Sang Musafir

Sang Musafir
Dunia Persilatan


__ADS_3

Mantingan mengikuti pria tua itu ke ruangan dalam. Di sana terdapat beberapa ruangan lain, sedangkan ruangan tempat Mantingan berada saat ini adalah ruangan tengah sekaligus ruangan dapur.


Mantingan dibawa menuju salah satu ruangan itu, di dalamnya terdapat tikar lebar yang mengisi hampir setengah ruangan. Terdapat pula beberapa bantal di sana, juga teko-teko di sudut ruangan. Seperti inikah yang dimaksud tempat tidur nyaman untuk pengembara?


“Karena engkau adalah pengembara, pastinya telah terbiasa tidur di atas kerasnya tanah. Nah, aku tidak ingin menghilangkan kebiasaan itu dari para pengembara.”


Mantingan mengangguk pelan, ini bukan masalah besar. “Berapa banyak yang perlu daku bayar, Paman Kedai?”


“Soal bayaran bisa kita bicarakan esok hari saja, sekarang ini silakan engkau pergi tidur.”


“Baiklah. Terima kasih banyak, Paman Kedai.”


Paman Kedai tersenyum lalu meninggalkan Mantingan sendirian. Saat Mantingan menoleh ke belakang, tidak dilihat keberadaan Paman Kedai. Mantingan menghela napas panjang, kali ini dirinya bersinggungan lagi dengan pendekar tingkat tinggi, terlebih pendekar yang satu ini sedikit gila.


Tetapi Mantingan tidak merasa telah berbuat sesuatu yang menyinggung Paman Kedai, sehingga tidak ada alasan untuk takut.


Mantingan masuk ke dalam kamar itu dan merebahkan diri di pojok tikar setelah melepaskan semua beban pada tubuhnya. Ia pandangi sekitar. Di salah satu sisi dinding kamar ini yang menghadap ke luar terdapat tirai bambu rapat yang bergoyang-goyang oleh angin. Kamar ini ternyata bukanlah kamar yang tertutup. Jika saja tirai itu dibuka, maka kamar ini akan lebih mirip teras.


Perlahan Mantingan pejamkan mata.


***


Jelas Mantingan tahu bahwa dirinya saat ini berada di dalam alam mimpi. Tetapi Mantingan tetap tidak mengerti, ia tak bisa keluar dari mimpi ini.


Di kanan-kirinya adalah pasir pantai, dan di depannya adalah hamparan laut biru luas yang seakan tak berujung. Angin berdesir pelan, menerbangkan rambut panjang Mantingan yang entah sejak kapan tergerai tanpa destar.


Lalu dari sisi kirinya terdengar suara langkah kaki yang renyah menginjak pasir. Mantingan menoleh, menemukan sosok wanita yang telah lama dirindukan. Mantingan bersimpuh lutut, memandang sosok itu dengan tatapan tak percaya.


“Mantingan ..,” kata Rara lembut.


“Mengapa kau pergi, Rara?”


“Kalau sudah takdirku yang seperti itu, daku bisa berbuat apa lagi?”


“Mengapa kau datang kembali, Rara?”


“Mantingan, aku hanya ingin menyampaikan pesanku padamu.”

__ADS_1


“Katakan saja, Rara!”


Rara tersenyum lembut. “Aku tak ingin engkau hidup di dalam api dendam, Mantingan. Berhentilah menuntut balas atas apa yang terjadi padaku.”


“Mengapa, Rara?”


“Daku bukanlah siapa-siapa dikau, janganlah terlalu berbuat banyak untukku.”


“Bohong, Rara. Itu bohong!”


“Bohong?”


“Aku mencintaimu, Rara, aku mencintaimu."


“Bukankah engkau tidak pernah mencintai wanita, Mantingan?”


Dengan mata berlinang, Mantingan menatap Rara. Bagaimana Rara bisa mengetahui itu? Kini tahulah Mantingan bahwa Rara yang ada di depannya bukanlah Rara yang sesungguhnya. Mantingan berpikir Rara di depannya saat ini adalah Rara yang ada di dalam pikirannya!


“Kau bohong. Kau bukanlah Rara, kau hanya pikiranku saja. Kau hanya sebagian dari pikiranku, pikiranku yang menolak untuk berbuat jantan! Enyahlah!”


“Mantingan?”


Bayangan Rara di depannya masih tersenyum, tetapi senyum yang ditampilkan adalah senyum kekecewaan.


Kemudian suara Rara kembali terdengar. “Daku tidak mau engkau mati karenaku.”


“Tetapi engkau mati karenaku, Rara.”


“Apa alasannya, Mantingan?”


“Karena aku tak cukup kuat untuk melindungimu.” Mantingan menatap butiran pasir di bawahnya dengan penuh penyesalan. Seandainya ia lebih kuat saat itu, akan dibantai siapa saja yang berani menyentuh Rara-nya!


