
Saat Mantingan menanyakan hal itu pada Arkawidya dan telah berhasil membuat dua wanita di hadapan Mantingan menatapnya terkejut bukan main, saat itulah Arkawidya berdeham sekali dan membalas dengan balasan yang tak pernah Mantingan duga.
“Daku tidaklah mengapa, anggaplah itu sebagai balas budi dan hadiah pertemanan. Tetapi bagaimana dengan Rara?”
Jawaban dari Arkawidya jelas membuat Mantingan terkejut bukan kepalang. Ia tak pernah sungguh-sungguh bertanya seperti itu, dan tentu ia tak menginginkan hal semacam itu!
“Aku juga tidak mengapa ....”
Dan satu jawaban serupa dari Rara berhasil membuat Mantingan sekejap berlari ketakutan jauh-jauh dari tempat itu. Rara dan Arkawidya hanya bisa menatap aneh ke arah Mantingan.
Mantingan masih berlari ketakutan hingga dirinya hampir-hampir keluar dari hutan buluh, menuju jalanan. Ia baru terhenti setelah memastikan dua wanita gila itu tidak mengejar. Mantingan menghela napas lega panjang-panjang, mengembuskannya perlahan.
Baru setelah Mantingan menenangkan diri, dan tak sungkan membuat sarapan untuk bersama-sama Bukankah itu adalah hal yang lumrah? Pelacuran, perzinahan, dan sebagainya bukanlah hal yang dianggap tabu bagi umum. Tentunya perbuatan-perbuatan itu dilarang dalam agama. Namun untuk umum itu adalah hal yang biasa.
Bahkan rumah pelacuran pun dilindungi oleh undang-undang dan hukum kerajaan. Dan pria cukup umur seperti Mantingan akan dianggap wajar jika sudah menyewa beberapa wanita pelacur. Tetapi sampai saat ini, Mantingan tidak pernah menyewa wanita pelacur dan dirinya masih perjaka utuh. Bukannya ia tak memiliki uang untuk melakukan itu, hanya saja ia menganggap bahwa hal seperti itu sangat tidak baik karena mencoreng arti kesetiaan.
Mantingan tidak mau membedakan mana itu wanita untuk keluarga dan untuk dicurahkan seluruh cintanya, dengan wanita untuk bersenang-senang saja. Mantingan mencotoh bapaknya, yang lari ke rumah dan bersembunyi di balik badan isterinya saat seorang wanita menggodanya.
Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?
Mantingan baru saja ingin menyalakan api di tumpukan kayu yang berhasil ia kumpulkan sampai telinganya menangkap derap langkah kuda dari kejauhan. Asalnya dari jalan, dan beruntungnya Mantingan saat ini berada jauh dari jalanan dan belum menyalakan api.
Mantingan meninggalkan alas kakinya lalu mengendap-endap ke arah jalanan. Rimbunan buluh yang sangat lebat yang membuat bagian hutan itu terlihat sangat gelap, akibat tertutupnya sinar mentari oleh dedaunan dan batangnya yang saling bertindihan. Dengan itu, Mantingan bisa bersembunyi di balik salah rimbunan buluh dan tertutupi bayangan. Dia bisa melihat apa yang sedang terjadi di jalanan berdebu itu.
__ADS_1
Mantingan melihat sepasukan orang berkuda melaju dari arah kanannya, dan satu pasukan tanpa kuda yang menyerbu dari arah kanannya. Apakah mereka hendak bertempur atau hendak membuat suatu pertunjukan seni? Tetapi tidaklah mungkin ada pertunjukan seni digelar pada tengah hutan sepi manusia seperti ini.
Kejadian ini berlangsung begitu cepatnya. Dua pasukan itu mengacungkan senjatanya masing yang. Pasukan berkuda hanya memakai senjata tombak serta pedang, sedangkan pasukan tanpa kuda menyerang dengan senjata yang sangat beragam bentuknya.
Tersisa satu depa sebelum tumbukan antar-pasukan terjadi, dalam sekejap itu pasukan tanpa kuda menghilang seakan-akan ditelan udara. Yang selanjutnya terjadi adalah teriakan kematian dari orang-orang di atas kudanya sebelum tubuhnya dan tubuh kudanya jatuh dengan kondisi mengenaskan.
