Sang Musafir

Sang Musafir
Biarlah Mantingan Menjadi Lemah Kali Ini


__ADS_3

MANTINGAN menengok. Munding pun menengok. Keduanya menatap bingung, heran, kaget pada Chitra Anggini yang kepalanya tersembul di di antara tirai tenda itu.


Apakah yang sebenarnya dipikirkan oleh perempuan itu? Meminta Mantingan masuk ke dalam tendanya? Bukankah dulu dia jelas menolak Mantingan bahkan sebelum pemuda itu memintanya? Ataukah ... hujan membuat udara menjadi terlampau dingin, sehingga dia menginginkan hal itu?


Seperti mengetahui jalan pikir Mantingan, raut wajah Chitra Anggini langsung gusar. “Tidak perlu berpikir macam-macam, aku tidak menginginkan apa pun darimu. Kita hanya perlu berlatih, untuk kebaikanmu dan Tapa Balian pula.”


“Latihan apa?”


“Masuklah terlebih dahulu ke sini! Suara hujan terlalu berisik, aku tidak mau buang-buang tenaga dalam untuk berbicara denganmu!” Chitra Anggini enggan bercakap lebih banyak lagi, segera menarik kepalanya dari tirai tendanya.


Mantingan melirik Munding di sebelahnya. Meminta pendapat. Kerbau itu hanya menggerakkan moncong kepalanya, menunjuk tenda Chitra Anggini.


Sekali lagi Mantingan menatap kerbau itu. Bertanya dalam pandang, tidak apa jika kutinggalkan dirimu di sini sendirian?


Munding balas mengangguk. Kerbau itu tergolong sangat cerdas, mampu mengenal dan bahkan meniru gerakan isyarat yang biasanya dipakai manusia. Mengangguk berarti setuju.


Mantingan bangkit berdiri sambil mengalirkan tenaga dalam ke seluruh badan serta bajunya.


Ia bersama pakaiannya telah basah kuyup. Hujan terlampau deras, dan angin kelewat kencang. Namun setelah mengalirkan tenaga dalam, badan dan pakaiannya menjadi kering kembali. Air menguap seketika.


Mantingan membuka tirai tenda Chitra Anggini sebelum masuk ke dalamnya. Di sana, telah terdapat sebuah celupak yang memancarkan cahaya api kecil. Tenda itu menjadi cukup terang—jika tidak mau dikata keremangan. Chitra Anggini duduk di hadapan celupak itu, menyisakan sedikit tempat di seberang benda bercahaya itu.


“Duduk di sana.” Chitra Anggini menunjuk sedikit tempat yang kosong itu.


Mantingan menurut saja. Maka kini dirinya berhadap-hadapan dengan Chitra Anggini, hanya terbentang jarak satu langkah. Api kecil dari celupak masih menyala-nyala dengan redup, berada tepat di tengah-tengah Mantingan dan Chitra Anggini.


Udara di tenda ini terlampau hangat bagi Mantingan yang baru saja masuk. Di luar tenda, udaranya sangat dingin. Terlebih-lebih lagi sambil diterpa air hujan yang tidak kalah dinginnya, sungguh tidak dapat terbayangkan. Pantaslah Chitra Anggini mudah sekali terlelap ketika sudah masuk ke dalam tenda.


Benar apa kata Kiai Guru Kedai:


“Jika soal tempat, lelaki akan lebih mengutamakan kemanjuran; sedangkan perempuan akan lebih mengutamakan kenyamanan.”


Sebenarnya, Mantingan bisa saja membeli tenda di pasar yang serba berpanggung itu untuk ia pasang di setiap peristirahatan. Akan tetapi, apakah itu dapat disebut manjur?

__ADS_1


Jika udara terlampau dingin, dirinya masih bisa mempergunakan tenaga dalam. Jika terdapat ancaman dari hewan buas, amat sangat mudah baginya untuk berkelebat pergi. Dan jika soal kenyamanan, memang tidak dapat dikatakan nyaman sama sekali.


Namun, itu manjur.


“Kau bukan dukun atau semacamnya, bukan?” Mantingan sedikit bergurau, mencoba meredakan suasana canggung.


Chitra Anggini menggeleng tanpa tersenyum sama sekali, dia menganggap persoalan ini dengan sungguh-sungguh. Melihat itu, Mantingan hanya bisa tersenyum canggung.


Lalu dengan entah apa gerangan, Chitra Anggini menatap mata Mantingan tajam-tajam. Tak ayal, pemuda di hadapannya itu menjadi gugup. Hal tersebut terus dan masih berlangsung, Mantingan tidak tahan untuk tidak bertanya.


“Lalu, latihan semacam apakah yang kauinginkan?”


“Latihan bercakap dalam pandang.” Chitra Anggini menjawab tanpa melepas tatapan tajamnya dari mata Mantingan.


