Sang Musafir

Sang Musafir
Kedatangan Perguruan Angin Putih


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara menyeka air matanya sebelum menjawab, “Kejadian itu tidaklah berlangsung kemarin malam, tetapi empat hari yang lalu. Saudara, bagaimanakah daku bisa menjelaskannya? Peristiwa itu begitu mengerikan untuk dikenang ....”


“Tidak apa.” Mantingan tersenyum. “Tidak apa jika Saudari tidak ingin mengingatnya. Ini tidak terlalu penting.”


Bidadari Sungai Utara buru-buru menjawab, “Tentu daku bisa. Hanya saja, daku butuh sedikit waktu untuk mengumpulkan semua ingatan. Sekarang, akan kuceritakan secara lengkap kejadian itu, dan tentang mengapa diriku bisa tertangkap.”


Mantingan mengangguk dan mempersilakannya.


“Malam itu, setelah kita berpisah di depan gerbang, daku segera pergi menuju balai desa. Seperti rencana yang sudah kita canangkan jauh-jauh hari, daku menyelinap di antara semak belukar dan masuk melalui jendela. Semuanya tampak berjalan lancar.


“Di dalam balai desa, daku menemukan beberapa orang yang sedang bermain judi. Daku tidak perlu mengendap-endap lagi, melainkan daku melesat menghabisi mereka dalam sekali serangan sahaja. Serangan pertama itu dilakukan dengan sangat senyap, sehingga pendekar-pendekar di dalam balai desa masih belum mengetahui keberadaanku.


“Awalnya kupikir begitu, tetapi ternyata tidak. Nyatanya setelah diriku memeriksa ruangan-ruangan lain, tidak kutemukan satupun manusia. Namun ketika diriku memutuskan untuk keluar dari bangunan itu, tiba-tiba saja muncul banyak orang berkelebatan mengelilingiku. Daku dikepung. Jika tidak salah ingat, ada ratusan pendekar yang mengepungku. Lalu datanglah seorang pendekar tua yang seolah-olah turun dari langit. Langkahnya teramat ringan. Pendekar tua itu berjanggut putih panjang dan membawa tongkat kayu rapuh.


“Daku berkata padanya, ‘Apa yang dikau inginkan dariku?’. Dirinya terkekeh dan kemudian menjawab, ‘Daku ingin semua bagian dari tubuhmu, wahai Bidadari Sungai Utara dari negeri Champa!’.


“Saudara, diriku tidak bisa bersikap tenang ketika itu.” Bidadari Sungai Utara mengepalkan tangannya gelisah. “Saat itu, daku langsung bergerak menyerang. Mencari jalan keluar. Tetapi pendekar-pendekar yang mengepungku nyatanya luar biasa gila bagaikan kera hutan kelaparan, mereka tak gentar menghalangi jalanku meski tahu akan kubunuh.


“Namun pada akhirnya, daku kalah jumlah. Pendekar tua itu berhasil menotok aliran darahku saat daku bersimpuh lelah. Dengan totokan itu, kesadaranku masih bertahan, tetapi tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan.


“Sungguh, sangat mengerikan mengingat kejadian itu, Saudara. Dia kemudian membawaku ke dalam balai desa. Dia melemparku ke lantai bagai sekarung beras. Daku benar-benar tidak berdaya untuk melawan. Hanya bisa menutup mata. Tetapi kemudian, kurasakan seseorang datang, tepat sebelum kehormatanku direngus. Entah orang itu melaporkan apa, daku hanya mendengar dirinya berkata bahwa telah terjadi sesuatu di luar kendali.


“Pendekar tua marah besar, sangat madahu sampai-sampai membunuh pendekar yang agaknya telah mengganggunya itu. Kejam sekali itu, Saudara. Lalu dia mendekat padaku dan berbisik, ‘Ingatlah bahwa diriku, Pendekar Tongkat Badai, akan kembali kepadamu!’.

__ADS_1


“Diriku lalu dipindahkan ke dalam ruangan yang lebih gelap dan sempit. Daku tidak bisa melihat apa-apa. Kuandalkan pendengaranku untuk memantau keadaan di luar, tetapi tembok ruangan begitu tebal untuk ditembus pendengaran.


“Semakin lama, ruangan itu kian terasa pengap. Daku hampir kehabisan napas. Awalnya daku sangat senang, karena kupikir, lebih baik untuk mati di tempat itu sebelum kehormatanku direngut. Namun, datang sebuah keyakinan—yang entah berasal dari mana, keyakinan bahwa dikau akan datang menyelamatkanku bagai pahlawan. Kuyakin, dikau akan datang. Harapan itulah yang membuatku tetap hidup sampai sekarang.


