Sang Musafir

Sang Musafir
Kemunculan Dara


__ADS_3

BACA CHAPTER INI TERLEBIH DAHULU SEBELUM BACA CHAPTER SEBELUMNYA. Terima kasih.


___


Mantingan terbangun. Belum bisa dikatakan sebagai dini hari saat ini. Tetapi Mantingan tetap terbangun, dalam kondisi siaga pula. Ia telah merasakan keberadaan seseorang, yang mengendap-endap mendekati wilayah perkemahannya.


Sebelum tidur, Mantingan memang tidak mematikan api unggun sebab merasa hutan terlalu sepi untuk keberadaan perampok, tetapi kini seseorang mendekati perkemahannya. Akankah itu seorang perampok atau pemburu bunga seperti Mantingan pula?


Pendengaran Mantingan cukup tajam setelah berhasil menjadi pendekar, walau tanpa ilmu pendengaran tajam sekalipun. Pendengaran tajam tanpa pakai jurus itu bukan tiada kekurangan, Mantingan tetap tidak bisa mendengar terlalu merinci.


Suara langkah kakinya semakin mendekat, lalu melambat. Siapa pun orang itu, dirinya sedang berusaha menyusup sampai ke dalam perkemahan Mantingan.


Mantingan meraih pedang di samping yang telah disiagakan sebelum tidurnya. Biarpun membawa pedang, Mantingan tetap mengupayakan cara terdamai untuk menyelesaikan masalah dengan penyusup itu. Mantingan membuka tirai tenda, lalu secara perlahan keluar dari dalam tendanya.


Melalui pendengaran tajamnya, Mantingan tahu bahwa orang itu tidak lagi menginjak tanah. Tak terdengar suara langkah lagi, atau bahkan gerakan sedikitpun.


Mantingan menghela napas panjang, orang yang sedang ia hadapi sekarang tidaklah mudah dikalahkan jika seandainya terjadi petarungan. Jika ia dapat berkelebat tanpa menimbulkan suara, maka dapat dipastikan bahwa dirinya menguasai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.


Dalam petarungan misalnya, ilmu meringankan tubuh adalah sebuah penentu besar kemenangan dan kekalahan seseorang.


Mantingan memutuskan untuk membuka suara. “Mohon untuk tunjukkan diri dan mohon bicara baik-baik. Sahaya tidak menginginkan permusuhan.”


Tidak terdengar jawaban.


“Atau sudilah menjawab sepatah kata.”


Masih tidak terdengar jawaban. Mantingan mulai meragukan pendengarannya, namun di sisi lain ia yakin bahwa suara langkah kaki yang ia dengar adalah suara langkah kaki manusia. Hewan apakah yang berkaki dua selain unggas? Suara langkah unggas akan terdengar seperti benda diseret, bukan seperti yang Mantingan dengar tadi.


Terdapat dua kemungkinan: orang itu telah pergi; orang itu masih bersembunyi.


Untuk memastikan kebenarannya, Mantingan memimpin untuk berkeliling. Mantingan masih tidak pakai kemampuan pendekarnya, berkeliling jalan kaki selayaknya manusia biasa. Akan tetapi, dalam kepura-puraannya itu, Mantingan tetap mengerahkan tenaga dalam pada panca inderanya. Hingga ia dapat lebih mengenali dan merasakan sekitarnya.

__ADS_1


Mantingan berkeliling beberapa kali di wilayah perkemahannya, hingga akhirnya ia berhenti melangkah. Senyum mengembang di bibirnya.


Sebaik-baiknya orang itu bersembunyi, tetap saja membutuhkan napas. Napasnya itulah yang dapat terendus penciuman oleh Mantingan, tetapi anehnya, Mantingan merasa kenal dengan aroma napas ini. Lebih jelasnya, aroma napas yang dikeluarkan orang itu adalah aroma napas perempuan.


Selain Mantingan dapat mengenali orang itu sebagai perempuan, Mantingan juga mengetahui letak perempuan tersebut. Perempuan itu bersembunyi di atas dahan pohon, tadi ia melompat dengan ilmu meringankan tubuh, dan dahan pohon itu itu tepat berada di atas Mantingan.


Tanpa ragu lagi, Mantingan menoleh ke atas. Perempuan itu berteriak keras, meluncur jatuh dari tempatnya hinggap. Mantingan hendak bergerak menangkapnya, tetapi takut perempuan itu merasa tersinggung jika tubuhnya disentuh pria asing, lagi pula ia yakin bahwa perempuan itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Maka Mantingan biarkan saja tubuh si perempuan meluncur terus ke bawah.


Bruk!


