
“Daku teramat berterimakasih kepada dikau, Rashid. Jika saja bukan karena dikau, mungkin daku akan membuang banyak waktu untuk perdebatan tidak perlu dengan wanita itu.”
MANTINGAN menyampaikan rasa terima kasih sambil tersenyum tulus. Semua perkataannya itu bukanlah basa-basi semata. Semua datang dari lubuk benak terdalam. Sementara itu, kakinya terus melangkah menyusuri lorong penginapan. Rashid juga berjalan, di sebelahnya.
“Dakulah yang semestinya berterimakasih kepada dikau, Pahlawan. Repot-repot dikau datang ke tempat ini hanya untuk diriku.” Rashid tertawa pelan, sengaja-tak-sengaja menyemburkan asap cangklong dari mulutnya. “Penginapan Barisan Malam memanglah bukan penginapan yang terbaik di kotaraja, Pahlawan, bahkan menjadi yang terburuk. Hampir tidak ada pengunjung yang mau menghabiskan malamnya di tempat ini. Bayangkan sajalah, harga yang ditetapkan untuk satu malamnya teramat sangat tinggi, tetapi kamar-kamar yang disewakan tampak jelas tidak terawat. Menyewa kamar di sini hampir tidak ada ubahnya dengan menyewa kamar di kedai-kedai makan pinggiran jalan.”
Mantingan mengerutkan dahi, tetapi tidak memudarkan senyumannya barang sekurang apa pun. Sedikit banyak, dirinya setuju dengan pendapat Rashid. Penginapan Barisan Kamar tampak sekali tidak terawat. Debu-debu tebal mengendap di lantai lorong. Sarang laba-laba menggantung di sudut-sudut atap.
Namun, ada suatu hal yang masih belum dapat dipahaminya dari perkataan pria berjanggut dan bersorban itu: mengapakah Rashid masih bertahan di penginapan ini setelah semua kenyataan itu diungkapkannya?
Seolah dapat membaca jalan pikirnya, sekali lagi Rashid tertawa. “Untuk buronan seperti diriku, penginapan ini adalah sebuah persembunyian yang teramat sangat aman. Tidak akan ada yang menduga bahwa Rashid, Pengumpul Hikayat dari Jazirah yang katanya tiada kekurangan sedikitpun harta, akan memilih penginapan jelek seperti ini untuk menyiksa hidupnya!”
Mantingan menganggukkan kepalanya perlahan dengan seringaian di bibirnya. Betapa ia takjub dengan pemikiran Rashid yang boleh dikata cukup cermat.
“Dikau juga buronan, Pahlawan, meskipun dalam hal ini dikau sangat berbeda dengan diriku. Jika seandainya saja—sekali lagi seandainya—Koying berhasil menangkapmu, maka dikau akan diberikan harta-tahta-wanita hingga mabuk bergelimangan. Tetapi jika seandainya Koying berhasil menangkapku, aduhai, daku akan langsung dipenggal saat itu juga!” Rashid tertawa lebar. Seolah saja mengatakan semua kenyataan itu tanpa beban dan rasa takut sama sekali. “Tetapi betapa pun pada akhirnya, kita berdua adalah buronan kerajaan. Dan, betapa gilanya kita justru berkunjung langsung ke ibukotanya!”
Mantingan turut tertawa. “Seperti kata pepatah.”
“Benar.” Rashid mengangguk setuju. “Daku masih ingat pepatahnya: dikau akan menemukan harta karun di tempat yang tidak pernah dikau duga, dikau cari, dan dikau perhatikan.”
Perkataan itu membuat Mantingan tenggelam dalam perenungan barang sejenak. Bukankah begitu pula dengan Kembangmas yang konon katanya tersembunyi di balik rimbunan semak belukar tiada berarti hingga seseorang yang telah berjodoh akan menemukannya di sana?
Tidak seorangpun mampu mengalahkan Kembangmas, setidaknya hingga saat ini. Setiap pendekar yang bertarung dengannya hampir selalu mesti menemui kematian tanpa sempat memberi perlawanan yang berarti. Hanya ada segelintir pendekar yang berhasil lolos dari terkaman maut setangkai bunga ajaib itu, salah satunya adalah Birawa—paman dari Arkawidya yang memberinya begitu banyak catatan tentang Kembangmas.
__ADS_1
Bahkan seribu pendekar berkeahlian tinggi yang mencoba menyerangnya secara bersamaan pun binasa dalam sekejap mata. Membuat pencarian Kembangmas harus benar-benar dihentikan oleh Salakanagara, begitu pula dengan segala keterangan dan kabar tentang Kembangmas yang dimusnahkan agar tiada pendekar lagi yang mencari bunga itu di masa pendatang.
