
“Lamakah dikau menungguku, Mantingan?”
DENGAN senyum hangat penyambutan, Mantingan menggelengkan kepalanya. “Tidak begitu lama, tetapi daku menantimu.”
“Maafkanlah, pagi-pagi tadi salah satu bawahanku jatuh sakit tetiba. Harus dirawat dan dikarantina lebih lama lagi; belum ada yang menentukan sampai kapannya. Daku harus mengisi beberapa senarai sebelum akhirnya bisa keluar.” Dara berjalan semakin mendekati Mantingan dengan gurat wajah penuh sesal. “Urusanmu pastilah banyak, tetapi daku membuatmu harus membuang waktu di tempat ini.”
Sekali lagi Mantingan menggeleng dengan tanpa memudarkan senyuman. “Tiadalah mengapa. Di sini cukup ramai dengan pemandangan asing, jadi daku bisa belajar beberapa hal sembari menunggu.”
Di dekat pintu-gerbang pusat penampungan itu memang selalu ramai oleh lalu-lalang orang asing, baik yang hendak keluar maupun yang hendak masuk. Dari mereka, Mantingan dapat menambah wawasan. Pakaian, budaya, cara bertutur, bahkan pula senjata yang mereka bawa membuat mata Mantingan sedikit terbuka akan adanya peradaban di luar Dwipantara.
Disadari bahwa benar kata orang. Bumi terbentang luas, selalu ada tempat untuk dijelajahi. Dan betapa di setiap tempat itu, selalu terdapat kisah-kisahnya, yang teramat sayang jika tidak didengar.
Mungkinkah itu adalah alasan Rashid mengembara hingga jauh-jauh tempat sebagai juru hikayat yang mengumpulkan kisah-kisah?
“Daku hanya akan menyampaikan berapa hal kepadamu, Dara. Namun maafkanlah pula diriku, sebab agaknya hari ini tidak dapat menemanimu berjalan-jalan di kotaraja.”
“Apalah arti permintaan maafmu jika dikau tidak melakukan salah, Mantingan?” Dara menatapnya dengan penuh arti. “Daku dapat memahami bahwa dikau tidak sedang melancong di kotaraja. Dikau membawa kepentingan yang telah semestinya diutamakan betapa pun keadaannya. Maka katakanlah beberapa hal yang hendak dikau sampaikan kepadaku itu, lantas tinggalkanlah saja diriku tanpa perlu merasa salah.”
Kembali Mantingan merasakan hangat di dalam dadanya. Perkataan Dara sungguh teramat menyentuh perasaannya. Serasa memiliki kawan, yang betapa pun adanya akan selalu membantu. Sedang semestinyalah dunia persilatan penuh dengan kesendirian dan kesunyian, tanpa teman, sahabat, maupun keluarga.
“Jika dikau tidak keberatan, datanglah ke Penginapan Barisan Bintang. Di sanalah daku dan Chitra memesan kamar. Penginapan itu teramat sepi, bahkan terlalu sepi.”
“Daku paham.” Dara menganggukkan kepalanya perlahan. “Tepat setelah ini, daku beserta rombongan akan pergi dan memesan kamar di sana.”
“Agaknya tidak baik jika dikau sekaligus memesan kamar pula di penginapan itu, Dara.”
__ADS_1
Sebelum melanjutkan perkataannya, terlebih dahulu Mantingan menebar pandang ke sekitar. Berjaga-jaga seandainya ada yang mengawasinya.
Di tengah keramaian lalu-lalang semacam begini, dapatkah terduga bahwa salah satu dari orang-orang berpenampilan awam itu adalah mata-mata utusan pemerintahan?
“Penginapan itu teramat sepi, terlalu sepi bahkan—seperti yang kukatakan tadi. Baik sekali jika penginapan itu dibiarkan tetap sepi sebagaimana mestinya. Keberadaanmu di sana, kukhawatirkan akan menyebabkan penginapan tersebut jadi ramai.”
“Ai, betapa bodohnya diriku.” Dara tertawa pelan, layaknya menertawakan diri sendiri. “Baiklah, daku akan berkunjung ke sana sesering mungkin, dan itu pula tidak akan kulakukan secara terbuka. Nanti daku beritahu kepada dikau perkara penginapan mana yang kupilih.”
Mantingan mengangguk, sebelum tangannya menarik selembar lontar dari kotak penyimpanan pinggangnya. Diberikannyalah lontar itu kepada Dara.
“Ini ....” Dara bergumam pelan sambil memandangi lontar tersebut dengan saksama.
“Jika ada bahaya, patahkanlah lontar itu, maka daku akan datang secepat mungkin ke tempatmu berada. Jagalah baik-baik, lontar itu boleh jadi berharga nyawa.”
