
Mantingan diantar masuk ke dalam ruang pelelangan. Setelah Mantingan masuk, suasana di dalam nyatanya jauh lebih hiruk-pikuk. Mantingan merasa dirinya tengah berada di pasar setelah mendengar suara-suara ini. Pengunjung-pengunjung yang sedang tawar menawar terlihat tidak mau mengalah, terus menaikkan harga barang hingga berkali-kali lipat dari harga asli.
Mantingan lihat barang lelang di panggung adalah pedang dengan mata bilah hitam mengilat. Entah apa kegunaan pedang itu sampai ditawar banyak orang dengan harga tinggi. Kemudian Mantingan melihat ke sekitar ruangan, ada beberapa orang yang duduk di belakang meja tinggi di pojok ruangan, pria penjaga itu menjelaskan bahwa mereka adalah tamu istimewa yang harus membayar lebih mahal untuk dapat duduk di sana, mereka juga mendapatkan beberapa hak khusus ketimbang pengunjung biasa yang duduk di bawah.
Mantingan diantar hanya sampai di tempat duduknya, pria penjaga itu pergi tanpa berkata apa pun. Ruangan ini terlalu ramai bagi Mantingan, ia tak pernah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Lalu Mantingan menarik napas panjang, berusaha membiasakan diri. Bukankah dirinya juga merupakan pengunjung yang membayar untuk mendapatkan kursi di ruang lelang? Tidak seharusnya ia merasa malu bersanding dengan pesilat-pesilat kaya di ruang lelang ini.
Pedang berbilah hitam itu terjual dengan harga seratus keping emas, berhasil didapatkan oleh seorang pria paruh baya yang duduk di kursi terdepan. Petugas lalu mengantarkan pedang padanya. Lelang kembali dimulai.
Kali ini berang yang dilelang merupakan bilah pisau dari perguruan yang telah lama musnah. Yang dijual benar-benar bilah pisau saja, tanpa ada gagang. Bilah itu juga sudah berkarat, sungguh tidak bisa dipakai untuk menyerang atau bertahan sekalipun.
Petugas yang berdiri di panggung adalah seorang wanita muda dengan pakaian terbuka, ia memegang bilah pisau itu dengan kain lembut dan dengan hati-hati. Pengunjung-pengunjung mulai berbisik setelah mengenali bilah pisau itu.
Dengan senyum lebar, wanita berpakaian terbuka itu berkata lantang, “Ini adalah pisau yang digunakan oleh murid-murid Padepokan Kubangan Darah, tamu-tamu yang terhormat pastilah mengetahui apa itu Padepokan Kubangan Darah, tetapi biar Dara jelaskan tentang Padepokan Kubangan Darah itu.”
Wanita berpakaian terbuka itu ternyata bernama Dara, ia menyebut namanya sendiri di hadapan ratusan pengunjung tentu untuk mengenalkan dirinya sebagai pembawa acara yang andal. Mantingan bergumam perlahan setelah mengetahui bagaimana wanita itu bersiasat, pikirnya itu cukup cerdik.
“Padepokan Kubangan Darah menjadi salah satu dari sedikitnya perguruan aliran merdeka di Javabhumi. Perguruan ini termasuk perguruan besar dan berjaya, dahulu orang-orang merinding setengah mati ketika mendengar nama Padepokan Kubangan Darah!
“Padepokan ini memiliki cara yang cukup keji untuk memusnahkan para pengacau perguruannya. Para tamu yang terhormat, maafkan Dara jika Dara harus berkata yang cukup menjijikkan. Padepokan itu membunuh lawannya menggunakan jurus andalan perguruan mereka, yaitu mengisap darah lawan sampai lawannya mati kering! Darah-darah itu kemudian mereka kumpulkan pada suatu kubangan besar, darah yang banyak itu mereka pakai untuk melakukan ritual sesat yang mereka rahasiakan!
“Rahasia mereka terbongkar juga oleh sebuah peristiwa tak disengaja, dan mereka ditandai sebagai perguruan aliran hitam setelah berita itu menyebar. Dengan ini, perguruan-perguruan besar aliran putih mempunyai alasan untuk menyerang mereka. Hasilnya, Padepokan Kubangan Darah kalah telak oleh serangan gabungan perguruan aliran putih.” Wanita itu menarik napasnya panjang-panjang. “Perguruan itu memanglah tidak terlalu dikenal, tetapi pusaka mereka yang tidak dikenal itulah yang justru berbahaya bagi lawan. Inilah pusaka mereka yang tersembunyi. Bilah pisau ini beracun ....”
