
Bagi keluargaku, aku adalah sebuah aib yang menjijikkan sekaligus memalukan. Aku tidak tahu mengapa mereka dapat menganggapku seperti itu, sebab aku merasakan bahwa dirikulah yang menjadi pihak tertindas. Tentu saja diriku telah berkata pada mereka betapa diriku yang lemah ini tiada mampu memberi perlawanan yang berarti.
Tetapi biar bagaimanapun, mereka yang lemah adalah mereka yang tersingkir. Aku dienyahkan dari rumahku, ibuku sendiri yang melakukan itu. Lebih buruk lagi, diriku diusir keluar dari desa karena dianggap dapat membawa keburukan di masa mendatang.
Berpekan-pekan lamanya diriku berjalan tak tentu arah. Aku lemah sekali, tidak mampu berbuat sesuatu apa pun, bahkan tiada mampu menentukan nasibku sendiri. Diriku kembali dilecehkan, meski kali ini memanglah atas kehendakku sendiri. Aku harus memiliki uang, aku butuh makan. Tetapi sampai kapankah aku terus menanggung nasib paling menyedihkan itu?
Yang kupikirkan saat itu adalah untuk menjadi kuat, dan tiada tujuan lain selain menjadi kuat. Maka begitulah kemudian diriku masuk ke dalam dunia persilatan, dengan tujuan semata-mata untuk menjadi kuat. Kuat, kuat, kuat, itulah yang kubutuhkan saat tiada satupun yang mau melindungiku.
***
MANTINGAN menarik napas panjang. Kisah perjalanan Perempuan Tak Bernama selanjutnya tidaklah terlalu baik, sebab perempuan itu justru masuk ke dalam dunia persilatan golongan hitam, meski memanglah pada awalnya dia merupakan pendekar golongan merdeka. Hal itu tertuang pada penggalan kisahnya:
Haruskah kutolak tawaran itu meski aku teramat menginginkannya? Aku tahu bahwa ilmu itu termasuk ilmu hitam yang sesat adanya, tetapi bukankah dengan ilmu itu diriku dapat menjadi lebih kuat dalam waktu yang sangat singkat?
Perempuan Tak Bernama memutuskan untuk menerima tawaran bergabung ke dunia persilatan aliran hitam, yang oleh seseorang tiada dikenal dirinya dihadiahi sebuah ilmu sakti mandraguna. Itulah ilmu yang membuatnya mampu meniru rupa orang lain, yakni Ilmu Sepuluh Darah Raja. Begitulah perjalanan panjang Perempuan Tak Bernama sebagai pendekar bergolongan merdeka segera berakhir. Tepat setelah mempelajari ilmu tersebut, Perempuan Tak Bernama yang tentu saja pada saat itu masih memiliki nama telah resmi menjadi pendekar aliran hitam.
***
SATU bulan berikutnya berlalu. Pada bulan ini, Mantingan tidak merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat. Dengan dirinya membaca kisah hidup Perempuan Tak Bernama, hari-harinya terasa lebih berwarna. Lagi pula, Mantingan tidak mempelajari begitu banyak ilmu selama satu bulan ini. Dirinya telah selesai membaca seluruh kitab ilmu di Gaung Seribu Tetes Air yang berjumlah lebih dari lima ratus buah itu, sehingga memanglah saat ini kepala Mantingan benar-benar penuh.
__ADS_1
Jika saja Mantingan tidak menerapkan pembendaharaan ingatan, sudah barang tentu tidak semua ilmu yang pernah dipelajarinya akan mampu untuk diingat hingga saat ini dan ke masa mendatang.
Pembendaharaan ingatan yang dimaksud adalah dengan mengatur ingatan-ingatan yang ada di dalam otak untuk menempati ruangannya masing-masing. Biasanyalah seluruh ingatan seseorang menumpuk pada satu ruangan yang terdapat di dalam otak, sehingga daya ingatnya menjadi amat sangat rendah. Dengan menempatkan ingatan ke dalam ruang-ruang yang berbeda, Mantingan mampu meningkatkan daya ingatnya di atas orang-orang kebanyakan.
Tentu untuk dapat melakukan hal seperti itu, dibutuhkan usaha dan ilmu yang tidak sedikit. Mantingan mempelajari ilmu tersebut dari Kitab Teratai, yang dikenal sebagai suatu keadaan bernama “Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu”.
Mantingan harus bersamadhi hingga dirinya benar-benar tenggelam di dalam pikirannya sendiri, tenggelam dengan begitu dalamnya sehingga seolah saja tidak ada yang dapat lebih dalam daripadanya. Pada saat itulah, Mantingan akan mencapai keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu. Pikirannya mampu menciptakan ruang dan waktunya sendiri, sehingga Mantingan merasakan sebuah sensasi yang mungkin saja boleh dikatakan sebagai sensasi kematian. Dirinya benar-benar terpisah dari ruang dan waktu alam semesta!
