Sang Musafir

Sang Musafir
Kawan yang Tiada Duanya


__ADS_3

“Tetapi di Suvarnadvipa bagian barat, atau lebih tepatnya ialah wilayah Kerajaan Koying, akan berbeda keadaannya. Untuk alasan yang belum kuketahui dengan jelas, tanah di sana justru kering kerontang. Yang saking keringnya, kerap kali terjadi kebakaran hutan di musim kemarau.”


Mantingan menganggukkan kepalanya tanda bahwa dirinya telah paham. Agaknya Suvarnadvipa memiliki besaran wilayah yang jauh melebihi Javadvipa, yang berarti memerlukan lebih banyak waktu untuk menjelajahinya hingga tuntas.


Namun, seandainya Mantingan keluar dari penyamarannya sebagai seorang penyoren pedang awam dengan kembali menjadi pendekar, berkelebatan dari pucuk pohon satu ke pucuk pohon lainnya, maka sudah barang tentu hanya diperlukan sedikit waktu untuk menjelajahi Suvarnadvipa.


Akan tetapi, hal itu tidak akan dilakukannya dalam waktu dekat. Barang tentu tujuan Mantingan saat ini terpusat pada pelatihan diri agar tetap mampu menghadapi pertarungan dahsyat meski hanya menggunakan satu tangan saja. Ketika masa pelatihannya selesai, maka itu menjadi saat di mana kemampuan bersilatnya telah berkembang cukup besar sehingga dirinya tidak perlu melanjutkan penyamaran lebih jauh lagi.


Mantingan teringat perkataan Jakawarman yang merupakan penjelmaan dari Kembangmas itu sesaat sebelum mereka berpisah di tengah lautan:


“Daku hanya akan menyerahkan diri pada orang yang kuanggap pantas.”


Betapa hal itu secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Mantingan tidak perlu mengembara mencari Kembangmas, melainkan Kembangmas itu sendiri yang akan menghampirinya. Namun secara tersirat pula, Kembangmas meminta Mantingan untuk membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang pantas.


Maka perjalanannya bersama Gema Suvarnadvipa saat ini tentunya tidak tepat jika dianggap sebagai perjalanan mencari Kembangmas; yang benar ialah perjalanan mencari Kayu Ulin.


“Jika dikau mengalami kesulitan selama perjalanan nanti, janganlah ragu untuk meminta bantuan kepadaku, Kawan!” Gema di depannya berseru ramah.


“Daku tidak akan sungkan jika begitu!” Mantingan pun balas berseru pula.

__ADS_1


Mantingan mengetahui penyebab mengapa Gema menawarkan bantuan yang sebenarnya terdengar sederhana itu. Barang tentu pria bercaping itu mempertimbangkan bahwa kesulitan yang akan dihadapi Mantingan akan jauh lebih besar sedaripada orang-orang yang tidak cacat.


Diam-diam di dalam benaknya, Mantingan berterimakasih kepada Gema; meski di sisi lain tetap memasang sejumlah kewaspadaan terhadap orang itu.


“Ah, ya. Daku hampir lupa memberitahu pada dikau.” Gema menoleh ke belakang. Matanya yang berkilauan di bawah bayangan capingnya itu menatap Mantingan sungguh-sungguh. “Di tempat ini, sangat baik jika kita memasang kewaspadaan penuh-penuh. Ada banyak penyamun berkelewang panjang yang bisa muncul dari mana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja. Tetapi jika kita sudah terlanjur bertemu mereka, maka lari saja sekencang mungkin! Daku sedang berpuasa menggunakan tenaga dalam, sehingga menghadapi mereka akan amat sangat menyulitkan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya satu kali. “Daku mengerti. Sekiranya kita telah begitu terdesak, dikau pergi saja tinggalkan diriku.”


Tentu maksud Mantingan bukanlah untuk membiarkan nyawanya dikorbankan setelah Gema Samudradvipa pergi meninggalkannya. Mantingan tidaklah sebudiman itu.


Namun, memanglah tepat jika dikatakan bahwa tujuan Mantingan meminta Gema untuk pergi jika keadaan telah begitu mendesak adalah untuk menyelamatkan nyawa pria itu.


