Sang Musafir

Sang Musafir
Kedai di Tengah Belantara


__ADS_3

SETELAH selesai berkemas, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan terbang di atas udara. Hujan telah lama reda, langit bersih dari mega-mega, sehingga memang aman untuk melanjutkan perjalanan.


Seperti siang tadi, Chitra Anggini duduk di bagian depan, sedangkan Mantingan menjaganya di belakang. Daratan gelap-gulita, tiada peradaban, sehingga Chitra Anggini tidak terlalu takut jatuh.


Lagi pula, kini Mantingan telah menambahkan tali-temali untuk mengikatkan mereka dengan badan Munding Caraka. Sehingga rasa-rasanya, tidak ada lagi alasan untuk takut jatuh.


Mereka terbang di langit malam yang bersih. Cerah. Berlatarkan bintang-gemintang dan rembulan yang terang. Dilihat dari sudut manapun jua, akan tetap indah!


“Daku tidak pernah mendapatkan ini meskipun hanya di dalam mimpi.” Chitra Anggini berkata lembut, menyertakan tenaga dalam ke suaranya.


“Daku pula.” Mantingan tersenyum lebar sambil menatap bintang-gemintang di atasnya. Tangannya mengelus punggung Munding Caraka. Mantingan berjanji untuk memberikan kerbaunya itu sejumlah makanan berkualitas ketika mereka telah tiba di Koying nantinya. Tak seberapa untuk membalas jasanya.


Namun entah apa gerangan, suasana yang indah itu mendadak menjadi tidak enak, tetiba saja Mantingan membayangkan, bahwa perempuan yang berada tepat di hadapannya itu adalah Bidadari Sungai Utara. Tidak Chitra Anggini, tidak juga yang lainnya. Melainkan gadis Champa itu, yang kecantikannya bagai tiada bandingan. Bukankah teramat indah melewati saat-saat yang sangat indah ini bersamanya?


Namun semakin ia membayangkan, semakin pula senyumnya menjadi pahit. Bagaimanapun jua, bayangannya itu hanya akan menjadi bayangan semata. Tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan. Untuk selamanya.


Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Atau lebih tepatnya: bagaimana kabar perempuan yang barangkali sudah tidak dapat disebut sebagai gadis lagi itu?


Mantingan menarik napas panjang. Memilih untuk melupakannya saja. Di tengah terjangan udara malam yang dingin menusuk, ia terus mengalirkan tenaga prana. Bukan hanya kepada dirinya sendiri, melainkan pula kepada Munding Caraka dan Chitra Anggini. Jika tidak begitu, maka sudah tentu mereka semua akan mati membeku!


Pakaian mereka akan selalu berkibar-kibar diterjang udara dari depan, maka dari itulah mereka memilih untuk mengenakan busana ringkas. Chitra Anggini berpukas perut, hanya mengenakan penutup dada dan celana renggang sampai sebatas lutut. Sedangkan Mantingan masih mengenakan pakaiannya dengan lengkap, tetapi dengan meniadakan jubah putih yang didapatkannya dari Tapa Balian. Mengingat jubah kelabu pemberian Kenanga telah dipasangkan pada Bidadari Sungai Utara.


Rambut keduanya digelung ketat ke atas, agar tidak ikut berkibar. Diikat menggunakan tali dari kulit pohon, lalu ditusuk konde kayu mengilap. Mantingan awalnya menolak memakai konde itu, beranggapan bahwa benda itu hanya diperuntukkan bagi perempuan, tetapi Chitra Anggini memaksanya.


“Itu jimat keberuntungan,” katanya datar.


***

__ADS_1


DUA hari terlampau sudah. Perjalanan mereka hampir tidak memiliki kendala. Semuanya terkendali. Hanya cuaca buruk saja yang sekali-duakali menerjang, memaksa mereka untuk turun kembali ke daratan.


Dengan menghabiskan sebagian besar waktu di atas langit, mereka sama sekali tidak menghadapi pertarungan yang datang dari telaga persilatan maupun belantara persilatan. Menjadikan segala-galanya masih terasa damai.


Pagi ini, mereka singgah di sebuah kedai kecil yang letaknya tak jauh dari desa yang kecil pula. Kedai itu adalah satu-satunya tanda peradaban manusia yang mereka lihat semenjak dua hari terakhir. Dan dari pemilik kedai itu, mereka mengetahui bahwa letak Koying tidaklah terlalu jauh lagi.


“Hanya membutuhkan sekitar lima hari perjalanan berkuda, sepuluh hari menggunakan pedati kerbau, dan lebih dari tiga pekan berjalan kaki.” Pemilik kedai menjelaskan dengan ramah ketika dirinya mengantarkan dua mangkuk berisi bubur berkaldu kambing ke meja pesanan Mantingan dan Chitra Anggini. “Memangnya Anak berdua ini datang dari mana?”


