Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan dalam Keterbutaan


__ADS_3

Mantingan tidak sempat menebak asal-usul cahaya putih yang melesat keluar dari celah pintu kamarnya itu, sebab sebenarnyalah laju badannya telah hampir menyamai laju kecepatan berpikirnya. Mantingan tidak dapat membuang-buang waktu dengan pikiran yang tidak perlu, maka segeralah ia menggunakan waktu itu untuk mencari cara membunuh musuh meski dengan matanya telah terbutakan.


Maka ia memejamkan matanya rapat-rapat dan membiarkan tubuhnya terus melaju ke depan. Diedarkannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk mengetahui letak keberadaan lawan.


Namun nyatanya, untuk dapat mengetahui keberadaan lawan secara pasti sangat sulit dilakukan sekalipun telah menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Jika Mantingan melaju dengan kecepatan menembus lima kali kecepatan suara, lalu bagaimanakah kiranya ia mampu menangkap seluruh suara di sekitarnya dengan jelas?


***


LEBIH-lebih, empat pendekar di depannya itu bukanlah pendekar yang lahir kemarin sore. Mereka adalah pendekar yang lebih dari kata terlatih, sehingga mampu bergerak tanpa menimbulkan suara sama sekali. Sedangkan dalam keadaan keterbutaan mata seperti ini, yang paling Mantingan butuhkan adalah gelombang suara.


Jika ia tidak mampu menangkap suara yang mereka hasilkan, atau paling tidak gelombang suara yang terpantulkan pada badan mereka, maka Ilmu Mendengar Tetesan Embun tidak akan mampu menentukan letak pasti dari keberadaan mereka.


Sebenarnya Mantingan telah menciptakan sebuah gelombang suara besar dengan menghancurkan pintu kamar yang saking kuatnya menjadi serpihan-serpihan kayu kecil. Namun, perlu diingat bahwa Mantingan bergerak dengan lima kali lebih cepat ketimbang kecepatan suara. Tentunya suara tersebut tidak akan lebih dahulu memantul pada tubuh empat orang pendekar untuk kemudian bergerak lagi ke arah Mantingan, sebelum Mantingan tiba di sana. Itu sangat mustahil.


Tidak banyak yang dapat ia lakukan sekarang. Dirinya telah tahu sedari awal bahwa keterlambatannya dalam mengetahui keberadaan empat pendekar di depan pintu kamarnya itu dapat berakibat sangat berat.


Sungguh, yang dapat ia lakukan saat ini hanyalah dengan tetap menghunus pedangnya dan melaju secepat yang ia bisa. Berharap menabrak musuh-musuhnya, sehingga mungkin saja ia dapat mengorbankan diri demi keselamatan Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina. Dan pula demi lancarnya rencana penyergapan para pengacau yang akan dilakoni oleh Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih.


Namun pada nyatanya, Mantingan melaju tanpa menabrak apa pun juga. Bahkan melalui pendengarannya, ia mengetahui bahwa musuh telah terlewati begitu saja!


Maka segeralah diturunkan kakinya hingga menyentuh lantai lorong untuk menghentikan gerak lajunya.


Kedua kakinya berhasil mendarat. Namun untuk dapat berhenti dengan sempurna, itu diperlukan sedikit waktu.


Ia terseret sampai beberapa depa ke depan. Menciptakan dua garis jejak panjang di atas lantai kayu lorong itu. Beruntunglah Mantingan menggunakan alas kaki, sehingga telapak kakinya tidak terluka, meski sebagai gantinya alas kakinya itulah yang menjadi rusak.


Mantingan kembali membuka matanya. Segalanya masih tampak putih pudar. Meskipun ia tahu bahwa sinar terang yang tadi dilihatnya hanya menyala barang sekejap sebelum akhirnya meredup bahkan mungkin langsung mati kembali, hanya saja memang segala mata yang menatapnya dari jarak dekat akan terbutakan oleh sinar tersebut.


Kemudian didengarnya suara kelebatan yang segera disusul oleh dentang keras dari logam yang berhantam-hantaman.


Melalui suara itulah, Mantingan mampu dengan sangat jelas menentukan di mana letak musuh-musuhnya berada. Kembali ia memejamkan mata sebelum berkelebat cepat!

__ADS_1


Dalam keterpejamannya, ia mampu melihat salah seorang pendekar berkelebat mundur ke arahnya. Mungkin pendekar itu bermaksud menghindari serangan di depannya, namun sama sekali tidak menyadari kehadiran Mantingan yang siap menikam punggungnya dari belakang.


Mantingan menghunus pedangnya dan dibiarkan begitu saja hingga menembus dada si pendekar malang. Tanpa menghentikan laju, Mantingan menarik pedangnya dengan cara memutar. Ia mencari mangsa lainnya.


Dalam keterpejaman matanya, Mantingan kembali menemukan seorang pendekar yang melaju cepat ke arahnya. Namun pendekar yang datang kali ini tidaklah berkelebat mundur, melainkan berkelebat maju sambil mengancungkan pedangnya. Mantingan tahu bahwa sekarang dirinyalah yang menjadi pihak diserang.


Maka segera ia tepis pedang itu sebelum merajam batang lehernya. Mantingan pula mengentak kaki ke belakang, namun belum mengirim serangan balasan.


