
Orang-orang dipersilakan menonton lelang tanpa biaya tambahan, tetapi mereka dilarang untuk melangsungkan perjudian dalam bentuk apa pun jua.
Untuk masuk ke dalam balai tamu, setiap orang harus membayar sekeping emas. Mantingan dan rombongan sebenarnya dibiarkan lewat begitu saja tanpa harus membayar, tetapi barang tentu pemuda itu menolak dan tetap membayar sebesar empat keping emas.
***
BALAI tamu dibagi menjadi tiga tingkatan, yang jika dilihat akan berbentuk seperti anak tangga. Tingkatan paling atas disertai meja-meja, dikhususkan untuk tamu-tamu istimewa.
Meskipun Mantingan tidak membayar untuk menempati deretan kursi istimewa itu, ia beserta rombongannya diarahkan ke sana dengan alasan keamanan. Dengan alasan seperti itu, Mantingan benar-benar tidak bisa menolak lagi.
Mereka duduk di belakang sebuah meja panjang yang dipenuhi buah-buahan. Ada pula beberapa lembar lontar lengkap bersama pengutiknya. Bahkan juga ada sebuah canang kecil sebagai alat ganti jika tidak ingin berteriak-teriak keras ketika hendak menawar barang lelang.
Berbeda dengan dua tingkatan panggung di bawahnya yang tidak memiliki kursi tambahan, panggung tamu istimewa memiliki kursi tambahan sehingga para tamunya dapat memandang lebih jauh lagi.
Boleh dikata, Mantingan tidak terlalu nyaman di tempatnya sekarang. Ia tidak senang menjadi pusat perhatian, dan seolah-olah saja memang dipajang seperti itu. Kewaspadaannya mesti dipasang selalu, sebab memang tidak menutup kemungkinan bahwa terjadi serangan tak terduga ketika lelang sedang berjalan seru-serunya.
Mantingan melepas kuncian di pedangnya, sebagai wujud nyata bahwa dirinya bersiaga penuh, dan pula sebagai tanda bagi pendekar-pendekar yang berniat menyerang untuk mengurungkan niatnya atau paling tidak berpikir dua kali.
“Apakah buah-buahan ini beracun, Kakanda?”
Mantingan melirik buah-buahan di atas meja itu sebelum menggelengkan kepalanya. “Tidak.”
“Itu berarti, daku boleh memakannya.”
Kana mengambil sebuah mangga muda dan langsung melahapnya tanpa dikupas. Mantingan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah anak itu.
Diam-diam, Mantingan menaruh rasa kagum pada Kana yang bahkan begitu mewaspadai buah-buahan. Dalam dunia persilatan, kewaspadaan seperti itu amat sangat dibutuhkan jika tidak menginginkan mati cepat.
__ADS_1
balai lelang secara cepat dipenuhi tamu-tamu yang berdatangan. Di balai penonton pun tampak sedemikian samanya dengan balai tamu. Agaknya kabar tentang segala peristiwa yang terjadi tujuh hari lalu di pelabuhan ini telah begitu menyebar lebih dari perkiraan.
Lelang yang awalnya diperkirakan akan sepi oleh pengunjung, kini berbanding terbalik secara benar-benar tidak terduga.
Menyadari hal itu, Mantingan jadi tersenyum malu. Boleh dikata, impiannya sewaktu ia masih sangat muda telah tercapai saat ini pula. Namanya didengungkan orang di hampir segala tempat. Dirinya telah terkenal. Perjalanannya sebagai pendekar pengembara telah dikenal banyak orang. Dan bahkan tanpa diduga-duga, ia mendapatkan nama di dunia persilatan dan dunia awam sekaligus. Bahkan setelah berhasil membunuh Cagak Kesatu, ia disebut sebagai pendekar muda paling kuat seantero Dwipantara.
Mantingan merasa senang sebab impian pribadinya telah tercapai, tetapi ia tidak dapat berpuas diri sebab impian Kenanga masih amat jauh dari kata tercapai. Ketika impiannya tercapai, itu bukan berarti bahwa dirinya harus berhenti dan menikmati namanya disebut-sebutkan khayalak ramai.
Mantingan pun masih memiliki banyak pertanyaan yang menuntut untuk terjawab segera.
Terutamanya ialah tentang pandangan mata seorang pendekar musuh yang mengarah kepada sosok bayangan Rara ketika itu.
Banyak dugaan muncul di dalam kepalanya selama tujuh hari terakhir. Hampir di setiap malam, Mantingan tidak dapat tidur hanya karena memikirkannya.
