
SEPERTI apa yang Mantingan hadapi malam ini. Pendekar-pendekar dari Penginapan Tanah terus memburu dirinya. Tidak hanya itu, mereka juga pernah membunuh Mantingan. Mantingan sebenarnya ingin melupakan saja kejadian itu tanpa ada dendam sama sekali, namun Penginapan Tanah sepertinya tidak akan habis-habisnya membuat perkara jika Mantingan belum terbunuh.
Jika memang jalan kependekaran seperti ini, Mantingan tabah menjalaninya. Walau Kenanga tidak mengizinkannya membunuh, tetapi bagaimanakah jika Mantingan terbunuh akibat ia tidak mau membunuh? Bukankah dengan begitu tidak ada yang mengantarkan Kembangmas kepadanya?
Apa pun hukuman dari Kenanga juga akan ia terima dengan tabah hati. Kenanga tidak pernah menyuruhnya untuk menjadi pendekar, karena ia tahu bahwa jalan kependekaran selalu dipenuhi oleh bercak darah. Tetapi ketakutan dan kepengecutan membuat Mantingan memilih jalannya sebagai pendekar.
Namun, hal itu tidak bisa menjadi alasan Mantingan untuk terus membunuh dan membunuh. Ia akan membunuh, jika itu demi kebaikan. Bukan kebaikan dirinya sendiri, tetapi kebaikan alam semesta.
Mantingan bergerak cepat melewati begitu saja tentara-tentara musuh yang semakin bergerak maju. Mantingan khawatir bukan main saat tidak melihat 13 prajurit pemberani di atas tembok kota. Jangan sampai mereka turun memberikan perlindungan terakhir bagi mantera sihir.
Benar saja. Mereka turun. Semuanya turun. Tiga belas-tiga belasnya turun. Tetapi hanya lima saja yang masih berdiri. Dengan luka di sekujur badannya. Pedang yang masih diangkat walau nyawa memaksa untuk keluar.
Hati Mantingan terasa benar-benar hancur melihat pemandangan itu. Kenangan bersama 13 prajurit itu bisa saja diputar, tapi Mantingan menundanya. Mantingan menunda kesedihan dan amarahnya.
Mantingan melempar pedangnya ke atas lalu melepaskan puluhan Tapak Angin Darah pada tentara-tentara musuh yang mengelilingi lima prajurit itu. Puluhan serangan tapak itu tidak hanya mengempas tentara musuh yang ada di dekat lima prajurit muda itu, tetapi juga seluruh tentara musuh yang ada di depan tembok kota. Pedangnya kembali ditangkap setelah Mantingan selesai melepas serangan.
Akibat serangan itu, tidak sedikit dari mereka yang ambruk tanpa bisa bangkit lagi.
Mantingan berjalan dengan langkah tertatih-tatih mendekati lima prajurit yang berdiri itu. Mereka yang bertahan adalah Putu, Mandu, Arya, Asoka, dan Darma. Mereka tidak bisa lagi berdiri tegak, menggunakan kelewang sebagai penyangga agar tidak jatuh. Arya dan Asoka tidak sanggup berdiri lebih lama lagi, bersimpuh lutut bersamaan dengan darah yang mulai habis.
“Saudara Man ....” Putu berkata terputus-putus, tetapi ia tetap berusaha untuk tersenyum. “Semoga ... suatu saat nanti ... kita bisa makan malam ... bersama-sama ... bersama-sama lagi.”
__ADS_1
Putu memejamkan mata dan jatuh ke tanah. Darma, Mandu memberikan senyum terakhirnya sebelum menyusul Putu yang jatuh ke tanah. Sedangkan Arya dan Asoka tidak terlihat bergerak lagi dalam keadaan bersimpuh.
Mantingan berbalik dan menghadap ke barisan musuh yang perlahan-lahan mulai mundur dengan membawa kawan mereka yang masih bisa terselamatkan. Mereka tidak bisa bergerak terlalu cepat setelah dihantam Tapak Angin Darah dari Mantingan.
Mantingan mendengar desau panah-panah dari atasnya. Ratusan panah berapi ditembakkan dari belakang tembok dan menyasar tentara-tentara musuh. Sayang mereka hanya bisa mengangkat perisai sebagai upaya terakhir, kaki mereka yang patah sungguh tidak bisa diajak berkompromi. Panah-panah dengan bebas menancap di tubuh mereka.
