Sang Musafir

Sang Musafir
Mengalahkan Semua Lawan


__ADS_3

MANTINGAN MENYUNGGINGKAN senyumnya. “Tiada kau berani maju ke depan membantu kawan-kawan kau. Yang kau lakukan hanya menggantung di atap ruangan, entah harus menyebut kau kelelawar atau monyet hutan. Pastinya, kau lebih buruk dari hewan-hewan itu. Jika monyet masih bisa membantu kawannya, maka kau tidak.”


“Banyak cakap, isi kosong semua. Aku tidak membantu adalah karena aku tidak sudi!”


“Bukan tidak sudi, tapi pengecut.” Mantingan berkata dengan suara mengejek.


“Apa bukti kau berkata seperti itu?! Katakan sebelum kupancung batang lehermu!”


Mantingan mengelus dagunya. “Buktinya? Kau masih hidup sampai saat ini, seharusnya kau ikut mati bersama mereka.”


“Untuk apa aku mati bersama orang-orang rendahan seperti itu!” Meludah ke lantai.


Paman Bala masih diam. Dirinya mengetahui siasat Mantingan. Memancing amarah musuh, lalu habisi.


“Hanya kau yang mengatakan mereka adalah orang rendahan. Padahal sesungguhnya, kau jauh lebih rendah dari mereka. Saat mereka bertarung mati-matian, kau jadi kelelawar kecil yang takut-takut bersembunyi di balik kegelapan. Hanya diam dan menguping. Penakut.”


Seolah kehabisan kata untuk diucapkan, amarah segera mengisi kekosongan. Musuh bertopeng itu mengangkat tinggi kelewangnya. Dadanya naik turun. Napasnya yang menggebu-gebu terdengar dari balik topeng aneh itu.


“BIADAB! MATILAH...!”


Saat orang itu maju dengan amarah, maka ia lupa memanfaatkan segala kemampuan silatnya dengan baik. Ia maju melangkah cepat dengan ilmu meringankan tubuh, namun itu bukan yang terbaik darinya. Kelewangnya terancung ke atas, membuka segala macam celah pertahanan pada tubuh bagian depannya.


Paman Bala yang sejak tadi terdiam, kini menggebrak dengan menggerakkan naganya. Mantingan menutup sebelah matanya sekaligus menarik Pedang Kiai Kedai dari sarungnya.

__ADS_1


Tiga bola api berkekuatan besar diluncurkan secara bersamaan ke arah lajunya musuh bertopeng. Setelah mengirim serangan bola api itu, Mantingan membuka dua matanya dan berkelebat maju.


Semuanya terjadi begitu cepat. Musuh menangkis seluruh serangan bola api dengan mudah karena kelewangnya terancung ke atas bahkan sebelum serangan diluncurkan. Namun, itu semakin membuka celah pertahanan pada tubuh bagian depannya. Jika seorang pendekar menyerang, ia tidak akan sempat menarik kelewangnya ke bawah untuk menangkis. Maka saat itulah Mantingan dengan pedangnya menusuk tepat ke tempat jantungnya berada.


Kejadian yang tak kasat mata jika dilihat oleh orang awam, namun sebenarnya terjadi cukup lambat dan penuh perhitungan matang. Mantingan mencabut pedangnya dari tubuh musuh dan memendaratkan kakinya ke lantai, terseret beberapa depa ke depan.


Hal yang sama juga dilakukan oleh musuh yang memendaratkan kaki ke lantai, terseret beberapa depa ke depan hingga tiba di tempat Paman Bala berada. Musuh tidak menyadari bahwa dadanya telah tertusuk pedang Mantingan.


Saat menyadari Paman Bala ada di depan matanya, orang bertopeng itu dengan kalap mengangkat kembali kelewangnya tinggi-tinggi. Luka di dadanya terbuka lebar. Darah mengucur hebat. Sampai dirinya menyadari ada yang salah, tetapi terlambat sudah. Orang bertopeng itu tidak sempat berbuat apa-apa saat terjatuh. Berdebam.


Paman Bala bergeming di tempatnya. Tersenyum lebar saat melihat musuhnya ambruk dengan darah mengucur. Tidak bergerak lagi untuk selama-lamanya.


***


Keberhasilan Paman Bala membebaskan putrinya tidak terlepas dari kemampuan Mantingan menguasai keadaan. Seluruh musuh yang dihadapi Mantingan adalah pendekar ahli yang seharusnya tidak jadi tandingannya. Namun, Mantingan yang jauh lebih lemah itu memanfaatkan daya pikir untuk memperdaya musuh-musuhnya yang bodoh.


