Sang Musafir

Sang Musafir
Tapa Balian Berkunjung Membawa Perbekalan


__ADS_3

“Apakah kabar dikau selama sepurnama terakhir, Anak?”


TAPA Balian tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk bahu Mantingan; sedangkan Delima dengan lihainya menambatkan kuda pada batang-batang pohon di dekat mulut goa.


“Daku baik-baik saja, Bapak. Bagaimanakah dengan Bapak sendiri?” Mantingan balas tersenyum lebar pula. Sungguh dirinya merasa senang melihat Tapa Balian kembali berdiri di hadapannya. Mengingat segala kebaikan yang telah diberikan pria tua itu kepadanya membuat dada Mantingan terasa hangat.


“Dikau lihatlah sendiri diriku. Semakin sehat dan bugar, bukan?” Tapa Balian terkekeh pelan. “Daku membawa banyak perbekalan untukmu. Kali ini tidak hanya perkara makanan ataupun pakaian, melainkan pula alat-alat untuk berlatih. Ada gelondongan kayu untuk dikau pukul-pukul, ada papan-papan sasaran untuk dikau lempari dengan pisau terbang, ada tongkat serta tombak yang bisa dikau lempar, dan banyak lainnya. Kuharap dikau menyukainya, Anak Mantingan.”


Senyum Mantingan memudar seketika itu pula. “Bapak, itu semua pasti berasal dari Penempaan Balian. Daku tidak bisa menerima semuanya begitu saja, ada harga yang mesti kubayar ....”


“Barang-barang itu tidak lagi berguna untuk diriku maupun untuk Delima, Anak. Daku yang sudah tua dan renta ini tiada lagi memiliki kesempatan untuk berlatih diri. Cukuplah tingkat ilmuku sampai di sini saja.” Tapa Balian menggeleng pelan. “Janganlah dikau menganggap bahwa semua barang yang kuberikan kepadamu ini begitu berharga. Alat-alat itu telah berusia tua dan bekas kupakai, yang sungguh lebih pantas untuk dibuang ketimbang diberikan padamu. Tetapi daku berharap, barang-barang itu bisa memberikan sedikit banyak manfaat untukmu.”


Mantingan terdiam sesaat untuk merangkai kata sedemikian rupa agar mampu menolak pemberian Tapa Balian yang masih pula dianggapnya terlalu berharga itu secara telak. Namun barang sesaat kemudian setelah kalimat-kalimat telah hampir selesai disusun, Mantingan justru mengurungkan niatannya. Betapa pun hal tersebut akan menimbulkan sakit hati yang tidak sedikit pada benak Tapa Balian, karena pemberiannya tidak dihargai sama sekali oleh Mantingan.


Maka tersenyumlah Mantingan dengan selebar-lebarnya serta sehangat-hangatnya pada Tapa Balian, sebelum berkata, “Maafkanlah diriku yang tidak tahu diri ini terus merepotkan Bapak tiada hentinya, tetapi biarlah daku terima segala pemberian Bapak yang betapa pun nilainya tetaplah berharga di mataku. Telahlah pasti ini akan amat sangat banyak membantu diriku melatih diri.”

__ADS_1


Tapa Balian justru tertawa lepas. “Hahahaha! Benarlah kabar burung yang mengatakan bahwa orang Javadvipa telah kelewat sopan dalam bertutur-kata. Aduhai Anak Mantingan, daku yang tidak terbiasa ini langsung tersanjung karenamu, padahal yang kuberikan itu tidaklah seberapa artinya.”


Mantingan dan Tapa Balian kemudian bahu-membahu menurunkan barang-barang dari punggung kuda, bahkan Delima pun turut membantu membawakan barang-barang yang sekiranya cukup ringan untuk dapat dia angkat ke mulut goa.


“Sekiranya perjumpaan kita hari ini dicukupkan saja,” kata Tapa Balian setelah semua barang bawaan selesai diturunkan dari punggung kuda. “Daku memiliki suatu pekerjaan di penempaan yang perlu kuselesaikan cepat-cepat.”


