
BETAPA DI sela-sela napasnya yang satu-dua, Pendekar Sanca Merah masih sempat menyunggingkan senyum sinis ke arah Mantingan. Masih pula bibirnya mengapit putung cangklong. “Kukira Tuan tidak akan berbuat curang apa pun keadaannya.”
Mantingan hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
“Sebenarnya, Tuan,” katanya kembali, “sahaya sangat tidak ingin sampai terlibat sebuah pertarungan dengan Tuan. Tetapi jikapun itu memang harus dilakukan, maka akan daku lakukan dengan senang hati.” Dia berhenti sebentar. “Dan, Tuan, maafkanlah jika nanti sahaya mencabut nyawa Tuan dengan pedang Tuan sendiri.”
Mantingan tidak menjawab melainkan menyiapkan kuda-kudanya. Terlihat pula Pendekar Sanca Merah menyiapkan ancang-ancang menyerang dengan mengangkat kedua tangan. Mantingan menyipitkan matanya. Mengetahui bahwa gerakan itu sering dilakukan oleh pengendali golek. Golek Jiwa di depan pendekar itu yang kini mulai bergerak-gerak.
Sungguh tidak beruntung nasib Mantingan kali ini. Gurunya hanya pernah mengajarinya sedikit tentang cara mengendalikan Golek Jiwa dan bukan cara untuk menghindari serangan Golek Jiwa.
Kemampuan Golek Jiwa sangat mengerikan, dapat setara dengan pendekar ahli—tergantung kualitas dari bahan dan mantra dari golek yang dibuat. Mantingan mengetahui bahwa saat ini dirinya sedang berhadapan langsung dengan salah satu Golek Jiwa yang setara dengan pendekar ahli.
Golek Jiwa mengulurkan tangannya tajam ke belakang—sungguh gerakan yang tak dapat dilakukan manusia. Pendekar Sanca Merah menyerahkan Pedang Kiai kedai kepada tangan itu. Dengan suara kertak kayu renyah, golek tersebut mengancungkan bilah Pedang Kiai Kedai ke arah Mantingan.
Pendekar Sanca Merah kembali mengangkat kedua tangannya sebelum berkata dengan senyum tersungging, “Jika Tuan meneruskan ini dan membahayakan nyawaku, maka Bidadari Sungai Utara dapat tewas karenamu. Apakah Tuan yakin akan meneruskan ini ... atau, bunuh sajalah diri Tuan?”
Mantingan tertawa dingin. “Aku lebih yakin dapat membunuhmu! Engkau akan tewas di tanganku! Tiada dirimu cukup kuat untuk mengakahkanku!”
Ucapan Mantingan yang sedingin halimun dan setajam batu gunung itu mampu menggetarkan jiwa Pendekar Sanca Merah. Bulu kudunya meremang. Benar-benar membuat perempuan itu cemas bukan main. Pendekar Sanca Merah telah mencicipi sedikit dari kemampuan Mantingan dan dia tidak bisa menganggapnya remeh. Apakah jadinya jika Mantingan menggunakan seluruh dari kekuatannya?
Maka sebelum Pendekar Sanca Merah mengerahkan Golek Jiwa sebelum Mantingan membaca tanda-tanda ketakutannya.
__ADS_1
Mantingan menatap Golek Jiwa seukuran manusia dewasa yang kini sedang melesat ke arahnya, sungguh tiada terlihat ketakutan sedikitpun di matanya. Ia merasa dapat mengendalikan keadaan. Tidak ingin berpikir hal yang terlalu buruk untuk dipikirkan. Pada akhirnya, inilah yang dinamakan kepercayaandiri!
Mantingan melesat pergi, mengelilingi ruangan. Golek Jiwa masih terus mengejarnya, bahkan lambat laun mulai menyusulnya. Mantingan tidak buncah barang sedikit, sekalipun pedangnya berada di tangan musuh dan justru berbalik menyerangnya. Pemuda itu mengeluarkan selembar Lontar Sihir yang banyak guratan-guratan aksara di atasnya. Mantingan menjepit lontar tersebut di antara jari tengah dan jari telunjuknya. Mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar. Lontar itu mengeluarkan cahaya kebiruan.
“Mantra Petir Melebuk Batu!” Mantingan berteriak keras ketika Golek Jiwa itu hampir mencapainya.
Sebentar kemudian dan secara tiada terduga, terang-benderanglah ruangan itu diiringi suara ledakan keras yang ingar-bingar. Mantingan menutup mata ketika hal itu terjadi. Pendekar Sanca Merah pun menutup mata secara naluriah.
