Sang Musafir

Sang Musafir
Warga Desa yang Menuntut


__ADS_3

“Kita katakan yang sebenar-benarnya,” kata Mantingan pada akhirnya. “Mereka yang bijak pastinya akan memahami bahwa kita sama sekali tidak berkewajiban menolong desa ini, tetapi mereka yang bodoh pastilah tidak memahaminya. Berharap saja bahwa yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah sekumpulan orang pintar, sebab darah dapat kembali tumpah jikalau yang kita hadapi adalah sekumpulan orang bodoh.”


Mantingan kembali menyesap tehnya setelah mengatakan hal itu. Chitra Anggini mengangguk pelan tanda dirinya telah paham.


“Berapa lama lagi kita akan menginap di sini?” Chitra Anggini kembali mengajukan pertanyaan setelah meletakkan nampan berisi umbi-umbian itu di atas meja kamar. “Kamu tahu bahwa kita harus segera tiba di Koying, bukan?”


Mantingan mengangguk kecil sambil memberi tatapan hangat pada perempuan itu. “Dua-tiga hari lagi. Chitra, mari kita berbicara panjang lebar sepanjang hari. Kemarin, kita masih belum merundingkan sesuatu yang benar-benar penting.”


Ditatap dengan penuh kehangatan secara tiba-tiba seperti itu, Chitra Anggini lekas mengalihkan wajahnya yang kebas.


***


MATAHARI sempurna tenggelam. Sore berganti malam. Remang berganti gelap. Rombongan burung berganti rombongan kalong. Dan di saat itulah pula Mantingan mengakhiri perundingannya yang telah berlangsung sejak pagi tadi bersama Chitra Anggini.


Mereka sudah membahas banyak hal. Segala sesuatu yang menyangkut tentang Kotaraja Koying. Berbeda dengan perundingan kemarin, hari ini pembahasan mereka jauh lebih merinci lagi. Membuat kepala terasa panas setiap kali mengingatnya.


Chitra Anggini merebahkan diri di atas ranjang. Meluruskan punggungnya sambil menguap panjang. “Ah! Berbicara sepanjang hari denganmu membuatku terkurung di kamar ini! Suntuk seharian.”


Mantingan yang telah berdiri di belakang jendela hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak menjawab. Perempuan itu pastinya mengerti bahwa sekalipun mereka tidak berunding sepanjang hari, mereka tetap tidak bisa pergi ke mana-mana.


“Percuma pula segala latihanku saat ini. Sungguh tidak dibutuhkan. Padahal kemarin hari, aku bisa membantai penyusup-penyusup itu semudah menggerakkan tangan. Tetapi kamu menahanku.”


“Jika kau memang gatal ingin bertarung, maka bertandinglah denganku setelah kita meninggalkan desa ini.”


Chitra Anggini bangkit dari ranjangnya. Wajahnya tampak sangat tidak percaya.


“Mantingan, kamu ... kamu sungguhan menantangku bertarung?” Chitra Anggini terbata-bata. “A-aku tidak bisa menolak tantangan bertarung, tetapi aku juga amat sangat tidak tega membunuhmu. Mungkin di pertarungan kita nanti, aku hanya akan memberimu sedikit banyak pelajaran, tidak akan sampai membunuhmu.”


Mantingan menatap tajam-tajam ke arah Chitra Anggini yang sedang tersenyum lebar itu. Mengibaskan lengannya, sekumpulan angin bergerak teramat sangat cepat, tak terbantahkan, menubruk dahi Chitra Anggini. Rasa sakitnya setimpal dengan sebuah jitakan. Perempuan itu mengaduh kesal sambil menggosok keningnya.


“Bisakah kau tidak kasar pada wanita seperti diriku?!”


“Kau sama sekali tidak tampak seperti wanita, Chitra.”


“Apakah kecantikanku ini kurang jelas bagimu?”


“Sudah sangat jelas, tetapi sikapmu sungguh membuatku ragu.” Mantingan tertawa pelan.

__ADS_1


Chitra Anggini melompat turun dari ranjang. Tampang wajahnya menyiaratkan ketidakterimaan. Melangkah maju hingga tiba tepat di hadapan Mantingan. Hanya berjarak setengah langkah saja. Dia mengangkat wajah. Sempurna menatap Mantingan.


Dengan jarak yang sedekat itu, Mantingan sungguh dapat merasakan dengus napas Chitra Anggini. Mencium aroma tubuh gadis itu. Menatap kejelitaan wajahnya dengan jauh-jauh lebih jelas lagi. Duhai, betapa Mantingan menjadi sedikit terlena.


“Apakah aku wanita atau lelaki? Cepat katakan!” Chitra Anggini membentak. Semakin mendekatkan diri dengan Mantingan. Kini tidak menyisakan jarak barang sejengkal pun.


Mantingan tetap tenang. Menatap mata Chitra Anggini dengan syahdu. Dan entah atas dorongan apa gerangan, tangannya bergerak mengusap kening Chitra Anggini, membuat perempuan itu sempurna membeku.


“Terima kasih, Chitra.”


Chitra Anggini masih tetap terdiam. Namun, pandangan matanya bertanya-tanya. Terima kasih untuk apa?


“Aku tidak pernah memiliki saudara sebelumnya. Aku adalah anak semata wayang di dalam keluargaku, dan itu tidaklah terlalu menyenangkan.” Mantingan berkata lembut. “Tetapi kau membuatku merasakannya, Chitra. Kau membuatku merasa menjadi seorang kakak yang memiliki adik.”