Sungguh di luar dugaan Mantingan, perempuan itu tetap menubruk tanah selayaknya manusia biasa. Mantingan yang masih terkejut itu tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Ibarat kata, sebaik-baiknya tupai melompat akhirnya jatuh pula.


“Jangan mengagetkan daku, aduh! Sakit sekali ....”


“Puan, sahaya sudah memperingatkan ....” Ucapan Mantingan terhenti, ia bisa dengan jelas mengenali suara wanita tersebut. “Dara? Mengapa kau ada di sini?”


Mantingan mengernyitkan dahi, apakah benar dirinya yang disebut orang aneh oleh Dara? Bahkan, Dara yang bisa disebut orang aneh. Tempat Mantingan membangun tenda jelas di pedalaman hutan. Sangat jauh dari jalan atau bahkan pemukiman. Lalu, mengapakah Dara bisa ada di sini?


Tetapi sebelum Mantingan bertanya hal itu, Mantingan lekas bergerak membantu Dara berdiri. Dara tidak menolak bantuan Mantingan, walau ia banyak mengaduh sekalipun sudah dibantu.


“Untuk apakah dikau ada di sini, Dara?” tanya Mantingan pada akhirnya.


Dara menggeleng cepat dan tertawa canggung. “Ah, bukan apa-apa, aku hanya jalan-jalan saja.”


“Tidak mungkin engkau berjalan-jalan sampai sejauh ini.” Mantingan menatap penuh selidik. “Apa ada yang salah?”


Dara terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Tatapannya penuh keputusasaan yang dibuat-buat.


“Ya, sebenarnya ada masalah. Tetapi sudahlah, aku harus segera pergi!”

__ADS_1


“Tidak mau mampir barang semalam saja? Hutan ini lumayan menyesatkan di malam hari.”


“Tidak-tidak, daku harus pergi dari sini.” Dara menggeleng, menatap takut sekitarnya.


Dara seperti sedang menutup-nutupi sesuatu dari Mantingan. Dan alasan mengapa dirinya berada di sini itulah yang ditutup-tutupi. Padahal Mantingan penasaran, tetapi Mantingan tidak mau memaksa Dara lebih jauh.


“Baiklah, hati-hati di jalan.” Mantingan mengulurkan tangannya mempersilakan, dan tersenyum sopan.


Namun, diperlakukan sopan malah membuat Dara menatap Mantingan kesal. “Tidak dapatkah engkau sedikit mengerti? Jelas daku butuh perlindungan!”


Mantingan menarik kembali tangannya dan menatap Dara heran. “Tetapi Nyai sendiri yang ingin segera pergi dari sini.”


Dara menggeram, “Apakah dikau kira aku berada di sini karena kebetulan saja? Jelas kita telah telah berjodoh untuk bertemu di sini, kau ditakdirkan membantu diriku!”


Mantingan menarik napasnya, berusaha sabar. “Baiklah, Nyai, adakah yang bisa daku bantu untukmu?”


Dara berucap, “Ada orang gila, dia adalah penggemarku, dan dia adalah pendekar sakti. Pendekar sakti yang gila dan mesum! Sekarang dia mengejarku, sampai ke dalam hutan ini, engkau pasti tahu apa maksudnya jika sudah begitu!”


“Bagaimana ada orang gila yang bisa menjadi pendekar?”


“Dia bukan orang gila yang sebenarnya! Daku menyebutnya orang gila hanya sebagai perumpamaan saja, sebab sikapnya seperti orang gila! Tolonglah daku, nanti akan aku berikan apa saja padamu!”


Enak sekali Dara berkata seperti itu. Beruntung Mantingan tidak berniat mengambil apa pun dari Dara, atau menuntut balas sekalipun. Mantingan tetap bersedia membantu Dara, sebab gadis ini secara tidak langsung pernah menolongnya.


“Nyai, masuk ke dalam tenda, tutup tirainya.”


Dara tersenyum girang, mengangguk sebelum berlari masuk ke dalam tenda Mantingan.


Mantingan menutup matanya. Dengan begitu, ia dapat mendengar lebih tajam dan sampai jarak jauh. Sayup-sayup Mantingan mendengar suara kelebatan angin, dapat jelas ia ketahui bahwa itu suara dari pendekar yang melesat.


Mantingan bersiaga. Orang yang akan dihadapinya bukanlah orang baik-baik. Sekalipun harus terjadi pertarungan, Mantingan tidak mengapa. Mantingan akan membunuh jika diperlukan.

__ADS_1


Suara kelebatan angin itu semakin mendekat, hingga akhirnya mata Mantingan terbuka dan dapat melihat wujudnya.


__ADS_2