Sang Musafir

Sang Musafir
Ketidakpuasan


__ADS_3

MANTINGAN melesat secepat sambaran petir. Dari pelabuhan ia bergerak, dan tahu-tahu saja ia tiba di tengah rimba belantara. Sungguh dan alangkah cepatnya Mantingan melesat. Mungkin itu dapat dikatakan berlebihan, tetapi mungkin juga tidak. Sebab betapa pun, perhatiannya tengah buncah.


Mantingan mengurangi kecepatan lajunya dan masuk ke dalam rimbunnya pepohonan di hutan. Pemuda itu menginjak beberapa dahan pohon sebelum akhirnya mendarat ringan di atas tanah berumput pendek.


Pemuda itu menebar pandang ke sekitar. Benar-benar merupakan hutan yang hijau lebat, agaknya belum pernah tersentuh tapak kaki manusia sama sekali sebelumnya. Bukan tidak mungkin, Mantingan adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di hutan ini.


Hutan yang benar-benar sepi dan sunyi itu tidak sungguh dapat menelan kegelisahan dalam benak Mantingan. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu tergoda pada wanita. Itu merupakan aib yang buruk bagi Mantingan, tanda bahwa dirinya tiada mampu menahan nafsu.


Setelah menghela napas panjang sebelum melangkahkan kakinya ke sembarang arah. Setidaknya, udara segar dari hutan rimbun itu dapat kembali menjernihkan akal pikirnya.


Mantingan terus berjalan. Agaknya ia sedang melangkah ke arah barat dan semakin mendekati jantung hutan.


Pada beberapa kesempatan, Mantingan menjumpai tupai-tupai melenting-lenting pada dahan-dahan pepohonan. Burung-burung berukuran besar maupun kecil yang terbang lalu hinggap, atau hinggap lalu terbang. Kadal besar yang memantau mangsanya dari atas pohon. Dan bahkan beberapa ekor rusa bertanduk panjang yang sedang minum air di sebuah kubangan.


Sungguh pemandangan yang pada akhirnya mampu meluruhkan segala pikiran buruk Mantingan. Pemuda itu pun tersenyum. Sudah begitu lama ia tidak melihat pemandangan seperti ini.


Ketika menemukan sebuah batu pipih berukuran besar, Mantingan segera berkelebat dan duduk bersila di atasnya. Memejamkan mata, Mantingan memulai samadhi dengan cepat.


Entah apa yang mendorongnya untuk melakukan itu. Namun agaknya, itu berasal dari panggilan nuraninya sendiri.


Ketika Mantingan bersentuhan langsung dengan alam, ia segera menyadari bahwa dirinya hanya bagian kecil dari mahaluasnya semesta alam. Mantingan langsung teringat pengajaran yang pernah diberikan Kiai Guru Kedai tentang manusia purba.


“Telah kutemukan beragam ukiran yang membentuk suatu lukisan ketika diriku sedang bersamadhi di dalam gua,” kata Kiai Guru Kedai suatu ketika. “Lukisan-lukisan itu menggambarkan kehidupan manusia ketika berburu, menjemur pakaian, membangun rumah, melakukan pemujaan, atau apalah itu.”


Lalu tibalah saat Mantingan bertanya pada Kiai Guru Kedai, “Siapakah yang membuatnya dan kapankah kiranya ukiran-ukiran itu dibentuk?”

__ADS_1


“Yang membuat lukisan itu adalah manusia purba, mungkin berjuta-juta atau hanya beribu-ribu tahun silam. Mereka yang membuat ukiran itu telah menandakan bahwa manusia mulai berpikir untuk mencatat sejarah.”


Mantingan kembali bertanya dengan penasaran, “Secara lebih lengkap, apakah yang Kiai Guru lihat dari lukisan-lukisan itu?”


Dengan sabar, gurunya menjawab, “Daku melihat sebuah adegan yang abadi dalam ukiran-ukiran itu. Daku melihat perkembangan manusia dalam meraih kecerdasan; yang awalnya hanya satu-dua tingkat di atas kunyuk, hingga sampai menjadi puncak kesempurnaan di atas segala makhluk hidup di dunia ini.”


“Benarkah itu, Kiai Guru?” Mantingan bertanya begitu herannya waktu itu, “mengapakah Kiai Guru menyebut manusia hanya setingkat lebih pintar daripada kera?”


“Sebab memang begitu adanya. Dari ukiran yang kulihat, kuketahui bahwa mereka berburu hanya menggunakan tongkat dan batu sahaja. Membangun gubuk hanya dengan menimbun semak belukar di atas tiang-tiang kayu. Sedang pernah kulihat seekor kunyuk mengamuk yang membabat-babat menggunakan pedang hingga menguasai sebuah rumah mewah milik manusia!”