Setelah siang tadi Mantingan dan Paman Bala berhasil mengalahkan semua pembunuh gila di dalam salah satu ruangan Pasar Layar Malaya Bawah Tanah. Mereka keluar bersama lima bongkah Batu yang tadi Paman Bala berikan sebagai bayaran, dan tentu saja pembayaran dibatalkan. Tidak lupa barang belanjaan Mantingan yang sempat dibeli putri Paman Bala. Dan setelah mereka berhasil keluar hidup-hidup dari pasar bawah tanah itu, suasana di permukaan terasa sangat-sangat-sangat damai.


Namun, saat itulah Rara tiba-tiba menghilang. Mantingan berbisik dan memanggilnya, berteriak keras dalam benaknya. Di mana Rara? Di mana Rara? Begitulah manusia, pergi setelah tugasnya usai.


Pedagang-pedagang makanan membuka gerainya. Menjajakan makanan untuk pekerja yang lelah. Banyak yang membeli makanan ringan atau makanan berat yang kemudian dibawa pulang atau makan di tempat. Salah satunya adalah Mantingan, Paman Bala, dan putrinya yang berusaha melupakan kejadian siang tadi dengan membeli sejumlah makanan ringan. Mereka duduk di satu meja.


Namun bagaimanapun juga, kejadian berdarah itu memang tidak mudah dilupakan. Suasana makan berubah menjadi sangat hening. Tidak ada yang cukup berani menyentuh makanan kecuali Mantingan yang memang sudah lapar. Tak ada ***** makan sama sekali.

__ADS_1


Paman Bala dan putrinya hanya bisa memandangi Mantingan yang makan dengan lahap. Seolah tidak pernah melihat hal mengerikan di Pasar Layar Malaya Bawah Tanah. Namun sebenarnyalah Mantingan memang lapar dan membutuhkan tenaga. Tubuhnya juga perlu kandungan yang ada di dalam makanan guna melawan racun.


Pada seorang pelayan yang lewat, Mantingan menghentikannya dan berkata, “Saya pesan daging rusa bakar, apakah ada?”


Pelayan itu menganggukkan kepala dan tersenyum ramah. “Kami masih memiliki daging rusa segar yang didapat dari pemburu tadi malam.”


“Tolong buatkan dua porsi dan tolong bungkuslah.” Mantingan mengeluarkan dua keping emas. “Apakah ini cukup?”


Pelayan itu terlihat ragu saat berkata, “Kami memiliki dua sajian rusa bakar. Sajian pertama berharga lima puluh keping perak setiap porsinya, tetapi sajian kedua berharga sekeping emas untuk setiap porsinya.”


Mantingan mengangguk sekali. “Bawa dua keping emas ini dan bawakan yang terbaik.”


Paman Bala dan putrinya melebarkan matanya, cukup terkejut melihat sikap pemuda itu yang dianggap terlalu tenang. Apakah setelah melihat hal-hal mengerikan seseorang bisa berubah menjadi gila? Seperti apa yang terjadi pada Mantingan saat ini, sungguh mengherankan dapat melihatnya begitu tenang.


Setelah menerima uang Mantingan, pelayan itu cepat-cepat pergi. Tidak mau buat pelanggannya kecewa. Mantingan kembali melanjutkan santapannya dengan lahap namun tenang. Sesekali ia melirik Paman Bala dan putrinya yang tidak menyentuh hidangan, tetapi tidak ada satupun yang ingin ia perbuat terhadap mereka. Mantingan juga memahami bahwa jiwa mereka masih terguncang.


“Paman Bala, selepas ini aku akan pergi melanjutkan perjalanan. Mohon untuk tidak menyebarkan jati diriku sampai aku sendiri yang memperbolehkannya.” Mantingan berkata sambil membetulkan caping yang ada di kepalanya, agar bayangan hitam caping itu menyamarkan wajahnya.


Paman Bala yang sedari tadi terdiam segera menjawab penuh keyakinan dan wibawa, “Aku bersumpah akan melindungi jati diriku dengan nyawaku.”


“Jangan berkata terlalu keras, Paman.” Di bawah capingnya, mata Mantingan melirik ke sekitar.


____

__ADS_1


Follow IG: @westreversed


Terima kasih sudah menemani sampai 200 chapter ini😁


__ADS_2