Sang Musafir

Sang Musafir
Menghadiri Perhelatan Tari


__ADS_3

PADA malam harinya, Munding Caraka benar-benar kembali. Kerbau itu meraung-raung demi melihat Mantingan berlari ke arahnya. Dan pemuda itu, ia bahkan sampai lupa menggunakan kemampuan pendekarnya untuk berkelebat, berlari dengan kedua kakinya.


Dipeluknya kerbau itu erat-erat sambil tertawa lebar. Tidak peduli dengan aroma Munding yang menusuk bukan alang kepalang. Kerbau itu tentu tidak dapat balas memeluk, tetapi menggesekkan kepala dan tanduknya ke tubuh Mantingan sebagai balasan atas pelukan hangat itu.


“Aih, Munding, dikau membuatku cemas bukan main.” Mantingan mengelus kepala Munding Caraka yang tidak kunjung menjadi tenang itu. “Terima kasih sudah mencemaskan diriku.”


Munding hanya melenguh pelan. Agaknya, kali ini kerbau cerdas itu mengerti perkataan Mantingan. Kerbau itu lalu menyodorkan tetumbuhan yang dibawanya menggunakan mulut. Mantingan menerimanya.


“Ini ....” Mantingan bergumam dengan tatapan mata yang mengisyaratkan ketidakpercayaan. “Munding, ini adalah Bunga Aroma Bangkai yang sekiranya berusia seratus tahun. Bunga ini amat sangat berharga ... dari manakah dikau menemukannya? Dan bagaimana pula dikau tahan terhadap aromanya?”


“Ongng.” Seraya menguak, Munding menunjuk ke arah selatan dengan tolehan kepala.


Mantingan mengangguk pelan sebagai balasan. “Marilah, Munding, biar kuobati luka di punggungmu. Dikau telah melakukan sesuatu yang teramat sangat luar biasa malam itu.”


***


PERHELATAN tari akan berlangsung tidak lama lagi. Seluruh perempuan di rombongan tari itu mempersiapkan banyak sekali hal. Alat bebunyian berupa tambur, kecapi, canang dan kerincingan. Pula dengan gelang-gelang kaki yang akan mengeluarkan suara khas mengiringi setiap gerakan kaki. Selendang-selendang sutra yang berkemilauan meski malam boleh dikata telah gelap gulita—langit sedang tertutup mega-mega tebal. Serta bindi, sebuah benda kecil untuk ditempelkan di dahi; dipercaya dapat menambah kejelitaan para penari. Semuanya dipersiapkan dengan sangat baik dan cermat, penari-penari itu terlihat sangat berpengalaman.


Mantingan sebenarnya ingin menghabiskan waktu bersama Munding sambil memeriksa tetumbuhan obat apa sajakah yang berhasil ditemukan kerbau itu, tetapi Kartika memintanya untuk hadir menyaksikan pertunjukan tari.


“Wajah dikau tampak sangat memilukan.” Begitulah kata perempuan yang meskipun telah berumur tetapi kecantikannya tetap bertahan itu. “Wajah itu kukenal sebagai wajah yang kurang hiburan. Daku tidak tega melihatnya. Apa pun kata, dikau harus hadir di sana. Jika nanti tidak kulihat batang hidungmu di antara para penonton, maka akan kuseret dikau dengan kedua tanganku sendiri.”


Kartika tidak dan tak akan pernah tahu betapa kesedihan akibat patah cinta masih menggelayuti benak Mantingan. Wajahnya pun tak ayal terkena dampak. Tampak murung dan hilang cahaya. Itu semua disebabkan kabar pernikahan Bidadari Sungai Utara masih pula menggentayanginya. Bagai tiada berhenti, bayangan wajah Bidadari Sungai Utara terus melintas di pikirannya.


“Mungkin Kartika benar, daku membutuhkan sedikit hiburan.” Mantingan bergumam pelan sebelum meninggalkan Munding Caraka yang tertidur di atas teras kediaman Tapa Balian.


Mantingan melipat kedua tangannya ke belakang punggung. Berjalan dengan langkah pendek-pendek. Lebih bertindak sebagai pengamat. Dirinya sama sekali tidak bergairah melihat wanita-wanita berpakaian ringkas bergoyang dengan sedemikian rupa untuk merangsang gairah pria. Selain seni dari tariannya, Mantingan merasa tidak akan mendapatkan apa-apa lagi.


Suasana di sekitarnya cukup ramai. Tiang obor buluh terpancang di beberapa tempat, menebar cahaya keremangan yang memberikan rasa rawan bagi para pendekar yang selalu membenci keremangan. Prajurit-prajurit Koying berseliweran, mereka mengenakan seragam yang seiras, dengan sebatang kelewang di pinggang, beberapa saling mengobrol dan beberapa hanya memperhatikan persiapan para penari di kejauhan sana.

__ADS_1


Kehadiran Mantingan di tempat itu sebenarnya menarik cukup banyak perhatian dari kalangan prajurit Koying. Barang tentu Mantingan yang sedang mengenakan pakaian serba putih itu tampak amat sangat mencolok. Prajurit Koying berseragam dengan warna gelap, mungkin biar menyatu dengan kerimbunan hutan yang akan selalu mencipta kegelapan tak peduli di kala siang maupun malam. Mantingan bagaikan titik rembulan putih di tengah langit hitam.


