
MURID PERGURUAN Angin Putih itu kemudian terus melanjutkan, “Pendekar ini telah diketahui pasti jati dirinya sebagai pengendali golek terhebat sejagat Javadvipa. Keahliannya dalam mengendalikan banyak golek sekaligus tidak perlu diragukan lagi. Jika pengendali golek biasanya hanya mampu mengendalikan satu sampai lima Golek Jiwa, maka Pendekar Sanca Merah dapat mengendalikan ratusan Golek Jiwa tanpa kesulitan sama sekali.
“Tetapi hingga kini, tidak ada yang mengetahui secara pasti mengapa perempuan itu disebut Pendekar Sanca Merah. Ada yang mengatakan bahwa pendekar itu bukan merupakan manusia, melainkan siluman sanca berwarna merah. Asal-usul pemberian nama itu juga tidak diketahui secara pasti, kata-katanya perempuan itu sendirilah yang membuat dan menyebarkan namanya.
“Tidak banyak pendekar yang dapat lolos dari kematian setelah berhadapan langsung dengan dia, itulah yang membuat keterangan tentangnya sangat terbatas hingga kini. Hanya itulah yang daku ketahui, Pahlawan Man.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Penjelasan dari pendekar itu membuatnya sadar bahwa hanya dirinya yang mengetahui alasan Pendekar Sanca Merah disebut demikian. Mungkin saja orang lain juga tidak mengetahui keberadaan golek sanca merah yang menjadi kekuatan besarnya.
“Apakah Pahlawan Man baru saja menghadapinya?” Tiba-tiba pemuda itu bertanya sedemikian.
Mantingan mengangguk pelan. Pendekar di depannya itu tiba-tiba saja meneguk ludah, kulit wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
“Pahlawan Man, kita harus bersiaga penuh. Pendekar Sanca Merah bukanlah pendekar yang mudah melepaskan lawannya.”
“Tidak perlu cemas, Pendekar Sanca Merah telah tiada.”
Kini orang itu melebarkan mata dengan mulut yang terbuka lebar. “Apakah ... apakah Pahlawan Man yang mengalahkannya?!”
Mantingan mengangguk dan tersenyum gugup. “Bisa dikatakan seperti itu, tetapi dia yang menyerangku lebih dulu.”
“Pahlawan Man tidak sedang berbual, bukan? Pendekar Sanca Merah tidak pernah kalah dalam setiap pertarungannya. Diriku tidak meragukan kemampuan Pahlawan Man, akan tetapi ini masih sulit dipercayai. Pendekar Sanca Merah tidak akan menemui kekalahannya kecuali jika ia menyerah atau melarikan diri. Perempuan itu sangat sulit untuk dibunuh!”
Mantingan hanya menjawab singkat, “Kuakui bahwa keahliannya memang cukup tinggi." Lalu katanya, "Wahai kawanku, janganlah engkau siarkan kabar ini ke mana-mana, diriku khawatir akan menjadi incaran banyak pendekar karena kabar ini.”
Orang itu mengangguk mantap berkali-kali banyaknya. “Diriku berjanji untukmu, Pahlawan Man!”
__ADS_1
***
MEMANGLAH BENAR bahwa Kana dan Kina akan terbangun begitu aroma sedap dari ikan bakar sampai di hidung mereka. Orang manakah yang tidak akan berselera makan begitu mencium aroma masakan dari Bidadari Sungai Utara? Dua bocah itu segera keluar dari tendanya dengan gemuruh semangat. Bukan karena ingin segera makan, tetapi lebih karena tahu bahwa Mantingan telah kembali.
Malam itu mereka makan bersama-sama. Ikan yang ditangkap Mantingan cukup besar untuk mengenyangkan perut lima orang manusia. Suasana makan kala ini benar-benar menyenangkan dan tak akan terlupakan. Meskipun panganannya cukup sederhana, tetapi mengingat bahwa mereka sedang makan di tengah hutan yang sepi lagi menyeramkan akan membuat makanan terasa jauh lebih lezat.
Setelah makan malam, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina kembali ke tendanya. Mantingan tidak memiliki tenda yang cukup untuk dirinya dan satu murid Perguruan Angin Putih. Kedua pemuda itu memilih duduk di depan api unggun. Menghabiskan malam yang sebenarnya sudah tidak tersisa banyak.
Mantingan dan pendekar itu tentu saja tidak saling diam membisu. Banyak perbincangan hangat yang dilakukan keduanya. Baru saja Mantingan mengetahui bahwa pendekar itu memiliki nama Jakawarman. Disebabkan mereka berdua merupakan orang yang sering mengembara, maka mereka bertukar kisah perjalanannya masing-masing.
