
“Daku telah lama mencari dirimu, Mantingan.” Dara menimpali dengan senyum haru. “Seandainya dikau ketahui, Mantingan, daku telah menyebar orang-orangku ke penjuru pulau di Dwipantara, bahkan hingga ke Champa sana. Berharap salah satu dari mereka berhasil menemukanmu. Tetapi siapakah kiranya yang menyangka bahwa daku sendiri yang akan menemukanmu?”
Sekali lagi Mantingan berdeham. Dilihatnya raut wajah Chitra Anggini sudah tidak sedap. “Daku yang terlalu rendah ini sebenarnya tidak pantas dicari-cari oleh orang ternama seperti dirimu, Dara. Tetapi karena segalanya telah berlalu, dan toh pada akhirnya kita bisa bertemu di sini, daku mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalam dan setulus-tulusnya kepadamu. Daku jelas mengetahui bahwa untuk mencari diriku, telah banyak sumber daya yang dikau hamburkan.”
“Apalah arti semua itu, asalkan daku dap—”
“Cukuplah berbasa-basinya,” potong Chitra Anggini dengan raut wajah gusar sekali. “Kapankah kita masuk ke perundingan utamanya? Aku sungguh-sungguh telah lapar, sedangkan kalian berdua mungkin saja telah makan bersama di luar asrama. Dasar memang.”
Mantingan hendak menasihati Chitra Anggini untuk tidak mengeluarkan perkataan sesinis itu, tetapi Dara telah lebih dulu mengeluarkan suara untuk membalas cakapan perempuan itu.
“Chitra, apatah gerangan yang membuat dikau berkata seperti itu? Apakah kami berdua terlihat seperti telah bersenang-senang di luar asrama?”
“Kalian datang bersama-sama dengan senyuman yang lebar sekali. Siapakah yang tidak akan menduga bahwa kalian telah melakukan suatu kesenangan di luar sana?”
Mantingan menggosok wajahnya sambil mengambil napas panjang. Perdebatan antara Chitra Anggini dengan Dara masih saja berlanjut. Semakin memanas, malah. Namun kali ini, Mantingan tidak lagi mengeluarkan nafsu pembunuh maupun perkataan dingin, bahkan dirinya pun tidak berusaha menghentikan kedua perempuan dewasa yang entah bagaimana masih bersikap dengan kekanak-kanakan itu.
Biarlah. Sampai mereka lelah dan berhenti sendiri.
...****************...
PAGI itu. Setelah sedikit gerimis turun sesaat sebelum terang tanah, yang berlangsung dengan sedemikian singkatnya, hanya sampai fajar menyinsing gerimis itu reda. Gerimis yang membuat langit fajar bagai terbakar. Memerah sedikit kejinggaan. Gerimis yang pula menghadirkan seberkas pelangi di sebelah barat sana, berlatarkan sebuah gunung kelabu yang hingga kini masih belum Mantingan ketahui namanya.
Burung-burung seputih kapas membentuk barisan ketika terbang menuju lautan. Beberapa jenis burung lainnya justru pergi ke daratan, menuju pesawahan. Namun betapa pun, mereka sedikit banyak mengandalkan manusia untuk bertahan hidup. Burung-burung laut mencoba peruntungan dari kelengahan para petambak ikan; burung-burung darat mencoba peruntungan dari kelengahan para petani sawah.
Dari jendela kamarnya, Mantingan menjulurkan kepalanya keluar. Jauh di hamparan laut biru-kemarahan di sebelah timur sana, tampak setengah badan matahari yang bagai hendak melepas diri dari cengkeraman samudra. Memerah segalanya.
Benar-benar pagi yang indah!
__ADS_1
Mantingan menyeruput teh hangat yang tinggal setengah di cangkirnya. Dapur asrama ini memang tidak menyediakan minuman semacam teh. Jikapun ada, maka selalulah itu minuman obat-obatan yang soal rasa tidak dapat dinikmati benar-benar. Mantingan bisa mendapatkan secangkir teh sebab dirinya selalu membawa dedaunan teh di dalam bundelannya. Kebiasaan gurunya yang tergila-gila dengan minuman teh sedikit banyak menular kepadanya, sehingga dedaunan teh merupakan perbekalan yang wajib baginya.
Sebentar kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Mantingan telah tahu persis siapa yang datang kali ini, maka berkatalah ia tanpa menoleh, “Pintu tidak dikunci. Masuk saja.”
Terdengar suara berderit ketika pintu terbuka. Lantas disusullah dengan derap langkah kaki yang berjalan mendekat ke arah Mantingan.
“Kamu tidak mencariku?” Suara Chitra Anggini muncul.
“Tidak.” Mantingan menjawab, tetapi pandangan matanya masih tidak terlepas dari matahari yang menanjak dengan lambat, sangat lambat, hingga bagaikan tidak bergerak sekalipun hanya setebal helaian rambut saja. Fajar.
“Jadi, kau tidak mengkhawatirkan kawan seperjalananmu ini?”
“Untuk apakah kiranya aku mengkhawatirkanmu sedang aku tahu bahwa kau senang-senang saja?”
“Maksudmu?”
“Sudah kuduga itu.” Chitra Anggini mendengus pelan. “Dara memendam sifat yang begitu licik. Dia sengaja menjauhkanku darimu dengan memintaku menginap di kamarnya. Dan agaknya, dia menaruh hati padamu.”
