
Dalam satu kejapan mata, langkah dan gerak tubuh orang-orang di sekitar Dara terhenti. Tubuh mereka kaku-kaku, sulit untuk digerakkan. Dara tidak jadi diterkam penggemarnya, penggemar terdekat darinya berjarak kurang dari satu depa.
Cara yang Mantingan lakukan tidak sesederhana yang terlihat. Mantingan menggunakan tenaga dalam dan hawa pembunuhnya untuk membuat orang-orang itu berhenti bergerak. Tenaga dalam yang harus ia kerahkan tidaklah sedikit, terlebih secara terus-menerus.
Mantingan terbatuk pelan. “Dara, kau harus bicara pada mereka.”
Mantingan berpikir, hanya Dara yang bisa menenangkan kerumunan penggemar gilanya itu. Karena mereka mencari-cari Dara, bahkan rela menjual harga dirinya demi dekat dengan Dara, seharusnya mereka juga mendengar perkataan Dara.
“Perbuatanmu itu jahat sekali, lepaskan mereka terlebih dahulu.” Dara berkata pelan.
Mantingan menuruti, ia juga tidak bisa terlalu lama menahan orang-orang sebanyak itu. Sedangkan baru sesaat Dara membuka mulutnya untuk bicara, muncul beberapa sosok di sekitarnya secara tiba-tiba.
Mantingan juga mengetahui ini lebih dahulu ketimbang Dara, sebenarnya sudah waspada, tetapi ia merasa beberapa sosok yang secara tiba-tiba muncul ini tidak memiliki niatan yang jahat. Mereka adalah pendekar-pendekar yang keberadaannya sudah terendus Mantingan sejak awal memasuki kota.
Melihat sosok-sosok pendekar yang muncul secara tiba-tiba itu, kerumunan orang tidak berani berbicara sepatah kata pun. Mereka pula tidak mau bergerak pergi dari tempat itu, tentu masih mengharapkan Dara setidaknya mau memberikan mereka tanda tangan.
Salah satu dari pendekar itu, pria muda berpakaian cerah dengan kumis melintang, menyapa dan berkata, “Saudara, ada apakah hingga dikau harus menggunakan ilmu persilatan untuk orang-orang ini?”
Mantingan membalas sapaan itu, “Saudara yang terhormat, sahaya sebenarnya tidak suka melakukan itu dan terpaksa. Jika Saudara mengetahui siapakah Nyai Dara, pasti Saudara juga mengetahui bahaya yang selalu menggentayanginya.”
Pendekar yang menjadi perwakilan itu mengangguk. “Aku sedikit mengetahui tentang Saudari Dara ini, akan tetapi tetap tidak baik menggunakan ilmu persilatan untuk menindas orang-orang biasa ....”
Mantingan mengembuskan napas panjang, menyadari kesalahannya. “Maafkan saya, Saudara. Jika ada yang perlu diurus untuk menebus kesalahanku ini, saya siap dan dengan lapang dada menerimanya.”
Pendekar itu mengangguk pelan lalu memberi tanda pada kerumunan di sekitarnya untuk tetap tenang meskipun Mantingan telah berkata seperti itu. Jadi mereka tetap diam di tempat, untuk menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.
__ADS_1
“Saudari Dara, dikau mendapat kesempatan bicara dengan mereka jika dikau memang menghendakinya.” Pendekar itu mempersilakan.
Dara tanpa ragu lagi bersuara cukup keras, “Orang ini adalah kekasihku, tidak ada satupun dari kalian yang bisa mendekatiku selama masih ada dirinya!”
Kerumunan itu sangat terkejut pada pernyataan Dara. Sedangkan Mantingan, terkejut bukan main. Banyak gumaman-gumaman dari dalam kerumunan itu, baik itu dengan nada kecewa pada Dara atau nada kebencian pada Mantingan.
Mantingan tidak bisa untuk tidak berkata, “Tidak, tidak benar. Saya bukan kekasihnya.”
Dara menatap Mantingan dengan mata membesar, lalu berbisik marah padanya, “Mantingan! Ini kulakukan agar tidak akan banyak orang-orang yang mendekatiku lagi!”
Mantingan membalasnya dengan senyum masam. “Dan kau membiarkan aku menjadi buronan paling dicari.”
Dara berdecak sebal, menunjukkan raut wajahnya yang merajuk itu.
