Sang Musafir

Sang Musafir
Permintaan Puan Kekelaman


__ADS_3

“Puan Kekelaman ....” MANTINGAN bergumam pelan, hampir-hampir tidak terdengar sama sekali. “Di manakah Chitra Anggini?”


“Kawan perempuanmu itu? Dikau tidak perlu memikirkannya sekarang. Pulihkanlah diri terlebih dahulu.” Puan Kekelaman menolak untuk menjawab. “Daku telah memanggil beberapa tabib terbaik dari penjuru kotaraja untukmu. Mereka akan datang sebentar lagi.”


Tepat sebelum Puan Kekelaman meninggalkan ruangan itu, Mantingan tiba-tiba memanggilnya. “Berikanlah daku sedikit kepastian saja. Apakah dia masih bernapas hingga saat ini?”


Terdiam seberapa lama, Puan Kekelaman akhirnya menjawab, “Ya. Dia masih hidup hingga sekarang. Dikau tidak perlu mencemaskannya sama sekali, Pahlawan.”


“Lantas di manakah Sepasang Pedang Rembulan?” Kembali Mantingan bertanya.


Tidak menjawab, Puan Kekelaman lekas bergerak mengambil sebuah kotak kayu yang tergeletak di atas meja kamar. Didekatkannya benda tersebut pada Mantingan yang terbaring tanpa daya di ranjang.


Pemuda itu kemudian meraba-raba kotak kayu tersebut untuk sekadar memastikan. Memang benar, kemampuan membaca pertanda miliknya mengisyaratkan bahwa Sepasang Pedang Rembulan telah tersimpan di dalam kotak tersebut. Namun, dengan pandangan matanya yang buram dan remang-remang saat ini, ia masih belum bisa memastikannya dengan sungguh-sungguh. Pula untuk wajah Puan Kekelaman, ia tidak dapat melihatnya selain bayang-bayang kabur semata.


“Beristirahatlah sampai tabib-tabib itu datang. Kalau keadaanmu sudah pulih betul, daku ingin kita berbicara.”


***


MANTINGAN menghabiskan waktu selama tiga hari untuk pemulihan diri. Sepanjang itu, dirinya masih belum bertemu kembali dengan Puan Kekelaman. Dilaluinya hari-hari dengan mencemaskan Chitra Anggini yang tidak berkirim kabar apa pun kepadanya hingga saat ini. Mantingan tak dapat menahan curiga pada Puan Kekelaman yang mengatakan bahwa perempuan itu masih tetap bernapas.


Tabib yang merawatnya berkata bahwa ia tidak memiliki luka di badan, melainkan di pikirannya. Jadi selama itu, perawatan yang diberikan tidaklah terlalu banyak. Mantingan hanya diminta untuk tidak memikirkan hal-hal berat dan sesering mungkin melakukan samadhi. Tetapi bagaimanakah bisa begitu bila isi kepalanya dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan tentang Chitra Anggini?


Sepasang Pedang Rembulan harus secepatnya dibuat keputusan. Tentang apakah ia hendak dibuang atau diserahkan pada pendekar tertentu, mestilah diputuskan bersama-sama dengan Chitra Anggini. Setelah itu, barulah Mantingan akan kembali ke Javadvipa untuk menjemput Bidadari Sungai Utara sekaligus Kembangmas. Menyelesaikan tugas terakhir.

__ADS_1


Kembali diingatnya betapa bunga siluman itu berkata bahwa perjuangannya telah usai. Mantingan hampir-hampir tak dapat percaya. Setelah sekian lama mengembara hingga tanpa sengaja meraih puncak dari segala puncak di dunia persilatan Dwipantara, pada akhirnya ia bisa bernapas lega. Inilah akhir dari perjuangannya yang telah begitu berlarut-larut.


Mantingan mulai mempertimbangkan tentang apa yang akan dilakukannya setelah mengantar Kembangmas pada Kenanga. Mestikah ia berhenti menapaki dunia persilatan dengan menghabiskan sisa hidup di dalam gua yang lembab dan gelap? Atau mestikah dirinya tetap meneguhkan kedudukan sebagai Pemangku Langit sambil memastikan keseimbangan dunia persilatan?


Namun, Mantingan justru mengharapkan hal yang benar-benar lain. Sesuatu yang sejak lama mengendap sebagai bagian dari keinginannya yang terpendam, tak pernah terkatakan maupun sekadar terisyaratkan, sehingga memang tak tersampaikan sama sekali pada sesiapa pun. Ialah ia menginginkan Bidadari Sungai Utara menjadi isterinya, bersama Kana dan Kina sebagai anak-anaknya, pula Desa Lonceng Angin sebagai tempat tinggal mereka.


Mengingat masa-masa itu, Mantingan tidak sanggup menahan lonjakan air matanya. Betapa damai dan betapa hampir tiada setetes pun darah yang tumpah masa itu. Hanya kebahagiaan dan kedamaian yang dirasakannya saat itu. Namun, belum sempurna. Belumlah sempurna kecuali sampai Bidadari Sungai Utara menjadi pasangannya yang sebenar-benarnya!


Tepat ketika Mantingan mengusap bersih air matanya, pintu kamar diketuk. Awalnya, Mantingan berpikir bahwa si pengetuk pintu adalah tabib-tabib yang biasa memeriksanya setiap hari, tetapi terdengar suara yang begitu lain dari luar sana.


“Dapatkah daku masuk sekarang?”


Itu suara syahdu dari Puan Kekelaman. Ciri khas itu akan membuat siapa pun dapat mengenalinya dengan sangat mudah.


Mantingan mengizinkannya dengan jawaban singkat. Ini adalah kamar pinjaman Puan Kekelaman, jadi dapatkah ia dengan begitu lancangnya menolak kehadirannya?


