Para prajurit segera menurunkan dan kemudian menyarungkan pedangnya, tersenyum canggung, tidak satupun dari mereka berani menjawab pertanyaan Mantingan.


Mantingan berpikir sebentar sebelum akhirnya menyadari apa yang salah. Ia menunjukkan senyum kejam pada prajurit-prajurit di depannya.


“Jadi kalian sudah mengetahui rahasiaku, ya?” Mantingan tertawa dingin.


Mereka memberi tanggapan yang seragam: meraih gagang pedangnya dan menegup ludah.


“Kalau begitu, siap-siaplah untuk mati ....”


Baru sesaat Mantingan berkata seperti itu, seluruh kediaman tiba-tiba saja menjadi gelap gulita. Lentera-lentera padam serentak.


“IBU! AKU MATI, IBU!”


“Ratna!!! Abang belum sempat menyatakan cinta!”


“Aku mati! Aku mati!!!”


“Ampuni hamba, Gusti! Kirimlah hamba ke surga!”


“Kembalikan hidupku! Aku tak mau mati!”

__ADS_1


Kembali seluruh lentera di kediaman menyala. Terlihat tampang-tampang prajurit gagah berani yang sekarang terlihat seperti anak kecil dihukum ibunya. Mereka terbelenggu beberapa saat sebelum menyadari apa yang telah terjadi.


“Jika kalian sudah mengetahui rahasiaku, maka aku juga harus mengetahui rahasia kalian.” Mantingan tertawa sebelum berjalan melewati mereka. “Sampaikan pada Ratna sebelum perang dimulai, banyak prajurit yang lebih gagah dan tidak cengeng sepertimu, dia bisa saja kau telat mendapatkannya.”


__ADS_2