Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan Bidadari Sungai Utara di Dalam Kedai


__ADS_3

BIDADARI Sungai Utara menyerang setelah melesat ke atas. Gadis itu berjungkir balik di udara, sehingga kakinya berada di atas sedang kepalanya berada di bawah.


Sebagai pembuka, Bidadari Sungai Utara melesatkan belasan jarum beracun ke arah lima pendekar berpenampilan pelancong itu.


Segera saja, seluruh jarumnya ditangkis lawan menggunakan cakram mereka. Tidak sebutir jarum pun yang mengenai tubuh lawan. Tetapi jarum-jarum itu betapa pun hanyalah pembuka, bukan dimaksudkan untuk membunuh lawan.


Bertepatan ketika lima lawannya sedang menangkis serangannya, Bidadari Sungai Utara menapakkan kakinya ke atap-atap ruangan sampai tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat. Bilah pedang putihnya kembali terhunus ke hadapan.


Serangan gadis itu sebenarnya amat sangat cepat. Dua kali lebih cepat daripada kecepatan suara, sampai-sampai tubuhnya terselimuti kabut tipis. Akan tetapi, banyaknya lawan membuat Bidadari Sungai Utara tidak dapat memusatkan serangan secara tepat.


Ketika kelima pendekar itu saling berpencar secepat mungkin, tidak satupun dari mereka yang termakan bilah Pedang Merpati Haus Darah di tangan Bidadari Sungai Utara sebab gadis itu tidak menentukan siapakah yang menjadi sasarannya.


Telapak kaki telanjang gadis itu kembali menyentuh lantai, tetapi kali ini dirinya tidak berdiam diri. Bidadari Sungai Utara bergegas menyerang. Belajar dari kesalahan sebelumnya, kini Bidadari Sungai Utara memusatkan serangannya pada satu lawan saja.


Dia berniat menghabisi mereka satu demi satu!


Mantingan yang melihat itu menganggukkan kepalanya.


Bidadari Sungai Utara melesat cepat ke arah seorang lawan yang dirasa paling lengah dan lemah di antara semua lawannya yang lain. Pedang Merpati Putih disampirkannya ke sisi, yang baru akan diayunkan ke arah batang leher lawan ketika mencapai jarak serang.


Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara merasakan desiran angin tepat di belakang punggungnya. Desiran angin itu dibarengi pula dengan dengung logam. Mengetahui bahwa maut sedang mengejarnya dari belakang, Bidadari Sungai Utara berputar di udara untuk menghindar.


Benar saja. Belasan pisau terbang berkelebat tepat di sisi kanan gadis itu. Hanya berjarak sejengkal saja dari bahunya, beruntunglah Bidadari Sungai Utara bergerak cukup cepat sehingga pisau itu hanya melesat melewatinya.


Pisau-pisau itu terus melaju tanpa bertolak angur. Tiada seorangpun yang dapat menghentikan belasan pisau tersebut. Tidak pula dengan seorang pendekar lawan yang kini sedang berhadap-hadapan dengan belasan pisau itu!

__ADS_1


“Akkhh!!!”


Mungkin itulah teriakan terakhir dari pendekar itu. Lima pisau menancap tepat di dadanya. Darahnya menyembur bahkan sebelum tubuhnya tergeletak di atas lantai kedai. Sebentar kemudian, tubuhnya berkelojotan dan berubah warna menjadi hijau legam. Busa-busa putih mengalir keluar dari mulutnya sampai ke lantai kedai.


“Pisau beracun.” Mantingan mendesis pelan menyaksikan itu.


“Seperti itulah dunia persilatan jaman sekarang, Pahlawan Man,” kata bapak pemilik kedai tiba-tiba. “Sekarang racun tidak hanya harus digunakan para pendekar golongan hitam. Golongan merdeka, bahkan golongan putih pun tak jarang memakainya.”


Mantingan hanya bisa terdiam saja karena memang tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri pun terkadang menggunakan jarum beracun untuk menghadapi musuh-musuhnya. Mantingan kembali berpusat pandang dan pikiran pada Bidadari Sungai Utara.


Gadis itu terlihat mematung untuk sejenak. Benar-benar untuk sejenak saja, sebab setelah itu dia kembali berkelebat dan menyerang.


“Begundal gila Champa!” Masih terdengar sayup-sayup umpatan lawannya ketika Bidadari Sungai Utara hadir di antara mereka memberi serangan.


Kini Bidadari Sungai Utara menyerang selayaknya sebuah baling-baling yang berputar amat sangat cepat. Saking cepatnya, angin pun ikut berputar bersama tubuh gadis itu.


