
MANTINGAN mengayunkan pedangnya. Menebas leher sosok pendekar yang sedari tadi dikejar olehnya!
Bukan ayal setelah kepala terpisah dari tubuh, sosok yang tengah melesat dengan kecepatan tinggi itu terjatuh dan menghantam air beberapa kali sebelum akhirnya tenggelam di lautan.
Mantingan melambatkan laju. Napasnya cukup terengah-engah. Pengejaran yang dilakukannya barusan amat sangat menguras tenaga. Matanya lantas memandang ke sekitar dengan waspada. Dari sosok yang dikejarnya itu, tidak ia temukan Bidadari Sungai Utara. Mantingan sadar bahwa hal ini menandakan sesuatu yang sama sekali tidak beres.
Apakah pendekar yang dikejarnya itu sebenarnya tidak menculik Bidadari Sungai Utara, tetapi datang ke Kelewang Samodra hanya untuk memata-matainya segala kegiatan di kapal itu?
Ataukah justru Bidadari Sungai Utara telah benar-benar diculik, akan tetapi tidak oleh pendekar itu? Bukankah masih terdapat kemungkinan bahwa sosok itu hanya melarikan diri sebab rencana mereka di Kelewang Samodra tidak berjalan mulus, dan tanpa niatan membawa Mantingan ke tengah-tengah armadanya?
Atau justru, semua ini telah direncanakan? Yang mana bahwa pendekar itu sengaja memancing Mantingan untuk bergerak masuk ke dalam armadanya, sekaligus sebagai pengecohan atas penculikan yang sebenar-benarnya?
Mantingan tidak dapat menentukan kemungkinan manakah yang paling benar. Tetapi untuk saat ini, ia dapat memastikan bahwa pendekar-pendekar ahli yang ada di armada musuh akan berdatangan untuk menyerangnya. Tiada peduli apakah kehadiran di sini memang disengaja atau tidak sengaja, dirinya tetap akan diserang!
Mantingan memeriksa tenaga dalam yang masih tersisa. Ternyata tidak tersisa terlalu banyak. Dari ketujuh cakranya, hanya empat cakra saja yang masih terisi. Namun beruntunglah, bahwa tenaga dalam di inti tubuhnya masih penuh dan banyak sekali.
Pemuda itu merasa masih bisa untuk menghadapi pendekar-pendekar ahli yang akan datang, tetapi dengan tujuan untuk melarikan diri sesegera mungkin, bukannya untuk mengalahkan mereka.
Ketika Mantingan ingin melesat kembali ke utara, telinganya menangkap suara kelebatan-kelebatan yang datang dari penjuru arah. Mantingan segera melesatkan selembar Lontar Sihir Cahaya jauh ke atas langit, hingga teranglah lautan dan langit di sekitarnya.
Dapat Mantingan lihat puluhan pendekar mengitarinya dengan menapak-napak ringan di atas air. Pemuda itu segera mengetahui bahwa mereka bersiasat untuk menjebaknya.
“Selamat datang di armada kami, Pahlawan Man.”
Mantingan masih tidak bergerak di atas air bergelombang, tetapi dirinya mengetahui bahwa sesosok pendekar sedang melayang turun ke arahnya. Mantingan tetap diam, sebab dirinya tahu betul bahwa pendekar itu tidak akan menyerang, setidak-tidaknya untuk saat ini.
__ADS_1
Pendekar itu mendarat dengan ringannya di atas air laut yang bergelombang. Tidak tergoyahkan sedikitpun. Tubuhnya naik dan turun mengikuti ombak lautan. Sama seperti Mantingan yang hanya berjarak beberapa depa di hadapannya.
“Maafkanlah karena tidak menyediakan penyambutan yang baik. Seharusnya kami menyediakan hidangan besar dan tempat duduk di atas geladak kapal, tetapi sepertinya engkau lebih suka jika kami menyambut kehadiran engkau di tengah lautan seperti ini.” Dengan samar tetapi masih cukup jelas, Mantingan melihat pendekar itu menjura.
“Tidak perlu berbasa-basi lagi.” Mantingan membalas dingin. Ia tidak menaruh hormat kepada lawan yang memakai curang dalam pertarungan. Menyandera Bidadari Sungai Utara dan mengepungnya, itu sama sekali bukan cara kependekaran.
“Ah, engkau pasti berpikir bahwa diriku telah mencurangi engkau, bukan?” Pendekar tua itu terkekeh pelan dengan suaranya yang teramat serak, bagai suaranya itu dapat terputus kapan saja. “Kami memang berniat menjebak dan mengepungmu di sini, Pahlawan Man. Engkau tidak perlu berharap akan mendapatkan pertarungan yang adil dan terhormat di sini, sebab tujuan kami adalah untuk membunuhmu bukan menantangmu. Setelah semua yang telah engkau lakukan pada Kelompok Pedang Intan, janganlah berpikir dapat menghirup udara lebih lama lagi.”