Ucapan Dara dipotong oleh seorang pria tua, segera orang tua itu menarik perhatian tamu lainnya.
“Sebentar! Sebentar! Apa daku tidak salah mendengar? Kalian menjual barang dari Padepokan Kubangan Darah yang terlarang itu? Bukankah kalian tahu, bahwa barang apa pun dari Padepokan Kubangan Darah adalah barang terlarang. Ingatlah, bahwa kerajaan akan mencari kalian dan pusaka itu!”
“Tuan, Dara tidak melanggar aturan. Benda ini bukanlah pusaka lagi, Tuan, benda ini sudah berkarat dan tidak bisa digunakan untuk menyerang. Dara hanya menjualnya pisau ini sebagai barang pajangan saja.”
“Tetapi tetap saja itu terlarang. Baiklah, begini saja, apa kau yakin akan tetap menjual pisau itu jika nantinya akan kulaporkan persoalan ini pada kerajaan?”
Dara mulai mengerutkan dahi, wajahnya terlihat khawatir. Suasana kembali hening.
“Dara, engkau jual benda itu padaku!” Terdengar suara dari salah tamu istimewa. “Dan dikau, pria tua, barapakah harga mulutmu untuk kubayar?”
Pengunjung-pengunjung saling berbisik, Dara semakin khawatir jikalau pelelangan ini akan berjalan di luar kendalinya.
Pria tua yang semula menentang Dara kini terkekeh-kekeh. “Hehehe, cukuplah sepuluh keping emas untuk minum-minum.”
Tamu istimewa itu mengangguk. “Dara, berapakah harga pisau karatan itu?”
Dara buru-buru menjawab, “Untuk pisau ini Dara buka dengan harga seratus keping emas.”
Mantingan menelan ludahnya. Pisau berkarat itu bisa menghabiskan seluruh uangnya dalam sekejap mata!
“Akan daku ambil jika begitu ....”
“Tidak semudah itu!” Tamu istimewa lain membentak. “Kulipat gandakan harga itu, berikan pisau itu padaku.”
__ADS_1
“Aku yang lebih dahulu mendapatkannya.”
Dua tamu itu saling bertatapan, Mantingan merasakan semilir ***** pembunuh kuat dari adu tatap itu. Situasi akan sangat berbahaya jika didiamkan hanya beberapa saat saja. Saat itulah Dara berusaha mengendalikan situasi sebelum tambah rumit nantinya.
“Tuan-Tuan yang terhormat, Dara masih belum menutup harga, sehingga siapa pun masih boleh menawar. Dara mohon kedewasaan dari Tuan-Tuan.”
Dua tamu istimewa itu melepas pandangannya, mereka tidak ingin harga diri mereka hancur hanya karena sebilah pisau karatan seharga ratusan keping emas. Tentu mereka membawa ribuan keping emas untuk pelelangan ini, sehingga mereka tidak terlalu memusingkan persoalan saat ini.
“Bagaimana, Tuan-Tuan, adakah lagi yang ingin menawar?”
Ruangan senyap, karena sepertinya tidak ada yang hendak menawar lagi, Dara menutup harga yang telah mencapai dua ratus keping emas itu. Barang itu diantarkan pada tamu istimewa kedua yang menawar. Pelelangan kembali dilanjutkan.
Barang-barang yang selanjutnya ditawarkan tidak terlalu menarik perhatian Mantingan, sebab barang-barang itu memiliki harga yang jauh melampaui jumlah uangnya saat ini. Mantingan kesal oleh lelaki kekar penjaga yang berbohong itu, pria itu mengatakan bahwa harga barang di bawah empat puluh keping emas. Namun barang-barang yang ditawarkan di sini harganya di atas seratus keping emas.
Pelelangan mulai memasuki saat-saat terakhir, harga barang mulai turun. Petugas di belakang panggung membawa tumpukan-tumpukan lontar, terlihat seperti sebuah kitab silat.
“Barang yang selanjutnya Dara lelang adalah Kitab Tapak Angin Darah sisa peninggalan Perguruan Angin Putih, yang baru-baru ini dilenyapkan oleh kerajaan. Pastilah tamu-tamu yang terhormat mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada perguruan itu, itulah mengapa Dara langsung saja lepas barang ini dengan harga 50 keping emas!"