Mata Chitra Anggini berkaca-kaca. Tetap terdiam. Bahkan pandangan matanya pun tidak menyiaratkan apa-apa. Dan sungguh, tidak akan ada yang tahu untuk perkara apa air mata itu dikeluarkan, hingga tiba saatnya nanti.


Chitra Anggini mendorong tubuh Mantingan sebelum melangkah mundur.


“Asalkan kau menganggapku sebagai adik perempuan.”


Perempuan itu kembali menatap Mantingan tajam-tajam.


***


SATU lagi malam terlewati. Berganti pagi. Namun kali ini teramat mendung. Gumpalan mega-mega hitam membungkus langit, menutupi kehangatan sinar matahari.


Di Desa Sawahan, ketegangan masih berlangsung dengan amat sangat kentara, jauh lebih parah dari kemarin. Kumpulan warga berkumpul di halaman penginapan tempat Mantingan dan Chitra Anggini menyewa kamar. Mereka semua membawa senjata berupa parang, arit, bahkan hingga kelewang panjang. Semuanya menuntut agar Mantingan dan Chitra Anggini segera menyerahkan diri.


Sedangkan itu di dalam penginapan, Mantingan sedang terlibat percakapan sungguh-sungguh dengan petua desa. Duduk berhadap-hadapan di meja kedai penginapan. Kedua pria berbeda usia itu tampak tenang sekali, kentara dengan keadaan di luar penginapan sana.


Sedangkan Chitra Anggini berdiri tak jauh dari mereka. Bersedekap dan mendengarkan.


“Apakah Anak berdus tidak keberatan jika kami bawa ke balai rapat desa?”


Mantingan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Sama sekali tidak keberatan, Bapak Petua, selama itu tidak memakan waktu hingga lebih dari satu hari.”


Sang petua desa mendesah pelan. “Masalahnya bukanlah waktu, Anak. Justru semuanya dapat berlangsung dalam sekejap mata sahaja. Anak lihatlah orang-orang desa yang bawa parang dan celurit, mereka dapat membahayakan nyawa Anak berdua kapan saja.”

__ADS_1


“Itu juga bukan masalah, Bapak Petua.” Mantingan mengibaskan lengannya. “Kami yakin dapat meyakinkan mereka.”


Mantingan sama sekali tidak mengkhawatirkan warga desa itu. Apalah artinya celurit dan parang dari warga desa yang tiada mengerti persilatan, jikalau dirinya di sini telah ditetapkan sebagai calon Pemangku Langit, pendekar yang dianggap terkuat di dunia persilatan? Mantingan tidak ingin bersombong, tetapi kebenaran itu cukup membuatnya tenang. Lebih-lebih lagi, Chitra Anggini seorang diri pun akan lebih dari cukup untuk menangani mereka semua.


Jadi, apatah yang perlu dirisaukan?


Mantingan melirik Chitra Anggini yang masih berdiri tak jauh darinya. Perempuan muda itu menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, jika kalian memang sudah benar-benar yakin,” ujar petua desa itu sambil tersenyum tulus. “Kami akan menghormati sikap kalian ini.”


Bersama sang petua desa, Mantingan dan Chitra Anggini keluar penginapan. Segera saja disambut tatapan tajam dan penuh amarah dari ratusan pasang mata warga desa. Namun melihat wajah sang petua desa yang cerah, dan pula Mantingan serta Chitra Anggini tidak tampak menunjukkan penolakan, tidak satupun dari warga desa bertindak buruk, bahkan memaki pun tidak. Mereka juga takjub ketika melihat kedua pendekar itu tidak terlihat membawa senjata semacam apa pun.


Suasana di Desa Sawahan boleh dikatakan sangat indah. Perbukitan dan pesawahan tampak serasi. Gemericik air dari sungai kecil yang terletak tak jauh dari tempat mereka berjalan masih dapat terdengar. Udara basah, segar bukan main. Semuanya akan menjadi sempurna jikalau tidak ada kejadian pembantaian dua malam lalu, itu mengubah segalanya.


“Desa Pesawahan ini teramat tentram, damai, dan makmur, wahai Anak Pendekar.” Sambil berjalan, sang petua desa berkata pelan. Mantingan yang berjalan tepat di sebelahnya itu memasang telinga, mendengarkan. “Kami selalu berbaik hati pada desa-desa lain. Jika ada kelebihan panen, pasti selalu kami bagikan. Dan kepada kerajaan pun sama, kami tidak pernah telat atau kurang mengirim upeti.”


Arah pembicaraan petua desa itu sangat jelas, meski tidak terkatakan secara langsung. Desa ini tidak pernah bersinggungan dengan siapa pun, bahkan boleh dikata telah berbuat kebaikan kepada siapa pun, lantas mengapakah harus terjadi pembantaian dua malam lalu? Siapa yang menjadi musuh dari desa yang seharusnya tidak memiliki musuh ini?


Mendengar itu, Mantingan hanya bisa mengembuskan napas panjang tanpa menanggapi.


___


catatan:


Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.


Favorit 1370\= 2 episode [terpenuhi]


Favorit 1400\= 5 episode [+3 eps]


Vote 950\= 2 episode [terpenuhi]


Vote 1000\= 5 episode


Performa data Sang Musafir kembali turun Minggu ini. Menurut para Pembaca yang Budiman, kiranya apakah penyebabnya? Barangkali bisa saya perbaiki.


__ADS_1


__ADS_2