
BENARLAH dugaan awalnya bahwa Pedang Savrinadeya tidak lebih dan tidak kurang adalah pedang biasa, bukan suatu senjata mustika yang betapa pun dapat memotong ujung rambut menjadi tujuh bagian.
Bahkan sekalipun Pedang Savrinadeya telah dialiri dengan tenaga dalam yang jumlahnya sangat besar, tetapi tetap saja ketajamannya sama sekali tidak bertambah.
Namun, Mantingan tidak pernah memandang pedang bernama Savrinadeya itu dengan sebelah mata. Sebab jikalau Perempuan Tak Bernama bisa mengalahkan Cagak Keenam dan Cagak Kelima sekaligus dengan pedangnya, sudah barang tentu bahwa pedang yang digunakannya itu bukanlah sembarang pedang, yang untuk memotong dendeng saja tidak mampu. Sekalipun Pedang Savrinadeya rupa-rupanya merupakan pedang biasa, maka pasti ada semacam ilmu khusus yang membuat pedang itu dapat membunuh lawan-lawan tangguh seperti apa yang dilakukan oleh Perempuan Tak Bernama. Dan betapa pun itu, gadis itu telah mengisyaratkan kepadanya bahwa ilmu tersebut tersimpan di dalam Gaung Seribu Tetes Air.
Yang sekiranya perlu Mantingan lakukan adalah terus mempelajari Kitab Savrinadeya sekalipun itu tampak sia-sia dan membuang waktu belaka. Dari sekitar 500 kitab yang tersimpan di Gaung Seribu Tetes Air, hanya Kitab Savrinadeya saja yang berisikan ilmu seni berpedang. Kitab-kitab lainnya berisi tentang ilmu sihir atau catatan dari Perempuan Tak Bernama, yang belum semuanya ia baca.
Dan betapa berharganya segala kitab yang ada di Gaung Seribu Tetes Air, sehingga untuk dapat memasuki tempat itu pun membutuhkan keahlian yang bukan sembarang keahlian, sebab lorong kelam yang seolah tiada memiliki ujung itu akan menyesatkan barang siapa pun yang tidak mengikuti nalurinya.
***
BERSELANG dua pekan kemudian, Golek Jiwa yang selama itu Mantingan buat pada akhirnya menjumpai kata usai. Dengan tinggi yang sekitar setengah depa, berbadan gempal, berbentuk seperti arca penjaga yang biasa ditemui pada pintu gerbang yang biasa pula disebut sebagai Dvarapala, dan dipersenjatai gada, Golek Jiwa itu tampak menyeramkan sekaligus menggemaskan. Mantingan sendiri setelah melihat wujud dari Golek Jiwa buatannya itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Golek Jiwa itu telah jauh-jauh hari memiliki nama, bahkan sebelum benar-benar rampung dibuat sekalipun. Mantingan menamainya dengan nama Kana, meski wujud dan tampang wajahnya sama sekali tidak mirip dengan Kana yang sekarang ini telah pasti berada di Champa.
__ADS_1
Mantingan kemudian duduk bersila tepat di belakang Golek Jiwa itu. Sebagai orang yang baru dalam hal pengendalian Golek Jiwa, Mantingan baru bisa mengendalikan Kana dengan duduk bersila. Sedangkan bagi para ahli, bukan hal yang sulit bagi mereka untuk mengendalikan Golek Jiwa sambil berkelebat sekalipun.
Mantingan kemudian mengangka tangannya yang kini telah terisi penuh oleh tenaga dalam. Meski sebenarnyalah Ilmu Sanca Merah menggunakan asap dari cangklong sebagai perantara untuk menyalurkan sihir, tetapi Mantingan sungguh tiada dapat menghisap asap dari pembakaran tembakau di dalam cangklong itu. Tentu sebelum menyatakan tidak bisa, Mantingan telah mencobanya sebanyak beberapa kali, yang selalu saja berakhir pada tenggorokannya yang tersedak-sedak. Lagi pula, bukankah menghisap cangklong telah terbukti dapat menciptakan penyakit mematikan?
Maka Mantingan mengubah ilmu tersebut sedemikian rupa sehingga asap cangklong dapat diganti dengan Benang Jiwa, yakni dengan semacam benang tipis yang terbuat dari tenaga dalam yang menghubungkan jari-jari tangannya dengan Golek Jiwa sehingga dapat dikendalikan sebagaimana mestinya. Tentu dibutuhkan waktu bersamadhi yang lama serta kemampuan membaca tanda yang tinggi untuk dapat mengubah suatu ilmu silat.