“Kami datang dari Pasemah, Bapak.” Mantingan buru-buru menjawab ketika melihat Chitra Anggini membuka mulutnya. Ia khawatir perempuan itu akan menjawab Tulang Bawang, yang selalu dapat dikaitkan dengan Lembah Balian. Bukankah tempat yang dijaga oleh seribu prajurit kerajaan itu bukan tidak berarti apa-apa?


“Pasemah, itu jauh sekali.” Pemilik kedai itu terkekeh pelan. Usianya telah terlampau tua, tidak memungkinkannya untuk tertawa lebih keras. “Daku banyak menyimpan kenangan di sana. Apa kabar wilayah itu sekarang?”


Mantingan menjelaskan secara singkat sesuai dengan apa yang dilihatnya. Banyak desa yang mengalami kekeringan, tetapi tidak sampai pada tingkatan mematikan. Jalanan berlumpur bagai kubangan kerbau. Sepi lalu-lalang, sebab jumlah penyamun telah terlampau banyak, kambuhan dari Javadvipa.


Pemilik kedai itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Jadi kalian ini adalah pendekar?”


“Suami-istri ataukah sepasang pacar?”


Chitra Anggini terbatuk keras. Entah disengaja atau tidak. Mantingan segera membalas dengan gugup, “Kami sekadar teman seperjalanan saja, Bapak. Tidak lebih dan tidak kurang.”


“Ah, sayang sekali.” Pemilik kedai berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya. “Di Koying, ada perhelatan luar biasa. Namanya ‘Perhelatan Cinta’. Perhelatan itu dikhususkan bagi para pendekar berkepasangan yang hendak membangun keluarga dengan sebagaimana mestinya. Mereka yang bersedia mengikuti perhelatan itu akan diberikan rumah dua tingkat serta 100 keping emas sebagai bekal membangun keluarga.”


Mantingan dan Chitra Anggini saling berpandangan. Ini benar-benar sesuatu yang teramat sangat baru bagi dunia persilatan, yang biasanya menganggap cinta sebagai suatu ketabuan!


Pemilik kedai itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang tidak lagi utuh. “Ini adalah langkah Koying untuk membudidayakan pendekar di dalam kerajaan. Mereka yang mengikuti Perhelatan Cinta diwajibkan untuk mengabdikan diri pada kerajaan, menghilangkan sedikit banyak kebiasaan dunia persilatan. Bagi sebagian besar orang, langkah ini sangatlah baik dan bijak. Namun bagi diriku, ini cukup berbahaya ....”


Mantingan menatap dengan penasaran. Menanti balasan, meski ia telah tahu betul apa yang akan dikatakan pemilik kedai itu sebentar lagi.

__ADS_1


“Pendekar-pendekar itu akan menjadi pedang bermata dua.”


Mantingan terdiam beberapa saat sebelum menganggukkan kepalanya beberapa kali. Setuju.


“Ah, sudahlah, daku harus menyiapkan minuman untuk kalian. Jika tidak ada lagi yang ingin kalian tanyakan, maka pak tua ini mohon diri.”


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Silakanlah, Bapak. Kurasa tidak ada hal lain yang hendak kami pertanyakan, dan sekalipun ada, akan kami tanyakan nanti saja.”


Setelah pemilik kedai itu berlalu, tibalah bagi Mantingan dan Chitra Anggini untuk makan sambil berbincang. Atau lebih tepatnya, berbincang sambil makan.


“Ini akan membawa perubahan besar bagi dunia persilatan.” Chitra Anggini memulai percakapan. Setelah melewati tiga hari yang sangat indah dilewatinya bersama Mantingan, gadis yang biasanya dingin dan acuh itu tidak lagi sungkan untuk mengawali percakapan.


“Atau akan mendatangkan kekacauan lagi.” Mantingan membalas sebelum menyuap sesendok bubur hangat di mangkuknya.


“Kekacauan semacam apa?”


“Kekacauan sebab banyak yang tidak terima.” Mantingan tertawa getir. “Bukankah banyak sekali pendekar yang kehilangan pujaan hati sebab terkekang aturan persilatan? Jika mereka tahu tentang kabar ini, maka kurasa hal itu hanya akan menimbulkan rasa iri pada mereka.”


___


catatan:


Karena Sang Musafir akan segera tamat, silakanlah katakan hal-hal yang belum terungkapkan di karya ini. Tetapi jika itu akan men-spoiler alur ke depannya, saya akan menunda jawabannya.


Ini sekaligus membantu saya untuk mencegah plot hole.


Terima kasih 🙏

__ADS_1



__ADS_2