
SEBELUM HARI menjadi tanah. Mantingan dan Kana bangun lebih dini untuk memastikan penyebaran bubuk diselesaikan sebelum tengah hari. Pada siang hari nanti, Mantingan harus pergi ke Toko Obat Wira untuk melaporkan keadaan tubuhnya setelah meminum Ramuan Maman.
Mantingan dan Kana bekerja cukup keras. Bermodalkan cahaya obor, mereka mengangkut berkarung-karung pupuk dari gudang penyimpanan menuju tengah kebun. Mantingan berkata pada Kana untuk tidak mengeluh, karena mengangkat karung pupuk dapat diartikan sebagai latihan keterampilan pedang.
Saat hari memasuki terang tanah, Bidadari Sungai Utara dan Kina keluar dari rumah untuk melihat apa yang dilakukan Mantingan serta Kana. Namun pada akhirnya, keduanya turut membantu pekerjaan mereka. Tidak bisa duduk berpangku tangan. Diam menonton saja. Tetap ada perasaan tidak enak.
Bidadari Sungai Utara tanpa ragu berurusan dengan pupuk kandang, bahkan Kina menganggapnya sebagai mainan yang menarik. Sikap mereka itu membuat Kana tidak mau bermalas-malasan.
Dan tentu saja, di antara mereka semua, hanya Mantingan yang bekerja paling keras. Mantingan seolah tidak kehilangan semangatnya meskipun ia tahu ada racun berbahaya bersemayam dalam tubuh. Justru melakukannya dengan semangat besar, agar nanti ketika ajalnya menjemput, tidak ada lagi penyesalan.
Benar saja, pekerjaan itu selesai dengan cepat, bahkan sebelum tengah hari tiba. Mereka semua sempat untuk mandi dan makan siang sebelum nantinya pergi ke Toko Obat Wira.
Hari itu, mereka melakukan segala sesuatu pekerjaan dengan seia-sekata. Semuanya dikerjakan bersama-sama tanpa keributan tercipta. Rukun dan damai rasanya. Bahkan saat memasak pun, mereka melakukannya bersama-sama. Biasanyalah hanya Bidadari Sungai Utara yang memasak, tetapi hari ini tidak begitu.
“Aduhai, janganlah dituangkan sebelum airnya mendidih. Hai, Kana, jangan tiup kayu bakarnya terlalu kuat atau apinya malah akan mati. Saudara Man, jangan taburkan garam terlalu dini, taburkanlah ketika masakan sudah hampir matang.”
Bidadari Sungai Utara banyak menegur. Bahkan Mantingan sendiri tidak sungkan mengakuinya. Hanya Kina saja yang tidak ditegur, tentu saja jika anak itu selalu bertanya sebelum memulai sesuatu.
Semua masakan baru selesai saat matahari sedikit lengser ke barat. Dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan. Begitu pula dengan rasa makanan yang tidak seenak biasanya. Namun begitulah kebersamaan, hampir tak bisa dibayar harganya.
Setelah selesai makan siang, mereka semua lekas pergi menuju Toko Obat Wira.
***
__ADS_1
“Ini kabar bagus, Anak Man. Ramuan Maman yang kemarin engkau minum memiliki imbas yang sangat baik.”
SUDAH BARANG tentu Mantingan merasa senang. Namun ia merasa perlu mengetahui apa saja imbas baik yang ia dapatkan.
“Apakah saja itu, Ibu Wira?”
Dengan senang hati, Wiranti menjelaskannya untuk Mantingan, “Imbas buruk Racun Tidak Bernama masih bisa ditahan selama engkau meminum ramuan itu. Tak hanya itu, keberhasilan Ramuan Maman ini semakin memperbesar kemungkinan ditemukannya penawar Racun Tidak Bernama. Bergembiralah, Mantingan!”
“Terima kasih, Ibu. Ini semua berkat jerih payahmu.” Mantingan menghaturkan hormat dan tersenyum sangat tulus.
“Ah, mana ada. Daku hanya membantu urusan ringan saja, sedangkan hampir semua urusan dikerjakan Sasmita. Andai engkau mau ke sini di tengah malam menjelang pagi, Anak Man, dikau akan melihat Sasmita berkutat di meja kerjanya untuk menyempurnakan Ramuan Maman.”
Bidadari Sungai Utara di sebelahnya berdeham. “Ibu Wira, bukankah kita sudah berjanji sebelumnya?”
