
ORANG-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka menahan napas ketika melihat ujung tombak itu hanya tinggal sejengkal dari perut Munding. Namun sekedip mata kemudian, mulut mereka menganga dengan tatap mata tak percaya.
Tombak itu hancur berkeping-keping setelah menyentuh perut Munding! Tidak hanya itu, tubuh si penjaga pun terempas beberapa langkah ke belakang. Terjatuh, berdebam. Langsung tak sadarkan diri.
Beberapa penjaga lainnya datang dengan berkelebatan. Mantingan mengusap dagunya perlahan, cukup terkejut ketika menyadari bahwa untuk sekadar perpustakaan pun harus dijaga oleh prajurit berkeahlian pendekar. Hal ini sungguh jarang terjadi di Javadvipa yang rerata masyarakatnya masih menganggap dunia persilatan sebagai bagian dari dongeng belaka.
Penjaga-penjaga itu menghunus kelewang ke arah Mantingan, mengepungnya, tetapi tidak seorangpun dari mereka memperlihatkan ancang-ancang menyerang.
Orang-orang lekas menyingkir, tetapi tidak benar-benar meninggalkan tempat itu. Mereka hanya memberi ruang bagi para penjaga perpustakaan itu, lantas menonton dari kejauhan sembari berharap pertarungannya berjalan seru. Begitulah bagi mereka dunia persilatan adalah sesuatu yang benar-benar nyata, sehingga bahkan dapat menikmatinya.
Sejenak penjaga-penjaga itu saling berpandangan. Jelas saja mereka merasa ragu untuk menyerang Mantingan yang tampaknya bukan orang berkeahlian sembarangan. Ditambah lagi dengan kerbau miliknya yang mungkin saja memiliki kekuatan besar pula.
Lagi pula, bukankah Mantingan sama sekali tidak bersalah di sini dan justru menjadi pihak yang diserang tanpa menyerang balik? Penjaga-penjaga itu jelas tahu bahwa jika mereka menyerangnya, maka diri merekalah yang akan terkena masalah.
Maka sedaripada mendapatkan masalah yang tidak benar-benar diperlukan, mereka memilih untuk kembali menyarungkan pedang dan membantu rekannya yang tak sadarkan diri.
Bagaikan tiada terjadi apa pun, Munding terus membawa Mantingan mendekati halaman perpustakaan.
Setelah prajurit yang terkapar tak sadarkan diri itu digotong pergi, orang-orang yang semulanya diam menonton lambat laun bubar dan kembali pada kepentingannya masing-masing dengan sedikit rasa kecewa.
***
LANTAI kelima Perpustakaan Kotaraja adalah tempat khusus untuk menjual kitab-kitab persilatan.
Perpustakaan Kotaraja memang tidak menjual kitab-kitab persilatan secara langsung, tetapi mereka mempersilakan siapa pun yang memenuhi persyaratan untuk berdagang kitab ilmu silat di lantai kelima gedung perpustakaan.
Adapun persyaratan itu tidaklah terlalu mudah, atau bahkan tidak mudah sama sekali. Setiap pendekar yang hendak berdagang harus melewati pertandingan melawan pendekar lain, hanya untuk merebutkan tempat berdagang. Dalam hal pertandingan para pendekar, pembunuhan menjadi sesuatu yang tidak dilarang.
Pertarungan itu akan membuktikan kitab ilmu manakah yang lebih unggul, sebab diri seorang pendekar adalah cerminan dari kitab yang dipelajarinya.
Mantingan berkeliling untuk mencari kitab yang diperlukannya. Memanglah salah satu tujuannya pergi dari Pemukiman Kumuh Kotaraja adalah untuk menemukan sebuah kitab dengan tingkat ilmu tinggi.
Namun setelah beberapa lama berkeliling serta bertanya kesana-kemari, Mantingan masih belum menemukan kitab yang dicarinya. Ia telah ditawari kitab-kitab ilmu tingkat tinggi lain, tetapi saat ini Mantingan enggan mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak benar-benar diperlukannya.
__ADS_1
Ketika dirinya mendekati toko terakhir, semangat dan harapannya hampir habis. Namun, kakinya tetap melangkah cepat ke arah toko tersebut, sebab tidak mungkin dirinya menyerah setelah sejauh ini. Dan jikapun tidak ada di sini, ia akan mencarinya di tempat lain.
Penjaga toko itu adalah seorang pria tua yang telah berjanggut panjang. Sebuah destar melilit kepalanya yang botak dimakan usia. Mata buramnya menyipit dengan tatap curiga terhadap Mantingan. Kerutan di wajahnya yang semakin mengerut itu telah betul-betul menegaskan kewaspadaannya.