“Apakah tujuan perjalananmu, Pahlawan Man?” tanya Jakawarman setelah Mantingan selesai menceritakan hal-hal menarik dari perjalanannya.
“Daku memiliki tujuan yang alangkah baiknya tidak kuberitahu padamu, Jakawarman.” Mantingan tersenyum lembut. “Tetapi jelasnya, tujuan ini akan memakan waktu yang sangat panjang.”
Jakawarman kemudian mengangguk paham. Dirinya tidak akan memaksa Mantingan untuk mengungkapkan hal yang tidak ingin ia ungkapkan.
Tanpa mengurangi senyumnya barang sedikit saja, Jakawarman balik bertanya, “Apakah yang Pahlawan Man maksud adalah ketujuh cakra yang bersemayam di dalam tubuh?”
“Benar.” Mantingan balas tersenyum.
“Pengetahuanku tentang cakra sebenarnya hanya setinggi mata kaki, Pahlawan Man, akan tetapi diriku dapat menjelaskan semua yang kutahu tentang cakra kepadamu.”
“Ceritakanlah padaku semampumu, Jaka.”
Jakawarman mengangguk sebelum memulai penjelasannya, “Seperti yang diketahui, terdapat tujuh buah cakra yang tersebar di titik-titik tertentu di dalam tubuh. Empat buah di bagian atas; tiga buah di bagian bawah ....”
__ADS_1
Jakawarman berkata bahwa ketujuh cakra tersebut adalah Cakra Muladhara, Cakra Swadhisthana, Cakra Manipura, Cakra Anahata, Cakra Visuddhi, Cakra Ajna, dan Cakra Cahasrara. Jakawarman juga menjelaskan kegunaan masing-masing dari cakra yang disebutkannya.
“Ada beberapa orang beruntung yang telah terbuka cakranya sejak lahir, dan ada beberapa yang baru terbuka setelah kanak-kanak atau dewasa, dan bahkan ada pula yang tidak terbuka sampai mati sekalipun. Cakra dapat terbuka secara alami, dan dapat dibuka dengan bantuan. Dari kedua pilihan tersebut, terdapat kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
“Seseorang biasanya memiliki satu-dua cakra yang terlalu nyala, sedangkan yang lainnya redup. Semisalnya, jika Cakra Ajna milik Pahlawan Man terlalu menyala, maka Pahlawan Man memiliki kemampuan berkhayal jauh lebih tinggi ketimbang orang kebanyakan. Dengan Cakra Ajna, Pahlawan Man dapat menempatkan diri di tempat manapun hanya dengan membayangkannya. Buktinya ada pada diriku ini, Pahlawan Man. Dengan Cakra Ajna, daku dapat membimbing rombongan besar hanya dengan sekali melihat peta.”
Mungkin itu terkesan berlebihan, tetapi Mantingan tahu bahwa Jakawarman tidak berbohong. Mereka dapat menemukan tanah lapang ini sebelum malam menjemput adalah berkat ingatan Jakawarman jitu. Padahal jalan yang mereka lewati sama sekali berliku-liku dan bercabang-cabang.
“Seseorang dapat meraih ketenangannya jika semua cakra di dalam tubuhnya telah seimbang. Diriku tidak mengetahui apakah ketenangan dapat digapai dengan cara menyeimbangkan cakra, tetapi setidaknya itulah ajaran orang Buddha dan Hindu.” Jakawarman melanjutkan penjelasannya. “Konon, cakra di dalam tubuh jika seimbang juga mampu meningkatkan kesaktian seorang pendekar. Jelasnya, ini hanya dari yang daku pernah dengar saja, bukan yang daku rasakan.”
Kembali Mantingan mengangguk paham. Tidak perlu diragukan lagi bahwa seluruh cakra yang bergerak seimbang akan memberi dampak yang menguntungkan. Mantingan mengingat bagaimana ia mampu mengalahkan Pendekar Sanca Merah.
“Hanya itu saja yang kutahu tentang cakra, Pahlawan Man. Mohon maafkanlah, karena memang ilmuku ini hanya setinggi mata kaki jika berkaitan dengan cakra.”
Mantingan mengibaskan tangannya dan berkata bahwa dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
___
catatan:
Marilah mendukung Sang Musafir dengan cara "One Like & One Comment", atau satu like & satu komentar pada setiap babnya. Jika kamu berkenan, maka kamu dapat menambahkan "One Share" untuk setiap babnya.
Dengan cara dukungan seperti ini, sebuah keniscayaan bahwa Sang Musafir akan berkembang hingga nanti meraih masa kejayaannya.
Itulah yang membuat penulis totalitas dalam berkarya.
__ADS_1
Terima kasih.