Sang Musafir

Sang Musafir
Sampai di Tempat Tujuan


__ADS_3

“Bukan seperti itu maksudku, Saudara-Saudara seperguruan yang terhormat. Betapa pun itu, kalian tetaplah pasukan khusus terlatih yang jauh lebih unggul daripada diriku.”


MANTINGAN tersenyum dengan rasa gugup. Merasa telah melakukan kesalahan dengan menghabisi semua musuh seorang diri, tentu saja hal itu secara tidak langsung telah menghina harga diri kesepuluh pendekar dari Pasukan Topeng Putih itu.


“Saudara Man tentu saja tidak pernah bermaksud seperti itu, tetapi tetap saja kejadian ini cukup menyakiti perasaan kami. Maka dari itu, kami bersamadhi untuk meringankan beban pikiran dan perasaan.”


Mantingan terbatuk pelan saking tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Adakah pasukan khusus terlatih seperti mereka sangatlah perasa hingga membutuhkan samadhi hanya unntuk menenangkan diri, sedangkan ada kemungkinan musuh lain dapat menyerang mereka yang sedang bersamadhi itu kapan saja?


“Saudara-Saudara.” Mantingan berkata sambil menundukkan tubuhnya rendah-rendah. “Jika daku telah menyakiti perasaan kalian baik disengaja maupun tidak disengaja, maka diriku yang bersalah ini mohon ampunan maaf yang sebesar-besarnya dari kalian semuanya.”


Tepat setelah Mantingan berkata seperti itu, kesepuluh pendekar itu lekas membuka matanya dan berdiri, beberapa bahkan kesulitan menjaga keseimbangan.


“Aduh! Saudara Man tidak perlu memohon maaf!”


“Jika Ketua Rama mengetahui ini, kami bisa mendapatkan hukuman yang berat sekali!”


Masih dengan punggung membungkuk, Mantingan membalas dengan suara lantang. “Apakah Saudara-Saudara tidak berkenan memaafkan adik seperguruan kalian ini?!”


“Bukan begitu.” Dibalaslah Mantingan dengan suara yang terdengar lebih bijaksana. “Kiranya Saudara mengetahui bahwa engkau akan mewarisi jabatan ketua Perguruan Angin Putih setelah Ketua Rama tidak bisa memimpin lagi nantinya? Pahamilah, sangat tidak pantas Saudara memohon maaf seperti itu kepada kami.”


Pernyataan itu membuat Mantingan tiba-tiba saja diam mematung. Bungkam, bahkan pula menahan napasnya. Apakah yang dikatakan pendekar yang memiliki suara bijaksana itu adalah kebenaran? Mantingan benar-benar meragukan kebenarannya, mana mungkin murid tidak langsung seperti dirinya telah dijadikan calon ketua untuk perguruannya?


Namun mendengar dari nada bicara pendekar itu, siapa pun akan mengetahui bahwa dia tidak sedang main-main dalam berkata.

__ADS_1


“Saudara ....” Mantingan akhirnya dapat membuka mulut. “Apakah yang Saudara katakan itu adalah kebenaran?”


Pendekar itu menganggukkan kepalanya sambil mengelus dagunya yang kelimis. “Benar. Pasti Saudara Man terkejut, dan sudah kami tebak semuanya apa yang selanjutnya Saudara tindaki. Saudara akan menolak dan beralasan bahwa Saudara tidaklah pantas untuk mengemban jabatan itu, bukan?”


Mantingan cukup terkejut. Apakah pendekar itu memang mampu membaca pikirannya, atau pikirannya yang terlalu mudah ditebak?


“Kusarankan, Saudara terima saja,” kata pendekar itu melanjutkan. “Karena Ketua Rama agaknya tidak berniat menerima alasan apa pun dari Saudara. Dan bagi kami semua, memang Saudara-lah yang sekiranya paling pantas menggantikan Ketua Rama.”


Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. “Kurasa urusan seperti ini tidak perlu dibahas malam ini pula. Kita harus meninggalkan tempat ini sesegera mungkin. Sebab ada kemungkinan datangnya gelombang serangan kedua.”


Pendekar-pendekar itu mengangguk pasti. Mereka tetaplah bagian dari pasukan khusus yang tidak akan mudah dan senang memperpanjang suatu urusan, termasuk percakapan tentang calon ketua Perguruan Angin Putih yang sama sekali tidak mereka anggap terlalu penting.