Mantingan jauh lebih tercengang dengan kebenaran bahwa Perguruan Angin Putih adalah perguruan yang dilenyapkan oleh kerajaan. Bukankah Perguruan Angin Putih adalah perguruan golongan putih? Mengapa harus dilenyapkan? Bahkan kerajaan yang turun tangan untuk melenyapkan perguruan itu.
Dalam hal yang menyangkut tentang rimba persilatan, campur tangan kerajaan sangatlah sedikit. Kependekaran dianggap sebatas dongeng belaka, di mana tidak terdapat banyak pembuktian. Jika saja kerajaan sudah turun tangan untuk menumpas sebuah perguruan silat, maka perguruan itu tergolong berbahaya.
Tetapi Mantingan membuyarkan perdebatan-perdebatan batin itu, ia harus mendapatkan Kitab Tapak Angin Darah sebelum orang lain mendapatkannya. Karena itu menyangkut tentang Perguruan Angin Putih, maka Mantingan merasa perlu membelinya.
Maka bersuaralah Mantingan yang sedari tadi diam. “Aku akan ambil kitab itu.”
Mantingan menimpali, “57!”
“60!”
“70!”
Mantingan berkeringat dingin, itu hampir berjumlah seluruh uangnya. Sekarang Mantingan sedikit menyesal dan berharap saingannya menawar dengan harga yang lebih tinggi lagi. Tetapi orang yang menjadi saingan Mantingan itu terdiam, tidak lagi berucap.
“Apakah ada di antara tamu-tamu yang hendak menawar kitab ini lagi?”
Agaknya Dara berat melepaskan kitab itu dengan harga yang tak terlampau jauh dari harga awal, tetapi memang tidak ada tamu lagi yang menawar Kitab Tapak Angin Darah itu. Maka dari itu, Dara dengan berat hati melepaskan Kitab Tapak Angin Darah pada Mantingan.
Mantingan menerima Kitab Tapak Angin Darah itu dengan tangan bergemetar. Betapa ia telah mengeluarkan 70 keping emas hanya untuk tumpukan lontar-lontar yang entah diperlukan atau tidak. Mantingan dengan berat hati menyerahkan 70 keping emas itu pada petugas, dan menyimpan Kitab Tapak Angin Darah dengan sangat hati-hati.
“Baiklah, Dara akan mengeluarkan berang penutup yang juga akan jadi barang penutup malam ini!”
Kali tidak ada petugas yang membawakan barang kepada Dara, melainkan wanita muda itu sendiri yang pergi ke belakang dan membawa barang itu sendiri ke depan. Barang yang Dara bawa merupakan sebuah pedang lengkap dengan sarungnya, tetapi Mantingan tidak bisa melihat bilah pedang itu disebabkan sarung yang menutup rapat.
“Dara tidak akan menjual barang ini, karena ini adalah pedang kesayangan Dara. Dan Dara tiada memiliki pedang lain selain pedang ini. Maka dari itu, Dara akan melepas pedang ini dengan cara melemparnya asal ke arah para tamu.” Dara tersenyum tipis. “Tidak hanya itu, siapa pun yang mendapatkan pedang ini akan tidur malam bersama Dara!”
Mantingan mengernyitkan dahi. Baru saja ia tertarik pada pedang itu, tetapi tidak lagi tertarik, bahkan muak untuk mendapatkan pedang seperti itu. Bukan pedangnya yang bermasalah, tetapi hadiah bawaannya yang bermasalah. Bagaimana mungkin Dara melakukan itu hanya untuk memeriahkan pelelangan? Jika ia berniat melakukan itu, maka dirinya telah berhasil, sebab pelelangan lekas meriah setelah Dara selesai berkata itu.
__ADS_1
“Mohon para tamu untuk tidak meributkan siapa pun yang mendapatkan pedang ini!” Dara membalik badannya dan bersiap melempar pedang itu secara asal.