Musuhnya yang ia hadapi kali ini agaknya memiliki ilmu pendengaran yang cukup tinggi untuk mampu melacak arah serangannya bahkan sekaligus menyerang balik. Mantingan merasa perlu untuk meningkatkan kewaspadaan dan untuk tidak meremehkan musuhnya sama sekali.


Mantingan melesat mundur, sedang lawannya itu melesat ke depan dengan terus menyabetkan pedangnya ke udara hampa.


Melihat cara menyerang yang dilakukan oleh pendekar itu, Mantingan diam-diam berlega hati. Jelas sekali bahwa si pendekar tidak mampu menentukan letaknya secara pasti meskipun memiliki ilmu pendengaran tajam yang tinggi, sehingga terus saja membabat ke depan dengan harapan salah satu babatannya itu mengenai Mantingan.


Namun betapa malangnya nasib pendekar itu, Mantingan memiliki Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang jauh-jauh lebih baik daripada ilmu pendengaran tajam manapun di Dwipantara. Yang bahkan dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan mampu melihat bentuk batang hidung lawannya dengan mata terpejam rapat!


Mantingan sedikit menyentuh lantai untuk melenting ke atas lorong.


Namun meskipun telah betul-betul menyadari bahwa Mantingan sedang berada di atasnya saat ini, pendekar itu tetap terlambat untuk menangkis apalagi menyerang Mantingan. Nyawanya melayang ketika Pedang Kiai Kedai membelah batok kepalanya.


Mantingan memendaratkan diri dan berhenti sampai di situ. Pedang Kiai Kedai dikibas-kibaskannya ke udara sambil dialiri tenaga dalam guna membersihkan darah lawan, sebelum akhirnya dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.


Mantingan mencoba membuka matanya kembali. Penglihatannya berangsur-angsur kembali seperti semula. Dapat dilihatnya Bidadari Sungai Utara yang sedang menarik bilah pedang dari dada lawannya; hal itulah yang menjadi alasan Mantingan untuk berhenti dari gerakannya.


Sesaat setelah Bidadari Sungai Utara berhasil mencabut pedangnya, lawannya itu langsung ambruk ke lantai tanpa menyimpan nyawa di dalam raganya. Bidadari Sungai Utara lalu beralih menatap Mantingan.


“Mantingan, engkaukah itu?”


Mantingan membuka topengnya sambil tersenyum lebar. “Benar sekali, Sungai Utara.”


“Saudara, akhirnya engkau datang,” kata Bidadari Sungai Utara, yang tanpa mengeluarkan air mata penuh kelegaan. Awalnya gadis itu mengira akan mati di tempat ini, akan tetapi Mantingan berhasil datang tepat waktu untuk meloloskannnya dari jeratan kematian; siapakah kiranya yang tidak akan menangis dalam keadaan seperti itu?

__ADS_1


Mantingan mengedipkan mata beberapa kali sebelum menjawab, “Saudari, sebentar lagi penginapan ini akan menjadi tempat pertempuran yang akan berlangsung sangat parah ....”


Mantingan kemudian menjelaskan tentang pertempuran Pasukan Topeng Putih dengan Pasukan Serigala Pembunuh di pintu pelabuhan secara singkat kepada Bidadari Sungai Utara. Ia lalu mengeluarkan beberapa lembar Lontar Sihir dari dalam kotak lontarnya.


“Saudari masuklah ke dalam, daku akan memasang Lontar Sihir Pelindung di sini. Maaf karena diriku telah lalai untuk memasang pengamanan di kamar ini sebelum pergi.”


Namun sebelum melakukan apa yang Mantingan minta, Bidadari Sungai Utara bertanya, “Apakah diriku tidak bisa mengikuti pertempuran ini, Saudara?”


“Jika tenagamu benar-benar dibutuhkan, daku akan memanggilmu. Namun untuk saat ini, tenagamu lebih diperlukan untuk menjaga Kana dan Kina. Saudari, engkau harus menjaga mereka.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk sekali sebelum cepat-cepat berbalik badan. Dia tahu bahwa pertempuran akan berlangsung tidak lama lagi, dirinya tidak ingin menghambat pergerakan Mantingan.


Namun, Mantingan kembali memanggilnya.


“Sasmita.”


Gadis itu berbalik badan dan menoleh ke arahnya.


Mantingan memasang senyum hangat sebelum berkata dengan tulus, “Apa yang baru saja engkau lakukan tadi itu amat sangat hebat dan berani. Jika diriku menjadi engkau, belum tentu daku mampu berbuat hal yang sama. Terima kasih banyak karena telah melindungi anak-anak.”


Bidadari Sungai Utara hanya tersenyum samar dengan pipi bersemu merah sebelum menutup pintu kamar yang telah setengah hancur itu.


Mantingan pun segera memasang Lontar Sihir Pelindung pada badan pintu. Dalam seketika aksara-aksara bercahaya mengambang di jarak setengah jengkal dari pintu tersebut. Mantingan juga memasang beberapa Lontar Sihir Penjebak di sekitaran lorong penginapan.


Ketika pemuda itu kembali berkelebat menuju luar jendela kamar yang tadi dilaluinya, suara tanda bahaya berupa kentungan dan canang kembali terdengar mengoyak udara!


___


catatan:


Ketika menemukan kata-kata yang ambigu, percayalah bahwa penulis mengetik dalam kecepatan cahaya. Sehingga ketika menemukan kata-kata yang terkesan ambigu, anggaplah itu sebagai tersangka kriminal yang harus segera dilaporkan kepada penulis!

__ADS_1



__ADS_2