
"Paman Bala, adakah sesuatu yang terjadi?”
MANTINGAN MENYADARI ada yang salah dengan mantra buatan Paman Bala, ditambah sikap Paman Bala semakin meyakinkannya. Setelah membisikkan kalimat itu, Mantingan kembali mengayunkan pedangnya belasan kali dalam sekali kejap mata.
“Mantingan, mantranya tidak bekerja ....” Paman Bala berkata dengan putus asa.
Mantingan kembali memanfaatkan Ilmu Bisikan Angin. “Cobalah untuk mengulangnya sekali lagi, Paman.”
Mantingan tiba-tiba saja merasa sesak di dadanya. Seolah-olah sebuah batu besar menindihi dadanya. Mantingan menggigit bibirnya, darah mengalir dari bibirnya itu. Kembali ia menggerakkan tangannya untuk menangkis kelebatan kerambit yang mengincarnya.
Mantingan tahu apa yang terjadi padanya. Itu adalah imbas dari racun di lengannya. Gagal dihalau oleh ikat rambut. Tubuhnya bergetar saat menahan rasa sakit luar biasa. Merambat dari dadanya hingga ke seluruh bagian tubuh.
“Racun ini tidak akan langsung membunuhmu, Mantingan. Mereka ingin kau mati perlahan dan menyakitkan, maka racun ini hanya akan menyakitimu untuk sekarang ini.”
Mantingan meringis. Perkataan Rara itu semoga saja benar. Hanya sedikit saja yang ia bisa harapkan di sini. Meskipun begitu, tiadalah Mantingan sama sekali menyesali keputusannya untuk datang ke Pasar Layar Malaya. Memang tidak baik menyesal di situasi seperti ini, itu hanya akan membuat Mantingan tersulut amarah. Akibatnya, ia akan jadi lengah.
“Mantingan, saat ini kau membawa ramuan pereda rasa nyeri, bukan? Pakailah itu jika kau sempat nanti. Untuk saat ini kau harus selamat, jika sudah keluar nanti segeralah mencari obat untuk racun di tubuhmu.”
Mantingan tidak membalas, namun tetap saja mendengarkan. Dirinya memang selalu menyimpan ramuan pereda nyeri di kantung pundinya. Namun, untuk saat ini ia tidak bisa menelan ramuan itu.
Tiga musuh Mantingan semakin gencar menyerang setelah melihat imbas racun yang mulai bekerja. Mantingan semakin kewalahan menghadapinya. Bukan saja ia harus menangkis, Mantingan juga merasa perlu balas menyerang. Sebab tujuannya adalah menyudutkan para musuh bukan malah dirinya yang tersudutkan.
Saat kedua kakinya menyentuh tembok ruangan, Mantingan mendorong kakinya ke depan, membawa tubuhnya jauh ke belakang. Di sudut ruangan Mantingan berhenti, sekadar mengatur kembali pernapasannya.
Tiga musuh bertopeng turut memendaratkan diri dan berdiri tak jauh di depan Mantingan. Ketiga-tiganya menunjukkan suara tawa yang mengerikan.
“Kami tidak suka membuat penawaran, tetapi akan tetap kami ajukan. Apakah kau ingin menyerah saja dan menyerahkan seluruh tubuhmu pada kami? Kami pasti akan membuatmu bersenang-senang!”
__ADS_1
Mantingan mendecih sambil menahan rasa sakitnya. “Tiada sudi aku melakukan itu.”
Tiga orang bertopeng saling berpandangan satu sama lain sebelum kembali mengeluarkan gelak suara yang mengerikan.
“Kami paling suka melihat orang menderita. Dengan begitu, mereka akan merasakan kematian yang berbeda. Bukankah itu menyenangkan? Sekarang seperti ini saja.” Orang yang berkata itu kemudian menjentikkan jari. “Aku akan mulai dari gadis itu, lalu orang tua itu, dan selanjutnya adalah kau.”
Di sela-sela rasa sakitnya, Mantingan menyempatkan diri untuk tersenyum. “Kalian tidak akan bisa melakukan itu, jika aku membawa kalian mati bersamaku.”
“Sesungguhnya kami bisa mengalahkanmu dengan mudah, jadi jangan besar kepala. Kami hanya ingin membantumu bersenang-senang sebelum kematian menjemput.”
“Izinkan aku bertanya sebelum aku mati.” Mantingan berkata sebelum kembali terbatuk-batuk, kali ini batuknya disertai oleh darah hitam.
“Orang yang ingin mati pantas untuk bertanya agar tidak mati penasaran.”