Hanya ada satu pengibaratan yang sekiranya dapat sedikit menjelaskan kecantikan wanita itu, yakni manakala seseorang telah hampir menemui maut akibat kehausan, lantas tetiba saja dihadapkan dengan air terjun yang alangkah jernih serta menyegarkan, maka pandangan matanya ketika menatap air terjun itu akan serupa dengan ketika dirinya menatap rupa Puan Kekelaman.


“Tabib berkata bahwa dikau telah sembuh,” katanya mengawali percakapan, sambil kemudian mengambil kursi di sudut ruangan. “Sebagai yang kukatakan tiga hari lalu, daku ingin kita berbicara.”


Mantingan masih tidak bergerak meski hanya sejari dari bentuk samadhinya. Lantas dirinya bertanya, “Bercakaplah, Puan. Daku akan mendengarkan, tetapi mohon setelahnya engkau tidak merasa keberatan menjawab semua pertanyaanku.”


Setelah mengangguk, Puan Kekelaman mulai menyampaikan maksudnya, “Kedatuan Koying telah jatuh. Sang raja dipastikan tewas, sedangkan tiada lagi keturunannya yang masih tersisa setelah dibantai habis oleh pendekar-pendekar dari Permukiman Miskin Kotaraja. Daku telah resmi menyatakan makar, sehingga kedatuan ini sungguh berada dalam kendaliku.

__ADS_1


“Tentu banyak orang yang tidak terima, tetapi tak sedikit pula yang justru mendukungku. Betapa pun, tidak sepenuhnya kepemimpinan datuk di masa ini mencapai kejayaan. Dia hanya memperindah kotaraja, hendak menunjukkan pamornya di antara kerajaan-kerajaan lain. Namun di wilayah terpinggir, rakyatnya amat sengsara. Mereka terus mengirimkan pajak tanpa kurang dari waktu menuju waktu, tetapi tiadalah mereka mendapatkan apa yang semestinya mereka dapatkan dari pemerintahan pusat.


“Perlu engkau ketahui, Pahlawan Man, anakku turut terbunuh bersama anak-anak datuk lainnya ketika penyerangan itu terjadi. Padahal semulanya, pucuk kekuasaan ingin daku teruskan kepadanya. Daku sama sekali tidak berminat memimpin kedatuan besar ini, makarku sekadar guna menegakkan keadilan dan menghentikan penindasan.”


Tetiba, pandangan mata Puan Kekelaman yang semula berkeliaran semasa bercerita, kini terhenti tepat pada sepasang bola mata Mantingan. Menatapnya dengan seribu makna tak terjelaskan.


“Daku ingin dikau yang memimpin negeri ini, dengan diriku berdiri di belakangmu sebagai permaisuri. Kuanggap dikau telah berperan amat besar meruntuhkan kekuasaan kedatuan, sehingga akan banyak orang yang merasakan kemakmuran darimu di masa mendatang. Sudikah dikau kiranya?”


Mendengar permintaan itu, napas Mantingan terhenti tanpa sadar. Sungguh di luar dugaan. Bahkan kemampuan pembacaan pertanda miliknya pun tidak dapat menebak-nebak permintaan itu sebelumnya. Betapa hebat Puan Kekelaman bila berhasil menutup-nutupi kehendak hatinya, sama seperti ketika dirinya berhasil menjebak Mantingan dalam perundingan yang lalu-lalu.


Mantingan terdiam. Bukan sebab tak tahu harus menjawab apa. Bukan pula sebab masih mempertimbangkan putusan. Ia hanya sedang menyusun perkataan yang sekiranya tidak akan membuat Puan Kekelaman tersinggung.


“Puan, tidakkah kiranya dikau ingat betapa dikau telah menjebakku? Kini dengan mudahnya, dikau memintaku untuk menikahimu, bagaikan tiada sedikitpun kejahatan pernah engkau lakukan padaku. Telah pasti jawabku adalah tidak.” Percuma saja Mantingan menyusun kalimat, perkataan yang keluar dari mulutnya itu tetap menyakitkan di telinga Puan Kekelaman.


___


catatan:


Ada beberapa yang ingin saya sampaikan.


**Pertama\, **ialah untuk beberapa hari ke depan saya akan mengurangi sedikit tensi update\, dari yang targetnya 2 episode dalam satu hari menjadi 1 episode dalam satu hari atau bisa pula tidak update sama sekali. Alasannya\, mata saya sudah mulai merasakan pedas. Untuk memantapkan alur ending Sang Musafir\, saya melakukan penulisan ulang beberapa skenario secara digital\, itu menghabiskan waktu lebih dari 12 jam menatap layar non-stop dalam satu hari.


**Kedua\, **ialah bahwa saya sedang mengambil kontrak terakhir dari Sang Musafir. Meskipun dengan level ini penghasilannya tidaklah banyak\, tetapi saya berusaha menunaikan janji lama saya\, bahwa saya akan integrit menamatkan novel ini.

__ADS_1


**Ketiga\, **ialah bahwa ponsel saya sedang tidak dapat mengakses grup-grup yang ada di NovelToon\, sehingga kinerja promosi menurun amat drastis. Saya menyerahkannya kepada kawan-kawan sekalian.


**Keempat **sekaligus yang terakhir\, Seni Bela Diri Sejati akan update secara rutin setidaknya bulan ini. Novel itu jauh lebih ringan daripada Sang Musafir\, secara bahasa maupun alur\, jadi kalian bisa membacanya jika ingin bacaan yang lebih santai. Saya memulai cerita itu dengan pengetahuan yang minim pada tahun 2019\, jadi jika kalian membandingkannya dengan Sang Musafir\, akan terasa seperti sedang membaca dua novel dari dua penulis yang berbeda jua.


__ADS_2