
Catatan:
Dan, ya, terulang kembali. Malam itu, saya terlampau mengantuk, jadi asal-asalan sajalah saya copy paste tanpa periksa lagi. Saya salah menempatkan naskah.
Kemudian pada pagi harinya, tentulah saya menjadi panik setelah membaca komentar dari para pembaca yang amat budiman, jadi saya langsung menghapus episode. Di sanalah saya menepuk dahi saya sendiri, sebab episode tidak akan pernah bisa dihapus dari peredaran publik, dan hanya terhapus di halaman penulis. Kini saya tidak memiliki kendali atas episode tersebut.
Mohon maafkanlah kesalahan anak muda yang masih amat polos ini. Silakan lanjut membaca, jangan lupa like, komentar (dan ini yang terpenting), serta vote. Terima kasih banyak.
____
DUA pekan setelah itu, di kedalaman sebuah gua yang teramat gelap, dengan ribuan kelelawar yang menggantung di langit-langit batu, dengan aroma pesing dari hewan-hewan malam itu, pula dengan kesunyian yang bagai tidak memiliki duanya. Seseorang yang sebenarnya masih berusia muda tetapi kini tampak tidak muda lagi duduk bersila di atas sebongkah batu sambil memejamkan kelopak matanya yang telah berkerak kotoran.
Ketika didengar serta dilihatnya suara kaki kerbau yang datang mendekat, lekas saja ia membuka mata, meskipun sangat jelas bahwa dalam kegelapan seperti itu tiada sesuatu apa pun yang dapat dilihat oleh mata.
“Munding, kau kembali.” Pemuda itu tersenyum ketika dirinya mengelus kepala kerbau itu.
“Ongng!” Dengan bersemangat, kerbau itu meletakkan setangkai sayuran di hadapan pemuda itu.
“Sepertinya daku harus menyudahi ini semua, Munding. Telah sekian lama daku mendekam di gua lembab ini dengan pakaian yang tak pernah kuganti dan tubuh yang tidak pernah kubasuh air. Kini sudahlah saatnya daku keluar menyambut matahari dan harapan baru. Biarlah luka atas kematian Chitra Anggini kujadikan hiasan jika memang tidak dapat disembuhkan dengan cara apa jua. Kita harus tetap pergi dari sini, Munding, kekasihku menungguku, akhir perjalanan menungguku. Kita tidak boleh berlama-lama lagi.”
Benarlah bahwa pemuda itu adalah Mantingan, seorang Pemangku Langit termuda, Pahlawan Man, yang kini baru bangkit dari keterpurukannya setelah lebih dari satu purnama mendekam di dalam gua itu.
Mantingan salah bila saat itu ia berpikir bahwa dengan meninggalkan Suvarnadvipa, kematian Chitra Anggini dapat segera dilupakannya. Namun, kenyataannya tidaklah sedemikian rupa.
Tak peduli seberapa jauh ia membawa diri pergi meninggalkan pusara Chitra Anggini, rasa sakit itu akan tetap ada. Bahkan jauh lebih parah sedaripada sebelum pergi, sebab ia merasa telah meninggalkan kawan seperjalanannya begitu saja jauh di belakang.
Untuk mengatasi rasa sakit itu agar tidak sampai mengubah seluruh penalaran dan sikapnya, Mantingan memilih untuk bersamadhi di dalam sebuah gua yang ditemuinya di wilayah Salaka.
Di hari-hari pertama, Mantingan tidak bisa mendapatkan ketenangan sebagaimana yang diinginkannya. Justru kesunyian, kegelapan, kesendirian, telah membuat bayang-bayang Chitra Anggini kembali memenuhi pikirannya dengan dampak yang jauh lebih parah.
Terkenangnya kembali pemandangan betapa Chitra Anggini mengungkapkan perasaan cinta sekaligus cemburu kepadanya.
Masih teringat jelas penglihatan ketika bilah Pedang Savrinadeya menembus jantung perempuan itu sehingga darah mengucur begitu derasnya, bagai sederas air mata yang dikeluarkan Mantingan selama beberapa hari itu.
Namun selang satu-dua hari setelah mencapai puncak dari rasa sakit itu, Mantingan mulai dapat merasakan ketenangan dalam samadhinya.
