
“Pendekar Daun Mendayu, sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami semua sebab dapat berjumpa dengan pendekar kenamaan sehebat dirimu!”
“Pendekar Kelewang Berdarah terlalu memuji. Dibandingkan denganmu, daku bukanlah apa-apa.”
“Hahaha! Apakah kiranya diriku yang begitu lemah dan tak berdaya ini pantas dibanding-bandingkan dengan pendekar yang mampu membunuh ratusan lawan hanya dengan selembar daun?”
“Dan dapatkah kecepatanmu itu terbandingkan dengan sesuatu, wahai Pendekar Kelewang Berdarah? Dikau mampu membunuh seratus lawan hanya dalam sekejap mata saja.”
***
MANTINGAN terus melihat dan mendengarkan percakapan basa-basi antara orang yang disebut sebagai Pendekar Kelewang Berdarah dengan Kartika yang nyata-nyatanya adalah seorang pendekar bergelar Pendekar Daun Mendayu, sampai tibalah saat ia mendengar bisikan-bisikan suara dari dalam salah satu tenda pemain wayang.
“Mereka yang sedang bercakap dengan kakak itu adalah salah satu kelompok dari Persekutuan Enam Kelewang.”
“Ah, Persekutuan Enam Kelewang. Daku kenal persekutuan itu. Mereka bergolongan hitam bukan? Nah, mereka yang datang ini termasuk ke dalam kelompok yang mana?”
“Mereka adalah bagian dari Kelompok Kelewang Darah. Dari lima kelompok lainnya yang bernama Kelewang Api, Kelewang Angin, Kelewang Mega, Kelewang Tanah, dan Kelewang Kayu, hanya mereka yang tidak mengambil unsur alam sebagai namanya, sebab segala tindak-tanduknya memang telah begitu mencerminkan namanya.”
Percakapan itu terus dilangsungkan dengan berbisik-bisik pelan.
“Jadi, mereka yang datang ini suka pada darah manusia? Ssssh, Kakak, jika itu benar maka akan mengerikan sekali, daku takut ....”
“Tetapi bukan berarti mereka suka pada minum darah manusia atau semacamnya, Adik! Mereka hanya terlalu banyak menyebabkan pertumpahan darah di mana-mana. Dan dari kabar burung yang tersiar, kelewang-kelewang mereka tidak pernah bersih dari darah.”
__ADS_1
“Tetap saja daku takut, Kakak.”
“Aduhai, adakah sesuatu yang sekiranya dapat mengusir rasa takutmu?”
Mantingan melepas pendengarannya dari kedua perempuan itu yang agaknya akan segera melakukan hubungan asmara tidak wajar sebentar lagi. Dirinya kembali beralih menuju percakapan antara Kartika dengan Pendekar Kelewang Berdarah.
“Dikau telah datang jauh-jauh ke tempat ini, tidakkah ingin menikmati sekadar perjamuan kecil dari kami?”
“Daku rasa sama sekali tidak perlu. Ada baiknya jika kita segera melaksanakan apa yang telah kita perjanjikan sebelumnya.”
“Maafkanlah diriku, wahai Pendekar Kelewang Berdarah yang gagah berani, tetapi keterangan yang dikau jual harus kami pastikan terlebih dahulu kebenarannya sebelum kami benar-benar membayar kalian.”
“Pendekar Daun Mendayu yang cantik dan anggun bagaikan rembulan, bukankah kita pernah bekerjasama sebelumnya? Dan bukankah pula telah terbukti bahwa kami adalah kelompok yang dapat kalian percaya?”
Keterangan semacam apakah yang mereka jual kepada Kartika? Mantingan terus mendengarkan meski dirinya tidak tampak mendengarkan sama sekali.
Suasana menjadi hening barang sesaat. Mantingan mulai merasakan semilir hawa pembunuh yang datang dari orang yang disebut Pendekar Kelewang Berdarah itu. Betapa suasana menjadi panas tanpa banyak yang menyadarinya.
“Lalu apakah yang harus kami lakukan, wahai Kartika? Jika kami harus membuktikan bahwa keterangan itu tidaklah tipu-tipu, maka kami harus membongkar keterangan itu pada kalian, sedangkan sungguh tiada jaminan sama sekali bahwa kalian akan membayar.”