Semua orang dalam pasukan berkuda itu tewas hanya dalam satu kejapan mata saja. Sesaat kemudian pasukan tanpa kuda muncul kembali dan tersebar di tempat mayat-mayat pasukan berkuda. Mantingan berpikir bahwa mereka itu pastinya adalah pendekar, manusia yang bisa melakukan hal itu hanyalah manusia pendekar saja.
Gawat. Posisi Mantingan berada dalam bahaya saat ini!
Mantingan tidak boleh menimbulkan suara yang memancing mereka, yang dalam artinya ia tak boleh bergerak.
“Prajurit-prajurit Tarum memanglah lemah-lemah.” Salah seorang dari mereka berkata sambil menendang sosok mayat di depannya.
“Tidak perlu diragukan lagi, golongan hitam akan cepat menggulingkan kekuasaan Punawarman itu.”
“Tinggal menunggu saatnya saja Salakanagara menguasai Jawa lagi.”
Mantingan mengangguk pelan, sepertinya mereka adalah orang-orang golongan hitam yang mendukung kebangkitan Salakanagara dan bermaksud menggulingkan kekuasaan Punawarman saat ini. Dapat dilihat juga dari pakaian mereka yang serba hitam, juga senjata-senjatanya yang aneh bentuknya.
“Kita harus segera pergi dari tempat ini sebelum pendekar dari Sundapura datang menyerang kita.”
“Jangan terlalu buru-buru. Daku pernah lewat jalan ini dan menemukan bahwa tak jauh dari sisi kiri kita ini adalah sungai kecil dan banyak ikannya, apakah kalian tidak ingin istirahat barang sejenak?”
__ADS_1
“Itu usulan yang bagus jika memang perkataanmu itu benar. Mari!”
Jantung Mantingan berdegup kencang. Bukankah itu berarti posisi Rara dan Arkawidya benar-benar dalam bahaya yang nyata? Mantingan mempersiapkan kuda-kuda untuk berlari sekuat tenaga ke arah sungai kecil tempat Rara dan Arkawidya berada, tak peduli walau kecepatan orang-orang pendukung Salakanagara itu jauh lebih cepat larinya dan dapat saja membunuhnya seketika.
Sesaat sebelum Mantingan berlari kencang, terdengar derap kuda lagi dari arah kanan jalan yang telah menghentikan langkah Mantingan dan juga langkah orang-orang aliran hitam itu. Mereka menggeram marah dan mengacungkan senjatanya ke depan.
“MATILAH KALIAN ORANG TARUMA!”
Pasukan yang datang sepertinya jauh lebih banyak ketimbang pasukan awal jika dihitung dari derap kaki kuda yang lebih menggetarkan udara itu. Orang-orang itu berkelebat pergi.
Inilah kesempatan Mantingan untuk berlari pula! Walau larinya tidaklah secepat orang-orang itu, tetapi Mantingan yakin akan kemampuannya dan dapat menyelamatkan Rara dan Arkawidya.
Melesatlah Mantingan laksana anak panah yang baru saja ditembakkan busur.
Tanpa alas kaki, Mantingan bisa berlari lebih cepat dari biasanya, terlebih ia tak membawa buntelannya. Tunggu. Apakah itu berarti Mantingan perlu mengambil buntelan dan alas kakinya? Atau ia harus pergi saja melupakan buntelan dan alas kakinya itu?
Mantingan akhirnya memutuskan untuk menyempatkan diri meraih buntelan dan alas kakinya sebelum berlari lagi, tidak ada satupun dari dua benda itu yang ia pakai. Ditinggalkan saja ranting-ranting dan kayu untuk bikin sarapan.
Kakinya acap kali menginjak ranting-ranting yang tak jarang membuat luka di sana. Beberapa kali ia terjatuh dan menimbulkan luka di sikutnya. Tak juga semua itu dipedulikan. Hingga sampailah ia di sungai kecil tempat Rara dan Arkawidya sedang asiknya mandi itu.
Terengah-engah Mantingan sampai di sana. Dua wanita yang tengah berendam di dalam air dingin sungai itu lantas terkejut dan menyembunyikan diri ke dalam air. Buru-buru Mantingan mengalihkan pandang ke sembarang tempat. Bagaimana dirinya bisa begitu bodoh melupakan bahwa Rara dan Arkawidya sedang mandi? Paling tidak, Mantingan harus memberi mereka peringatan sebelum dirinya benar-benar tiba di sini!
“Kau berubah pikiran, Mantingan?”
__ADS_1