Beberapa menatapnya dengan penuh curiga. Beberapa bahkan membuntutinya diam-diam, bersembunyi di antara kerumunan. Seribu prajurit ada di tempat ini, bukanlah hal yang sulit untuk membuntuti seseorang tanpa ketahuan.


Namun, sayang sekali, Mantingan telah memasang Ilmu Mendengar Tetesan Embun sedari tadi. Bahkan tanpa perlu menolehkan kepalanya, pergerakan itu dapat diketahuinya dengan begitu mudah.


Mantingan hanya memasang kewaspadaan tanpa berniat mengambil tindakan terhadap pendekar-pendekar yang membuntutinya itu. Jikapun mereka menyerang, Mantingan hanya akan mengelak dan menghindar, tanpa membalas.


Saat ini, ia tidak membawa pedang. Agar tidak terlalu menarik perhatian. Hanya berbekal 30 jarum beracun dan 10 belati beracun di balik pakaiannya. Lontar sihir cukup selembar saja. Ia berniat menonton pertunjukan tari, sedikit melepas kegulanaan dari patah cinta, bukan untuk bertarung.


Namun betapa pun, sebagai seorang pendekar yang hidup di dunia persilatan, yang mana pertarungan dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal tempat maupun waktu, Mantingan tetap mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan yang tiada terduga sama sekali. Kewaspadaannya masih tetap dijaga. Ilmu pendengarannya masih tetap dieddarkan ke segala penjuru. Dan jarum maupun pisau beracun di balik bajunya itu, siap dilesatkan ke mana saja.


“Wahai, Mantingan.”


Suara dari seorang perempuan yang ia kenal memecah pemikirannya.


Mantingan tersenyum lembut. “Kartika yang memintaku untuk datang dan menonton tarian kalian.”


“Kurasa lelaki seperti dirimu tidak akan menyukai tarian kami.” Chitra Anggini balas tersenyum. “Tetapi mungkin saja dikau justru akan mulai menyukainya nanti.”


Mantingan mengangkat bahu, tidak tahu. “Dikau akan menari juga?”


Pertanyaannya sekadar untuk basa-basi. Bukankah telah begitu jelas dari pakaiannya bahwa Chitra Anggini akan menari?


“Sebenarnya daku enggan, tetapi Kakak Kartika memintaku untuk ikut menari, sebab mungkin ini akan menjadi tarian terakhirku bersama kawan-kawan.”


“Dikau bisa membatalkan niatmu itu malam ini.” Mantingan mulai bersungguh-sungguh, ia membicarakan tentang niatan Chitra Anggini untuk ikut pergi ke Koying bersamanya.


Gadis itu menggeleng. “Sebenarnya, daku pula sama sekali tidak senang mengembara bersamamu. Jika boleh, daku lebih memilih pergi ke Kutai Kertanegara di seberang utara sana, mengembara seorang diri, tanpa teman yang membebani. Tetapi apalah daya, ini sudah menjadi tugasku.”

__ADS_1


“Tugasmu?” Mantingan melipat dahi. Ikut mengembara bersamanya adalah tugas Chitra Anggini? Mengapa dan dari siapa tugas itu diberikan?


“Daku tidak dapat menjelaskannya sekarang.” Perempuan itu mengangkat bahunya. Mengedipkan sebelah mata. Mantingan lekas mengetahui apa arti dari itu. Chitra Anggini tidak akan membahasnya sekarang.


Di kejauhan sana, beberapa perempuan wayang melambaikan tangan ke arah Chitra Anggini. Mereka memang tidak mengeluarkan suara, barang sedikitpun tidak, tetapi Chitra Anggini mengetahui maksud dari lambaian tangan itu.


“Daku harus pergi sekarang,” katanya kemudian.


Mantingan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Daku akan menikmati tariannya.”


Chitra Anggini balas mengangguk pula. Berbalik badan dan berjalan menjauh beberapa langkah. Namun, terhenti. Kembali dirinya berbalik ke arah Mantingan. Memandang dengan tatap sejuta arti.


“Mantingan, kita akan memulai perjalanan panjang esok hari. Kurasa mulai sekarang, kita harus menjadi teman.”


Mantingan mengangkat alisnya dengan heran. “Bukankah kita memang sudah berteman?”


“Tetapi tidak dengan teman seperjalanan.” Kembali Chitra Anggini berkata. “Kuharap dikau mengerti apa artinya itu.”


___


catatan:


Saat karya ini selesai, saya mungkin akan mengambil sedikit banyak jeda, atau bahkan tidak menulis di sini lagi. Saat itu terjadi, satu-satunya yang dapat membuat kita tetap dapat berinteraksi, dan para pembaca dapat mengetahui perkembangan kabar, adalah sosial media.


Saya aktif di IG dan FB. Para pembaca bisa follow salah satu atau keduanya. Di sana, saya bisa memberi kabar.


Saya harap pula, hubungan kita tidak selesai ketika karya ini selesai.


__ADS_1


__ADS_2