Sang Musafir

Sang Musafir
Kerjasama Lontar Sihir Cahaya


__ADS_3

MANTINGAN merasa bahwa Dara agaknya menjadi bersungguh-sungguh jika menyangkut tentang urusan perdagangan. Maka Mantingan pun memasang sikapnya serta senyum samarnya.


“Bagaimanakah kabar Paman Bala saat kalian bertemu?” Mantingan ingin terlebih dahulu menanyakan hal di luar pembahasaan.


Meskipun tampak bingung, Dara tetap menjawab, “Bapak Bala dalam keadaan baik, kurasa begitu. Beliau juga meninggalkan pesan tak tertulis untukmu, yang beliau katakan langsung kepadaku. Untuk berjaga-jaga jika aku lupa, maka aku menulisnya di atas kertas lontar. Apakah kau hendak membacanya?”


Mantingan menganggukkan kepala. Dara kembali memasukkan tangannya ke dalam kantung pundi-pundinya dan mengeluarkan beberapa lembar lontar yang saling terikat satu sama lain. Mantingan segera menerimanya dan lantas membacanya pelan-pelan untuk memastikan tidak satupun kata yang terlewat.


Pahlawan Man, daku merasa kita tidak dapat bertemu lagi


sebab daku menerima tawaran besar untuk berdagang Lontar Sihir di Negeri Atap Langit


maafkan daku, karena daku memutus kerjasama secara sepihak


seluruhnya kuserahkan pada Nyai Dara


jika ada kesempatan dalam hidup, kita akan bersua kembali


akan kubentang kedua tangan untuk menyambutmu


Ketika membaca itu, Mantingan tersenyum lebar. Rasa-rasanya, ia turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan pria parobaya pedagang lontar itu. Sebagai sesama pembuat Lontar Sihir, Mantingan mengetahui bahwa tawaran berjualan di Negeri Atap Langit merupakan suatu peluang yang teramat besar. Paman Bala merupakan pembuat Lontar Sihir yang telah berpengalaman puluhan tahun dalam hidupnya, ia pantas mendapatkan peluang itu.


Mantingan menaruh lontar yang dibacanya di atas meja dan kembali menatap Dara. “Sebelumnya, diriku dan Paman Bala telah berunding untuk menentukan berapa harga untuk setiap lembar lontarnya. Kami telah menetapkan harga sebesar delapan keping emas. Apakah menurutmu itu cukup terjangkau di kalangan pendekar muda?”


Dara menganggukkan kepala meskipun tampak jelas kerutan pada dahinya. “Harga itu terlalu murah untuk Lontar Sihir yang bisa mengeluarkan cahaya terang putih terang seperti lontarmu ini. Bahkan bukan tidak mungkin balatentara akan memesan Lontar Sihir Cahaya dalam jumlah yang tiada terkira jika harganya semurah ini. Kau harus meningkatkan harganya, Mantingan.”


“Jika terlalu tinggi, bukankah Lontar Sihir ini hanya akan bermanfaat bagi kalangan berduit saja?”

__ADS_1


“Dalam dunia perdagangan, hal seperti itu memang sudah biasa, Mantingan.” Suara Dara terdengar melemah.


“Tujuanku menjual Lontar Sihir Cahaya bukanlah untuk meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya, Dara. Aku ingin lontar ini memberikan manfaat bagi pendekar-pendekar muda yang tidak punya banyak uang. Keuntungan yang kudapatkan nanti hanya untuk mengganti tenaga dan waktu yang telah kukorbankan. Mungkin saja dengan tindakanku ini, dunia persilatan dapat menjadi tempat yang jauh lebih baik.” Mantingan berkata dengan bersungguh-sungguh.


Dara terdiam sesaat sebelum akhirnya menyetujui itu. Perempuan itu merasa tidak memiliki pilihan lain. “Baiklah. Di dunia perdagangan, seseorang bebas memasang harga pada barangnya sendiri. Baik itu tinggi maupun rendah, aku tidak berhak untuk memaksamu.”


Dara mengatakan seolah dirinya tetap bertindak sebagai mana mestinya seorang pedagang bertindak, padahal dalam benaknya saat ini ia sedang diliputi perasaan takjub akan kemurahan hati Mantingan sehingga membiarkannya saja berbuat sedemikian. Bukankah Mantingan pernah berkata padanya untuk tidak menghalang-halangi orang berbuat kebaikan tak peduli seberapa tak berharganya itu?


Mantingan berdeham sekali karena melihat gadis itu melamun terlalu lama. Dara tersentak dan buru-buru berkata, “Aku akan membeli seratus Lontar Sihir Cahaya sebagai purwarupa. Untuk menjualnya dalam jumlah besar, aku harus berunding terlebih dahulu dengan kelompokku.”


Mantingan menganggukkan kepala. “Aku setidaknya membutuhkan waktu sekiranya lima hari untuk membuat pesananmu. Apa kau tidak keberatan?”