Ketika mereka membuka matanya dalam waktu yang hampir bersamaan, dilihatnya bagian-bagian dari Golek Jiwa yang tercerai-berai. Di samping itu, Pedang Kiai Kedai menancap di lantai dengan bilah merah membara bagai telah dipanggang.
Pendekar Sanca Merah menyunggingkan senyumnya dan berkata dengan nada yang aneh, “Tuan memasang mantra di pedang Tuan? Sungguh tidak kuduga-duga hal ini sebelumnya. Tetapi betapapun, Tuan telah menghancurkan salah satu mainanku.”
Mantingan mengangkat alisnya. “Heh, kau masih punya yang lain?”
Pendekar Sanca Merah menyesap cangklong dan mengembuskan asapnya. Sesaat kemudian, dua Golek Jiwa berbentuk harimau kayu maju menyerang bersamaan. Mantingan segera berkelebat ke arah jatuh pedangnya. Bertaruh kecepatan. Tidak sedikitpun ia melirik dua harimau kayu yang melesat dalam kecepatan tinggi ke arahnya. Hanya pedangnya saja yang ia lihat, sebab itulah tujuannya!
Mantingan berhasil meraih gagang pedangnya sesaat sebelum dua harimau itu mencabik-cabik tubuhnya. Ia mengentak kaki jauh ke belakang sekaligus melesatkan belasan Lontar Sihir Penyerang. Dua harimau kayu dikendalikan untuk menghindar, merubah arah lajunya menjadi ke kanan dan ke kiri. Pada akhirnya, belasan Lontar Sihir tersebut hanya menghantam dan menghancurkan sebagian lantai kedai.
Mantingan menginjakkan kakinya di atas lantai. Menatap tajam lawannya. Pedang Kiai Guru Kedai tersampir. Seolah akan menghancurkan siapa pun yang berani mendekatinya.
Pendekar Sanca Merah memasang raut wajah tenang, meskipun Mantingan raut wajah itu tidak mewakili perasaannya. Perempuan itu terlihat kembali menyesap cangklongnya sebelum berkata, “Tuan, sahaya sebenarnya sangat tidak suka hal ini. Kita lebih banyak berkata-kata ketimbang bertarung. Tetapi demi kedamaian, Tuan, sahaya akan mengajukan tawaran seperti yang—”
__ADS_1
“Seperti yang tadi?” Mantingan memotong. “Aku juga tidak suka bertarung sambil berkata-kata, tetapi harus kukatakan sekali lagi, bahwa aku merasa dapat mengalahkanmu.”
“Baiklah, baiklah, baiklah! Jika memang itu sudah menjadi putusanmu, maka yang tadi itu adalah penawaran terakhir.”
Dari balik jendela, berkelebatan belasan Golek Jiwa bermacam-macam bentuk dan persenjataan. Mantingan mundur beberapa langkah karena golek-golek tersebut mulai memenuhi ruangan. Ia harus tetap menjaga jarak teraman.
Muncul suara Pendekar Sanca Merah, yang hanya terdengar suaranya saja karena memang tubuhnya tertutupi kerumunan Golek Jiwa, “Ada kata-kata terakhir?”
“Cucilah seluruh golek ini karena aku mencium aroma tidak sedap.”
Mantingan mengulurkan dua telapak tangannya ke depan. Dari sanalah angin berembus kencang. Ruangan yang sunyi bagai tanpa kehidupan itu telah dipenuhi gemuruh angin. Mengoyak-ngoyak udara.
Raut wajah Pendekar Sanca Merah berubah tajam. Dia menggerakkan jari-jarinya. Belasan Golek Jiwa serentak merapatkan diri. Seakan saling melindungi satu sama lain dari angin badai buatan Mantingan.
“Mengapakah, wahai Pendekar Sanca Merah? Bukankah angin badai sekalipun tak mampu merusak golek-golekmu yang keras tiada terkira?”
Pendekar Sanca Merah tidak menjawab. Dia memusatkan pikiran pada golek-goleknya yang masih berkumpul. Akan tetapi, terdapat sebuah keanehan, di mana perempuan itu masih saja menghisap cangklongnya, bahkan melakukannya jauh lebih cepat sedaripada sebelumnya.
Menanggapi itu, Mantingan memutar dua tangannya ke segala penjuru, mengakibatkan angin menderu semakin cepat dan keras.
Imbasnya, bangunan kedai kini benar-benar hancur. Puing-puing berterbangan dibawa angin. Suara patahan kayu memenuhi telinga Mantingan. Begitu dahsyatnya angin menerbangkan segala-galanya yang ada di bangunan itu, kecuali lantainya!
__ADS_1
Masih dengan dua lengan terjulur, Mantingan maju selangkah demi selangkah. Berada di bawah tekanan angin sekuat ini membuatnya harus bekerja keras untuk sekadar berjalan saja.