Karena jawaban itu dianggap sebagai persetujuan, maka Mantingan meneruskan, “Berapa banyak orang yang telah kau bunuh?”
“Bukan kalian, tetapi kau seorang.”
“Hmm, kau suka berbelit-belit. Aku sudah membantu lebih dari seribu jiwa mencapai kematiannya.”
Mantingan tertawa pelan, menunjukkan mulutnya yang penuh darah hitam. “Apakah kau tidak sadar? Setiap orang yang telah kau bunuh itu memiliki kisah hidup yang patut dilanjutkan. Setiap orang yang telah kau bunuh itu dinantikan oleh orangtua, kekasih, atau anak-anak mereka. Setiap orang yang kau bunuh itu memiliki peranan tersendiri dalam kehidupan dunia. Apakah kau tidak sadar itu?”
Orang yang diajak bicara itu memandangi Mantingan dengan tatapan aneh.
“Kalau boleh jujur, aku tidak merasakannya sama sekali. Aku menikmatinya. Dan jika aku merasakannya sekalipun, aku tetap saja menikmatinya. Kalau kau mencoba untuk menceramahiku, maka boleh-boleh saja ….”
Mantingan terbatuk beberapa kali lagi. Menumpahkan sejumlah darah hitam ke lantai ruangan. Di seberang sana, Paman Bala yang sedang mengulang pembuatan mantra terlihat khawatir. Mantingan tetap tersenyum.
__ADS_1
Mantingan diam beberapa saat sampai ia melihat Paman Bala memberi tanda di seberang sana. “Kalau begitu, izinkan aku menceramahimu sedikit. Setelah itu, kau bebas berbuat apa saja.”
“Oh, silakan!” Orang itu menyilangkan tangannya ke belakang dan tertawa.
Yang selanjutnya terjadi adalah kesunyian. Mantingan sudah tidak terlihat lagi di tempatnya. Sebuah benda bulat jatuh ke atas lantai, disusul oleh debam tubuh yang jatuh setelahnya.
Semuanya terjadi begitu cepat. Ketika Paman Bala memberikan tanda dengan mengacungkan lontarnya yang bersinar, dan ketika orang bertopeng itu lengah dengan menyilangkan tangannya ke belakang, saat itulah Mantingan yang pula sudah mengumpulkan tenaga dalamnya bergerak secepat kilat. Bahkan dua kali lebih cepat dari kecepatan kilat!
Begitulah kelengahan bagi pendekar adalah lima tanda kematian dari enam permukaan dadu. Mantingan berhasil membacok kepala musuhnya, memisahkannya dari leher tanpa cukup cepat disadari oleh musuh lainnya.
Tidak diberikan waktu bagi musuh untuk mengatur raut wajahnya, ribuan aksara telah berterbangan ke atas. Menjadi satu aksara besar. Bersanding dengan aksara-aksara lainnya.
Tiga aksara itu mengeluarkan cahaya biru terang kemudian berputar beberapa saat. Yang selanjutnya terjadi adalah kemunculan cahaya panjang lainnya yang keluar dari hasil putaran aksara. Cahaya itu terus memanjang dan meliuk-liuk di udara. Perlahan-lahan menunjukkan wujud sejatinya.
“Ini Jurus Naga Membelah Badai. Apakah cukup menyenangkan untuk kematian kalian?” Mantingan berkata dingin jauh di belakang musuhnya. Di sampingnya adalah Paman Bala yang tersenyum bahagia.
Kedua musuh yang masih berdiri itu melihat naga panjang bercahaya biru-putih yang terbang meliuk-liuk di atap ruangan. Namun, tidak satupun dari keduanya yang merasa ketakutan, sedikitpun tidak.
“Mungkin ini cukup menyenangkan. Tetapi akan lebih menyenangkan jika kami sendiri yang melakukannya.”
Dua pendekar itu memutar kerambitnya kemudian mengangkatnya ke depan leher. Yang selanjutnya terjadi membuat Mantingan membeliakkan kepala. Mereka berdua membunuh dirinya sendiri dengan menggesekkan bilah kerambit ke leher secara perlahan dan menyakitkan.
Mantingan bergerak mengambil lontar pengatur dan ingin menggerakkan Naga Membelah Badai untuk langsung membunuh mereka. Namun, Paman Bala menahannya.
“Biarkan saja mereka, Pahlawan Man.”
“Tapi Paman, kita belum sama sekali menggunakan Jurus Naga Membelah Badai.”
__ADS_1
Paman Bala menggeleng pelan, lalu menolehkan kepalanya ke arah tirai di pojok kiri ruangan. “Masih ada orang di dalam yang harus ditumpas.”