
Yang membukakan pintu untuk Mantingan dan Arkawidya adalah Rara, sedari tadi telah menunggu di belakang pintu. Pintu kembali ditutup rapat-rapat, bahkan Rara sampai menaruh beberapa benda besar seperti meja dan lemari sebagai penahan pintu. Segera Mantingan melepaskan rangkulan dari Arkawidya.
Ketiganya lalu berkumpul di ruang tengah. Tepatnya, mereka bersila di bawah kasur. Menghadap satu sama lain.
“Sahaya di sini untuk meminta sedikitnya uluran bantuan dari Tuan dan Puan, sahaya melihat bahwa Tuan dan Puan adalah orang baik-baik yang entah bagaimana bisa tersesat sampai di sini. Sahaya sangat memohon agar kalian dapat membawaku keluar dari tempat terkutuk ini, sebelum diriku menjadi sama terkutuknya.” Arkawidya berkata dengan mata berlinang-linang, entah mengapa air wajah seorang bunga raya yang semula melekat padanya kini luruh tak bersisa.
Rara pula bisa merasakan kesedihan Arkawidya, wanita akan lebih peka terhadap perasaan, terlebih pada perasaan sesama wanita. Maka matanya ikut berlinang. Perlahan merangkul Arkawidya, memberinya semangat dengan tepukan di pundak.
Mantingan berusaha bersikap tidak sepihak, tetapi dari mana ia bisa mendapatkan kebijaksanaan itu sedangkan dirinya saja tidak terlalu bijaksana?
Semulanya ia tak menduga jika Arkawidya akan meminta bantuan itu. Mungkin Mantingan bisa memberikannya sekeping emas, tetapi tidak jika Arkawidya mengikuti perjalanannya.
Apakah ia dapat menyelamatkan hidup orang lain, bertindak bagai pahlawan, padahal untuk memperbaiki hidupnya sendiri saja tidak bisa? Bukankah Mantingan yang sebelumnya adalah seorang pengembara teramat miskin yang untuk beli makanan saja tidak bisa? Lalu mendapat keberkahan dan hidupnya berubah hanya karena bantuan dari Kenanga? Bagaimana jika sebelumnya ia tak bertemu dengan Kenanga, dapatkah dirinya dimintai bantuan seperti seakan saja dirinya adalah seorang pria yang bijak?
Bukan. Mantingan merasa dirinya tidak bijak sama sekali, yang memang kenyataannya begitulah. Mantingan merasa telah hidup sebagai pria yang gagal.
Sekarang di hadapannya terdapat dua wanita. Satu wanita bernama Rara yang jelas menggantungkan hidup padanya. Dan satu wanita lagi yang bernama Arkawidya yang ingin hidupnya diselamatkan. Tentu Rara tidak bisa membantu Arkawidya terlalu banyak, hanya dirinya saja di sini yang bisa menyelamatkan Arkawidya dari tempat bunga raya ini.
“Bisakah kau menceritakan riwayat hidupmu?” kata Mantingan pada akhirnya.
__ADS_1
Rara mengeratkan rangkulannya dan mengangguk pelan pada Arkawidya, mendukungnya untuk bercerita agar permasalahan ini bisa cepat diselesaikan. Maka saat itu Arkawidya mulai bercerita panjang lebar.
Arkawidya bukanlah nama sejatinya, nama aslinya hanya sekadar Widya saja. Kata “arka” adalah kata yang memiliki arti “dihargai”. Widya ingin dihargai, sebagai seorang wanita yang suci, tetapi bagaimana ia bisa mendapat penghargaan itu sedangkan kesuciannya telah dirampas?
Widya adalah seorang anak yang lahir dari orang tua pedagang di sebuah desa kecil dekat Bumi Sagandu. Hidup mereka cukup sederhana, walau orang tahu bahwa keluarga Widya selalu berpenghasilan banyak. Jika terdapat kelebihan dari keuntungan dagang, maka uang itu biasanya dibagikan pada semua warga desa yang tidak berkecukupan atau untuk membantu pengairan sawah di desa. Maka dari itu keluarga Widya adalah keluarga yang amat disayangi oleh seluruh warga desa tanpa terkecuali.
Tetapi kabar tentang kekayaan dan tabungan keluarga Widya rupa-rupanya telah sampai di telinga kelompok rampok. Memang saat itu teramat banyak kelompok aliran hitam yang seakan membuat kekacauan di Tarumanagara secara serentak dan mendadak.
