Sang Musafir

Sang Musafir
Kisah Gema Samudradvipa


__ADS_3

“Sebab jika dikau mengetahui tentang ini sejak awal, sudahlah pasti dikau akan menjadi malas melatih lengan kirimu untuk dapat menggunakan pedang. Daku ingin dirimu mampu memainkan pedang di tangan kanan dan pula tangan kiri. Kejadian tadi pagi tadi ... daku memang telah lama berencana untuk menantangmu bertarung, sebab lengan tiruan untuk tangan kanan ini baru akan kuberikan setelah dikau berhasil mengalahkanku dengan hanya mengandalkan lengan kiri.”


Seketika itu pula Mantingan tersadar bahwa yang dilakukan oleh Tapa Balian itu adalah suatu kebenaran, bahwa dirinya justru akan malas melatih lengan kiri jika sudah mengetahui bahwa lengan kanannya akan didapatkan kembali meski hanya tiruan saja. Kini sebagai hadiahnya, Mantingan serasa memiliki dua lengan andalan.


“Bahan baku lengan tiruan ini adalah kayu ulin jenis terbaik yang sama sekali kuat dan tahan lama. Daku telah mencampurkannya dengan ramuan andalanku untuk membuatnya kebal terhadap api dan kelembapan.”


***


SEUSAI memperagakannya, Mantingan menawarkan pada Tapa Balian jika ingin mempelajari kitab yang berisi tentang Pendirian Manusia itu maka ia akan meminjamkannya. Namun, Tapa Balian menolaknya secara halus.


“Ilmu yang Anak ciptakan itu teramatlah luar biasa. Daku tidak pernah terpikirkan tentang hal seperti itu sebelumnya. Dan sungguh, daku hampir kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan betapa daku mereka bangga kepadamu. Tetapi mesti kutolak tawaran yang sungguh mulia itu, sebab Tapa Balian ini telah terlalu tua dan renta untuk dapat mempelajari kitab itu. Kini daku tidak ingin terlalu bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup di dunia persilatan, jadi memanglah ilmu seperti itu justru akan menjerumuskanku kembali ke dunia persilatan yang penuh kehiruk-pikukan.” Mata Tapa Balian kemudian beralih menuju cucunya yang masih pula tertidur lelap. “Jangan sampai Delima bernasib sama dengan ibunya, yang gagal kulindungi dari tangan-tangan kotor pendekar dunia persilatan.”


Tidak perlu diceritakan pun telah dapat Mantingan tebak jalan ceritanya. Maka pemuda itu mengembuskan napas panjang sambil menundukkan pandang. Dunia persilatan bukanlah dunia yang sama sekali ramah untuk berkeluarga. Selalu ada yang meninggalkan atau ditinggalkan, yang mestilah kedua hal itu akan berujung pada kesedihan serta kepedihan mendalam.


“Di kehidupan selanjutnya, jika takdirku kembali membawa diriku ke jalan persilatan, pastilah ilmu itu akan kupelajari betul-betul. Tetapi untuk di kehidupan ini, daku terpaksa menahan diri untuk tidak mempelajarinya. Maafkan daku, Mantingan.”


Mantingan mengibaskan lengan kayunya, meski sungguh dirinya tidak benar-benar sadar saat melakukan itu. “Tidaklah perlu meminta maaf, Bapak. Sungguh diriku juga memahami betapa dunia persilatan bukanlah tempat yang menyenangkan. Diriku juga tidak terlalu berharap Bapak mempelajari ilmu ini.”

__ADS_1


Tapa Balian tersenyum lebar dan mengangguk puas. “Sekarang biarlah daku bertanya kepadamu. Sampai manakah kiranya ilmu penempaan yang telah berhasil dikau pelajari?”


Mantingan terbatuk-batuk pelan sebab teringat bahwa Tapa Balian memberikannya kitab ilmu penempaan sekaligus bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menempa senjata. Dengan senyum canggung di wajahnya, Mantingan pun menjelaskan, “Diriku masih sampai pada ilmu dasarnya saja, Bapak. Banyak kegagalan yang kuhadapi ketika menempa senjata. Besi yang kutempa selalu patah. Dan jika tidak patah, maka akan bengkok sedemikian rupa. Sehinggalah dengan segala kegagalan itu, daku jadi tidak berani untuk mempelajari ilmu di tingkat selanjutnya. Maafkanlah jika diriku telah mengecewakan Bapak.”


“Sama sekali tidak.” Tapa Balian menggelengkan kepalanya. “Meskipun tampaknya Anak tidak berbakat dalam hal menempa senjata, tetapi setidaknya Anak telah berusaha.”


Mantingan hanya bisa tersenyum pahit sebagai balasannya.


“Dikarenakan dikau tidak bisa menempa senjata sendiri, maka janganlah pernah ragu untuk minta dibuatkan suatu senjata kepadaku. Dengan senang hati, daku akan membuatkannya.”


