Sang Musafir

Sang Musafir
Enam Penyamun


__ADS_3

TENTUNYA alasan mengapa ia memilih menampilkan Mantingan seolah-olah dirinya adalah orang lemah adalah karena dirinya masih belum mengetahui seperti apa aturan di dunia persilatan serta dunia awam di Suvarnadvipa.


Tentu saja sebagai seorang pendatang, dirinya tidak ingin berlaga sok kuat yang pada akhirnya akan menimbulkan kesengsaraan untuk diri sendiri.


Maka ketika ditodongkan kelewang itu hingga menyentuh kulit lehernya, Mantingan menampilkan diri seolah benar-benar merasakan ketakutan luar biasa.


“Panggil dia dengan sebutan ‘Tuan’! Derajatnya jauh lebih tinggi daripada dikau!”


“Saudara yang terhormat, bukankah hanya ada satu ‘Tuan’ yang dapat kita panggil sedemikian, yakni Dia Yang Dipertuan semesta?” Mantingan menjawab dengan raut wajah polos.


“Rupa-rupanya dikau sudah bosan hidup! Banyak alasan sama saja minta mati! Terimalah ini!”


Orang itu menarik kelewangnya jauh-jauh dari leher Mantingan, yang agaknya ingin segera diayunkan kembali untuk memisahkan kepala Mantingan dari batang lehernya. Namun sesaat sebelum hal itu betul-betul terjadi, seseorang di antara mereka lebih dulu menghentikan gerakannya.


“Tahan dulu!” kata orang yang agaknya merupakan pemimpin mereka. Kini matanya beralih pada Mantingan. “Kulihat dikau muncul tiba-tiba di sini. Hanya satu jenis manusia yang dapat melalukan hal semacam itu.” Lalu desisnya, “pendekar, dikau adalah pendekar!”


Mantingan menampilkan diri seolah terkejut bukan alang kepalang. “Apalah yang Saudara katakan. Sahaya yang hina-dina ini sungguh amat sangat rendah derajatnya, mana mungkin dapat menjadi seorang pendekar yang sakti mandraguna dan tak terkalahkan. Bahkan memimpikannya pun sahaya tidak pernah!”


“Nah, jelaskanlah mengapa engkau dapat muncul secara tiba-tiba tepat di hadapan kami seperti tadi itu?” Kini giliran orang itu yang menodongkan kelewang. “Kuharap dikau memiliki jawaban yang cukup memuaskanku.”


“Sahaya hanya merendam diri di bawah pasir, ketika sahaya merasakan seseorang telah menginjak-injak saya dari atas. Di situlah sahaya langsung 5?terbangun dan melihat seorang anak perempuan kecil sedang berlari kencang seolah sedang dikejar harimau buas, tetapi ternyata kalianlah yang mengejarnya.”


“Masuk akal! Tetapi mengapa dikau berdiri tegap seperti ini, huh? Hendak berlagak menjadi pahlawan yang menghalangi kami dengan pedang di pinggangmu itu?”


“Sama sekali tidak, Saudara-Saudara sekalian. Sahaya akan merasa sangat bahagia jikalau Saudara-Saudara kembali mengejar anak itu dan bukannya diriku.”


Keenam orang itu lantas memandang ke sekitar, seolah baru saja menyadari sesuatu hal yang teramat penting. Namun selintas kemudian, tampaklah wajah mereka berubah warna menjadi merah padam.


“Ah, begundal! Anak itu tidak tampak lagi, kami kehilangan mangsa! Dan dikaulah penyebabnya!”


“Mengapa diri sahaya pula yang disalahkan?” Mantingan menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah heran teramat heran. “Bukankah kalian sendiri yang berhenti mengejarnya?”

__ADS_1


“Kami berhenti karena dikau menghalangi jalan!” Seorang lainnya menodongkan kelewangnya. Tampak tidak sabar. Maka terdapat dua batang kelewang yang menempel di leher Mantingan.


“Sahaya tidak merasa menghalangi jalan sama sekali.” Mantingan celingukan melihat ke sekitarnya. “Bukankah pantai ini begitu luas, sehingga bahkan kalian bebas berlarian ke manapun tanpa perlu berdesak-desakan?”


Keenam orang itu kembali saling menatap satu sama lain. Berbisik dengan suara kecil-kecil. Betapa pun kecilnya suara bisikan mereka, Mantingan masih mampu mendengarnya tanpa menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun sekalipun.


“Lebih baik dihabisi atau tidak?”


“Habisi saja! Lihat, dia membawa bundelan besar dan pedang yang sekiranya cukup berharga jika kita jual.”


“Tapi apakah kita begitu tega membunuh orang yang ternyata begitu malang nasibnya? Tangannya buntung, terdampar di pulau asing pula. Kita lucuti saja barang-barangnya dan tinggalkan dia di sini.”


“Heh, sejak kapan hatimu jadi lembek seperti ini? Sebagai seorang penyamun, tentulah dikau harus menunjukkan kekerasan hati pada banyak orang.”