“Tetapi jika mereka bodoh seperti yang Kiai Guru sebutkan tadi, mengapakah sekarang manusia mampu membangun peradaban cerdas seperti yang ada sekarang, sedangkan kera tidak mampu begitu?”


Kiai Guru Kedai tanpa ragu menjawab, seolah ia telah menunggu pertanyaan itu, “Rasa ketidakpuasan yang menyebabkan itu, Muridku. Sedangkan hewan-hewan lain tidak memiliki rasa seperti itu, mereka hanya menjalankan apa yang memang telah menjadi kodratnya sahaja. Sekarang daku tanya padamu, Mantingan, apakah kiranya yang engkau lakukan setelah berhasil menguasai sebuah jurus?”


“Nah, yang engkau rasakan itu adalah rasa ketidakpuasan. Akan tetapi dengan rasa ketidakpuasan itulah engkau dapat terus berkembang menjadi makhluk cerdas. Manusia purba pun merasakan hal yang sama dengan yang engkau dan yang kita semua rasakan. Ketidakpuasan.


“Dari yang hanya bisa bergerak merayap, manusia belajar merangkak. Lalu dari merangkak, manusia belajar berjalan membungkuk. Hingga akhirnya dari berjalan membungkuk, manusia belajar untuk berjalan tegak. Apakah hal itu dapat dicapai jika manusia berpuas diri dengan kemampuannya bergerak merayap sahaja?”


“Tetapi, bukankah pada masa itu tidak terdapat satupun kitab yang bisa mereka pakai untuk belajar berjalan atau membangun rumah?”


“Mereka belajar dari alam semesta. Alam semesta selalu memberikan contoh yang terbaik. Dari tanah, air, angin, makhluk hidup, hingga bintang gemintang. Alam semesta adalah induk dari segala kitab pengetahuan maupun kitab suci. Alam semesta adalah tabir terbesar yang tidak berhenti memberikan pengajaran pada manusia dan makhluk-makhluk di dalamnya. Gusti berbicara kepada manusia berperantara alam semesta. Maka bersatulah dirimu dengan alam semesta supaya engkau mendapat berkah!”


***


MANTINGAN tidak menghentikan samadhinya ketika ia terbenam dalam ingatannya. Justru di saat-saat seperti itulah, Mantingan mampu mengingat jauh lebih baik dan jernih daripada biasanya. Kepalanya pun dalam keadaan segar untuk diajak merenungi hakekat kehidupan manusia.

__ADS_1


Kiranya jika manusia bersatu dengan alam semesta, mestikah dirinya menjelma kembali menjadi manusia paling purba yang boleh dikata sangat menyatu dengan alam?


Tetapi anggapan itu ditepis oleh Mantingan. Manusia yang menyatukan diri dengan alam semesta tidak akan mengalami kemunduran seperti itu, justru mendapatkan kemajuan luar biasa dalam berbagai segi kehidupan.


Seseorang yang mampu menyatukan dirinya dengan alam akan dapat mengetahui takaran-takaran dan tatanan cara untuk mencapai sebuah keseimbangan sejati. Begitu ia bisa memanfaatkan alam, tetapi tidak merugikan alam itu sendiri, maka kekayaan harta dan ilmu yang didapatkannya sungguh tidak dapat terhitung lagi.


Namun, Mantingan masih bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah dengan menyatukan diri pada alam, itu mampu membuka tabir sejarah tebal tentang Kitab Teratai dan bangsa pribumi yang disebut-sebut oleh dua juru masak di penginapan pagi itu?


Apakah sesuatu yang telah dibuat oleh manusia, yang kemudian dilenyapkan pula oleh manusia, akan tetap mampu dibaca kembali melalui alam?


Mantingan tahu, bahwa pertanyaan seperti ini tidak mampu terjawab dalam sekali berpikir saja, tidak pula dalam sepeminuman teh, tidak pula dalam satu-dua malam. Atau mungkin, tidak pula dalam satu kehidupan saja.


____


catatan:


Karya ini jauh dari kata sempurna. Jauh tertinggal keapikannya ketimbang karya-karya lain. Jauh sedikit kepopulerannya ketimbang karya-karya lain. Tetapi kehadiran kalian, para pembaca, selalu membuat saya semangat kembali untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.


Biarlah karya ini tertinggal, yang penting saya melanjutkannya hingga selesai.


Tiada angin, tiada tahun baru, tiada hari perayaan, hanya malam Senin tiada berarti, sahaya ucapkan terima kasih banyak pada kalian yang selalu setia memberi dukungan terbaik bagi karya ini.


N.B. Saya akan merilis bonus episode jika jumlah favorit mencapai 1000.


__ADS_1


__ADS_2