“Aku tidak peduli soal cinta atau apalah.” Mantingan menyesap tehnya dan berkata santai. “Satu-satunya yang pantas kupedulikan di sini adalah keselamatan Bapak Balian.”
“Dara menawarkan bantuan kepadamu.” Chitra Anggini mulai berjalan ke arah jendela, hendak melihat pemandangan pula.
“Berupa apa?”
“Dia akan menyampaikannya sendiri kepadamu. Jika kujelaskan sekarang, mungkin kau tidak akan paham,” kata Chitra Anggini dengan sorot matanya yang tidak terlepas dari pemandangan di luar jendela. “Dia akan datang setelah selesai mandi.”
Mantingan mengerutkan kening. Menatap perempuan itu dari belakang. “Kulihat kau sudah mandi, Chitra. Kalian tidak mandi di waktu yang sama?”
__ADS_1
“Tentu saja kami mandi bersamaan,” kata Chitra Anggini setengah menggerutu. “Tetapi kautahu sendiri dia perempuan seperti apa. Untuk mandi saja, ditemani dua pelayannya. Membawa banyak sekali perlengkapan mandi dan baju ganti, meski kuketahui bahwa tidak semuanya akan dia pakai. Apakah dia hendak berlagak seperti putri raja atau apa?
“Tetapi meskipun sikapnya sangat lemah dan manja seperti itu, bagiku dia tetaplah seorang teman yang baik. Kemarin malam, dia menawariku banyak sekali makanan sedap yang sungguh tidak akan kudapatkan darimu. Dia juga tidak keberatan memberikan kitab-kitab ilmu persilatan yang dimilikinya kepadaku, meski aku hanya ingin membacanya barang sekilas saja. Ah, sikapnya yang seperti itu membuatku sulit menentukan untuk suka atau tidak suka kepadanya.”
Menanggapi itu, Mantingan hanya bisa tersenyum canggung. Tiada kurang dan tiada lebih.
“Ini adalah hari terakhir kita di pusat penampungan. Esok pagi, jika kita berdua sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit yang belum dikenali, maka kita bisa meninggalkan penampungan ini.” Nada bicara Chitra Anggini mulai terdengar bersungguh-sungguh. “Apakah kau memiliki perubahan rencana?”
Mantingan menggeleng. “Ada, tetapi tidak terlalu banyak. Setelah kita keluar dari penampungan ini, hal paling pertama yang harus kita lakukan adalah mencari penginapan.”
“Bukan mencari jaringan Puan Kekelaman?”
“Itu adalah hal kedua yang harus kita lakukan,” balas Mantingan, kemudian dirinya menjelaskan, “aku mengandaikan bahwa kita berdua akan langsung berada dalam pengintaian begitu keluar dari penampungan. Meskipun itu hanya pengandaian saja, atau boleh dikata kemungkinan di antara begitu banyaknya kemungkinan, tetapi kita harus tetap berwaspada pada pengandaian itu. Baiklah, mari kita buat kesepakatan saja!”
“Kesepakatan apa?” Chitra Anggini berbalik badan. Kini menatap Mantingan dengan sedikit kernyit di keningnya. Tatapan bersungguh-sungguh.
“Kesepakatannya: kita harus selalu bertindak seolah senantiasa dipantau. Kapan pun dan di mana pun. Bukankah dengan begitu, kita memperkecil kemungkinan terbocornya rencana penyelamatan Bapak Balian?”
Chitra Anggini terdiam beberapa. Tampak berpikir kecil. Lantas menganggukkan kepalanya. “Daku telah sering melakukan hal semacam itu.”
Mantingan tersenyum lebar. Tentu saja Chitra Anggini telah sering melakukan hal semacam itu. Dia adalah pendekar yang bergerak dalam jaringan bawah tanah. Dan betapa pun, setiap pendekar yang ada di jaringan bawah tanah memiliki rasa kewaspadaan yang jauh lebih tinggi ketimbang pendekar atas permukaan. Mereka mengibaratkan bahwa selalu ada yang memantau diri mereka kapan pun dan di mana pun adanya. Tidak pernah terputus barang sekejap mata pun.
Melakukan hal semacam itu jelas saja tidak sedikit mengorbankan rasa kenyamanan. Teramat banyak, malah. Betapakah tidak jikalau taraf kewaspadaan yang dipasang telah mencapai titik tertinggi dengan pikiran yang selalu merasa tidak aman kapan pun dan di manapun?
Akan tetapi, bukankah itu adalah harga yang pantas untuk sebuah tugas penyelamatan yang bukan saja akan menyelamatkan Tapa Balian melainkan pula sungai telaga persilatan dari kekacauan dahsyat yang sangat mungkin menjadi tidak terkendali sebab Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kesenyapan Malam kembali mengharu-biru di tangan pendekar yang salah?
Keheningan di kamar itu terbuncah ketika kembali terdengar suara ketukan di pintu. Ketika Mantingan berbalik badan untuk berkata kepada sang pengetuk pintu agar masuk saja sebab pintu sama sekali tidak dikunci, di sanalah ia menyadari betapa batang besi pengunci telah terpasang di kedua gagang kedua belah pintu tersebut.
__ADS_1
Diliriknya Chitra Anggini; perempuan itu menyeringai lebar.