Bidadari Sungai Utara baru berhenti berputar hanya untuk melesatkan dirinya kepada seorang pendekar lawan yang tampak telah terpojok di sudut ruangan.


Pendekar itu alangkah buncahnya ketika mengetahui Bidadari Sungai Utara mengincarnya ketika kedudukannya sama sekali tidak bagus. Sebagai upaya terakhir, pendekar itu melemparkan tiga pisau terbangnya yang tersisa ke arah gadis itu, bahkan pula melemparkan kedua cakram di tangannya.


Bidadari Sungai Utara menarik pedangnya ke belakang sebelum menusukkannya kembali ke depan. Tusukan itu menghasilkan perputaran angin berkekuatan tinggi yang langsung menepis tiga pisau terbang yang mengarah kepadanya.


Mantingan sedikit melebarkan mata ketika melihat Bidadari Sungai Utara melakukan itu. Ia mengenal jurus yang dipakai gadis itu. Jurus Membelah Angin yang hanya boleh dipelajari murid Perguruan Angin Putih!


Mantingan sungguh tidak mengetahui dari mana gadis itu mendapatkan ilmu tersebut. Tetapi ia tidak meragukan bahwa jurus yang dipakai Bidadari Sungai Utara adalah benar-benar Jurus Membelah Angin.

__ADS_1


Setelah berhasil menyingkirkan tiga pisau terbang itu tanpa menyentuhnya sama sekal, Bidadari Sungai Utara harus menangkis sepasang cakram yang mengarah ke leher dan kakinya. Kedua cakram itu memang perlu ditangani secara khusus. Selain arah serangannya yang berbahaya, cakram bukanlah senjata yang mudah dihalau menggunakan Jurus Membelah Angin.


Namun, Bidadari Sungai Utara tidak menangkis seluruh cakram itu. Pada salah satu cakram, dia justru menangkapnya menggunakan ujung pedangnya. Masih berada di udara, Bidadari Sungai Utara mengayunkan pedangnya yang serta merta melesatkan cakram itu ke arah lawan.


Kali ini, lawan tidak mengeluarkan jerit kematian. Sebab cakram itu telah memutus lehernya. Kepalanya terlempar ke atas sebelum akhirnya jatuh dan menggelinding di atas lantai kedai. Tubuhnya merosot jatuh. Sedangkan cakram itu menancap pada dinding kedai.


Mantingan semakin melebarkan matanya. Jika tidak mempertahankan akal sehatnya, maka Mantingan tidak akan mempercayai apa yang sedang dilihatnya sekarang.


“Wanita jauh lebih berbahaya daripada yang selama ini kita duga, Pahlawan Man.” Kembali bapak pemilik kedai berkata, berhasil mengetahui apa yang sedang Mantingan pikirkan meskipun pemuda itu tidak mengatakannya.


“Bedebah sialan!” Terdengar umpatan yang cukup keras untuk menggetarkan ruangan. “Kita harus pergi dari sini, lebih baik kabar ini tersiar daripada kita mati di tempat ini!”


“Hihihi, apa yang dikau ucapkan, wahai Tupai? Engkau sebut dirimu adalah lelaki ... hihihihihi ... ternyata perlakuannya seperti perempuan saja ... hihihihi!”


“Heh, banci! Kau sama saja gilanya dengan begundal Champa itu! Tapi suka-suka hati kau sajalah, hidupmu adalah urusanmu!”


Selesai berkata, pendekar itu melesat secepat mungkin ke arah jendela kedai. Berniat meninggalkan dua kawannya di kedai itu. Kabar apa pun jika menyangkut tentang Bidadari Sungai Utara akan dibayar mahal, apalagi kabar tentang keberangkatannya yang sudah pasti dibayar sangat mahal! Diam-diam pendekar itu tersenyum lebar. Dengan dua kawannya itu mati di sini, ia tidak perlu membagi hasil.


Namun, harapannya itu pupus sesaat setelah sebuah mata rantai menggapai lehernya dan menghantamkannya kembali ke bawah hingga lantai kedai terjerembab ke dalam tanah. Tubuh pendekar itu tidak bergerak lagi.


“Maaf.” Seorang pendekar Pasukan Topeng Putih mengangkat sebelah tangannya dengan raut wajah penyesalan. Terlihat seutas mata rantai terikat dengan tangannya. “Sepertinya diriku sedikit terlalu bersemangat.”


___


catatan:

__ADS_1


Jika ada typo, sekecil apa pun itu, harap laporkan di grup chat atau komentar. Atas kerjasamanya, terima kasih.



__ADS_2