Kerumunan itu bergumam kecewa, berniat segera meninggalkan tempat itu walau dengan langkah berat. Namun tanpa diduga-duga, Dara menahan penggemar-penggemarnya itu pergi.
“Jangan pergi dengan tangan kosong, aku memiliki sedikit oleh-oleh untuk kalian. Bila ada yang membawa selembar lontar dan pengukir, akan kusempatkan untuk memberi tanda tangan.”
Sontak saja mereka bersorak gembira. Tidak menyangka akhirnya keinginan mereka tercapai, bahkan Dara yang mempersilakan mereka sendiri tanpa terpaksa.
Mantingan sedikit mengeluh. “Dara ... kita bisa kemalaman.”
“Aku tidak akan mendengarkan perkataanmu lagi.” Dara berkata acuh tidak acuh. “Pergi dan carikan kuda untukku dan untukmu. Tinggalkan barang belanjaannya di sini.”
Mantingan ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan di tenggorokannya. Ia menghela napas dan menggeleng pelan. Tidak banyak yang bisa ia lakukan jika Dara sudah seperti ini. Berdasarkan pengalaman hidupnya, wanita sulit dibujuk kalau sedang merajuk. Mantingan hanya bisa menuruti permintaan Dara itu. Ia meletakkan barang belanjaan Dara itu, tetapi sebelum pergi Mantingan juga melepas pedangnya.
__ADS_1
“Simpan pedang ini untuk jaga-jaga.” Mantingan mengulurkan pedang itu pada Dara.
Dara berniat menolaknya, tetapi Mantingan menekankan bahwa selama dirinya tidak ada, banyak kemungkinan berbahya yang bisa terjadi, Dara akan membutuhkan senjata untuk melindungi dirinya sendiri. Sehingga Dara menerima pedang itu.
Mantingan beralih pada pendekar yang masih tetap berada di sana. “Saudara, adakah yang perlu saya urus sebagai ganti rugi kerumunan ini?”
Pendekar itu—masih dengan senyum kaku—berkata, “Tidak ada, Saudara. Aku hanya menunggu tanda tangan dari Saudari Dara untuk anakku di rumah. Keselamatan Saudari Nyai akan kami jamin sampai dikau kembali.”
Mantingan menghaturkan hormatnya. “Terima kasih, Saudara. Saya mohon diri.”
“Silakan.”
Mantingan pergi berlalu dari sana tanpa banyak kata-kata lagi. Kerumunan orang-orang itu membukakan jalan untuknya. Mantingan terus melangkah, setelah agak jauh ia baru mengingat bahwa ia tidak menanyakan tempat penjual kuda di kota ini. Mantingan hendak berbalik, tetapi mengurungkannya. Sudah terlalu jauh ia berjalan saat ini, dan akan sulit lagi jika kerumunan di sana bertambah banyak.
Mantingan menghela napas, sepertinya ia memang harus mencari sendiri di mana tempat penjual kuda itu. Kali ini Mantingan tidak lagi berjalan santai, waktu siang semakin menipis, malam akan datang tak berselang lama dari ini.
Tubuh Mantingan menjadi bayangan saat ia berkelebat. Melompati atap-atap bangunan tinggi ke atap bangunan lainnya hampir tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Suatu saat ketika Mantingan melompati suatu bangunan, tanpa sengaja matanya menangkap sesosok pendekar yang juga melenting-lenting di atap bangunan. Walaupun jaraknya dengan Mantingan cukup jauh, tetap saja hal itu merupakan hal yang menakjubkan. Biasanya dalam suatu kota, sangat jarang seorang pendekar bertemu dengan pendekar lain di atap bangunan.
Kiai Guru Kedai pernah bercerita, sekalipun di kota itu memiliki banyak pendekar, namun tidak semua pendekar mau keluar dan menunjukkan jati dirinya. Tentu hal yang baru saja Mantingan lihat ini bukanlah hal biasa.
Tetapi jika dilihat-lihat lagi, sosok-sosok pendekar tadi terang-terangan menampakkan diri pada Mantingan. Jelas mereka sangat berbeda dengan penuturan dari gurunya tentang sikap para pendekar, yang enggan ikut campur sebuah masalah jika itu tidak menyangkut dirinya.
Apakah mungkin, dikarenakan gejolak yang terjadi begitu dahsyat hingga sikap pendekar berubah? Bagi Mantingan, jika memang terjadi perubahan, perubahan itu terlalu besar jika tanpa disertai alasan yang besar juga.
__ADS_1