
Seperti biasanya, Mantingan terbangun sebelum matahari benar-benar terbit. Kali ini Mantingan terbangun dengan semangat yang cukup tinggi. Ia sadar, cepat atau lambat akan belajar silat. Sesuatu yang tak pernah diimpikannya. Dan lihatlah sekarang, dongeng tentang pendekar-pendekar bukanlah omong kosong, Mantingan melihatnya sendiri bagaimana perguruan tempat mengempu pendekar-pendekar. Perguruan Angin Putih bagai cerita dongeng, tetapi ini nyata.
Mantingan lalu teringat pedang yang diberikan Dara untuknya. Sebenarnya itu bukan pedang yang diberikan, melainkan pedang yang didapatkan. Walaupun tak sengaja dan di luar kehendak, Mantingan tetap saja mendapatkan pedang itu. Kini Mantingan duduk di sisi ranjangnya dan memeriksa pedang yang belum sempat ia periksa itu.
Rupanya pedang itu bukanlah pedang murahan. Dapat terlihat dari gagangnya sendiri, yang meskipun terbuat dari kayu, tetapi kuatnya menyamai logam. Sarung dari pedang itu pula terbuat dari kayu, warnanya hitam, menyamai warna gagang.
Perlahan Mantingan menarik gagang pedang. Mengeluarkan bilahnya. Dengan kagum Mantingan bilah pedang itu. Betapa bilah itu berwarna perak-hitam yang mengilau. Itu juga cukup lentur, untuk dapat meliuk-liuk bagaikan ular.
Mantingan mengangkat pedang itu ke ke atas dan bergaya selayaknya bayangannya tentang pendekar, Mantingan mengangkat bibirnya tersenyum sebelum menyarungkan pedangnya kembali.
Pedang seperti ini entah berapa harganya. Tetapi Mantingan tahu, itu cukup mahal untuk orang sekelas Dara. Melihat dari bahan-bahannya tetap tidak membuat Mantingan bisa memperkirakan harga pedang itu. Apakah malah mungkin saja Dara tidak membeli pedang ini melainkan menempanya sendiri? Jika memang begitu, maka perhitungan yang dicari bukan harganya, melainkan perhitungan nilainya.
Pernah Mantingan mendapat cerita di desanya dulu, ini adalah cerita dongeng tentang kehebatan pendekar yang bertarung meloncat-loncat di atap rumah, dan ini pula dongeng yang Mantingan dengarkan saat dirinya masih sangat muda, atau bisa dibilang saat itu Mantingan masihlah kanak-kanak. Seorang pria tua yang menceritakan itu, dia adalah pencerita keliling yang menjajakan seni bercerita untuk mendapatkan uang. Cerita itu memuat salah satu tokoh pendekar yang konon katanya menjaga pelabuhan, ia bertengkar dengan bajak laut yang hendak merampas barang-barang dagangan di pelabuhan. Pendekar itu memiliki pedang meliuk-liuk bagaikan ular, sangat lentur, hingga parah bajak laut yang hanya memakai belati pendek itu dapat dikalahkan dengan telak.
Jika memang cerita itu nyata, maka pedang ini adalah pedang unggulan. Dapatkah pedang ini benar-benar bisa melejit seperti ular? Mengalahkan musuh dengan mudahnya seperti yang di cerita? Mantingan akan mencoba pedang ini nanti, dan membuktikannya.
__ADS_1
Yang harus ia lakukan sekarang ini adalah membersihkan diri sebelum dijemput. Sekatan paling belakang adalah kamar mandi. Maka mandilah Mantingan di sana yang airnya begitu menyegarkan tubuh maupun pikiran, lalu Mantingan berganti baju dengan baju pemberian Birawa yang lebih layak, sedang baju yang tadi dijemur setelah dicuci.
Mantingan juga membuat makanan, karena waktu sepertinya masih tersisa banyak. Makanan yang ia buat kali ini tidaklah terlalu luar biasa, seperti biasanya Mantingan hanya makan kue kering, tetapi kali ini ia siram sedikit air agar tidak terlalu keras untuk sarapan. Mantingan makan dengan perlahan dan menikmatinya.
Matahari terbit di ufuk timur, langit menjingga.
Bertepatan dengan selesainya Mantingan sarapan, terdengar suara pintu diketuk. Mantingan membuka pintu, segera melihat siapa orang yang mengetuk pintu. Orang itu adalah salah satu dari lima pendekar tadi malam. Masih dengan menggunakan topeng lucu, pendekar itu berkata pada Mantingan.