Tatapan Chitra Anggini membuat wajah Mantingan menjadi kebas. Mata gadis itu sewarna tanah, memancarkan kecermelangan bintang di gelapnya langit malam. Wajahnya yang kuning langsat, bersih dan bercahaya, menampilkan kesungguhan. Bibir kemerahannya terkatup rapat, tetap manis. Sungguh, kejelitannya tidak dapat ditawar.


Meskipun begitu, Mantingan tidak menganggap Chitra Anggini lebih dari sekadar adiknya.


“Janganlah seperti ini ....” Mantingan mengeluh perlahan.


Mantingan mengembuskan napas panjang. Boleh dikata, itu adalah alasan telak yang membuatnya tidak boleh melontarkan alasan lagi. Chitra Anggini memang benar, bahwa dalam penyusupan, percakapan sangatlah dibutuhkan. Namun di dalam penyusupan pula, suara sama sekali dilarang, sekecil apa pun adanya. Maka kemampuan berbicara dengan pandangan mata memang sangat dibutuhkan.


Pada akhirnya, Mantingan sempurna menatap mata bundar perempuan itu. Tidak terlalu tajam, tetapi sekiranya cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu. Seperti saat ketika melakukan perbincangan tatap mata dengan Bidadari Sungai Utara ....


Tetiba saja Mantingan teringat Bidadari Sungai Utara. Merangsek dengan kasar. Mengharu-biru perasaannya yang semula tenang-tenang saja.


Satu-satunya orang yang mampu diajaknya untuk bercakap dalam pandang. Satu-satunya yang ia cintai saat ini. Adalah Bidadari Sungai Utara!


Duhai, alangkah kejam ingatan! membawa kembali bayang-bayang wajah mencinta dari Bidadari Sungai Utara yang tak bercadar. Lihatlah, mata Mantingan mulai basah!


Chitra Anggini mengerutkan kening. Tidak mengetahui kalimat apa yang Mantingan ucapkan dalam pandangan matanya itu. Namun, Chitra Anggini cukup peka untuk memahami apa yang sedang Mantingan rasakan.


Dalam pandangan matanya, Chitra Anggini bertanya, kau merindukannya?

__ADS_1


Mantingan mampu menangkap perkataan itu dengan mudah. Ia memiliki kemampuan membaca pertanda. Namun, bukan hal yang mudah baginya untuk membalas perkataan itu, sebab Chitra Anggini tidak memiliki kemampuan membaca pertanda sehebat dirinya.


Maka dengan segala kepedihan yang membuncah, Mantingan berkata langsung. Dengan mulutnya, dengan suaranya, bukan dengan tatapannya.


“Aku sangat merindukannya, Chitra, sebenar-benarnya merindukannya.” Mantingan menengadahkan kepala. Tidak ingin air matanya menetes di depan Chitra Anggini. Bukankah sebagai kakak yang baik, ia harus selalu tampil kuat di depan adiknya?


Chitra Anggini memandang sedih. Mungkin teramat iba. Hanya bisa diam tanpa menanggapi apa pun. Entah karena memang tidak tahu harus menanggapi apa, atau sekadar menahan diri untuk tidak menanggapi apa pun.


Maka begitulah latihan itu tidak dapat diteruskan lagi. Sementara hujan semakin lebar. Di luar tenda sana, terdengar suara kecipak air dan lenguhan seekor kerbau. Nyata-nyatanya, Munding sedang menikmati hujan, berkubang di genangan air, entah dapat disebut sedang mandi atau justru mengotori badan. Tidak ada yang terlalu peduli, bahkan Mantingan sekalipun. Pemuda itu tenggelam dalam bayang-bayang Bidadari Sungai Utara. Chitra Anggini tsatu-dua kali mendesah iba.


“Chitra.”


Chitra Anggini menoleh, tepat setelah Mantingan memanggil namanya dengan suara lemah.


“Ceritakanlah apa yang pernah Sasmita ceritakan kepadamu.”


“Mantingan, dengan keadaanmu seperti ini—”


“Ceritakan saja, Chitra. Biarlah kutuntaskan kepedihan ini di tempat ini. Janganlah sampai luka ini terbuka setelah kita sampai di Koying nanti.” Mantingan memandang Chitra Anggini dengan bersungguh-sungguh. “Jika luka ini tidak bisa kusembuhkan, maka aku akan menyakitinya terus dengan rasa sakit yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, sehingga luka ini akan menjadi mati rasa.”


___


catatan:


Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 April 2022.


Favorit 1370\= 2 episode


Favorit 1400\= 5 episode


Vote 950\= 2 episode


Vote 1000\= 5 episode

__ADS_1


Bonus episode untuk 1370 favorit: 2/2


Tunggu apalagi? Vote & share sekarang dan dapatkan bonus episodenya!


__ADS_2