Tidak sedikit desa yang terkena dampak langsung dari perampok-perampok itu. Mereka menjarah rumah-rumah warga, menculik gadis-gadis, bahkan tak segan membunuh bagi yang menunjukkan perlawanan. Dan Widya adalah salah satu korban dari pergerakan serentak para rampok itu.
Orang tua Widya mati terbunuh di tangan rampok. Ibunya telah berpesan sebelum dia mengembuskan napas penghabisan, bahwa Widya harus tetap hidup bagaimanapun juga.
“Mereka merebut kesucianku dan menjualku sebagai budak di pasar gelap, sahaya dibeli pemilik penginapan ini dan sahaya dipekerjakan sebagai lacur. Sahaya tak tahu ... mengapa sahaya tidak mati saat kutusukkan pisau ke dalam perutku, sahaya benar-benar muak akan diri sahaya sendiri, tetapi sahaya tidak mati. Lekas sahaya teringat pesan ibuku, bahwa sahaya haru tetap hidup ... harus tetap hidup ....”
Cerita panjang Arkawidyadya itu diiringi oleh isak tangis. Entah itu isakan dari Arkawidya atau dari Rara, tetapi yang jelas dua wanita itu sedang tersedu-sedan. Padahal Mantingan tidak merasakan kesedihan biar sedikitpun, kisah hidupnya tidak jauh berbeda dari kisah hidup Arkawidya. Lagi pula ia masih memiliki tugas, untuk Kenanga, untuk Kembangmas. Bukan suatu putusan yang bijak dengan menambah satu teman lagi dalam perjalanan, yaitu Arkawidya.
Uang yang Mantingan miliki sekarang tidaklah banyak, dan ia tak ingin Rara ataupun Arkawidya ikut jatuh miskin bersamanya. Terlebih lagi kehadiran Arkawidya serasa akan membuat kemiskinan datang lebih cepat menghampirinya.
“Baiklah! Aku akan terang-terangan pada kalian berdua!”
__ADS_1
Mantingan melepaskan pundi-pundi di pinggangnya dan menjatuhkan semua keping emas yang semula ada di dalamnya.
“Kalian lihat sendiri, aku tidak punya banyak uang! Aku tidak bisa mengorbankan salah satu dari kalian, aku ingin membantu kalian semua, tetapi lihatlah uangku ini. Jika kalian menjadi diriku, apa yang akan kalian ambil? Katakanlah padaku!”
Mantingan mengatur jalan napasnya agar kembali tenang. Kebenaran yang telah Mantingan muntahkan barusan tentu sangat mengejutkan kedua perempuan di depannya. Kini Rara dan Arkawidya sama-sama memandangi empat belas keping emas dan beberapa keping perak di atas lantai.
“Mantingan, mengapa kau tidak pernah mengatakan perkara ini padaku sebelumnya?” Rara berkata lemah.
“Maafkan aku, tetapi aku hanya ingin membahagiakanmu. Aku takut jika kau mengetahui ini maka ....”
“Maka apa, Mantingan?”
Mantingan menarik napas panjang. Kini malah dirinya yang digencar pertanyaan. “Bapakmu sudah menyelamatkan hidupku, aku perlu membalas kebaikan itu melalui dirimu.”
“Tapi, Mantingan, perlu kausadari bahwa kau yang justru menyelamatkanku. Kalau aku ada di sini, maka itu berkat dirimu.” Rara menggeleng pelan, bukan saatnya ia membicarakan ini, maka ia mengganti arah pembicaraan. “Tetapi dengan uang sebanyak ini, jika kita berhemat, aku yakin bisa menghidupi kita bertiga satu-dua bulan. Namun, ini tergantung pada dirimu Mantingan, apakah kauamau membawaku dan Widya ikut bersama kita?”
Mantingan mengembuskan napas panjang. “Aku bersedia, dan mulai saat ini kau yang akan mengatur keuangan kita bertiga, Rara. Keping-keping emas ini bukanlah milikku lagi.”
Rara tersenyum. “Aku lagi-lagi salah menilaimu, Mantingan, kau adalah manusia yang memiliki hati lebih baik dari yang terbaik. Sedangkan penilaianku tidaklah menduga sama sekali bahwa dikau memiliki hati seputih ini.”
__ADS_1
Mantingan hanya tersenyum hambar.