“Daku setuju dengan pendapat dikau, orang lemah seperti dirinya mesti kita beri pelajaran agar bertumbuh menjadi kuat suatu hari nanti. Saranku, potong saja tangan yang satunya itu.”


“Saran yang bagus,” sahut pemimpin mereka. “Jika langsung mampus, mana bisa dirinya mengambil pelajaran.”


“Dikau ini bodoh atau bagaimana? Jika kita potong tangannya yang tersisa, sudah barang jadi dia tidak akan bisa balas dendam pada kita!”


Maka setelah menyelesaikan perundingan, keenam orang itu berganti menatap Mantingan dengan buas. Mantingan pura-pura meneguk ludah, agar disangka bahwa dirinya memang sedang ketakutan.


“Sebenarnya kami sangat ingin membunuhmu!” Demikianlah si pemimpin berkata dengan suara wibawa. “Tetapi sungguh pada dasarnya, kami adalah orang-orang yang berbudi luhur. Dikau berasal dari Javadvipa, dan kami berenam pun berasal dari Javadvipa pula, jadi kami semua sungguh tidak tega untuk membunuhmu.”


Mantingan segera bersoja dalam-dalam beberapa kali sebelum berkata, “Daku amat sangat berterimakasih atas kebijaksanaan Saudara-Saudara! Terima kasih, terima kasih, terima kasih! Sekarang, daku dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang.”


“Tunggu di sini!” Seorang dari mereka memegangi pundak Mantingan, yang dalam seketika menghentikan gerak pemuda itu. “Memangnya siapa yang menyuruhmu pergi? Ketua, beri dia paham!”


“Kami memang membiarkan nyawamu tetap dalam raga, tetapi bukan berarti engkau akan pergi tanpa membayar dosa-dosamu terhadap kami.”


Raut wajah Mantingan berubah seketika itu pula. “Memangnya apa kesalahan diriku kepada kalian, Saudara-Saudara?”

__ADS_1


“Engkau telah membuat tangkapan kami lolos, itulah kesalahanmu yang entah disengaja atau tidak disengaja!” tandas yang lainnya.


Mantingan mengerutkan dahi. “Tangkapan kalian? Bukankah kalian tidak berhasil menangkapnya? Lagi pula sudah kukatakan pula bahwa diriku tidak berusaha menghentikan kalian, justru kalian sendiri yang berhenti dan bercakap-cakap denganku.”


“Kami ambil barang-barangmu. Bundelan dan pedang itu. Sekalian pula tanganmu yang tinggal sebelah itu tinggalkan di sini,” kata si pemimpin dengan senyuman mengembang. “Ingatlah, kami sudah berbaik hati dengan tidak memapas nyawamu, tetapi segala perbuatanmu memang harus ada bayarannya.”


Mantingan menarik napas panjang. Jika dirinya terus menyamar sebagai orang awam yang sama sekali tidak mempelajari ilmu persilatan, yang ditambah pula dengan kenyataan bahwa lengan kanannya telah tiada, maka akan amat sangat mustahil baginya untuk dapat mengungguli keenam orang yang bersenjatakan pedang ditambah sehat dan bugar itu. Sangat mustahil dan tidak masuk akal!


Haruskah dirinya mengakhiri penyamarannya dengan langsung membunuh mereka berenam dalam waktu kurang dari sekejap mata? Ataukah dirinya memohon saja di bawah kaki mereka untuk dijadikan anak buah guna terhindar dari pembunuhan?


Dirinya tersenyum pahit. Sekiranya ia merindukan kediamannya di Desa Lonceng Angin yang asri nan syahdu. Javadvipa mungkin sudah aman dan tentram sekarang.


“Oi, penyamun-penyamun tengik! Berani-beraninya kalian mengincar cucuku!”


Mantingan menoleh ke arah kirinya, menemukan sesosok bayangan kecil yang perlahan-lahan mendekat di kejauhan sana.


___


catatan:


Perkara Pham Lien, atau Bidadari Sungai Utara, keberadaan tidak benar-benar ada di dunia nyata.


Saya menyebut nama raja Bhadravarman, sebagai saja Champa kala itu, yang pula menjadi ayah dari Pham Lien.


Pada kenyataannya, tidak ada catatan sejarah yang menyebut anak-anak perempuan Bhadravarman. Atau lebih tepatnya, pada kala itu lazimnya nama perempuan tidak ditoreh dalam prasasti maupun catatan-catatan kuno.


Mengandaikan bahwa kemungkinan besar Bhadravarman memiliki seroang anak perempuan dari permaisuri atau selirnya, saya ciptakan tokoh Pham Lien, yang menikah dengan anak Raja Fan Sun Man (Funan) entah dijadikan permaisuri ataupun selir.


Tetapi dalam catatan sejarah, pada kala itu Funan memang sedang memperluas wilayah, sehingga hubungan baik antara Champa kepada Funan rasa-rasanya diperlukan.


__ADS_1


__ADS_2