
“Bukannya aku serakah, tetapi perutku memang telah amat sangat lapar sejak kemarin malam. Kau tidak cukup perhatian kepadaku, padahal jelas saja bundelanmu menyimpan banyak perbekalan.” CHITRA Anggini mengelak dari tuduhan yang sebenarnya sangat berdasar itu.
“Jika kau memang lapar, maka mintalah saja kepadaku. Tiada mungkin tak kuberikan banyak makanan untukmu,” balas Mantingan.
“Jangan malah menyalahkan diriku!” Chitra Anggini meninggi, matanya terbuka lebar menatap tajam pemuda itu.
Mantingan tidak lagi menanggapi dan hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia berpikir bahwa berdebat dengan Chitra Anggini tidak akan menemui kesudahan bila diteruskan. Bukankah perempuan itu pernah berdebat dengan Dara hingga semalaman penuh tanpa terputus sedikitpun?
Lagi pula, Mantingan teringat kembali bahwa dirinya bisa ada di sini adalah karena suatu kepentingan, yakni menyelamatkan Tapa Balian yang telah sangat berjasa kepadanya serta pula merebut kembali Sepasang Pedang Rembulan yang dapat mengharu-biru dunia persilatan jika sampai jatuh ke tangan orang yang salah!
Dengan rencana sebesar itu, maka perdebatannya dengan Chitra Anggini barusan akan tampak sebagai lelucon yang sia-sia belaka. Tidak ada keuntungan yang bisa mereka dapatkan dengan memperdebatkan hal seremeh itu.
Kegiatan makan pagi berlangsung selama dua peminuman teh. Memanglah para hadirin perhelatan dapat menghabiskan makanan mereka hanya dalam waktu sepeminuman teh, tetapi untuk berbincang-bincang dengan yang lain membutuhkan waktu sepeminuman teh lagi.
Ketika batas waktu telah benar-benar tercapai, maka canang dibunyikan sebanyak tiga kali sekaligus pula terdengar sebuah pengumuman.
“Tuan-Tuan dan Puan-Puan yang berwibawa, acara makan pagi telah usai, jadi maafkanlah kami yang harus memotong perbincangan Tuan dan Puan sekalian.”
Orang yang berbicara adalah perempuan yang sama dengan pembawa perhelatan kemarin hari. Dikarenakan perempuan itu memiliki rupa yang begitu cantik tak tertawarkan, maka bukan jadi hal mengherankan lagi bila seluruh pasang mata tertuju padanya dengan amat saksama.
“Selagi pagi masih terasa segar dan mentari tidak bersinar dengan sedemikian teriknya, maka marilah kita berlanjut pada kegiatan kedua untuk hari ini yang akan dilangsungkan di Halaman Besar Seribu Rumah Istana.” Suara perempuan itu terdengar amat lembut meski itu tidak mengurangi kelantangannya. “Kegiatan ini kami pastikan tidak akan terlalu jauh dari kebiasaan para pendekar di telaga maupun rimba dunia persilatan, yaitu pertarungan!”
Seketika itu pula suasana terasa amat menegang! Para tamu perhelatan tiada yang tidak menahan napasnya!
__ADS_1
Mantingan adalah satu-satunya orang yang bersikap lebih tenang ketimbang seluruh hadirin perhelatan, tetapi dirinya tetap menahan napas dalam keterkejutan!
“Apakah akan ada pertarungan hidup-mati di dalam istana yang seharusnyalah bersih dari senjata luar?” Mantingan bergumam kecil, begitu kecil, teramat keci, hingga bahkan telinganya sendiri tidak dapat menangkap suara gumaman itu.
Namun sekalipun pernyataan perempuan itu begitu mengejutkan, tetapi tiada seorang pendekar pun yang mengutarakan keberatannya yang sama saja dengan memotong perkataan sang perempuan. Mereka masih mengenal adab dan memilih untuk mendengarkan pengumuman yang disampaikan perempuan itu sampai akhir baru mengutarakan pendapatnya.
“Seperti yang kita semua pahami, kematian dalam pertarungan adalah kesempurnaan tak ternilai yang selalu ingin kita dapatkan. Kami tidak berkehendak untuk mengubah pendirian itu terlalu jauh, jadilah dalam permainan nanti Tuan-Tuan dan Puan-Puan akan diberi kesempatan untuk membunuh.”