Pada saat yang bersamaan, Bidadari Sungai Utara membangunkan Kana dan Kina yang terlelap di atas tikar kain. Mantingan melihat sorot mata gadis itu, betapa terlihat bahwa dia sebenarnya tidak tega membangunkan mereka, tetapi dilakukannya karena mengetahui bahwa hal itu memang harus dilaksanakan.


Mantingan yang berada di barisan terdepan bersama kudanya itu lantas melirik ke arah belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dari rombongannya.


Setelah dipastikan bahwa semuanya telah lengkap, Mantingan mengangguk sebagai tanda bagi rombongannya untuk menghela tali kekang kudanya.


***


KETIKA pagi telah tiba, Mantingan dan rombongannya tiba pula di tempat tujuan. Benar. Mereka tiba di pelabuhan milik Perguruan Angin Putih.


Pemandangan menakjubkan tersaji setelah mereka melewati gapura di dekat pintu gerbang pelabuhan. Mantingan, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina sungguh amat sangat terpukau melihat pelabuhan yang diberi nama Pelabuhan Angin Putih itu. Sedangkan sepuluh pendekar Pasukan Topeng Putih yang mengawal Mantingan dan rombongannya itu agaknya telah terbiasa dengan pemandangan di pelabuhan ini.

__ADS_1


Meskipun yang mereka lihat bukanlah pemandangan alam, tetapi itu tetap menakjubkan.


Kegiatan di pelabuhan itu benar-benar sibuk meskipun telah diketahui bahwa lalu-lintas kapal musuh meningkat kekinian ini.


Ratusan, atau bahkan mungkin ribuan orang, berlalu-lalang membawa urusan mereka masing-masing.


Pedati-pedati kerbau berbanjar memasuki gerbang pelabuhan, berjalan amat sangat perlahan saking padatnya jalan masuk. Bajingan di atas pedati itu menunggu dengan raut wajah bosan dan gelisah, takut-takut dimarahi orang yang menyewa jasanya.


Para pekerja kasar membawa barang di atas kepala atau punggung mereka. Kulit mereka sewarna sawo matang yang barangkali sudah terlalu matang. Meski bermandi peluh, mereka tidak terlihat lelah sama sekali; mungkin saja itu disebabkan otot-otot kekar atau dorongan dan alasan mereka bekerja.


Satu-dua bangsawan terlihat berjalan dengan lebih leluasa sebab orang-orang pelabuhan telah tahu bahwa mereka harus menyingkir jika melihat orang yang memakai pakaian kebesaran. Di belakang bangsawan itu, dua pengawalnya memegangi masing-masing sebuah payung kebesaran berbatang panjang, sedang anak buah lainnya mengikuti dari belakang. Dapatkah mereka disebut budak?


Selain saudagar-saudagar yang mempunyai keperluan berniaga, ada pula nelayan-nelayan yang sudah pasti keperluan mereka adalah menangkap ikan. Mereka menggotong jala di punggungnya dan beberapa di antaranya bercaping.


Beberapa kedai makan berdiri di tepi jalan pelabuhan, melayani pendatang-pendatang yang tiba dengan kelaparan akibat perbekalan habis di tengah lautan. Kedai-kedai itu tidak pernah sepi pengunjung dan selalu saja menyebarkan aroma sedap yang sanggup membuat perut orang kenyang menjadi lapar kembali. Entah seberapa besar keuntungan yang mereka dapatkan setiap harinya.


Selain kedai-kedai makan, ada pula kedai-kedai yang secara khusus hanya menjual tuak. Kedai-kedai seperti itu selalu bisa mendapatkan tuak terbaik dari negeri asing yang baru tiba di pelabuhan.


Dan untuk yang kali pertamanya, Mantingan serta Kana dan Kina melihat wujud asli kapal secara langsung. Itu benar-benar pemandangan yang membuat mereka terperangah.


Terkhusus Kana dan Kina, mereka lebih terperangah lagi, sebab pemandangan lautan adalah sesuatu yang pertama bagi mereka. Sebelumnya, Kana dan Kina melihat lautan hanya sebatas dari lukisan, tetapi kini telah tersaji hamparan lautan biru tak jauh di depan mereka berdua.


__ADS_1


__ADS_2