Meskipun ingatan-ingatan tentang perempuan itu tidak menghilang sama sekali, tetapi kenangan buruk telah digantikan kenangan baik. Dirinya mengingat betapa menggemaskannya Chitra Anggini yang keras kepala itu, betapa pedas sumpah serapah yang keluar ketika sedang marah, dan betapa hebatnya perempuan itu menahan dan menjaga dirinya di saat-saat yang teramat genting.
Kenangan-kenangan baik itu terus terputar, sehingga dalam beberapa kesempatan dapatlah terlihat seulas senyum yang terbit di bibirnya.
__ADS_1
Namun, keadaan baik itu tidak dapat bertahan terlalu lama. Pada saat-saat yang membahagiakan itu, tetiba saja terlintas kenangannya ketika melihat kepala Kiai Guru Kedai yang terpenggal, pula kepala Tapa Balian yang menggelinding tertebas kelewang akibat dirinya tidak cepat bertindak. Lantas diperburuk lagi dengan kenangan akan kematian Chitra Anggini di ujung pedangnya sendiri.
Mantingan melewati masa-masa menyulitkan itu selama lebih dari tujuh hari dengan memasuki keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu. Matanya tidak terbuka selama itu. Perutnya tidak kemasukan makanan. Kulitnya tidak menyentuh sinar matahari.
Kini, sudahlah tiba waktunya untuk kembali bangkit dari keterpurukan itu, sebab Mantingan sadar bahwa luka akibat kematian Chitra Anggini itu memang tidak akan pernah dapat benar-benar tersembuhkan. Biarlah menjadi luka tanda kejantanan yang menghias jiwanya.
Mantingan dan Munding berjalan keluar dari dalam gua tersebut. Sinar matahari langsung menyambut mereka dengan hangat, seolah turut senang melihat pemuda itu kembali dari keterpurukannya.
Pemuda itu akan mencari Bidadari Sungai Utara dengan menelusuri jejak perjalanannya semasa masih berada di Javadvipa, sebab dirinya tidak benar-benar tahu keberadaan gadis itu saat ini.
Sebenarnya, akan jauh lebih mudah bila dirinya terbang menunggangi Munding Caraka, tetapi untuk sebentar saja ia ingin menikmati perjalanan dengan berjalan kaki. Hendak dirasakannya kembali betapa lembut dan menggelitik rerumputan, lengket dan kotor lumpur, basah dan menjengkelkan air di dalam kubangan jalan. Telah begitu lama tidak dirasakannya hal-hal itu.
Bila sekiranya nanti telah merasa puas, Mantingan akan tetap menunggangi Munding dan terbang untuk mempersingkat perjalanan.
Saat ini, dirinya bergerak menuju sebuah bangunan kedai yang terletak tidak sebegitu jauh di depannya.
Seluruh ‘Batu’ miliknya telah ia tinggalkan di kotaraja, tepatnya di Kedai Seribu Cangkir untuk ibu pemilik kedai. Namun, dirinya masih memiliki beberapa puluh keping emas untuk dapat membayar makanan serta beragam kebutuhan kecil lainnya.
***
“Hendak makan apa?”
PEMILIK kedai menghampiri Mantingan dengan raut wajah tidak bagus. Pandangan matanya tidak berhenti menggerayangi penampilan pemuda itu dari atas sampai bawah. Langsung saja dia dinilai tidak akan memberikannya keuntungan terlalu banyak, bahkan barang mungkin justru kerugian, sebab tidak akan sedikit pengunjung kedai lainnya merasa risih dengan kehadirannya itu.
“Yang termurah? Daku memiliki pisang cuma-cuma, tetapi orang-orang di sini hanya memakannya sebagai hidangan penutup, kuyakin itu tidak akan mengenyangkan perutmu.”
“Tidak mengapa, Paman, daku memang tidak memiliki banyak uang.” Mantingan menjawab jujur sebab dirinya hanya memiliki beberapa keping emas setelah seluruh Batu miliknya diberikan pada ibu pemilik Kedai Seribu Cangkir di Kotaraja Koying.
“Kalau sebegitu tidak memiliki uang, mengapa kamu tidak mengharapkan makanan cuma-cuma yang diberikan kuil Buddha setiap harinya? Di sana, kamu tidak akan hanya mendapatkan beberapa buah pisang, tetapi kamu harus bersabar sebab banyak orang yang tidak mampu seperti dirimu.” Pemilik kedai berbicara dengan suara yang ditinggikan, seolah saja sengaja membuat perkataannya itu didengar seluruh pengunjung kedai.
