Sang Musafir

Sang Musafir
Empat Pendekar; Setangkai Mawar


__ADS_3

Mantingan mencuci tangannya pada mangkuk berisi air yang telah disediakan. Melepas jubahnya dan meluruskan punggung, lalu dalam sekejap menghilang dari ruangan itu.


Pelanggan lainnya di lantai dua menunjukkan raut wajah buruk setelah sama-sama menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi, sebagian dari mereka bangkit dan melihat situasi dari jendela.


Mantingan yang baru saja menghilang itu terlihat berada di bawah kedai. Mantingan tidak sendirian, di sana empat orang berpakaian serba hitam berdiri tegak di hadapannya. Sedang di belakang Mantingan, terpampang sebuah pemandangan yang tidak sedap dilihat. Tubuh yang kepalanya terpisah jauh, dengan darah yang mengalir dari lehernya, dan seorang teman yang menangisi mayat itu. Sedangkan di samping Mantingan, berdiri gagah penjaga-penjaga kedai yang menghunus pedang.


“Apakah yang kalian lakukan di wilayah tanpa perang ini?” Mantingan bertanya langsung pada empat orang berpakaian serba hitam itu.


“Apa urusanmu pada kami? Sok jagoan, ya? Mau mati juga?” sarkas tajam dari seorang di antara mereka.


“Tidak semestinya kalian enteng tangan seperti ini. Tapi … sudahlah, memang begini pekerjaan kalian.” Mantingan menggeleng pelan. “Biar aku tanyakan saja pada kalian, apakah ingin tetap melanjutkan ini atau pergi?”


“Kami tidak mudah mundur, bukan pecundang sok baik seperti diri engkau!” Mereka sama-sama menarik senjata. “Hayo, lawan kami jika memang ingin jadi pahlawan!”


Senjata-senjata yang mereka keluarkan itu beragam-ragam. Satu orang memegang pedang bermata dua, satu orang memegang cambuk bergerigi, satu orang memegang dua golok, satu lainnya memegang arit panjang.


Mantingan tersenyum tipis. “Saudara-Saudara, jangan salahkan aku jika tidak membunuh kalian.”


Mantingan mengangkat pedangnya yang masih tersarung itu, ia tidak berniat mengeluarkan bilahnya. Mantingan mengingatkan penjaga-penjaga di sekitarnya untuk tidak terlibat pada pertarungan, agar kemungkinan jatuhnya korban bisa dikurangi.


Tanpa bicara lagi, Mantingan dan empat pendekar berpakaian hitam itu saling maju.


Cambuk adalah senjata jarak jauh, maka cambuk itu yang Mantingan hadapi terlebih dahulu. Tanpa mengeluarkan bilah sama sekali, Mantingan mengayunkan pedangnya untuk meladeni serangan cambuk itu.


Dalam serangan cambuk, yang perlu menjadi perhatian utama adalah ujung dari cambuk tersebut. Jika Mantingan menangkis bagian tengah cambuk, maka bagian belakang cambuk itu akan menukik tajam ke punggungnya.

__ADS_1


Mantingan menangkis ujung cambuk tersebut dengan mudah hingga sabetan cambuk itu berubah arah. Lalu datang dua serangan bersamaan dari pengguna pedang dengan pengguna sabit.


Pendekar berpedang itu melakukan gerakan menusuk ke arah perut Mantingan, sedangkan arit itu dari samping mendesau di dekat leher Mantingan. Yang satu menusuk, yang satu lagi menebas. Dalam pandangan Mantingan, seluruh gerakan itu tampak melambat, hingga ia bisa dengan cukup memperhitungkan gerakannya sendiri.


Mantingan mengangkat dua kakinya hingga menekuk. Ia memiringkan tubuhnya hingga tidak satupun serangan lawan tertuju pada tubuhnya. Dalam satu sentakan luar biasa keras, Mantingan menendang si pemegang arit, memukul si pemegang pedang dengan Pedang Kiai Kedai.


Dua lawan itu terpental. Mantingan kembali menginjak tanah dan menegakkan tubuh. Baru sesaat ia menginjak bumi, dua buah benda terdengar pergerakannya oleh kuping Mantingan. Itu datang dari dua sisi tubuhnya dengan kecepatan yang luar biasa. Mantingan tidak sempat menengok dua benda itu dan langsung mengentak kakinya ke belakang.


