Sang Musafir

Sang Musafir
Sumpah Chitra Anggini


__ADS_3

MANTINGAN dan Chitra Anggini menempati bangku yang terletak di ujung bangsal. Bukan perkara hendak memantau tanpa terpantau, tetapi memang tidak banyak bangku yang tersisa untuk mereka. Petugas perhelatan masih bekerja menyiapkan bangku-bangku cadangan. Tamu yang datang pada pergelaran ini benar-benar di luar perkiraan.


Di hadapan kedua muda-mudi itu, terdapat meja yang terbentang panjang hingga menyentuh kedua sisi bangsal. Beragam macam makanan mengisi meja tersebut. Bebuahan, jawawut, daging, hingga bahkan tuak. Nyaris lengkap.


Namun, tiada satupun dari keduanya hendak menyentuh makanan maupun minuman tersebut. Bukan pula perkara terlalu berwaspada, takut hidangan-hidangan itu telah dibubuhi racun, tetapi memang tidak berselera. Tentulah percakapan pagi tadi, di mana Chitra Anggini mengakui perasaannya meski tak secara langsung, tiada akan pernah dengan begitu mudahnya dilupakan.


Kini, ketika keduanya mesti duduk bersebelahan dan menampilkan diri sebagai sepasang kekasih, maka tak terbayangkan lagi betapa canggungnya mereka berdua.


Mantingan lebih memilih untuk mendengarkan segala sesuatu yang sedang terjadi di sekitarnya, sekaligus acara utama yang berlangsung di atas panggung.


Acara itulah yang sebenarnya menjadi puncak dari Perhelatan Cinta setelah berjalan lima hari lamanya. Di atas panggung, para pasangan pendekar yang telah mendapatkan giliran akan menentukan dua pilihan besar: menetap dan mengabdi pada istana; atau melanjutkan pengembaraan mereka di dunia persilatan tanpa keterikatan apa pun dengan Kedatuan Koying.


Bagi pasangan pendekar yang memilih untuk mengabdi pada istana, mereka akan dianugerahi sepasang pedang berlambang Kedatuan Koying sebagai citra atau penanda bahwa mereka telah resmi menjadi abdi dalem istana. Berikut pula dengan segala surat-menyurat yang harus mereka urus sesegera dan secepat mungkin, menghindari kemungkinan jika seandainya pikiran mereka berubah.


Sedangkan bagi pasangan pendekar yang memilih untuk keluar, mereka akan diberikan lencana penghargaan serta beberapa senjata kecil tempaan pandai besi terbaik seantero Koying, membuat Mantingan tidak bisa untuk tidak menduga bahwa senjata-senjata itu adalah buatan Tapa Balian.


Seluruh pasangan pendekar yang hadir di Halaman Seribu Rumah Istana telah menentukan pilihan mereka masing-masing sedari awal. Hati mereka telah tetap adanya. Namun bahkan, Mantingan dan Chitra Anggini tidak menentukan pilihan apa pun. Memang sebelumnya tiada sedikitpun pembicaraan menyangkut dua pilihan besar ini, sebab tanpa bersepakat pun keduanya mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak perlu memilih.


Huru-hara yang disebutkan oleh Puan Kekelaman itu akan terjadi sebelum mereka sempat dipanggil ke atas panggung untuk menentukan pilihan. Itu pasti!

__ADS_1


Demi mengingat hal tersebut, seisi dada Mantingan kembali bergemuruh. Bagaikan ada yang sengaja memanggil badai ke dalam rengkuhan tulang rusuk pemuda itu.


Seberapa pun kuatnya seorang Mantingan, ia akan tetap gelisah menghadapi keadaan yang seperti sekarang ini. Adalah rasa yang sama dengan ketika kapal perang Tarumanagara membawanya belayar untuk menghadapi para pengacau di laut utara Javadvipa, yang barang tentu akan menjadi kemenangan paling bersejarah di masa kepemimpinan Sri Punawarman.


Mantingan kembali menghadapi keadaan seperti itu, pula dengan segala perasaan gelisah serta harap-harap cemas yang sama, seolah dewa maut jahil berbisik kepadanya bahwa kematian telah ditetapkan barang sekejap lagi.


Suasana di sekitar tentulah masih ramai, tetapi dengan segala perenungan itu, Mantingan justru merasakan keheningan yang bagai tiada lagi yang dapat lebih hening ketimbang itu. Beruntunglah tak seberapa lama kemudian Chitra Anggini memecah keheningan tersebut dengan mengatakan sesuatu yang tidak diduga-duga sama sekali.


 “Tidak perlu mencemaskan apa pun,” kata perempuan itu. “Segala sesuatunya kita hadapi bersama-sama. Manis sama dinikmati; pahit sama ditelan. Aku bersumpah untuk sehidup-semati denganmu.”


Mantingan menatap mata Chitra Anggini tanpa sungkan-sungkan, dengan lamat-lamat, dan pula tajam-tajam. Betapa dirinya sama sekali tidak menyangka perempuan itu akan mengeluarkan sumpah yang sedemikian beratnya; sumpah yang semestinya tidak terucap sama sekali seumur hidup. Sumpah sehidup-semati!


Betapa pun adanya, dan betapa pun jadinya, Mantingan sama sekali tidak dapat menerima sumpah tersebut.


“Chitra—”


 “Cukup, diamlah.” Chitra Anggini memotong ucapan itu, yang bahkan belum sampai menjadi sepatah kalimat. “Bila sumpah itu telah kuucapkan dengan kesadaran penuh pula dengan pertimbangan matang, maka tidak ada alasan apa pun bagiku untuk menariknya kembali.”


Mantingan terdiam. Bila ada seseorang yang melihat wajahnya, maka sungguhlah mereka dapat merasakan betapa besar rasa sesal di dalamnya.

__ADS_1


Bukankah itu berarti, Chitra Anggini akan menamatkan hayatnya sendiri ketika Mantingan mati? Betapa besar pengorbanannya, yang kini bahkan sudah terlalu besar.


Sebagai seorang Pemangku Langit, terlebih-lebih dengan tugas besar memburu Kembangmas, Mantingan memiliki begitu banyak kemungkinan untuk mati. Bukan menjadi perkara jika kematiannya dapat berguna bagi orang banyak, tetapi bagaimanakah ia dapat tenang bila Chitra Anggini juga akan mati begitu dirinya mati?


 Belum kering air matanya oleh pengorbanan Dara, kini ia harus menanggung lagi pengorbanan Chitra Anggini.


 Dengan getir, pula bergemetar, Mantingan bertanya, “Bagaimanakah kiranya aku dapat membayar ini semua?”


 Chitra Anggini menatap pemuda itu, tetapi hanya sesaat, sebelum menggeleng pelan, bagai sumpah itu memang tidak dapat ditebus dengan apa pun.


___


catatan:


Saya memohon maaf akibat tidak update selama beberapa Minggu terakhir. Jujur saja, saya sedang membuat naskah berbahasa Inggris untuk pembaca setingkat global, dengan gaya bahasa yang sama sekali berbeda dari Sang Musafir. Sehingga ketika menulis ini, saya merasa seperti kembali ke rumah, di mana gaya bahasa sejati saya dapat dimainkan, tetapi betapa juga tiadalah dapat saya bersikap begitu. Di mana ada tanah subur, di sanalah saya tanami benih dan sirami air dengan rutin. Saya harap, kalian dapat mengerti.


Sebagai catatan akhir, saya sudah membuang berlembar-lembar tulisan tangan dari ending Sang Musafir yang dirasa kurang pas. Jadi, sebenarnya saya tak pernah meninggalkan naskah ini sepenuhnya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2