Sekali lagi Mantingan menghaturkan hormat, kali ini ditunjukkan kepada Bidadari Sungai Utara. “Terima kasih, Saudari, daku tidak tahu bahwa dirimu bekerja sampai larut malam hanya demi ini.”
“Saudara adalah pelanggan yang harus kuperhatikan, diriku tidak berhak menerima ucapan terima kasih darimu.”
“Saudari benar. Mungkin memang diriku tidak pandai berucap dengan kata-kata, tetapi setidaknya terimalah ini sebagai tanda terima kasih.”
Mantingan mengeluarkan sebuah kantung besar. Saat kantung itu diletakkan di atas meja, meskipun pelan, tetaplah terdengar suara gemerincing. Segeralah Bidadari Sungai Utara dan Wiranti tahu apa isi kantung besar itu.
“Anak Man, sepertinya ini terlalu banyak. Berapakah isi di dalamnya?”
__ADS_1
“Tiga ratus keping emas, Ibu Wira. Sesungguhnyalah ini tidak terlalu banyak. Bahkan terkesan tidak menghargai jerih payah kalian berdua.”
“Tiga ratus keping emas? Anak Man jangan bercanda. Jujur saja, daku hanya memerlukan dua keping emas untuk membuat sebumbung Ramuan Maman. Apa yang kauberikan ini jauh-jauh melebihi yang diperlukan.”
“Tetapi untuk menemukan paduan pas untuk Ramuan Maman, diperlukan banyak tenaga dan pengorbanan kalian berdua, yang bahkan tiga ratus keping emas saja tidak cukup untuk membayarnya tuntas. Mohon terimalah, Ibu Wira, aku akan merasa bersalah jika Ibu tidak menerimanya.”
“Daku akan lebih merasa bersalah jika menerimanya darimu. Kutahu bahwa dirimu tidak memiliki banyak uang, dan mungkin 300 keping emas ini adalah semua uang yang engkau miliki. Aku tidak bisa mengambilnya, Anak Man. Biarlah kuterima lima puluh keping emas saja, itu setara dengan penghasilan bersih toko ini selama satu bulan.”
Mantingan menepis pernyataan itu. “Daku memiliki banyak uang, Ibu. Percayalah.”
“Apalah Anak Man ini, tidak baik membohongi wanita tua sepertiku ....”
Bidadari Sungai Utara memilih memotong percakapan sebelum terlanjur semakin panjang. “Ibu, apa yang dikatakan Saudara Mantingan ini memang benar. Dia memiliki banyak uang.”
“Seberapakah banyaknya, wahai Sasmita?”
Bidadari Sungai Utara menarik napas sejenak. “Untuk saat ini aku tidak mengetahui pastinya. Namun satu yang pasti, uang Saudara Man cukup banyak.”
Mantingan berdeham beberapa kali sebelum angkat suara. “Ibu Wira, saat ini aku memiliki setidaknya lima belas Batu. Dengan kata lain, diriku memiliki 15.000 keping emas.”
Sebenarnya, Mantingan tidak enak hati harus mengemukakan taksiran jumlah uang yang ia miliki saat ini. Namun jika itu berhasil meyakinkan Wiranti, Mantingan tidak mengapa. Bahkan kini karena tidak enak hati, Mantingan kembali mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi seratus keping emas. Maka seluruh bayaran untuk penemuan Ramuan Maman adalah 400 keping emas. Namun jumlah itu tidak terlalu berarti bagi Mantingan.
Ibu Wira terdiam beberapa saat sebelum kembali berkata, “Meskipun seperti itu, kami tetap tidak pantas menerima semuanya.”
__ADS_1
“Ibu Wira dan Saudari Sasmita pastilah pantas. Sangat-sangat pantas. Engkau-engkau berdua telah bekerja sedemikian keras, dan pengorbanan yang kalian berikan padaku tidaklah sedikit, diriku tahu itu. Daku masih ingat bagaimana Ibu Wira tanpa berat hati menjaga Kana dan Kina saat aku pergi ke pasar lelang, dan aku masih ingat pula jasa Sasmita yang sangat banyak, sampai-sampai aku tidak bisa menyebutkan semuanya. Bukan hanya itu, saat pertama kali bertemu, Ibu Wira tidak langsung mengusir diriku yang bertampang seperti pengemis. Jasa kalian berdua padaku, teramat besar.”