“Apa yang hendak dikau cari, Anak?” Orang tua itu tanpa ragu-ragu langsung menanyai Mantingan.
“Kitab ilmu yang dapat melesatkan ribuan senjata dalam sekejap mata, Bapak.” Mantingan membalas tanpa basa-basi pula, tetapi masih dengan nada yang sopan. Bukankah orang Suvarnadvipa tidak suka berbasa-basi kecuali jika sedang berbalas-balasan pantun?
“Itu kitab ilmu hitam yang pekat sekali kehitamannya, Anakku.”
Mantingan melebarkan matanya dengan gelora semangat yang menggebrak dadanya. Selama dirinya berkeliling tadi, seluruh pedagang kitab berkata bahwa ilmu semacam itu tidak pernah ada, bahkan tak sedikit yang menganggap Mantingan terlalu mengada-ada.
Namun, orang tua ini berkata seolah dirinya mengenal betul kitab yang ia maksudkan itu!
“Apakah Bapak memiliki kitab itu?” Mantingan kembali bertanya dengan sungguh tidak dapat menyembunyikan ketertarikannya.
“Daku memilikinya atau tidak, itu bukan persoalan. Yang menjadi persoalan adalah dikau, Anak, tidak sepantasnya dikau mempelajari kitab yang kehitamannya teramat pekat!”
“Tidak mungkin.”
“Sangat mungkin, Bapak. Sahaya menuruni darah leluhur.”
“Jika leluhurmu adalah pendekar beraliran hitam, maka sudahlah pasti dikau memiliki sifat yang sama jahatnya! Daku tidak sudi menjual kitab pada pendekar yang berniat membuat kekacauan.”
“Sifat leluhurku tidak pernah dapat menjamin sifatku, Bapak.” Mantingan masih menjelaskannya dengan sabar.
“Lantas dengan tujuan apakah dikau berniat memiliki kitab itu?”
“Untuk menjamin keselamatan diriku sendiri serta orang-orang yang kucintai, Bapak, sekadar itu,” jawab Mantingan, yang tentunya tidak melupakan bahwa malam kemarin dirinya hampir mati sebab tidak berdaya menghadapi ilmu lawan yang begitu membingungkan.
Tujuan Mantingan mendapatkan kitab itu adalah untuk mempelajari hingga menguasainya betul-betul, lantas melakukan pendalaman dengan ilmu membaca pertanda guna menemukan cara menangkal jurus tersebut.
“Sebatas itu? Duhai, betapa dikau bagai bukan orang yang kukenali sama sekali.”
__ADS_1
Mantingan mengerutkan kening. Mengapakah tua itu berkata sedemikian sedangkan Mantingan merasa sama sekali tidak pernah bertemu dengannya?
Ataukah mungkin mereka memang tidak saling bertemu sebelumnya, hanya saja orang tua itu mengenali jati dirinya? Jika benar begitu, maka alangkah gawatnya!
“Tak akan kuberikan kitab itu jika dikau hanya berniat melindungi diri sendiri dan orang-orang yang dikau cintai saja. Bukanlah begitu sikap seorang pahlawan.”
Maka betullah bahwa orang tua itu mampu mengenali jati diri Mantingan!
“Bapak, mohonlah pengertiannya, sahaya memang bukan pahlawan.”
“Yang dapat menyatakan apakah dikau seorang pahlawan atau bukan adalah khayalak luas, tidaklah diri engkau sendiri.”
Mantingan diam di tempatnya. Ia tidak peduli dianggap semacam apakah oleh khayalak luas. Yang dibutuhkannya saat ini adalah kitab tersebut betapa pun adanya!
“Daku memiliki salinannya,” kata orang tua itu pada akhirnya. “Dikau bisa memilikinya satu jika mau.”
“Berapakah harga yang mesti daku bayar, Bapak?”
“Tidak ada. Anggaplah ini sebagai bentuk dukunganku kepada dikau,” ujarnya lantas berbalik badan dan hendak melangkah pergi, tetapi kemudian Mantingan menahannya.
“Mengapakah Bapak melakukan ini?” Mantingan bertanya dengan sungguh-sungguh, sebab betapa pun memberikan sebuah kitab langka sekaligus berbahaya bukanlah perkara yang sama sekali mudah.
“Daku percaya kitab itu akan lebih bermanfaat di tangan dikau.”
“Bagaimanakah kiranya jika daku yang justru tidak mempercayai Bapak.”
Seperti yang telah ia pikirkan sebelumnya, memberi kitab langka sekaligus dapat berbahaya bukanlah perkara teramat mudah. Agaknya akan mustahil bilamana diketahui bahwa orang tua itu tidak bermaksud mengambil keuntungan besar dari tindakannya.
___
catatan:
Episode bulan ini: 12/40
__ADS_1