“Tidak, Mantingan. Memang sudah takdirku untuk mati.”


“Kematianmu tidaklah adil.” Mantingan lalu bangkit, ia tak kuasa melihat ini semua.


Dengan gerakan gesit dan cepat, kaki Mantingan menyasar ke arah kepala Rara. Gadis di depannya itu sama sekali tidak menghindar, maka terkenalah dia oleh tendangan Mantingan. Bayangan Rara pecah menjadi air jernih yang meledak ke mana-mana, begitu juga dengan mimpinya yang perlahan buyar oleh sinar mentari pagi.

__ADS_1


Mantingan pandangi ke sekitar, Paman Kedai terlihat sedang membuka tirai bambu. Di samping Mantingan adalah deretan pepohonan yang luas serta kabut pagi yang masih tebal menyelimuti hutan.


“Jika engkau sudah terbangun, Mantingan, berarti engkau harus mendengar ceritaku,” kata Paman Kedai.


“Baiklah, Paman.” Mantingan bangkit berdiri. “Tetapi aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendengar cerita paman.”


“Tiada mengapa, ceritaku juga tidak terlalu panjang, tapi akan sangat berguna bagimu.” Paman Kedai lalu duduk di depan jendela besar yang tadi tertutup tirai bambu, matanya tenang memandang hutan di luar. “Di belakang ada kendi berisi air, kau cuci mukamu dengan air itu.”


Mantingan pergi dan kembali tak lama setelah itu, dengan wajah basah oleh air segar, lalu ia duduk tak jauh dari Paman Kedai, juga menatap hamparan pepohonan hijau di depannya.


“Mantingan, apakah kau sungguh-sungguh menginginkan kependekaran?”


“Ya,” jawabnya.


“Kalau begitu, daku harus menjelaskan tentang dunia persilatan padamu agar engkau bisa mempertimbangkan ulang keputusanmu nanti.”


“Silakan, Paman, tetapi sulit bagiku untuk mengubah putusan ini.”


Paman Kedai menarik napas panjang dan mulai bercerita, atau lebih tepatnya disebut “menjelaskan” ketimbang “bercerita”. Paman Kedai kali ini tidak bersikap gila atau kekanak-kanakan, sikapnya jauh lebih dewasa ketimbang tadi. Mantingan mendengarkan dengan seksama.


Dalam dunia persilatan, kematian akibat pertarungan dianggap hal yang wajar-wajar saja. Mati akibat luka di dada jauh lebih berharga ketimbang mati karena penyakit atau mati dalam kecelakaan. Pendekar-pendekar yang menghuni dunia persilatan juga selalu mencari kematian, mereka selalu mencari pertarungan untuk membuktikan seberapa tinggi ilmu silatnya.


Pendekar-pendekar yang memutuskan bergabung ke dalam rimba persilatan sudah mengetahui bahwa cepat atau lambat dirinya akan terbunuh oleh pendekar lainnya. Sampai di sini Mantingan bertanya, bagaimana jika pendekar itu sudah tua dan akan mati karena penyakit? Paman Kedai lalu menjawab, bahwa pendekar yang sudah tua akan mencari pendekar-pendekar kuat untuk mengeroyoknya sampai mati.


Paman Kedai menghentikan penjelasannya. “Mantingan, apakah engkau bersedia mati dibunuh pendekar lain?”


“Paman Kedai, aku tidak ingin terlalu serius menyelami dunia persilatan. Daku hanya membutuhkan ilmu persilatan untuk satu urusan tertentu, setelah itu akan daku tinggalkan dunia persilatan dan kembali mengembara seperti orang awam.”


“Tidak semudah itu, Mantingan.” Paman Kedai menggeleng lemah. “Jika engkau berkecimpung di dunia persilatan, walau sedikit saja, akan menuntutmu untuk selalu berkecimpung di dalamnya dan menyelam lebih dalam lagi.”


“Siapa kiranya yang akan menuntutku, Paman Kedai?”


“Yang menuntutmu adalah dirimu sendiri.”


Mantingan mengernyitkan dahi, ia khawatir jika penyakit ayan Paman Kedai kembali kambuh.


“Engkau memang tidak merasakannya sekarang, tetapi akan engkau rasakan di kemudian hari.” Paman Kedai menoleh dan tersenyum hangat. “Apakah engkau akan mengubah pikiranmu?”

__ADS_1


“Tidak, Paman. Daku akan tetap pergi ke Perguruan Angin Putih.”


“Hmm, jika engkau hendak belajar silat di sana, maka tidaklah hal itu sangat diperlukan. Engkau bisa langsung belajar di sini saja, tanpa perlu pergi ke sana.”


__ADS_2