Saat berada di udara, Mantingan baru melihat bahwa dua benda itu adalah dua buah golok. Saat Mantingan melihat lawannya yang seharusnya memegang golok, nyatanya orang itu tidak memegang goloknya lagi. Ternyata golok itu dipakai dengan cara diterbangkan, sebuah cara yang benar-benar tidak terduga dan sangat berbahaya.


Beruntung sekali Mantingan telah meningkatkan kewaspadaannya tadi. Jika ia lengah sedikit, dua golok yang terbang itu akan menancap di kepalanya. Mantingan pernah mati sekali akibat kelengahan, ia tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali.


Dua golok itu terbang kembali ke pemiliknya, tetapi Mantingan telah terbang lebih cepat dari dua golok itu. Satu pukulan lagi dengan pedangnya, Mantingan berhasil menumbangkan lawan yang menguasai dua golok terbang. Setelah pendekar itu tumbang, barang tentu dua golok terbangnya menghunjam ke tanah tanpa ada seorang pun yang menangkapnya.


Lawan yang masih berdiri adalah si pengguna cambuk, tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana Mantingan menumbangkannya.


Empat orang berpakaian hitam itu mengaduh kesakitan. Mereka tidak Mantingan bunuh.


“Bunuh sajalah kami!” Salah satu dari mereka berkata sambil menahan sakit.


“Bukannya sudah aku katakan sebelumnya, jangan salahkan aku jika tidak membunuh kalian.” Mantingan membalikkan tubuh.


“Biad*b!”


Mantingan tidak menghiraukannya, mulai berkata pada penjaga-penjaga kedai, “Nasib mereka aku serahkan pada kalian. Putusan baik atau tidaknya berada di tangan kalian.”

__ADS_1


Mantingan berjalan meninggalkan mereka semua, kembali masuk ke dalam kedai. Orang-orang menatapnya dengan sangat takjub, menanggap Mantingan sebagai pahlawan yang sebenarnya. Terlebih pada orang-orang di lantai dua, mereka memandangi Mantingan dengan tatapan takjub yang tak terkira, sadar telah salah menduga Mantingan.


Mantingan kembali ke meja makannya, memasang jubah dan bundelannya kembali. Bertepatan dengan makanannya yang telah habis, Mantingan memilih meninggalkan kedai dan melanjutkan perjalanan.


Saat ia melangkah menuju tangga, seorang gadis kecil menghentikannya.


“Kakak, Kakak! Tadi aku tak boleh lihat apa yang Kakak lakukan di bawah. Tapi kata ayah, kakak ini menyelamatkan nyawaku sekali. Jadi, bolehkah kakak menerima bunga ini sebagai ungkapan terima kasih?” Malu-malu gadis kecil itu menunjukkan setangkai bunga mawar segar.


Mantingan melihat orang tua dari gadis itu tersenyum dan memberi tanda pada Mantingan untuk menerima bunga itu. Tanpa sungkan lagi Mantingan menerima mawar segar itu dari tangan mungil gadis kecil. Ia tersenyum hangat.


“Terima kasih.”


Si gadis kecil malu-malu berlari ke meja tempat orang tuanya berada, bersembunyi di belakang ayahnya. Orang tua mereka juga memberi tanda terima kasih pada Mantingan sebelum pemuda itu akhirnya menuruni tangga.


Sesampainya di lantai bawah, Mantingan dapat melihat empat pendekar berpakaian hitam yang dikalahkannya itu telah terbujur kaku tak jauh dari halaman kedai. Kepala masing-masing dari mereka telah terpisah dari lehernya, sedangkan tukang jagal terlihat berdiri di tengah-tengah mereka dengan pedang berlapis darah.


Melihat kedatangan Mantingan, salah satu penjaga kedai buru-buru menghampirinya. “Saudara, maafkanlah karena kami telah membunuh mereka. Sungguh mereka tidak mau dibawa ke pengadilan dan malah melawan, kami tidak ingin mengambil risiko terlalu besar.”


Mantingan mengangguk pelan. “Saya rasa keputusan kalian itu dapat dipertanggungjawabkan nantinya.”


Penjaga kedai yang berbicara dengan Mantingan itu berkeringat dingin. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Mantingan ucapkan.


“Saudara, jangan membuatku takut.”


Mantingan tersenyum. “Jaga kedai ini baik-baik, masih banyak pendekar-pendekar kejam lainnya yang berkeliaran. Saya mohon diri.”

__ADS_1


Mantingan meninggalkan penjaga kedai yang semakin ketakutan itu. Prajurit bayaran itu berpikir untuk cepat-cepat purnabakti saja.


__ADS_2