“Kalian dari kelompok itu?” Mantingan mengerutkan dahi.
“Ah, tidak semuanya. Kami tidak akan melakukan hal bodoh dengan mengirimkan banyak pendekar-pendekar lemah untuk menghadapimu lagi.” Di balik kegelapan, tampak sinar yang dipantulkan gigi pendekar itu yang tinggal satu-dua. “Tetapi, Kelompok Pedang Intan mengirimkan diriku, Cagak Keenam, sebagai perwakilannya. Kehadiranku sudah cukup untuk menggantikan kekuatan sebesar 3.000 pendekar tingkat Pencetak Inti atau 10.000 pendekar tingkat Penempaan Inti.”
Mantingan merapatkan giginya ketika didengarnya hal itu. Tentu saja bahwa orang yang mengaku sebagai Cagak Keenam itu tidak berbicara omong kosong belaka. Hanya dari suaranya saja, Mantingan dapat menentukan tingkat keahlian pendekar itu.
“Di mana Bidadari Sungai Utara?” Mantingan tidak menanggapi ucapan orang itu, langsung saja bertanya pada intinya. Keadaan betul-betul mendesaknya, berbicara omong kosong untuk waktu yang lama dapat menimbulkan sesuatu yang amat sangat tidak diinginkan.
Satu yang Mantingan ketahui. Jika Bidadari Sungai Utara tidak ditemukan malam ini juga, maka dia tidak akan ditemukan buat selama-lamanya.
“Jangan tanyakan kepadaku di mana letak keberadaannya saat ini. Tetapi kupastikan bahwa malam ini pula dia akan termanjakan oleh kenikmatan yang tiada duanya!”
Mantingan menghunus pedang ke depan. Ditatapnya Cagak Keenam yang naik-turun seiringan dengan pergerakan ombak.
“Cagak Keenam. Engkau adalah pilar paling akhir dari Enam Pilar Intan, bukan?”
“Daku adalah orang pertama yang ditetapkan menjadi pilar bagi kelompokku. Lebih tepatnya, daku adalah pilar pertama, sekaligus pilar terkuat. Apakah engkau merasa gentar, Pahlawan Man?” Cagak Keenam tertawa dengan nada mengejek.
__ADS_1
“Daku malah ingin membunuhmu sekarang juga. Biar habis pilar-pilar kalian.”
Begitu selesai mengatakannya, Mantingan mengentakan kakinya. Melesat menuju Cagak Keenam yang membuka tangannya lebar-lebar, menyambut kedatangan Mantingan.
Mantingan menebaskan pedangnya ke arah batang leher Cagak Keenam, akan tetapi berhasil ditangkis oleh pendekar itu. Mantingan terkejut bukan main dan langsung mengempas tubuh kembali ke belakang.
Mantingan tidak hanya terkejut sebab serangannya mampu ditangkis dengan begitu mudahnya, melainkan pula sebab Cagak Keenam menangkis serangan tersebut hanya dengan tangan kosong!
Barulah Mantingan menyadari bahwa Cagak Keenam tidak membawa pedang sama sekali, tetapi sebagai gantinya mengenakan sarung tangan yang tampak berkilauan.
“Bukankah hebat pusakaku ini, Pahlawan Man?” Cagak Keenam kembali terkekeh. “Inilah pusaka yang kuberi nama Pusaka Intan Penyirap Nyawa. Dan jikalau dikau hendak mengetahui juga, diriku adalah satu-satunya pendekar tidak berpedang di Kelompok Pedang Intan.”
“Diriku tidak terlalu peduli dengan jati dirimu. Selama engkau menyandera Bidadari Sungai Utara, daku tidak akan selalu berusaha untuk membunuhmu.” Mantingan kembali bersiap untuk menyerang.
“Pendekar semuda dikau tidak sepatutnya terlalu haus darah. Tetapi, biarlah. Melihat dirimu, daku seperti melihat diriku di masa lalu. Tubuhku tidak pernah terlalu lama kering dari darah, bukankah itu sama denganmu?”
Mantingan kembali mengentak kakinya. Kali ini jauh-jauh lebih keras ketimbang sebelumnya. Tercipta kubangan besar pada air laut yang dijejakinya. Ketika itulah, tubuh Mantingan melesat dengan kecepatan yang tiada terkirakan!
___
catatan:
Seni Bela Diri Sejati di kedailakon.blogspot.com telah update chapter keenam, baca sekarang hanya dengan browser!
__ADS_1