“Sungguh hal itu akan teramat sangat merepotkan Bapak.” Mantingan menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Cukuplah lengan tiruan ini yang telah merepotkan Bapak.”


Mantingan tersenyum lebar dan berkata dengan riang, “Diriku turut senang mendengarnya, Bapak Balian!”


“Dikau membawa keberuntungan bagiku.” Tapa Balian pula tersenyum lebar.


Pembahasaan mereka terus berlanjut, membahas kabar-kabar hangat di Tulang Bawang maupun Pasemah. Bagi Mantingan yang hampir tidak pernah keluar menyambut peradaban, kabar-kabar itu terasa amat sangat penting. Pembicaraan mereka mengerucut hingga pada kisah Gema, yang betapa pun telah Mantingan tamatkan riwayat hidupnya siang tadi.

__ADS_1


“Dia telah lama menyimpan tekad untuk menumpas seluruh penyamun yang mendiami Suvarnadvipa. Mimpinya teramat sangat tinggi, yang sedemikian itu pula dengan kesedihannya ....”


Tapa Balian kemudian menceritakan kisah hidup Gema Samudradvipa, yang nyata-nyatanya begitu miris tiada terkira.


Gema Samudradvipa adalah seorang putra sulung dari keluarga pedagang di Javadvipa. Suatu ketika saat umurnya masih enam belas, ia ikut keluarganya melancong sekaligus berdagang di Suvarnadvipa. Alamat buruk, mereka tidak sengaja mendatangi sarang penyamun dengan pedati-pedati gerobak yang penuh terisi. Habislah sudah mereka diserang. Orang-orang di rombongan dagang itu lantas dibunuh semua, kecuali Gema yang berhasil meloloskan diri.


Sekian waktu berlalu. Gema mulai menyesali keputusannya yang memilih kabur manakala melihat kesempatan. Seandainya waktu boleh terulang, dia ingin mati saja bersama keluarganya. Namun, betapa hal itu tidak bisa dan tidak akan pernah terjadi. Maka Gema memutuskan untuk memperbaiki kesalahannya, dengan bertekad menumpas perompak-perompak yang ada di Suvarnadvipa sampai habis semua. Dia bersumpah untuk tidak pernah kembali ke Javadvipa sebelum menyelesaikan janjinya, begitulah Gema menambahkan “Samudradvipa” di belakang namanya, agar selalu teringat akan sumpahnya.


“Begitulah dirinya terus mengumpulkan uang dan orang-orang yang sejalan dengannya. Hingga pada usia dua puluh tahun, ketika dirinya berencana untuk melancarkan serangan pertama ke markas kelompok besar penyamun, siapakah kiranya yang akan menyangka bahwa dirinya justru akan dikhianati oleh kelompoknya sendiri di saat-saat yang begitu penting?”


Mantingan menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan penuh kedukaan. Sungguh dirinya tidak pernah menyangka bahwa Gema memiliki kisah hidup yang begitu menyedihkan. Ditinggalkan keluarganya mungkin merupakan sesuatu yang cukup menyedihkan, tetapi meninggalkan keluarganya dan membiarkan mereka mati begitu saja adalah sesuatu hal yang teramat sangat menyedihkan lagi menyesakkan.


“Tetapi tekadnya begitu kuat, teramat sangat kuat. Meski telah dikhianati begitu rupa sekaligus semua sumber dayanya telah dirampas tanpa sisa, Gema tetap berjuang untuk menuntaskan janjinya. Kembali dirinya mengumpulkan uang, tetapi tidak dengan mengumpulkan orang-orang.


“Gema bergerak sendiri. Membunuh setiap penyamun yang dapat ditemuinya. Sayangnya, sepak terjangnya itu justru membuatnya tampak lebih buruk daripada penyamun-penyamun. Dia menebar ketakutan di mana-mana, sebab tidak pernah minta penjelasan sebelum menyerang, sehingga terkadanglah orang yang dibunuhinya sama sekali tidak bersalah. Bagaikan hantu, dia menyerang selalu dengan caping lebarnya, sehingga wajahnya tiada pernah tidak tertutup bayang-bayang hitam, dengan pedang besar di punggung yang selalu di bawanya ke mana-mana, dia benar-benar tampak seperti dewa pencabut nyawa. Untuk itulah dia mendapatkan nama Si Caping Jerami Berpedang.”


___

__ADS_1


catatan:


Penampakan tangan baru Mantingan telah tersedia di IG @westreversed agar ilustrasi tersebut tidak menjadi milik platform ini. Saya tidak mengambil ilustrasi dari manapun, saya membuatnya sendiri, sehingga memang agak disayangkan jika gambar tersebut menjadi bagian dalam kontrak.


__ADS_2