Apakah pandangan mata pendekar itu tanpa sengaja menangkap suatu benda yang bertepatan melintas di dekat tubuh Rara? Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam pertempuran akan ada banyak benda-benda yang berseliweran di udara.
Namun untuk sekarang, Mantingan memilih untuk menyimpan pertanyaan itu. Ia harus tetap menjaga kewaspadaannya agar tidak sampai teralihkan oleh pertanyaan yang berkepanjangan.
Setelah balai tamu telah terisi penuh, maka acara lelang pun dilangsungkan. Dara menaiki tangga menuju panggungnya. Gadis itu didampingi dua pendekar berbadan kekar yang agaknya memang sengaja ditampilkan kekekarannya itu agar tidak satupun musuh menyerang tanpa berpikir dua kali sebelumnya.
Gemuruh tepuk tangan mengalahkan deburan ombak. Dara mengedarkan senyum kepada seluruh tamu lelang, dan secara khusus menjura kepada Mantingan. Pemuda itu balas menjura meski dengan senyum canggung di bibirnya.
“Selamat malam, Tuan-Tuan dan Puan-Puan!” Dara berkata lantang setelah gemuruh tepuk tangan mulai terdengar pelan. “Terima kasih sudah menghadiri lelang malam ini. Sahaya Dara, sebagai pemandu acara kalian berjanji akan memberikan lelang yang luar biasa!”
Sekali lagi gemuruh tepuk tangan ditambah dengan sorakan menyeruak udara. Tidak ada canang yang dipukul, sebab Pelabuhan Angin Putih telah menetapkan peraturan bahwa suara canang di tempat ini hanya berarti tanda bahaya. Setelah peristiwa tujuh hari yang lalu, suara canang di pelabuhan ini seolah menjadi sesuatu yang keramat.
“Tetapi sebelum lelang benar-benar dimulai, sahaya ingin para hadirin sekalian, baik yang menjadi tamu maupun yang sekadar menonton, untuk mengheningkan cipta kepada seluruh pahlawan yang gugur dalam peristiwa penyerangan tujuh hari lalu. Kita masih dapat mengadakan lelang di sini adalah berkat mereka semua.”
__ADS_1
Maka begitulah suasana di balai tamu dan balai penonton seketika menjadi hening. Diam merenungi arwah para pendekar yang gugur untuk mempertahankan Pelabuhan Angin Putih. Mantingan memanjatkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Satya, yang baru diketahuinya bahwa pendekar muda itu menolong para pengungsi yang diserang.
Mengheningkan cipta selesai tak lama kemudian, Dara kembali melanjutkan lelang.
“Lelang ini sahaya persembahkan kepada Pahlawan Man, seorang pendekar pengelana yang berhasil menumpas sedemikian banyaknya pengacau di Negeri Taruma tanpa menuntut balasan. Perserikatan Dagang Dara Sejahtera berhutang banyak kepadanya.” Pandangan Dara tertuju kepada Mantingan saat dia mengatakan itu.
Gemuruh tepuk tangan yang jauh lebih keras daripada sebelumnya kembali terdengar. Kali ini mereka menyoraki gelar kependekaran milik Mantingan.
“Hidup Pahlawan Man!”
“Jayalah Pahlawan Man!”
“Hidup Pahlawan Man!”
“Jayalah Pahlawan Man!”
Diperlakukan seperti ini, Mantingan tidak serta mereka menjadi tinggi hati. Pemuda itu justru berdiri dan menjura beberapa kali dengan senyum kakunya. Sekadar untuk menghormati para tamu-tamu lelang.
Setelah Mantingan kembali duduk di atas bangkunya serta gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai usai, Dara kembali melanjutkan lelangnya.
“Ada seratus barang yang akan Dara lelang hari ini. Yang terdiri dari sepuluh tanaman obat, dua puluh senjata pusaka, dan tujuh puluh kitab-kitab sastra.”
Mantingan mengangguk pelan. Benar apa kata Kana, bahwa lelang malam ini akan lebih banyak melelang kitab-kitab karya sastra yang bernilai seni. Mantingan melirik Kana yang tampak semakin bersemangat.
“Apa setiap acara lelang memang seramai ini, Kak Maman?” Kina bertanya sambil menarik lengan jubah Mantingan. Mantingan mengernyitkan dahi sebab melihat raut wajah anak itu yang menyimpan sedikit rasa takut.
“Tidak selalu, Kina. Bahkan ada lelang yang hanya dihadiri satu-dua orang karena tidak menarik.” Mantingan menjawab, lalu balik bertanya, “apakah ada sesuatu hal yang engkau khawatirkan, Kina?”
__ADS_1