Sang Musafir

Sang Musafir
Membuat Alat Kebun di Tengah Hutan


__ADS_3

Tetapi itu bukan berarti Mantingan akan bermalas-malasan, menikmati semilir angin hutan yang segar. Di dalam hutan yang serba terbatas seperti ini, Mantingan tidak akan menyia-nyiakan waktu. Ia memilih untuk bekerja, membuat beberapa peralatan kebun.


Bagi orang lain, mungkin tindakan yang dilakukan Mantingan terkesan gila. Mungkin juga, orang-orang akan mengira kegilaan Paman Kedai turun pula pada Mantingan, muridnya itu. Siapa yang hendak membuat peralatan kebun di tengah hutan yang serba terbatas itu? Bahkan orang-orang di kota enggan membuat peralatan kebunnya sendiri, memilih untuk beli dari pengrajin, meskipun alat untuk membuatnya mudah didapat.


Tetapi bagi Mantingan, justru di hutan yang serba terbatas inilah ia harus membuat peralatan kebunnya sendiri. Karena tidak mungkin pergi ke kota hanya untuk membeli cangkul, kapak, serta beberapa alat-alat lainnya. Lagi pula, Mantingan mengetahui cara membuat peralatan-peralatan itu dengan bahan-bahan di hutan.


Mantingan berkeliling, mencari beberapa batu pipih seukuran telapak tangan, memotong pangkal akar pohon karet yang rubuh, dan memotong ilalang-ilalang kering.


Mantingan kembali ke perkemahannya, menaruh barang-barang hasil pencariannya itu di ruang penyimpanan, dan hanya membawa batu-batu pipih itu ke tepi sungai kecil.


Di sungai kecil itu, batu-batu pipih akan disulap menjadi barang lain oleh Mantingan.


Mulanya Mantingan membasahi batu pipihnya, kemudian menggosokkan batu lain ke batu pipih itu. Kegiatan itu sama saja seperti mengasah pisau, tetapi pekerjaan tersebut jauh lebih berat, karena yang diasah adalah batu, bukan besi. Selama mengasah itu, selain terus menyiraminya dengan air, Mantingan juga menyiraminya dengan tanah basah.


Terus Mantingan asah batu itu, hingga semakin pipih dan tajam di sisi luarnya. Ketajaman batu itu tentu tidak menyamai tajamnya bilah besi, tetapi masih bisa digunakan sebagai kapak penebang. Mantingan melakukan hal yang sama pada batu-batu pipih lainnya, sampai jumlahnya mencukupi untuk membuat kapak, cangkrang garpu, cangkul, dan belencong.


Semua itu mempunyai bentuk yang berbeda-beda, dan untuk membentuk batu-batu agar pas dengan kegunaannya, Mantingan gunakan batu lainnya. Pekerjaan itu dapat Mantingan lakukan dengan cepat karena dirinya sendiri adalah seorang pendekar.


Batu-batu pipih itu kemudian diikatkan dengan pangkal akar pohon karet yang telah Mantingan bentuk selayaknya gagang. Menurut orang di desanya dulu, akar pohon karet jauh lebih kuat dan awet untuk dijadikan gagang alat.

__ADS_1


Ilalang-ilalang yang tadi Mantingan kumpulkan itu bisa menjadi tali, tapi tidak Mantingan pakai sekarang. Ilalang-ilalang itu harus melewati proses penjemuran terlebih dahulu sebelum dipintal menjadi tali. Tali yang Mantingan gunakan saat ini adalah tali yang telah ia beli sebelumnya.


Setelah batu-batu tajam itu diikatkan dengan gagangnya masing-masing, maka jadilah peralatan kebun yang luar biasa itu. Mantingan sendiri tidak percaya bahwa dirinya bisa membuat barang-barang itu. Belum pernah ia mencoba hal ini sebelumnya, maka wajarlah dia jika tidak percaya pada apa yang telah dilakukannya.


Saat Mantingan ingin menguji coba alat-alat buatannya, matahari telah jauh jatuh hingga sekaranglah waktu senjakala tiba. Bagi Kiai Guru Kedai, senjakala adalah waktu rawan. Bukan karena makhluk halus yang keluar di waktu seperti ini. Kiai Guru Kedai mengatakan bahwa ketika senjakala tiba, kondisi jantung mulai melemah. Gurunya melarang Mantingan untuk bertarung di waktu senjakala, juga menyarankan untuk tidak melakukan kegiatan berat di waktu itu.


Mantingan menyimpan semua perkakasnya di ruang penyimpanan. Tidak asal ia menyimpan barang-barang itu, Mantingan selalu menghindari penyimpanan barang yang bersentuhan dengan tanah. Digantunglah kapak, pisau lembar, cangkrang garpu, cangkul, dan belencong itu di dinding kayu.