Benarlah apa yang menjadi dugaan Mantingan, akan terjadi pertarungan hidup dan mati di dalam istana!
“Cara bermainnya cukuplah mudah. Tuan dan Puan semua akan bertarung dengan pasangannya masing-masing. Bila salah satu pendekar memutuskan untuk membunuh pasangannya, demi terwujudnya kesempurnaan yang dicari-cari oleh pasangannya itu sepanjang hayat di telaga persilatan, maka pendekar tersebut akan diberikan tempat dan kedudukan khusus yang setara dengan seorang bangsawan di istana, serta pula mendapat kesempatan untuk menikahi beberapa putri bangsawan.”
Mantingan terenyak kaget. Peraturan gila macam apa itu?!
“Maka dapatlah kita memulainya sekarang juga. Petugas perhelatan akan menyebarkan lontar berisi senarai senjata yang bisa Tuan dan Puan sekalian pilih untuk dipakai bertarung, tetapi bukan jadi masalah bila memang mengingini pertarungan tangan kosong.”
Chitra Anggini melirik Mantingan, pemuda itu pun balas meliriknya. Mereka berpandang-pandangan, tetapi tidak menyampaikan apa pun dalam pandangannya itu. Pikiran mereka tentulah menjadi carut-marut setelah mendengar pertimbangan itu.
Sementara beberapa petugas perhelatan mulai bergerak membagikan lontar berisi senarai senjata yang dapat dipilih, Chitra Anggini mendekatkan wajahnya pada telinga Mantingan sebelum berbisik pelan, “Kau akan lebih mudah mencapai tujuanmu dengan cara yang pertama. Aku adalah pendekar, diriku juga mengingini kesempurnaan dengan mati di tangan pendekar sekuat dirimu.”
“Kamu gila!” Mantingan mendesis tajam. Pilihannya sudah bulat dan tak dapat terbantahkan lagi, maka berkatalah ia, “aku tidak akan mengorbankan siapa pun lagi demi mencapai tujuanku sendiri. CUKUPLAH Dara saja, janganlah kamu pula!”
“Siapakah yang hendak berkorban demi dirimu?” Chitra Anggini tersenyum tipis, amat tipis, begitu tipis, hingga hampir-hampir tidak dapat disebut sebagai sebuah senyuman! “Aku semata-mata hendak mencari kesempurnaan sebagai seorang pendekar sejati, dan akan lebih baik bila aku bisa membantumu juga. Lagi pula, selama ini aku selalu menjadi beban untukmu, dan akan terus begitu bila tidak segera kau tamatkan riwayatku.”
__ADS_1
Belum sempat Mantingan membalas, seorang petugas lelang telah datang ke meja mereka dan memberikan dua lembar lontar yang tentulah berisi senarai senjata.
“Silakanlah Tuan dan Puan memilih segera, sahaya akan kembali sebentar lagi untuk menjemput kedua lontar ini.”
“Tidak perlu, daku memilih bertarung dengan tangan kosong.” Chitra Anggini lekas mengembalikan lontar yang diberikan kepadanya.
Mantingan menatap Chitra Anggini dengan tatapan tidak percaya, tetapi dirinya segera mengambil tindakan dengan mengembalikan lontar di tangannya pada petugas itu, “Daku juga.”
“Baiklah, sahaya mohon diri.”
Ketika petugas itu telah berlau, barulah Mantingan berkata pada Chitra Anggini, “Aku tidak ingin kita bersungguh-sungguh nantinya, memilih pertarungan tangan kosong adalah sesuatu yang dapat berbahaya.”
Alasan Mantingan itu sangat masuk akal. Jika mereka tidak ingin saling bebunuhan, maka mereka harus bertukar serangan sebanyak seratus kali baru dapat menghentikan pertarungan, dan dalam hal bertukar serangan senjata seperti pedang adalah pilihan yang terbaik sebab dapat digunakan untuk saling menangkis serangan.
Namun jika menggunakan tangan kosong, maka mereka dapat keluar hidup-hidup tetapi dengan luka yang tidak sedikit, sebab betapa pun mereka akan saling beradu menggunakan anggota tubuh langsung!
“Tidak.” Chitra Anggini menggeleng pelan, dirinya memiliki alasan yang lebih masuk akal dan berkelindan dengan tujuannya.
___
catatan:
Jangan lupa pula untuk share karya ini ke teman-temanmu!
__ADS_1