***
Pagi itu banyak sekali pancaka-pancaka yang didirikan. Banyak pula yang dibakar. Asap hitam mengepul tinggi, orang yang paham maknanya akan menganggap itu sebagai pembawa berita duka yang besar.
Mantingan tidak menghadiri upacara pembakaran prajurit-prajurit kota yang gugur. Di halaman kediamannya, ia membuat 13 pancaka sesuai dengan jumlah prajurit muda pemberani yang gugur. Dengan berat hati Mantingan membakar 13 prajurit itu dan menatap untuk yang terakhir kalinya wajah prajurit-prajurit di atas pancaka-pancaka tersebut.
Mantingan ingin mengatakan kalimat perpisahan. Tetapi itu hanya sampai di dalam batinnya saja. Ia tak sanggup mengungkapkan kata-kata perpisahan. Lidahnya begitu kelu untuk berucap.
Benar perkataan Rara yang ada di dalam pikirannya, nyawa 13 prajurit didikannya itu bisa dalam marabahaya jika Mantingan tetap bersikukuh pada pendiriannya.
Namun, Mantingan terlambat. Dirinya sebagai pendekar terkuat itu sangat tidak bisa diandalkan. Lalu untuk apakah dirinya di kota ini? Lihatlah tiga belas prajurit muda pemberani itu gugur. Mereka bisa saja tidak gugur jika saja Mantingan tidak bersikukuh pada pendiriannya. Mungkin mereka akan sama-sama mengadakan acara makan malam.
“Mantingan, mengapa kau bersedih?”
Saat mendengar suara Rara, Mantingan masih diam tanpa menjawab. Tetapi saat ia mendengar suara Rara, Mantingan merasa dirinya sedikit membaik. Baginya suara Rara selalu bisa membuatnya tenang, dalam situasi apa pun itu.
__ADS_1
“Heh, kau tidak mau menjawabku?”
Mantingan menghela napas panjang sebelum berkata dalam gumaman, “Rara, mohonlah mengerti, situasi saat ini tidak sedang baik-baik saja.”
“Apa yang tidak baik-baik saja?”
Kembali Mantingan menghela napas. “Rara, 13 prajurit yang paling dekat denganku gugur. Mereka mati karena kesalahanku.”
“Kau tidak mendengarkan nasihatku ....”
Mantingan tidak lagi menjawab. Pandangannya benar-benar kosong sekarang, dan pikirannya pun sama-sama kosong.
“Heh, tatapan dan pikiran yang kosong adalah rumah bagi makhluk halus. Nanti kau dimasuki mereka, memangnya mau?” Rara tertawa kecil. “Lagi pula, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri atas kematian orang lain. Kau juga menyalahkan dirimu sendiri atas kematianku di tepi pantai yang indah kala itu. Sekarang kau melakukan hal yang sama, menyalahkan dirimu sendiri atas kematian orang lain. Kau hanya bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini tanpa perlu banyak-banyak menyesal. Kau menangis sampai keluar darah sekalipun mereka tidak akan kembali.”
“Dan kau juga tidak akan kembali, Rara. Engkau yang ada di kepalaku bukanlah engkau yang asli. Aku hanya berbicara dengan diriku sendiri dan dibalas oleh diriku sendiri pula. Itu yang selalu membuatku menyesal, Rara, saat aku kehilangan sesuatu yang tidak bisa aku kembalikan.”
“Kau sudah belajar cara berdamai, Mantingan. Kau pernah melakukannya. Dan hebat sekali kau berhasil. Tetapi sekarang, mengapa kau kembali pada dirimu yang dulu?”
“Rara, berdamai sekali mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi jika berdamai berkali-kali, itu sulit. Tidak bisakah sekali kedamaian saja untuk selamanya?”
“Jika dunia ini damai untuk selamanya, maka kau tidak akan pernah mengenal apa itu kedamaian. Itulah yang membuat harga kedamaian begitu mahal.”
__ADS_1
Mantingan menghela napas untuk ketiga kalinya. “Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Rara?”
Mantingan seolah-olah melihat Dara yang tersenyum hangat. “Jangan berhenti merelakan. Jangan lelah mencari kedamaian. Dan teruslah menciptakan kedamaian. Suatu saat engkau akan mengerti betapa kedamaian itu dirasa setimpal dengan harga mahalnya.”