Tindakan seperti itu justru membuat Mantingan senang. Ia tidak perlu bersusah-payah lagi meyakinkan orang-orang di kedai itu betapa dirinya adalah sebenar-benarnya pengembara miskin dan bukannya pendekar di atas segala pendekar.
“Biarlah daku makan di kedaimu terlebih dahulu, Bapak. Mungkin saja ini akan menjadi bakti bagi dikau, sehingga svarga telah menjamin tempat untukmu.”
Mendengar itu, bibir si pemilik kedai melengkung membentuk senyum. “Hahaha. Dikau benar-benar tahu apa yang membuat hatiku menjadi luluh pada orang miskin seperti dikau. Tak mengapa, daku akan memberikan sepiring umbi-umbian untuk dikau, haraplah itu dapat mengenyangkan perutmu.”
“Duhai! Paman, baik sekali dirimu. Selama daku mengembara, tidak kutemui satupun pemilik kedai yang sebaik dikau. Biasanya mereka akan mengusirku dengan amat kasar bahkan sebelum daku sempat duduk di bangku makan. Tetapi dikau tidak hanya mengizinkanku yang hina kelana ini mengotori bangku kedaimu yang indah, melainkan pula dikau memberikanku sepiring makanan. Sungguh, jasamu tiada akan kulupakan dengan begitu mudahnya.”
“HAHAHAHA! Bagus juga dikau merangkai kata, Bocah, meskipun pastilah dikau tidak mengerti baca-tulis. Entah dari mana dikau mendapatkan pengetahuan itu, tetapi harus kuakui betapa diriku menjadi tersanjung berkat dikau. Bukankah udara di luar sangat dingin? Biarlah pula daku berikan secangkir teh hangat untukmu.”
__ADS_1
“Aih, Paman, betapa beruntungnya diriku hari ini. Tak salah kuturuti langkah kakiku ketika ia berkata untuk berkunjung ke kedaimu sekadar mencobai peruntungan. Kini daku telah berhadapan dengan seseorang yang teramat murah hati, teramat ringan tangan, sehingga teramat mudah pula dia memberikanku sepiring makanan dan secangkir teh yang pada mestinya kubayar dengan sedikit uang yang kumiliki, dikau memberikannya secara cuma-cuma kepadaku. Beruntungnya daku!”
“Bocah ... begitu mudahnya engkau membuat daku merasa sangat mulia.” Pemilik kedai itu mengelus dadanya dengan senyum congkak. “Kuberi saran kepada dikau, sehingga mungkin saja hidup dikau menjadi berubah sepenuhnya berkat saran yang kuberikan kepada daku. Maukah kiranya dikau mendengarkanku, wahai Bocah?”
“Satu lagi keberuntunganku. Tentulah daku tidak akan menolak untuk mendengarnya, Paman.” Mantingan menjawab dengan nada mendayu-dayu.
“Jadilah dikau orang sastra, Bocah. Buatlah puisi-puisi yang menyanjung para pejabat, sehingga mereka tidak akan ragu memberikan dikau sedikit uang. Dikau tahulah, sedikit bagi mereka berarti amat banyak bagi dikau. Belajarlah membaca dan menulis di kuil. Biasanya, ada beberapa biksu yang berbaik hati mengajarkan orang miskin baca-tulis, boleh-boleh dikau pula akan mendapatkan pelajaran tentang kebajikan.”
“Ah, saran yang amat bagus, Paman. Akan daku pertimbangkan dengan sungguh-sungguh, tetapi kali ini perutku sudah terasa amat lapar.” Mantingan berpura-pura mengelus perutnya. “Maklumlah, belum makan selama satu bulan.
“Satu bulan?! Astaga, yang benar saja dikau ini. Seharusnya dikau sudah mati, tetapi sepertinya langit mengasihani dikau hingga sekarang pun kakimu masih mampu berjalan. Biarlah daku urungkan sepiring umbi-umbian itu, akan daku gantikan dengan makanan terbaik yang kumiliki saat ini. Semoga saja daku juga mendapatkan berkat sebab telah menolong anak yang dikasihani langit!”