Mantingan melihat tamu-tamu di sekitarnya yang sangat antusias, membuat Mantingan hanya bisa menggeleng pelan. Jika menjadi mereka, Mantingan akan duduk manis menunggu siapa pun yang mendapat pedang itu. Mantingan sadar, bahwa tamu-tamu yang bukan pendekar, atau tamu-tamu pendekar tingkat dasar, tidak akan mendapat pedang itu hingga bisa tidur malam dengan Dara. Sebab terdapat pendekar-pendekar tinggi di meja istimewa, pastilah mereka akan menggunakan kemampuannya untuk melesat mengambil pedang itu.
Seluruh tamu berdiri, bahkan tamu di meja istimewa sekalipun. Hanya Mantingan yang tetap duduk di kursinya, seolah sedang menikmati pemandangan orang-orang bodoh di hadapannya.
Dara menyiapkan ancang-ancang untuk melempar pedang itu, lalu katanya, “Tamu-tamu yang terhormat, harap kalian menghitung mundur dari hitungan ketiga!”
Lekas tamu-tamu itu menghitung serempak dan keras-keras.
“Tiga!”
“Dua!”
“Satu!”
Pedang dilempar. Mantingan jelas-jelas melihat pedang itu melayang tinggi di dekat atap-atap ruangan, lalu pedang itu menghilang setelah beberapa bayangan melesat menyambar pedang itu. Namun tiba-tiba saja perut Mantingan seperti dihantam godam dengan kerasnya. Tubuh Mantingan meringkuk dan jatuh ke bawah. Ia meringis, tetapi merasakan sebuah berada dalam pelukannya.
Mantingan membuka matanya untuk melihat benda itu, betapa terkejutnya ia melihat pedang Dara sudah berada di dalam pelukannya. Tamu-tamu lain, bahkan tamu-tamu istimewa, menatap Mantingan tidak percaya. Tidak ada satupun yang berani merebutnya.
Mantingan juga melihat sesosok pria yang entah dari mana telah berdiri di atas bangkunya, pria itu membawa pedang di tangan kirinya. Tatapannya mengarah ke seluruh tamu.
“Jika ada yang berani bermain kasar di sini, harus menghadapiku terlebih dahulu.”
Kini Mantingan sadar, bahwa jika tidak ada pria itu, bukan tidak mungkin tamu-tamu berani menyerangnya.
Tamu-tamu dengan kecewa kembali ke tempat duduknya masing-masing, tetapi ada beberapa yang memilih keluar ruangan. Sedangkan Mantingan masih belum memahami apa yang baru saja terjadi padanya.
Tadi jelas-jelas ia melihat pedang itu melayang di udara, lalu bayangan-bayangan berkelebat di sekitar pedang itu, dan tiba-tiba saja sudah berada di pelukan Mantingan.
“Anak ingusan yang beruntung.”
“Tidak ada usaha sama sekali, benar-benar beruntung ....”
“Tidak kusangka dia bisa mendapatkannya, benar-benar beruntung!”
“Bedebah, hanya dengan keberuntungan itu dia bisa sombong! Lihatlah, sama sekali tidak bersujud dan berterimakasih.”
Mantingan mendengar gumaman-gumaman yang mengarah pada dirinya, tetapi Mantingan lebih peduli tentang bagaimana ia harus bersikap pada pedang ini. Dengan masih kesakitan di bagian perut, Mantingan berdiri dan menatap Dara.
Dara tersenyum canggung, terlihat tidak menyangka sama sekali bahwa Mantingan yang akan mendapatkannya. Dara juga melihat bagaimana Mantingan adalah tamu yang paling tidak bersemangat melihat pedangnya itu.
Pria yang berdiri di bangku Mantingan lekas berkata padanya, “Anak Muda, engkau mendapatkan itu memang benar disebabkan oleh keberuntungan, jadi aku harap engkau tak tersinggung oleh perkataan mereka.”
Mantingan bertanya, “Memangnya bagaimana jalannya hingga bisa aku mendapatkan pedang ini, Paman?”
Pria itu tersenyum. “Pendekar-pendekar tinggi tak kenal malu itu berebut seperti hewan yang tak mau kehilangan makanan terakhir. Mereka saling menyerang dalam kecepatan yang tidak bisa engkau lihat, dan tanpa sengaja salah satu serangan itu mengenai pedang dan mendorongnya padamu.”
__ADS_1
Mantingan merasa bahwa pedang itu bukan didorong kepadanya, tetapi dihantamkan. Sekarang Mantingan berpikir lagi, harus apakah ia bersikap dengan pedang ini? Apakah mengambilnya saja atau mengembalikannya?