Dalam keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu, Mantingan mampu membaca, memindahkan, bahkan sedikit mengubah ingatan di dalam kepalanya. Meski terkesan sangat luar biasa, Mantingan memilih untuk tidak memasuki keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu terlalu sering. Terkadang, dirinya tidak mampu keluar dari keadaan itu, sebab dirinya telah benar-benar tenggelam begitu dalam di pikirannya sendiri, sehingga teramat sangat sulit baginya untuk kembali berenang ke permukaan. Tentu saja dalam kedudukan seperti itu, Mantingan tidak dapat menerapkan Ilmu Ikan Menanjak Air Terjun untuk membantunya naik ke permukaan!
Bukankah akan menjadi sangat mengerikan jika ia terjebak di dalam pikirannya sendiri dan tidak akan pernah bisa keluar buat selama-lamanya?
Bahkan sekalipun dirinya berada di dalam Gaung Seribu Tetes Air yang mustahil untuk dapat disusupi orang lain, Mantingan tetap merasa was-was. Segala kemungkinan berkemungkinan untuk menjadi kemungkinan yang benar-benar terjadi!
Jika Mantingan telah berada di luar Gaung Seribu Tetes Air untuk memulai petualangannya, sudah barang tentu pemuda itu tidak akan pernah berani memasuki keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu tanpa penjagaan dari pendekar yang dapat dipercaya.
***
MANTINGAN melihat ke sekitarnya. Pepohonan hijau bergoyang diterpa angin lambat. Matahari bersinar cerah di ufuk tengah. Langit bersih dari mega-mega. Namun, tidak pula terlihat tanda-tanda Tapa Balian di sekitarnya. Mantingan menarik napas panjang, kini dirinya mulai risau. Telah sebelas hari sejak purnama berlalu, dan Tapa Balian belum pula kelihatan batang hidungnya. Bukankah pria tua itu berjanji akan berkunjung satu kali setiap bulannya dengan membawa perbekalan?
__ADS_1
Barang tentu Mantingan tidak merisaukan perbekalannya yang terancam tidak datang untuk bulan ini, sungguhlah ia mampu menahan lapar dengan memakan tenaga dalam meski rasanya sama sekali tidak enak. Namun, dirinya teramat sangat merisaukan keadaan Tapa Balian sekarang. Pria tua itu adalah orang yang selalu tepat waktu dan tidak pernah sekalipun mengingkari janjinya. Maka saat Tapa Balian tidak datang hari ini, yang sama saja tidak menepati janji, hal itu seolah menandakan sesuatu yang buruk telah terjadi.
Mantingan memutuskan untuk mengambil selembar Lontar Sihir kosong beserta pengguratnya. Ia tuliskan sepatah-dua patah kalimat di atas lembar lontar itu, untuk kemudian diikatkannya di punggung Si Putih.
“Kembalilah secepatnya dan bawalah kabar yang bagus.” Mantingan berbisik pelan sebelum membebaskan burung itu ke udara.
Biarpun Si Putih telah teramat sangat jinak terhadap Mantingan, ia tetap melesat cepat meninggalkan pemuda itu, seolah saja baru dilepaskan dari kurungan setelah sekian lamanya. Betapa burung merpati itu cerdas dalam mengenal keadaan.
Mantingan memandangi Si Putih sampai burung itu hilang dari pandangannya, sebelum kembali berjalan masuk ke dalam goa.
***
KEMBALI lima hari berlalu. Sepasar telah lewat semenjak Mantingan mengirimkan Si Putih ke Lembah Balian dengan membawa suratnya. Setiap harinya dalam sepasar itu pula dirinya terus keluar dari Gaung Seribu Tetes Air hanya untuk memeriksa apakah Tapa Balian datang atau tidak. Namun dalam waktu selama itu, Mantingan tidak pula bersua dengan Tapa Balian. Bahkan Si Putih pun tidak pernah kembali, sehingga bahkan untuk sekadar kabar tentang Tapa Balian pun tidak Mantingan dengar. Kerisauannya berubah menjadi kecemasan.
Semua kejadian itu bukanlah hal wajar, dan sekiranya tidak akan pernah wajar sebelum dipastikan kebenarannya. Maka pada hari ini, Mantingan memutuskan untuk pergi meninggalkan Gaung Seribu Tetes Kematian.
Bukanlah tanpa pertimbangan yang betul-betul masak. Mantingan merasa bahwa masa pelatihannya lebih baik dicukupkan, sebab dirinya telah membaca habis seluruh kitab yang ada di Gaung Seribu Tetes Air. Hampir semua ilmu yang tersimpan di dalam kitab-kitab itu telah berhasil dikuasainya, terkecuali ilmu halimunan dan beberapa ilmu sihir lainnya.
Isi dari Kitab Halimunan hanyalah penggalan-penggalan ayat yang ada di dalam Kitab Teratai, sehingga untuk dapat menguasai ilmu halimunan tersebut, Mantingan harus mempelajari Kitab Teratai dengan sendirinya. Setidak-tidaknya, ia mengetahui ayat mana saja di dalam kitab itu yang dibutuhkan untuk dapat menguasai ilmu halimunan.
__ADS_1