
Suara Rara tidak terdengar lagi.
"Rara jawablah. Jangan membuatku takut." Mantingan menghentikan kegiatannya. "Rara jawablah jika kau masih ada di sana."
Sungguh di dalam kepalanya itu sunyi tanpa suara Rara lagi. Mantingan semakin cemas.
"Rara tolong jawab, jangan membuatku cemas seperti ini."
Lama tak ada jawaban, Mantingan mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia hampir hampir berteriak karena menyesali apa yang telah ia ucapkan hingga Rara kembali pergi. Memangnya apakah yang ia ucapkan itu begitu menyakitkan?
Sungguh sangat terpukul perasaan Mantingan. Kebahagiaannya direngut begitu saja.
Jika ini hanya berujung pada kesedihan, untuk apakah kebahagiaan datang lebih dahulu?
Mantingan pada akhirnya berteriak keras. Sangat keras hingga suaranya bisa didengar belasan tombak dari kediamannya. Jarang sekali ia berteriak seperti ini. Mantingan tidak akan berteriak sekeras itu jika bukan karena Rara.
"Hei! Kau berisik sekali kalau berteriak! Macam wanita saja."
Suara yang ditunggu-tunggu datang pula. Bagaikan diguyur air segar, senyum Mantingan terkembang.
Namun sesaat kemudian, tampang Mantingan berubah menjadi sangat kesal.
"Kau berniat menakut-nakutiku?"
Rara tertawa. "Aku lihat kau mengerjai prajurit-prajurit yang bertugas mengawasimu beberapa hari yang lalu. Aku hanya membalas berbuatanmu yang sangat kejam itu."
Mantingan tidak bisa berkata-kata saat pintu tiba-tiba diketuk-ketuk keras.
"Saudara Man baik-baik saja? Mengapa berteriak? Apakah ada hantu yang menakut-nakuti Saudara Man?"
Mantingan tersenyum canggung lalu menjawab, "Tidak perlu khawatir, bukan masalah besar, jari kakiku hanya membentur lantai saja."
__ADS_1
Masih dengan suara cemas prajurit itu berkata, "Saudara Man, itu pasti sangat menyakitkan. Sepertinya aku masih memiliki obat untuk menghilangkan rasa nyeri seperti itu, obat ini diberikan oleh nenekku, pastilah manjur. Apakah Saudara ingin mencobanya?"
Mantingan buru-buru berkata, "Tidak perlu, rasa sakitnya sudah hampir menghilang."
"Nenekku berkata bahwa sakit seperti itu bisa muncul sewaktu-waktu, Saudara pasti tidak ingin rasa sakitnya muncul saat perang sedang berlangsung."
"Aku benar-benar tidak berada dalam masalah, sekarang bahkan membutuhkan sedikit ketenangan untuk kembali menulis lontar."
Tentu saja prajurit itu mengerti apa yang Mantingan maksud. "Baiklah Saudara Man, kau memang pendekar yang kuat sehingga lantai tidak akan bisa mengalahkanmu begitu saja. Jika kau ada perlu jangan sungkan untuk memanggil kami."
"Ya, terima kasih."
Suara langkah si prajurit terdengar menjauh. Mantingan menghela napas lega.
"Rara, kau hampir membuat diriku berada dalam masalah."
“Itu akibat kesalahanmu sendiri, sekarang cepat lanjutkan pekerjaanmu.”
***
Yang pertama, bahwa Rara yang ada di kepalanya bukan Rara sejati. Rara yang asli telah mati, dan memang begitu. Sedangkan Rara yang ada di dalam jiwanya hanyalah tiruan. Tanpa sadar pikiran Mantingan menciptakan tiruan Rara untuk mengobati rasa rindunya. Artinya, jiwa Rara adalah jiwa Mantingan. Apa yang Rara katakan adalah yang Mantingan katakan.
Kedua, Mantingan tanpa sadar juga sangat mengenal Rara hingga ia dapat membuat tiruannya sendiri. Bahkan Rara yang ada di dalam pikirannya hampir sekali menyerupai Rara sejati.
Ketiga, bahwa Mantingan tidak harus bingung ke manakah ia haturkan rasa sayangnya. Ia tidak akan kesepian sekalipun di hutan yang sunyi dan menyeramkan, Rara selalu ada di dekatnya. Di dalam pikirannya. Entah itu bisa berjalan bersamanya atau bahkan terbang di dekatnya. Semuanya bisa saja terjadi selama Mantingan memiliki kemampuan membayang-bayangkan.
Tetapi untuk sekarang ini, Mantingan hanya bisa mendengar suara Rara saja. Ia tidak yakin apakah kedepannya bisa melihat tubuh Rara juga atau tidak.