Sebanyak lima Benang Jiwa melesak dari jari-jemari lengan kiri Mantingan menuju Golek Jiwa di hadapannya. Lalu dengan pemusatan pikiran yang luar biasa, Mantingan berusaha menggerakkan golek itu. Selangkah-dua langkah Golek Jiwa itu mulai melangkah maju diiringi dengan suara kertak kayu kecil. Meski gerakannya masihlah kaku dan sekiranya tidak dapat digunakan sebagai alat untuk menyerang maupun bertahan, tetapi apa yang telah berhasil Mantingan lakukan itu merupakan awal yang sangat baik.
Dalam mengendalikan Golek Jiwa untuk melakukan gerakan sederhana, seseorang membutuhkan waktu setidaknya satu tahun. Namun, Mantingan berhasil melakukannya hanya dalam kurun waktu dua pekan saja, itu pula diselingi dengan kegiatan mempelajari ilmu silat lain dan pula ditambah dengan pekerjaan memahat Golek Jiwa yang menyita banyak waktu. Jelas saja bahwa Mantingan telah menciptakan terobosan besar dalam hal sihir, sebab memang belum pernah ada yang bisa melakukan hal sedemikian dengannya.
Mantingan kemudian menggerak jari-jemarinya secara bersamaan meski berbeda-beda arah, yang secara hampir bersamaan membuat Golek Jiwa di depannya mengayunkan gada ke depan. Pemuda itu kemudian tersenyum canggung sebab menyadari bahwa serangan seperti itu tidak akan pernah bisa melukai siapa pun.
Mantingan kemudian berlatih mengendalikan Golek Jiwa sepanjang hari, sebab penguasaan Golek Jiwa terletak pada banyaknya latihan ketimbang banyaknya ilmu. Mantingan membuat banyak gerakan, seperti melompat atau berguling, meski semuanya masih dengan gerakan yang kaku.
Keesokan harinya, barulah Mantingan keluar dari Gaung Seribu Tetes Air sebab seharusnyalah Tapa Balian datang dalam waktu dekat. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Tapa Balian akan datang sebulan satu kali untuk mengantar perbekalan kepada Mantingan. Namun, Mantingan tidaklah mengetahui apakah perhitungan harinya telah benar atau salah, maka dari itu setiap harinya dalam lima hari terakhir ia selalu keluar dari Gaung Seribu Tetes Air, sebagai antisipasi jika perhitungannya ternyata salah.
__ADS_1
Meski Tapa Balian telah mengatakan bahwa dirinya akan berkemah barang satu atau dua malam jika Mantingan belum keluar dari goanya, tetap saja Mantingan tidak ingin merepotkan kakek tua yang telah renta itu. Lebih baik dirinya bolak-balik menyusuri lorong kelam yang kekelamannya bagai tiada tanding itu, ketimbang membiarkan Tapa Balian berkemah satu-dua malam di luar goa.
Dan sudah barang tentu, Mantingan mengajak pula Si Putih sebagai kawannya. Biarpun hewan itu sama sekali tidak dapat diajak berbicara, Mantingan tetap merasakan sedikit kenyamanan dan keamanan bersama Si Putih. Betapa di dalam goa yang sangat sunyi itu, Mantingan tidak menemukan seorangpun untuk dapat dijadikan teman, sehingga burung merpati pun perlahan menjelma menjadi temannya.
Setelah keluar dari mulut goa, angin segar dan sinar hangat mentari menyambutnya. Sesuatu yang sama sekali tidak Mantingan rasakan. Namun, kali ini tidak hanya matahari dan angin saja yang menyambutnya, melainkan pula Tapa Balian beserta cucunya yang bernama Delima!
“Wahai, Anak Mantingan!” Begitulah Tapa Balian melambaikan tangan sambil menuntun kuda-kudanya yang mengangkut perbekalan menuju mulut goa. Terlihat jelas bahwa mereka baru saja tiba.
“Wahai, Bapak Balian!” Mantingan balas menyahut sebelum melangkah cepat mendekati mereka dengan senyum hangat.
___
catatan:
Terima kasih atas segala sarannya. Nantikan karya baru saya selanjutnya.
__ADS_1