“Lama berselang, tua bangka itu datang lagi. Kali ini dengan napas setengah-setengah. Dirinya langsung menggendongku keluar balai melalui pintu belakang. Dia melesat sambil membawaku. Daku hanya bisa menutup mata. Kupikir, sampai di sinilah kisah Bidadari Sungai Utara. Sebab jika sampai kehormatanku direngut secara tidak hormat, maka di sanalah daku mati.


“Tetapi kemudian kurasakan benturan yang teramat sangat kuat. Daku melayang-layang di langit. Berputar-putar tanpa terkendali. Lalu kurasakan ada yang menangkapku. Kupikir yang menangkapku adalah tua bangka yang mengaku sebagai Pendekar Tongkat Badai itu, tetapi daku merasakan sentuhan yang tidak asing. Ketika diriku membuka kelopak mata, kutemukan sesosok pahlawan penyelamatku. Datang untuk menjemputku. Itulah diri engkau, Mantingan.”


Bidadari Sungai Utara menyelesaikan kisahnya dengan senyum hangat. Sayu-sayu matanya menatap Mantingan. Betapa perasaan cintanya kembali tergugah ketika pria itu berhasil menyelamatkan hidupnya.


Mantingan masih mempertahankan senyumnya, selepas itu itu mengangguk paham. “Syukurlah pendekar itu masih belum berbuat macam-macam kepada Saudari. Kalau tidak, mungkin daku tidak bisa memaafkan diri sendiri. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi? Sebelum diriku tak sadarkan diri, kulihat kelebatan bayangan-bayangan putih.”


Tanpa rasa keberatan sama sekali, Bidadari Sungai Utara kembali berkata, “Kelebatan-kelebatan bayang putih itu merupakan ratusan pendekar bersoren pedang, langsung menghajar pendekar-pendekar yang hendak menyerang kita ....”


“Seorang tabib datang untuk melepas totokanku dan untuk mengobatimu. Dari tabib itu, kuperoleh keterangan bahwa kita berada di dalam perkemahan pasukan Perguruan Angin Putih.”


Mantingan menahan napasnya. Jelas saja terkejut.


“Itu perguruanmu, bukan?” Bidadari Sungai Utara tersenyum kecil. “Seorang pria tua bernama Rama masuk ke dalam tenda kita, wajahnya tampak begitu buruk melihat keadaanmu. Dia bertanya banyak hal padaku, dan daku menjelaskan semuanya tanpa sedikitpun kebohongan. Sebelum Bapak Rama pergi, dia berkata padaku untuk mengabarinya jika engkau telah sadarkan diri. Dia menambahkan bahwa masih banyak yang mesti dikerjakannya”


Mantingan kembali menganggukkan kepalanya pelan. “Kabarilah dirinya. Beliau adalah ketua Perguruan Angin Putih.”


“Daku akan mengabarinya sekarang.” Bidadari Sungai Utara membalas dengan anggukan pula. Namun ketika dirinya beranjak berdiri, Mantingan menahannya.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, daku masih memiliki beberapa pertanyaan lain.”


Bidadari Sungai Utara kembali duduk di sisi ranjang. Mantingan menegakkan punggungnya sebelum berkata, “Malam itu, diriku diliputi kemarahan yang teramat sangat besar. Seperti babi hutan yang buta, diriku membunuh banyak musuh. Engkau pasti tahu berapa banyak yang telah aku bunuh?”


Bidadari Sungai Utara menatapnya dan berkata lemah, “Ya. Diriku tahu.”


“Daku bertanya, Sasmita.”


Bidadari Sungai Utara masih terus menatapnya. Mantingan mengetahui arti tatapan gadis itu; tatapan iba.


“Saudara, lebih baik engkau tidak mengetahuinya—”


“Tidak apa-apa, Saudari.” Mantingan terus menunjukkan senyum hangatnya. “Diriku perlu mengetahuinya.”


Gadis itu menarik napas panjang. “Bisakah Saudara berjanji untuk tidak menyesal atas apa yang telah Saudara perbuat malam itu?”


“Apakah engkau tidak melihat keyakinan di wajahku ini, Saudari?”


Bidadari Sungai Utara mengalihkan pandangannya menuju jendela yang terbuka. “Dua ribu musuh keji bagai binatang buas, telah berhasil engkau tumpaskan.”


Mantingan terdiam beberapa saat. “Berapakah yang dapat diselamatkan?”


“Sekiranya ada dua ratus pendekar yang masih bisa diselamatkan. Akan tetapi, mereka lebih memilih bunuh diri ketimbang harus ditanyai banyak hal tentang Perkumpulan Pengemis Laut.”

__ADS_1


__ADS_2