Dara sedikit mengangkat alisnya, terkejut. “Kukira engkau membutuhkan waktu lebih dari sebulan. Jika dalam lima hari kaubisa menyelesaikannya, maka itu akan sangat bagus.”


Mantingan tersenyum dan mengangguk sekali. “Baiklah, kurasa sampai di sini perun—”


Belum sempat Mantingan bertanggapan, Dara kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam pundi-pundinya, yang setelah Mantingan lihat rupa-rupanya adalah dua lembar lontar dengan sebatang jarum besar. Mantingan meneguk ludahnya, jelas ia mengetahui maksud Dara dengan mengeluarkan dua benda itu.


“Kurasa tidak sekarang, Dara.” Mantingan buru-buru memotong sebelum gadis itu terlanjur meminta. “Kita bisa melakukannya nanti, setelah kuselesaikan seratus Lontar Sihir Cahaya yang kaupesan.”


Dara tampak bingung, sebelum sebentar kemudian mengangkat sudut bibirnya. “Kau takut ditusuk jarum ini, Mantingan?”


Mantingan buru-buru berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar. “Sampai bertemu lagi, Dara. Masih ada waktu satu malam jika engkau hendak menikmati kamar ini!”


***


MANTINGAN masuk ke dalam kamarnya setelah mengantarkan beberapa kudapan manis untuk sarapan ke kamar Bidadari Sungai Utara dan Kana.

__ADS_1


Senyum puas terpancar di wajahnya. Ia tadi membeli ratusan Lontar Sihir kosong berharga murah di sebelah timur pelabuhan. Seikat yang berisi sepuluh Lontar Sihir hanya dihargai sekeping perak. Mantingan tidak perlu membuang banyak tenaga dan waktu dengan mengolah lontar biasa menjadi Lontar Sihir, namun ia tidak pula mengalami kerugian dengan membelinya.


Sayang sekali penjual lontar itu hanya membawa ratusan lontar saja, yang pada akhirnya Mantingan borong semua yang tersisa. Jika saja penjual itu membawa ribuan Lontar Sihir kosong sekalipun, sudah pasti Mantingan akan membelinya!


Sekarang, Mantingan tidak yakin apakah penjual lontar itu akan kembali lagi di hari mendatang ataukah tidak. Sebab memang terdapat pedagang yang berkeliling dari satu kota ke kota lainnya hanya untuk menjajakan barang dagangannya. Melihat dari pakaian si penjual lontar yang kusam, Mantingan mengira bahwa orang itu adalah salah satu dari banyaknya pedagang kelana.


Mantingan membereskan barang-barang di meja kamarnya. Mulai saat ini, meja itu akan menjadi meja kerjanya. Dari jendelanya, ia mungkin akan terlihat sebagai sastrawan, atau paling tidak sebagai penyalin kitab.


Bukankah itu termasuk hal yang bagus dalam penyamaran? Tidakkah seseorang akan curiga jika Mantingan menginap di penginapan itu selam beberapa pekan, yang tentu saja akan mengeluarkan banyak biaya sedangkan dirinya tampak tidak bekerja menghasilkan uang sama sekali?


Mantingan lalu meletakkan diri di atas bangku, menjejerkan beberapa lembar Lontar Sihir kosong di atas meja, mengambil pengutik di dalam pundi-pundinya, lalu mulai menulis.


Kali ini, pekerjaannya sangat menyenangkan. Sebab kegemarannya dalam mencipta mantra sihir mulai mendatangkan keping-keping emas kepadanya. Terlebih-lebih lagi saat Mantingan membayangkan betapa lontar-lontar yang dibuatnya itu akan menjadi sangat bermanfaat sebab dijual dengan harga yang tergolong murah.


Setiap kali Mantingan menggurat lembar lontar dengan pengutiknya, serbuk-serbuk cahaya pudar akan mengisi jejak-jejak ukiran yang dihasilkan pengutik. Itulah serbuk kayu yang telah terlepas dari mantra penahan, sehingga memang wajar jika menghasilkan cahaya meskipun pudar. Tak lain bahwa serbuk kayu itu sebenarnya bagian dari Lontar Sihir Cahaya, hanya saja terlepas karena tergurat.


Dalam waktu kurang dari seperempat peminuman teh, Mantingan berhasil menciptakan sebuah Lontar Sihir Cahaya. Dialirkannya sedikit tenaga dalam pada lontar tersebut—benar-benar hanya sedikit saja tenaga dalam yang dikeluarkannya—untuk memeriksa apakah lontar tersebut berdaya atau tidak.


Mantingan mengangguk dan tersenyum puas sebelum meletakkan lontar tersebut di sudut meja.


___


catatan:


Kata "prototipe" diganti menjadi "purwarupa".


__ADS_1


__ADS_2