“Paman! Bukankah itu terlalu berlebihan? Daku tidak pantas menerimanya.” Mantingan menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil berdiri, beruntunglah Lontar Sihir Bayangan yang dipasangkan pada bagian bawah caping itu masih cukup mampu menutupi rupa wajahnya meski matahari sedang terik-teriknya bersinar. “Janganlah membuatku berutang terlalu banyak kepadamu, Paman.”
“Tidak. Dikau tidak boleh menganggap ini sebagai utang, anggap saja sebagai bagian dari baktiku. Dikau boleh membayarnya dengan doa.” Pemilik kedai tersenyum lebar sebelum beranjak menuju dapurnya.
Mantingan kembali duduk sambil mengembuskan napas panjang. Bila kebaikan pemilik kedai itu tidak boleh dianggap sebagai utang, mengapakah dia masih meminta bayaran berupa doa kepadanya?
Kiai Guru Kedai pernah berkata kepadanya:
“Bila dikau memang tidak mengharapkan balasan apa pun atas kebaikan yang dikau sumbangkan pada orang lain, maka janganlah pula dikau meminta doa kepadanya. Biarlah Sang Pemberi membalas segala apa yang dikau perbuat.”
Namun, Mantingan tidak terlalu heran pada sikap si pemilik kedai. Orang-orang seperti itu biasanya malas beribadah, tetapi tetap mengharapkan svarga, sehingga jadi mereka tak akan segan meminta doa pada orang yang lebih berigama agar mendapat tempat di svarga.
Bagi mereka itulah anggapan mempersekutukan Sang Pencipta hanya sebatas pada kepercayaan belaka dan bukannya pada tindakan. Jadi selama mereka masih meyakini keberadaan Sang Pencipta, dengan seberapa pun buruknya tindak-tanduknya di dunia, maka mereka akan tetap merasa kelak mendapatkan sedikit tempat di svargaloka.
Tidakkah itu merupakan sebuah kemunafikan?
Tak lama berselang, hidangan datang juga. Pemilik kedai itu membawakannya satu mangkuk berisi daging kambing rebus bersama sepiring nasi hangat, tidak tertinggal pula secangkir teh manis yang tampak terus mengepulkan uap melawan udara dingin.
“Terima kasih banyak, Paman.” Mantingan menyampaikan rasa terima kasih dengan tulus.
Sekian lama dirinya tidak menyentuh makanan semacam apa pun akibat keterpurukan atas kematian Chitra Anggini, kini dihadapkan kepadanya semangkuk kambing rebus bersama nasi hangat. Bertepatan sekali kedai ini dibangun pada wilayah perbukitan, sehingga di siang hari sekalipun udara tetap terasa dingin. Hidangan dan suasana seperti itu sangatlah cocok, bagai sulit dipisahkan.
Mantingan mulai menyantap makanan itu dengan amat lahap. Kali ini, sengaja dirinya tidak memperlihatkan adat makan, sehingga orang-orang di sekitarnya akan tetap berpikir bahwa ia adalah si pengembara miskin yang kurang pendidikan.
Di saat itulah, mereka kembali berbincang satu dengan yang lain tanpa sedikitpun menaruh kecurigaan pada kehadiran Mantingan. Segala macam kabar mereka tukarkan dengan kabar lainnya. Dan bila memang tidak ada kabar untuk membalas, bolehlah menggunakan sekendi tuak.
“Dikau dengar perkataan pemilik kedai itu? Dia berkata seolah menjadi sastrawan dapat membuat kita kaya raya. Padahal pada kenyataannya, banyak sastrawan yang ditinggalkan istri dan anak-anaknya akibat hidup yang sedemikian melarat,” kata salah satu dari mereka.
__ADS_1
“Sastra memang banyak berguna bagi kelangsungan peradaban, tetapi kehadirannya sudah terlalu banyak dijumpai sehingga seringkali diremehkan. Hampir di mana-mana kita menjumpai orang yang bisa membaca dan menulis. Alhasil, banyak yang tidak menghargai para sastrawan sebab berpikir bahwa siapa pun jua bisa menulis sebagaimana sastrawan.”
“Itulah kesempitan berpikir masyarakat luas. Mereka tidak sampai memikirkan betapa para sastrawan yang namanya sering terdengar telah menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun hanya untuk mendalami seni sastra. Tentulah siapa pun bisa menulis dan merangkai kata, tetapi tidak untuk bisa menandingi para sastrawan.”