“Takkan kulakukan itu.” Gema kembali memalingkan wajahnya ke arah depan sambil tertawa terbahak-bahak. “Bukankah tadi telah kukatakan? Daku tidak akan meninggalkanmu meski itu berarti kematian, Kawanku.”


“Daku hargai itu, tetapi kupikir beban seperti diriku ini memang pantas untuk ditinggalkan saja. Daku juga tidak ingin kawanku sampai mengorbankan nyawa hanya untuk diriku seorang.”


“Seandainya dikau tahu, jalan persilatan adalah tempat sepi yang begitu sepi hingga seolah saja tiada berpenghuni sama sekali. Selama menjadi pendekar, daku tidak memiliki teman barang seorang pun. Sungguh diriku tidak bergurau. Setiap pendekar yang ingin kujadikan teman selalulah berakhir dengan pertarungan hingga mati. Dan setiap orang awam yang ingin kujadikan teman selalulah menolak dengan alasan tidak mau mengembara terlalu jauh dari kampungnya. Bukankah itu terasa amat sangat menyakitkan?”


Biarpun Gema berkata dengan nada kelakar yang seolah tidak pernah bersungguh-sungguh pada setiap kalimat dalam ucapannya, tetapi betapa pun rasa dukanya tiada dapat membohongi kemampuan membaca pertanda yang Mantingan miliki.

__ADS_1


“Menemukan seseorang seperti dirimu, yang meskipun menyoren pedang tetapi tidak mencoba untuk menantangku; yang juga tidak masalah diajak mengembara bersama, seolah tiada duanya di dunia ini. Daku tidak akan membiarkanmu terbunuh selama kita masih menjadi kawan seperjalanan, sebab itu sama saja melanggar hakikat perkawanan.”


Mantingan hanya bisa tersenyum hangat tanpa berniat membantah lagi. Cukuplah ia membantah dua kali banyaknya, maka selebihnya boleh dianggap berlebihan yang justru akan menjadi penghinaan. Mantingan pun tidak berniat menolak kebaikan yang diberikan oleh pria bercaping itu, sebab betapa pun teramat sangat kejam jikalau menghalang-halangi seseorang dalam berbuat kebaikan.


“Ikutilah diriku melewati jalan setapak ini, Kawan!” Gema kembali berseru ketika dirinya berbelok menuju jalan setapak yang membelah hutan lebat. Mantingan mengikuti langkah orang bercaping itu. “Ini adalah jalan pintas yang biasa daku lewati. Dan selain jalan pintas, ini pula merupakan jalan teraman untuk dilewati. Jalan utama biasanya dihuni oleh sekian banyaknya penyamun. Jika kita tidak memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar, akan teramat sulit menghadapi mereka.”


Gema kemudian menjelaskan betapa penyamun-penyamun di Suvarnabhumi tidak begitu mengenal belas kasih. Meskipun korban telah memberikan seluruh harta tanpa keterkecuali sekalipun, mereka tetap membunuhnya, seolah tiada yang lebih baik selain kematian.


“Meskipun aman dari penyamun-penyamun, tetapi bukan berarti jalan setapak ini sepenuhnya bebas dari marabahaya. Binatang buas seperti harimau atau gerombolan anjing liar seringkali muncul, dan tentu saja dengan kedudukan di tengah rimba belantara seperti ini, kita adalah mangsa bagi mereka.” Gema meneruskan dengan suara yang lebih kecil. “Berhati-hatilah dan tetap pasang kewaspadaan.”


Mantingan pun segera mengerti betapa Suvarnabhumi telah begitu melekat dengan kemarabahayaan. Di mana-mana selalu ada ancaman. Mantingan pun telah merasakan sendiri bagaimana diserang penyamun serta harimau dalam waktu yang begitu berdekatan. Seolah tiada tempat yang lebih aman ketimbang rumah; yang seketika saja mengingatkan Mantingan pada kediamannya di Desa Lonceng Angin.


Mantingan pada akhirnya mengembuskan napas panjang. Betapa saat-saat kedamaian bersama Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina di Desa Lonceng Angin telah berlalu.


Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina telah pergi ke Champa. Sedangkan dirinya sendiri pun berada cukup jauh dari Javadvipa.


Mantingan menyadari bahwa saat-saat yang mendamaikan seperti itu tiada akan pernah dapat terulang kembali, sampai kapan pun dan dengan cara apa pun.


__ADS_1


__ADS_2