Sang Musafir

Sang Musafir
Tidak Tahukah Dengan Siapa Kalian Berbicara?


__ADS_3

“Saudara, jaga mulutmu!”


TEMAN DI samping pria berjanggut itu ikut membela. Betapapun mereka berada di dalam kesatuan yang sama.


“Apakah Saudara tidak mengetahui dengan siapa engkau berbicara?!” katanya lagi.


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Tidak salah dan tidak bukan, kalian adalah laskar khusus dari Tarumanagara.”


“Bagus jika Saudara mengetahui, tetapi tidak bagus apa yang Saudara katakan pada kami! Bercakap seperti itu, Saudara sama saja telah menghina aturan yang berlaku di Tarumanagara!”


“Kuyakin jika Sri Maharaja Punawarman ada di sini, maka beliau akan memerintahkan kalian pergi ke Desa Lonceng Angin mengabarkan semuanya.”


“Saudara jangan berbicara seenak jidat jika itu menyangkut Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati!”


"Hebat juga cakapan dan hapalan Saudara."


Saat temannya itu hendak menghunus tombak, pria berjanggut mengangkat tangan untuk menahannya. Sebagai yang lebih berusia lanjut, dia tentu berpengalaman untuk bersikap tenang dalam segala keadaan.


“Saudara berdua, tidak tahukah dengan siapa kalian berbicara?” Tiba-tiba saja Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam pembicaraan setelah tak tahan membungkam mulutnya. Didengar dari nada bicaranya, dia terlihat marah.


“Hayo kamu perempuan, dengan siapakah kami berbicara?” ujar teman pria berjanggut.


Mantingan menoleh kepada gadis itu, seolah mengatakan untuk tenang. Tetapi Bidadari Sungai Utara tidak mau mengindahkannya sama sekali.


“Kalian sedang berbicara dengan Mantingan, Pahlawan Man yang kalian sebut-sebut namanya tadi!”


Dua pendekar itu segera menatap Mantingan dari atas sampai bawah. Sedangkan pemuda itu hanya bisa tersenyum masam, menurutnya Bidadari Sungai Utara telah melakukan sebuah kesalahan yang cukup besar.


“Bukankah Pahlawan Man masih berjaga-jaga di Desa Lonceng Angin? Dan kuyakin, Saudari, Pahlawan Man tidak berpenampilan sejelek ini.”


“Jangan menilai seseorang dari penampilannya, Saudara.” Murid dari Perguruan Angin Putih memberanikan diri angkat suara. “Orang di depan kalian ini adalah Pahlawan Man, dialah yang menumpas Perkumpulan Pengemis Laut saat mereka menyerang Desa Lonceng Angin.”

__ADS_1


“Benar. Dan kami bertiga adalah murid dari Perguruan Angin Putih.” Murid lain menimpalinya pula.


Bidadari Sungai Utara mengangguk setuju lalu berkata, “Dan diriku adalah Bidadari Sungai Utara.”


Mantingan menepuk dahinya sambil menyeringai kesal. Betapa perjalanan ini tidak lagi menjadi perjalanan rahasia.


“Mantingan, janganlah menahan kesombonganmu.” Bidadari Sungai Utara berkata ketus setelah melihat Mantingan tidak berbuat apa-apa saat dibela.


“Bukan begitu, Saudari ....”


Mantingan lalu menjelaskan bahwa perjalanan ini seharusnya dirahasiakan. Bidadari Sungai Utara, dan segenap murid dari Perguruan Angin Utara yang ada di sana segera menyadari kesalahannya. Raut wajah mereka berubah menjadi pucat. Terutama Bidadari Sungai Utara, baru teringat bahwa dirinya masih menjadi buronan se-Javadvipa.


“Kalian jangan bersandiwara belaka guna menipu kami.” Pria berjanggut itu akhirnya berkata.


Mantingan segera membalas, “Ya, lebih baik Saudara berdua tidak mempercayai apa yang kami katakan tadi.”


Mantingan berhenti bersuara. Bahkan tiba-tiba saja tampak menahan napas! Matanya menyorot hutan di depan yang masih belum tersiram indahnya sinar sang surya. Perlahan tangannya terangkat ke atas.


Serentak mereka berbalik badan. Menghadap hutan dengan senjata masing-maisng yang terhunus. Mereka mundur perlahan mendekati kereta kuda. Suasana menjadi tegang dalam seketika!