Mendengar perkataan yang betapa terasa menyentuhnya itu, wajah Dara menjadi bersemu merah. Bergemetar tangannya saat memasukkan selembar lontar tersebut ke dalam saku bajunya. Malu-malu mengalihkan pandang dari wajah Mantingan.
“Bukan apa-apa, Chitra Anggini juga kuberikan lontar seperti itu.”
Dara tercekat di tempatnya. Semu wajahnya semakin memerah, tentu bukan kepalang lagi rasa malunya. Senyum pahit, sepahit-pahitnya sebuah senyuman, tercetak di bibir.
“Adakah lagi yang hendak dikau sampaikan kepadaku?” Suara Dara berubah menjadi dingin. Hanya dalam seketika!
“Tiada lagi. Dikau bisa pergi sekarang,” jawab Mantingan sesegeranya.
Begitu saja Dara melangkah pergi. Tidak keluar kalimat berpamitan dari mulutnya. Langsung saja membaur dengan keramaian awam. Beberapa pengawalnya berjalan cepat, berusaha mengimbangi langkah buru-buru gadis itu.
__ADS_1
Dalam benak, Mantingan tersenyum pahit. Sungguh, bukannya ia tidak mengerti maksud hati gadis itu. Bukan dirinya tidak mengerti arti semu merah di wajah gadis itu. Bukan pula dirinya tidak mengerti mengapa gadis itu memalingkan pandang.
Namun duhai, Mantingan tidak ingin memberi sedikitpun harapan kepada Dara. Pengalamannya tentang cinta boleh dikata telah matang. Mantingan sadar bahwa langkah kakinya tidak akan pernah berhenti, sekalipun sekiranya nanti Kembangmas telah ditemukan. Tiada tempat yang pantas disebut rumah baginya. Entah kapan dirinya akan berhenti mengembara, tetapi pastilah tidak dalam waktu dekat.
Mantingan hanya tidak ingin mengecewakan Dara, sebagaimana dirinya telah mengecewakan Rara dan Bidadari Sungai Utara. Janganlah terulang kembali.
Lamunannya terputus ketika terdengar panggilan yang menyebut namanya.
“Mantingan!”
Ketika menoleh ke samping, dilihatnya Chitra Anggini sedang berjalan cepat ke arahnya dengan wajah berseri-seri. Tampak sekali perempuan muda itu teramat senang, tetapi sungguh Mantingan tidak sempat memikirkan apa yang telah membuatnya dapat sesenang itu.
“Chitra, mengapakah kau ada di sini?” Mantingan mengangkat lengan kayunya, meminta Chitra Anggini untuk melambatkan langkah serta menjaga sikapnya agar tetap tenang. “Kembalilah ke penginapan, Dara akan datang ke sana.”
“Biarlah dia menunggu. Daku tidak menaruh rasa peduli.” Chitra Anggini menggerakkan kepalanya kuat-kuat. “Dan lihatlah betapa Dara kehilangan muka di hadapanmu tadi. Dia menyangka kau cukup perhatian padanya, padahal kau jauh lebih banyak menaruh perhatian kepadaku. Alangkah puasnya aku!”
“Chitra, kembali ke penginapan sekarang.” Mantingan memberi penekanan pada perkataannya. “Aku akan merasa sangat tidak enak jika membuatnya menunggu terlalu lama.”
“Aku akan ikut bersamamu, itulah tugas yang diberikan Ketua Rama kepadaku. Tidak peduli apa yang akan kamu katakan, dirimu juga harus mematuhi perintahnya. Bukan begitu?”
Mantingan berwajah muram. “Jangan buang waktu lebih banyak lagi. Segera kenakan capingmu dan tetap berada di belakangku.”
Chitra Anggini menganggukkan kepala. Memasang caping yang semula tergantung di leher jenjangnya. Dengan caping yang cukup lebar untuk menghalangi siraman sinar matahari itu, wajah jelitanya sedikit banyak tersamarkan.
Mereka mulai bergerak meninggalkan pintu gerbang pusat penampungan kotaraja. Membaur dengan penduduk kota lainnya yang tidak sedikit mengenakan caping serta menyoren pedang pula.
__ADS_1
Mantingan memang sengaja menampilkan diri sebagai penyoren pedang. Membiarkan orang-orang menganggapnya sebagai pendekar ataupun sekadar penyoren pedang biasa. Peduli apa? Toh, tidak akan ada yang menanyakannya secara terang-terangan; dan sekalipun ternyata ada, Mantingan selalu memiliki hak untuk tidak menjawab.
Sebagai penyoren pedang yang tidak ingin mengambil terlalu banyak perhatian, Mantingan hanya membawa sebilah pedang, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pedang Savrinadeya. Itulah pedang yang paling bisa diandalkannya saat ini. Kemampuan dan kehebatan pedang tersebut bahkan telah jauh melampaui Pedang Kiai Kedai sewaktu belum patah menjadi dua.