Mantingan dapat memahami keadaannya. Dua pendekar itu telah menemui kebuntuan, yang agaknya dapat selalu berakhir pada pertarungan jika suasana semakin memanas. Dan betapa Mantingan pula tahu bahwa dirinya akan terlibat jika pertarungan itu sampai benar-benar terjadi, sebab betapa pun selusin orang yang merupakan anggota dari Kelompok Kelewang Darah itu telah dipastikan akan turut menyerang.
Kiranya ia harus melindungi mereka-mereka yang lemah dan tiada berdaya selayaknya rombongan pemain wayang itu. Sebab bukankah tugas yang diemban oleh setiap pendekar ialah melindungi kaum lemah yang tertindas oleh kaum kuat? Namun, barang tentu bahwa pendekar-pendekar bergolongan hitam masuk ke dalam pengecualian, sebab mereka justru melakukan hal yang sebaliknya dengan menindas kaum lemah dan menyanjung kaum kuat.
__ADS_1
Dan bukankah pula Mantingan telah berjanji pada Kartika bahwa dirinya akan mengutamakan keselamatan rombongan pemain wayang itu di atas segala kepentingannya? Jika kepentingannya di sini ialah untuk mengorek keterangan yang sedalam-dalamnya tentang apa yang terjadi dengan Tapa Balian, yang dilakukannya dengan cara menyamar sebagai penyoren pedang awam, maka segala usaha itu harus digagalkan olehnya. Saat ini, Mantingan hanya berpikir keras untuk menemukan cara yang dapat mencegah terjadi pertarungan, tetapi betapa kemudian Mantingan menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kendali atas keadaan seperti ini. Harapannya segera tertumpu pada Kartika, yang masih terus melakukan perundingan panas dengan Pendekar Kelewang Berdarah.
“Jika memang kesepakatan tidak dapat tercipta, maka anggaplah pertemuan ini tidak pernah ada. Kita masih dapat membatalkan perjanjian ini, wahai Pendekar Kelewang Berdarah yang gagah perkasa.”
“Tidak dapat seperti itu!” Dalam pendengaran Mantingan, kelewang pendekar itu mulai terangkat. “Kami datang dari Koying hanya untuk perjanjian ini. Dikau tidak dapat membatalkannya dengan sedemikian mudahnya, Kartika! Ingatlah bahwa diriku merupakan murid utama dari datuk kelompok kami!”
“Lantas mengapakah?” Kartika mengatakannya dengan nada datar, meski kalimatnya jelas-jelas menantang. “Jika memang benar bahwa dikau adalah murid utama dari Datuk Penghisap Darah, maka sudah pasti dikau dapat menunjukkan sedikit wibawa.”
“Sedari tadi daku menahan diri untuk tidak menebaskan kelewang ini ke lehermu, Kartika! Wibawa seperti apakah lagi yang ingin dikau peras dariku?!”
“Pendekar, daku telah memberikan jalan yang terbaik untuk kita semua. Dikau pasti mengetahui bahwa dalam dunia persilatan bawah tanah, segala pembelian dapat dibatalkan kapan saja jika kesepakatan tidak dicapai. Lupakanlah perjanjian ini. Daku akan memberikanmu sedikit uang ganti rugi.”
Rupa-rupanya mereka berasal dari jaringan bawah tanah dunia persilatan. Mantingan menganggukkan kepalanya dalam benak. Baginya itu cukup memuaskan, meski ia belum mengetahui keterangan semacam apakah yang diperjual-belikan oleh mereka.
“Kartika, dikau pasti mengetahui bahwa nilai tukar untuk keterangan yang kujual ini bukanlah keping uang, maka dikau tidak dapat pula mengganti semua kerugian kami dengan keping uang!”
Mantingan semakin terheran-heran. Kini bahkan dahinya telah mengerut. Jika dalam perjanjian jual-beli antara mereka tidak menggunakan keping uang sebagai nilai tukar, maka sudah pasti bahwa keterangan yang dijual oleh Pendekar Kelewang Berdarah adalah keterangan yang teramat sangat penting, sebab termasuk ke dalam sesuatu yang tidak ternilai.
“Kami akan mengganti rugi dengan satu Batu, yang dikau tahu bahwa itu bernilai seribu keping emas. Tetapi jika dikau tidak mau ….”
Terdengar keraguan dalam ucapan Kartika hingga kalimatnya mesti terhenti.
“Jika daku tidak mau, lantas apa?”
__ADS_1
“Kami akan menyajikan Tarian Daun Jatuh kepada kalian!”