“Aku tahu apa yang sedang kaupikirkan, Mantingan.” Kembali suara Rara terdengar lembut. “Aku harap kau jangan berharap akan kehadiran diriku untuk selamanya. Sebab ada atau tidaknya aku tergantung situasi pikiranmu. Aku ada di dalam kepalamu sekarang karena situasi pikiranmu saat ini sedang memungkinkan.”
Mantingan mengernyitkan dahi. “Situasi pikiran seperti apakah yang memungkinkan dirimu selalu ada bersamaku, Rara?” Cemas Mantingan berkata seperti itu.
__ADS_1
“Itu sendiri aku tidak tahu, dan aku yakin kau juga tidak tahu.” Rara tertawa kecil. “Maka dari itu, jangan sia-siakan keberadaanku selagi masih ada.”
“Tidak boleh seperti itu, bolehkah kau bertahan selamanya denganku?” Lagi-lagi dengan cemas Mantingan berkata.
“Bukankah kau sudah berdamai atas kepergianku, Mantingan? Jikapun aku tidak ada, kau seharusnya tidak mengapa. Kenapa sekarang kau jadi seperti ini?”
Mantingan terdiam cukup lama. Ada rasa sakit yang mengiris di dalam benaknya. “Jika seandainya engkau akan kembali menghilang, untuk apa kau datang?”
“Ini adalah cobaan yang kau harus hadapi, Mantingan ....” Suara itu terdengar memudar sebelum benar-benar menghilang.
Mantingan menghela napas panjang. Bukankah benar yang dikatakan Rara, bahwa seorang Mantingan sudah berhasil berdamai dengan kematian Rara yang tidak adil? Lalu mengapakah dirinya begitu mengharapkan Rara kembali bersamanya, bahkan untuk selama-lamanya?
Kembali Mantingan teringat apa yang harus ia lakukan, ia harus bergembira. Mensyukuri apa yang telah pergi dan apa yang datang. Jika Rara datang, ia harus tersenyum. Jika Rara pergi kembali, tidak peduli berapa kali dan sebesar apa rasa sakit yang ditinggalkannya, Mantingan harus tersenyum.
Maka saat itu juga Mantingan mengangkat senyumnya, sedemikian ia berkata, “Selamat tinggal, Rara, aku pasti akan merindukanmu.”
***
Satu pekan lewat begitu saja. Satu pekan yang penuh suka-duka. Satu pekan yang penuh dengan pembuatan Lontar Sihir. Satu pekan yang penuh dengan pelatihan menyakitkan.
Mantingan berhasil menghasilkan 50.000 Lontar Sihir siap pakai. Tentu saja bukan perkara mudah membuat Lontar Sihir sebanyak itu dalam waktu satu pekan saja, tetapi Mantingan menemukan sebuah terobosan yang memungkinkan dirinya menghasilkan lebih banyak lontar dalam waktu singkat.
Semakin hari, kualitas Lontar Sihir buatan Mantingan semakin baik. Beberapa pelancong yang berkunjung ke dalam kota menawar semua Lontar Sihir buatan Mantingan dengan harga tinggi, ia berkata bahwa Lontar Sihir buatan Mantingan memiliki kualitas jauh lebih tinggi ketimbang lainnya.
Tetapi Mantingan tidak menjual satupun Lontar Sihir untuk saat ini. Jika ada yang ingin mendapatkan Lontar Sihir buatan Mantingan, maka ia harus ikut membantu peperangan. Tentu saja tidak ada pelancong yang cukup berani mempertaruhkan nyawanya demi lontar-lontar itu. Namun, Mantingan tetap memberikannya beberapa Lontar Sihir sebagai oleh-oleh.
Pelancong itu keluar kota. Kepergiannya itu membawa kabar bahwa di sebuah kota terdapat pembuat Lontar Sihir yang akan memberikan 1.000 lontarnya secara cuma-cuma dengan persyaratan ikut bantu perang. Pelancong itu juga menunjukkan Lontar Sihir yang dibuat Mantingan.
Berita yang dibawa pelancong itu dengan cepat menyebar dari kedai ke kedai. Akibatnya, beberapa pendekar ahli tingkat tinggi mendatangi kota Mantingan dan berjanji akan membantu perang jika diberikan 1.000 Lontar Sihir.
Sehingga dalam setiap harinya, kediaman Mantingan selalu kedatangan dua-tiga pendekar yang berniat membantu. Mantingan memberikan mereka yang datang masing-masing 1.000 Lontar Sihir tanpa perlu khawatir pendekar-pendekar itu akan mengingkari janjinya, karena seharusnya seorang pendekar tidak mengingkari janjinya.
__ADS_1