Dengan semua kenyataan itu, seolah sudah tidak ada cara semacam apa pun untuk bisa mendapatkan Kembangmas. Kecuali jika memang benar-benar berjodoh dengan bunga itu, sehingga untuk mendapatkannya tidaklah diperlukan pertarungan semacam apa pun yang dapat berakibat pada pertumpahan darah.
Namun, bagaimanakah kiranya jika Mantingan tidak berjodoh dengan Kembangmas?
“Kita sudah sampai, Pahlawan. Ini adalah kamar yang dikau pesan.”
Perkataan Rashid sempurna memutus perenungan Mantingan. Membuatnya tersentak, seperti terbangun dari mimpi panjangnya. Mantingan menebar pandang ke sekitar, menemukan bahwa dirinya tengah berdiri tepat di hadapan sebuah pintu besar.
“Dikau memesan kamar terbaik di penginapan ini—sesuatu yang bahkan tidak bisa kulakukan.” Rashid berkata sambil menggelengkan kepalanya pelan. Asap di dalam pipa cangklong kembali dihisapnya. “Sepertinya, anggapan orang-orang tentang diriku adalah kesalahan besar. Lihatlah, Rashid akan tampak sangat miskin jika dibandingkan dengan Pahlawan Man.”
Mantingan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Janganlah panggil diriku dengan sebutan Pahlawan, Rashid. Daku sudah menganggap dikau sebagai teman, dan kuharap dikau juga menganggapku sedemikian. Namun bahkan jika dikau bukanlah temanku, daku juga tidak setuju dengan sebutan itu.”
“Ah, tidakkah suka dikau dipanggil pahlawan oleh banyak orang, Kawan?”
“Setelah semua yang dikau lakukan?”
“Apa-apa yang kulakukan tetap saja tidak akan cukup pantas untuk mendapatkan julukan itu, Rashid.” Mantingan tersenyum lebar. “Lagi pula jika daku menerimanya, bukankah sama saja dengan membiarkan rasa tinggi diri melesak tinggi?”
“Memang benar apa kata Ketua Rama, pemikiranmu sungguh berbeda.” Rashid balas tersenyum sambil menepuk pundak Mantingan. “Nah, Kawan, kurasa sampai di sini sajalah daku bisa mengantarmu. Tidak mungkin dikau memintaku menemani hingga ke dalam kamar, bukan? Selesaikan kitabmu secepat mungkin, kutahu bahwa dikau memiliki dharma yang mendesak di kotaraja meski tidak kuketahui dengan setepat-tepatnya, sehingga ada baiknya jika kitab itu diselesaikan sesegera mungkin.”
“Akan kuselesaikan secepatnya.” Mantingan mengangguk mantap.
__ADS_1
***
TERGOPOH-gopoh pintu kamar terbuka. Sekelebat bayangan melesat masuk sembari mengirim seembusan angin untuk menutup kembali pintu tersebut. Bayangan itu berhenti, berdiri tegak, tak jauh dari Mantingan yang sedang duduk menggurati lembar-lembar lontar.
Terhadap bayangan itu, Mantingan bergeming. Seolah tidak pernah menganggap itu ada. Terus menggerakkan batang pengutik lontar miliknya. Semilir angin dari jendela sedikit melambai-lambaikan uraian rambutnya. Tampak di luar sana, langit telah menggelap, ditaburi bintang gemintang yang bagai tiada berbatas hingga, disanding cahaya penerangan kotaraja yang semarak.
Waktu memasuki Kala Gelap. Pagoda memancarkan sinar berwarna biru. Baru saja pukulan canang kesebelas berhenti berdentang. Senja telah berlalu.
“Apakah kamu benar-benar akan membuang diriku, Mantingan?”
Pada akhirnya, bayangan itu mengeluarkan suara. Sebuah suara yang betapa pun Mantingan kenali bahwa itulah milik Chitra Anggini. Namun kini, suara itu terdengar amat serak dan lamban. Bukan seperti biasanya. Mungkinkah perempuan itu telah menangis seharian?
“Itu adalah keputusanmu sendiri.” Mantingan membalas tanpa menghentikan kegiatannya menggurat lontar, tanpa mengalihkan pandangannya dari lembar lontar.
Hening sejenak.
“Bagaimana jika keputusanku adalah kembali padamu?”
“Itu artinya, kau harus mematuhi segala aturanku dengan mutlak. Jika tidak setuju, maka kau bisa pergi.”
Chitra Anggini terisak barang satu kali. Membuat Mantingan menjadi sedikit terkejut. Perempuan itu tidaklah seperti perempuan lainnya. Dia kuat, teramat kuat malahan. Hampir tidak pernah Mantingan menjumpai Chitra Anggini yang sedang menangis!
____
__ADS_1
catatan:
Karena adanya kesalahan teknis, dua chapter selanjutnya dengan judul yang sama tidak perlu dibaca. Atas pengertiannya, terima kasih.