Mantingan terdiam dengan senyum serba salah. Dirinya tidak ingin membiarkan Tapa Balian pergi begitu saja tanpa perjamuan yang betapa pun kecilnya tetaplah merupakan wujud penghormatan dan rasa terima kasih kepadanya. Namun di sisi lain, Mantingan tidak mengetahui di manakah kiranya tempat yang dapat dijadikan sebagai meja perjamuan, sebab memang tidak mungkin jika dirinya mengajak Tapa Balian sekaligus Delima masuk ke dalam Gaung Seribu Tetes Air yang memiliki lorong gelap gulita itu. Sehingga mematunglah ia dengan gelagat yang serba salah. Tidak tahu mesti berkata apa.


“Daku tahu bahwa goa itu bukanlah tempat yang ramah untuk dikunjungi olehku serta oleh cucuku.” Tapa Balian tersenyum hangat sambil menepuk pundak Mantingan. “Tidak perlu dikau sampai merepotkan diri hanya untuk pak tua ini bersama cucu kecilnya. Lanjutkan saja latihanmu.”


***


DUA hari berselang. Begitu cepat rasanya, seolah semuanya hanya berlangsung beberapa kejap mata saja. Begitulah hari-hari yang dirasakan oleh Mantingan jika tanpa petualangan. Hambar dan terkesan datar-datar saja. Namun tepat di hari itu, Gaung Seribu Tetes Air tampak sedikit berbeda ketimbang biasanya.


Alat-alat berlatih yang diberikan oleh Tapa Balian nyatanya lebih banyak ketimbang dengan apa yang diucapkannya. Selain dari gelondongan kayu yang pada saat ini telah terpancang di pinggiran lapang berlatih, dan beberapa papan sasaran yang pada saat ini telah tergantung di dinding batu aula, maka terdapat pula kendi-kendi besar yang dapat diisi air atau pasir untuk melatih otot-otot tubuh, tali-temali untuk latihan berayun, serta palu tempa dan biji logam yang lengkap disertai kitab ilmu menempa.

__ADS_1


Maka dengan itu semua, Gaung Seribu Tetes Air tampak sedikit lebih ramai daripada biasanya, meski keramaian itu sungguh bukan disebabkan oleh keberadaan orang-orang melainkan barang-barang.


Semua pemberian Tapa Balian itu membuat Mantingan semakin bersemangat untuk berlatih. Lebih giat ia melatih diri. Tidur hanya sepeminuman teh saja setiap harinya, sebab hampir segala waktunya dibaktikan pada pelatihan diri.


Begitulah tanpa terasa waktu telah lewat tiga bulan lamannya semenjak Mantingan pertama kali memasuki Gaung Seribu Tetes Air. Sebagian besar kitab-kitab yang ada di tempat itu telah dikuasai olehnya. Kini Mantingan dapat dikatakan cukup mahir dalam mengendalikan Golek Jiwa-nya, dan pula dalam memainkan pedang dengan tangan kirinya. Beberapa ilmu sihir pengendalian angin juga telah dikuasainya. Hanya saja, ia masih belum sedikitpun dapat menguasai Kitab Savrinadeya, tak peduli seberapa dirinya hapal isi kitab itu di luar kepala.


Namun, semua perkembangan itu tidak berarti bahwa Mantingan akan segera menyelesaikan masa pelatihannya. Sesungguhnya, tiga bulan berlatih masih dirasa kurang, sebab memang belum semua kitab peninggalan Perempuan Tak Bernama di Gaung Seribu Tetes Air telah dikuasainya, dan yang telah dikuasainya pun belumlah sampai pada tingkatan mahir. Dengan lain kata, pelatihannya itu masih cukup jauh dari kata selesai.


Berlatih mempelajari ilmu dari lebih 500 kitab banyaknya membuat kepala Mantingan seolah terbuka lebar-lebar. Pikirannya menjelajah ke mana-mana, meski badannya jelas-jelas terkurung di dalam Gaung Seribu Tetes Air. Kesusastraan sungguh dapat membuat seseorang terkurung menjadi tidak merasa terkurung.


Banyaknya kitab yang Mantingan pelajari juga telah membuatnya berhasil menemukan makna-makna baru tentang hakekat kehidupan manusia, yang berujung pada terciptanya suatu ilmu silat oleh Mantingan.


Ilmu silat itu didapatkannya setelah bersamadhi dua pekan lamanya tanpa minum dan makan. Ilmu silat itu kemudian dituangkannya dalam lembar-lembar lontar menjadi kalimat demi kalimat, yang kemudian tersusun menjadi sebuah kitab yang utuh. Ilmu silat itulah yang lalu diberinya nama “Pendirian Manusia”.


__ADS_1


__ADS_2