Mantingan berbisik pada Bidadari Sungai Utara menggunakan Ilmu Bisikan Angin, “Saudari, anak-anak.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk sebelum berkelebat cepat ke belakang. Berbarengan dengan pergerakan Bidadari Sungai Utara, Mantingan melihat pergerakan lain di atas kepalanya. Panah berapi!


Benda itu melesat tanpa sempat ditangkap. Mantingan sungguh tidak melihat panah itu sebelumnya. Ketika ia berbisik pada Bidadari Sungai Utara tadi, kewaspadaannya menurun sedikit. Yang betatapun meskipun sedikit sangatlah berimbas! Sehingga dengan bebas dan tepat sasaran, panah tersebut menancap di atap-atap kereta kuda. Dengan perasaan buncah, Mantingan menoleh ke arah kereta itu. Kana dan Kina tiada terlihat lagi.


Gadis itu kembali ke sebelah Mantingan tak lama kemudian.


“Di mana Kana Kina?”


“Di tempat yang aman,” balasnya dengan berbisik, “daku harus membantumu jika seandainya terjadi pertempuran.”

__ADS_1


“Saudari, diriku tidak mau banyak berdebat di sini, tetapi ....”


Bidadari Sungai Utara memotongnya, “Jika begitu, biarkan daku membantumu. Kana dan Kina lebih aman jika tidak bersamaku.”


“Engkau telah memasang Lontar Sihir penjebak untuk mengamankan mereka?”


Bidadari Sungai Utara mengangguk, Mantingan turut mengangguk. Memang benar, mereka akan lebih aman sendiri ketimbang bersama Bidadari Sungai Utara. Perkumpulan Pengemis Laut mengincar Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, bukan Kana maupun Kina.


Mantingan merasakan panas api membara di belakang punggungnya. “Selamatkan barang-barang berharga di dalam kereta, jangan sampai terbakar. Daku akan tetap di sini.”


Tanpa berlama-lama lagi, Bidadari Sungai Utara kembali berkelebat ke belakang. Menyelamatkan barang-barang pengobatan yang bernilai tinggi. Sedangkan Mantingan, tiga murid dari Perguruan Angin Utara, dan dua pendekar bertombak dari laskar khusus Tarumanagara tetap menyiagakan senjata di depan kereta. Mereka tidak lagi melangkah mundur barang selangkah pun.


“Saudara Man, kita yang menyerang atau mereka yang menyerang?” berkata salah satu dari murid Perguruan Angin Putih.


“Biarkan mereka yang menyerang. Mereka penuh dengan persiapan sedangkan kita tidak.”


Maka murid dari Perguruan Angin Utara itu mengangguk paham. Dalam menghadapi pengepungan, alangkah baiknya tidak menyerang lebih dulu, bisa saja musuh telah menyiapkan jebakan. Bidadari Sungai Utara kembali tak lama kemudian.


“Saudara,” berkata gadis itu, “bisakah kita menjajal jurus berpasangan yang pernah engkau ajarkan padaku dulu?”


Mantingan melirik gadis itu sebentar untuk melihat sebesar apa keyakinannya. Lalu pemuda itu mengangguk pelan. “Kita mainkan Sepasang Bangau Menyambar Ikan.”


***


MANTINGAN DAN Bidadari Sungai Utara saling mendekatkan diri hingga bersentuhan. Memang inilah syarat dari Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan. Pemainnya harus merupakan dua pendekar yang sama-sama menguasai jurus tersebut, dan mereka haruslah saling berdekatan, bahkan bertempel-tempelan selama memainkan Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan.


Lebih dulu mereka mengatur jalannya napas. Ketenangan dalam berpikir, bahkan saat menghadapi pertarungan penuh kecamuk, adalah syarat ketiga untuk memainkan Jurus Sepasang Bangau Menyambar Ikan. Sepasang pendekar itu sama sekali tidak boleh buncah. Sekali saja salah mengambil gerakan, maka nyawa berkemungkinan besar melayang meninggalkan raga.


Sedangkan itu, pendekar-pendekar lain justru menyebar. Sebagai pendekar yang keahliannya jauh di atas lawan, maka mereka bisa menghadapi belasan atau bahkan puluhan lawan sekaligus. Maka dari itu, mereka menyebar, untuk menciptakan jarak aman dan agar tidak bersinggungan sesama kawan.


Hanya Mantingan dan Bidadari Sungai Utara yang saling berdekatan di sana. Seolah bumi yang luas ini tidak cukup untuk keduanya. Atau seolah, sekali lagi seolah, tali percintaan telah mengikat mereka. Tetapi sebenarnyalah, kedekatan itu berarti kematian bagi yang hendak memisahkannya!

__ADS_1


__ADS_2