“Selamat pagi, kau bisa mengikutiku sekarang.”
Mantingan mengangguk. Pendekar bertopeng itu kemudian berbalik dan berjalan. Sambil mengikuti pendekar itu, Mantingan juga melihat kegiatan-kegiatan lumayan sibuk di pagi hari seperti ini. Sebagian murid-murid membawa pakaian ganti dan alat mandi, sebagian lainnya menimba air di sumur tempat pemandian. Murid-murid yang lewat di dekat Mantingan, baik itu kanak-kanak atau remaja, tersenyum ramah pada Mantingan. Seolah mereka menyapa “selamat datang!” atau “selamat pagi!”.
Pendekar itu terus menuntun Mantingan menuju bangunan paling tinggi di Perguruan Angin Putih, tanpa banyak bicara ia terus berjalan.
Tidak diragukan lagi, pendekar ini adalah prajurit khusus yang memang wajar jika sikapnya tidak bersahabat.
__ADS_1
Sembari berjalan itu Mantingan juga berpikir tentang prajurit khusus, apa yang membuat mereka bersikap begitu tidak bersahabat? Apakah mereka telah dilatih untuk terus bersikap seperti itu ataukah karena pengalaman yang telah membuat mereka bersikap seperti itu? Prajurit khusus biasanya diberi tugas-tugas berat, yang bukan tidak mungkin bahwa tugas itu adalah membunuh begitu banyak orang. Pembunuhan yang banyak akan membuat orang merasa bersalah, dan jika diteruskan akan berpengaruh besar pada kejiwaannya.
Kini Mantingan memandang pendekar itu dengan tanda tanya. Tugas apakah yang telah dilaluinya? Berapa banyak pembunuhan yang telah ia lakukan?
Mantingan menggeleng pelan, apa pun yang telah pendekar itu lakukan bukanlah urusannya.
Perguruan Angin Putih ternyata tidak hanya dihuni oleh murid-murid lelaki saja, banyak murid-murid perempuan yang juga melakukan kegiatan di pagi ini. Tetapi untuk murid-murid perempuan ini sepertinya terdapat sebuah sekat yang tak nampak, yang memisahkan antara murid lelaki dan perempuan. Juga penempatan murid-murid perempuan ini berada di tengah perguruan, sedang murid lelaki berada di pinggiran. Jika saja terjadi penyerangan, maka yang terkena dampak terlebih dahulu adalah murid-murid lelaki, sedang perempuan berada di tengah akan mendapat giliran terakhir.
Jika dilihat dari warna kulit perempuan-perempuan itu, maka terlihatlah bahwa mereka itu sering latihan. warna kulit mereka yang coklat menandakan bahwa mereka sering diguyur teriknya matahari. Mungkin bayangan orang-orang tentang wanita-wanita di dunia persilatan adalah secantik bidadari, yang kulitnya putih dan matanya cermelang, tangannya lemah gemulai, tetapi bisa mengangkat pedang dan bertarung. Nyatanya hal seperti itu tidaklah wajar.
Murid-murid perempuan yang Mantingan lihat di sini pun memakai pakaian yang tertutup. Mereka menutup dadanya, bahkan perutnya pun ditutupi. Mereka pula tidak mengenakan lengan pendek. Pakaian itu sendiri serba putih.
Mantingan mengangguk pelan, Perguruan Angin Putih memiliki aturan yang tidak sesat. Siapakah kiranya yang telah berprasangka buruk pada perguruan ini? Dan Mantingan bertanya lagi dalam benaknya, siapakah yang telah membuat berita palsu pada Perguruan Angin Putih?
Sudah pasti Mantingan akan menulis tentang Perguruan Angin Putih yang sebenarnya, setelah ia mendapat kuasa untuk menuliskan kematian Rara. Orang-orang perlu tahu apa itu Perguruan Angin Putih yang sebenarnya, perguruan yang berbeda jauh dari apa yang selama ini mereka pahami.
__ADS_1
Walaupun mata Mantingan terus menjelajah, tetapi kaki Mantingan terus berjalan. Hingga tanpa disadarinya, telah tiba dirinya di depan bangunan tinggi itu.
Pendekar di depannya terus mengawal Mantingan memasuki pintu masuk lebar. Bangunan ini sepertinya merupakan bangunan pusat, yang mana semua urusan pendataan terdapat di sini. Mantingan melihat kesibukan yang seakan-akan tidak ada yang lebih sibuk selain di sini.