Setelah itu, Mantingan keluar dari ruang penyimpanan itu. Menuju tempat api unggun dan menyalakannya. Merebus air teh di atas api unggun. Duduk bersila di sisi tenda, bergantian melihat langit jingga dan api unggun.


Pernahkah Mantingan membayangkan petualangannya akan jadi seperti ini? Begitu banyak orang yang membantunya. Kenanga, Rara, Ki Dagar, Birawa, dan Kiai Guru Kedai. Mereka mengubah hidup seorang Mantingan. Yang awalnya miskin papa, menjadi berkecukupan. Yang awalnya merupakan pengembara nekat, penakut, tidak perhitungan, menjadi pengembara berani dan berpengalaman. Yang awalnya manusia penuh dendam, menjadi manusia sumber kedamaian.


Jika seandainya diperbolehkan, maka dapatkah Mantingan membalas kebaikan mereka?


Mantingan mengembuskan napas perlahan. Sadar pengetahuannya masih kurang. Mantingan tidak mau berpuas diri, tetapi tetap harus bersyukur. Jika berpuas diri akan membuatnya berhenti mencari pengetahuan, maka tidak bersyukur akan menumpuk kebencian pada dunia.


Mantingan akan terus mengembara, mencari hal-hal baru, menambah pengetahuan dari penjuru Dwipantara, bahkan bukan tidak mungkin sampai Negeri Atap Langit. Apakah yang akan terjadi pada dirinya nanti? Dan seperti apakah petualangannya nanti? Mantingan membayangkan hal itu, tetapi ia tahu bahwa situasi tidak selalu sama seperti apa yang ada di bayangannya.


Mantingan akan menyambut hangat setiap kejutan dalam hidupnya. Karena itu adalah bagian dari hidup, yang harus dijalani dan bukan dilewati, yang harus dinikmati dan bukan dibenci.

__ADS_1


Matahari benar-benar tenggelam. Langit menggelap, bersamaan dengan terlihatnya bintang-bintang indah di atas langit.


Bahkan jika Mantingan lihat kembali ke langit, dirinya merasa benar-benar harus mencari lebih banyak pengetahuan. Mantingan sangat ingin tahu, di tempat bintang-bintang itu terdapat apa saja. Dan seperti apakah wujud bintang sebenarnya? Apakah bintang memang wujudnya kecil seperti itu, yang cahaya redupnya kalah dengan cahaya mentari? Ataukah sebenarnya bintang itu adalah matahari, tetapi matahari yang tempatnya nun jauh di sana.


Membayangkan hal itu, Mantingan terkagum-kagum. Jika benar bintang itu adalah matahari lain, apakah terdapat bumi lain yang juga memutari mataharinya? Apakah di bumi lain itu, ada kehidupan lain juga?


Dan yang terpenting, dapatkah manusia memiliki pengetahuan yang menyingkap itu semua? Sedangkan manusia hari ini selalu membuat peperangan, yang sudah tentu menghalangi orang-orang pintar untuk berpikir tenang.


Perang selalu mengacaukan semua bidang. Bidang ekonomi dan pangan tidak luput darinya. Tentu saja hal itu berdampak besar pada pemikir-pemikir cerdas, atau yang biasa disebut cendekiawan. Andaikan kata di bidang pangan dan ekonomi tidak terjadi kekacauan, maka para pemikir cerdas itu tidak perlu banting tulang kerja cari uang hanya untuk sesuap nasi. Jika saja lumbung padi selalu penuh, tidak dirampas oleh tentara atau perompak, maka tidaklah perlu pemikir cerdas itu pusing memikirkan pangan. Dan hal serupa dapat terjadi jika anggaran negara tidak dipakai untuk perang saja.


Kapankah Kebenaran akan berkuasa? Jika memang itu dapat terjadi dalam dua ratus tahun lagi, dapatkah Mantingan bertahan hidup serta menikmati kekuasaan itu? Sedangkan sekarang ini dirinya adalah pendekar, yang kemungkinan besar mati terbunuh pendekar lain.


Malam semakin larut, Mantingan merasa perlu tidur malam ini. Tidur merupakan hadiah baginya yang telah bekerja keras sedari pagi hingga senjakala menjemput. Malam ini Mantingan akan mencoba tidur sambil bersamadhi, ia pernah belajar mengatur napasnya bahkan saat sedang tertidur sekalipun.


____


Catatan penting:


Setelah selesai membaca eps ini, mohon untuk melongkapi eps 75 dan baca eps 76. Setelah itu, barulah baca eps 75 yang setelah chapter ini.

__ADS_1


__ADS_2