Sang Musafir

Sang Musafir
Rombongan yang Tidak Terduga


__ADS_3

ANAJ MENGULANGI, “Kawan-kawan sahaya menumpahkan darah untuk melindungi rombongan. Kami kekurangan kekuatan dan membutuhkannya segera!”


“Siapakah yang engkau kawal sebenarnya?” Mantingan bertanya dengan kerenyit di dahinya.


“Maafkanlah, tidak baik sahaya mengatakannya di sini. Yang pasti, ini rombongan dari kerajaan. Lebih baik dikau berdua melihatnya sendiri dengan mengikuti sahaya.”


“Jakawarman, ikutilah dia.” Mantingan diam-diam menyelipkan beberapa lembar Lontar Sihir ke dalam saku jubah Jakawarman, lalu berkata melalui bisikan angin, “gunakan semua Lontar Sihir ini jika engkau diserang.”


Jakawarman mengangguk. Baginya, mengemban tugas dari Mantingan adalah sebuah keharusan dan kehormatan besar. Maka setelah berpamitan, Jakawarman pergi bersama Anaj. Derap kuda sayup-sayup terdengar menjauh bagai ditelan kegelapan.


***


MANTINGAN TERPAKSA membangunkan Bidadari Sungai Utara agar gadis itu berwaspada. Jika nantinya terjadi sesuatu, dia harus melindungi anak-anak. Gadis itu terbangun dalam keadaan siaga, terbukti dengan tangannya yang lekas menggapai pedang walau sebenarnya belum mengetahui apa yang terjadi.


“Ada apakah, Saudara?” Bidadari Sungai Utara berkata setelah berhasil menenangkan diri.


“Saudari, bersiagalah. Baru saja datang seseorang yang mengaku sedang mengawal rombongan ....”


Mantingan lalu menjelaskan bahwa Jakawarman telah pergi untuk melihat langsung siapa yang sedang dikawal oleh prajurit itu. Ia juga menjelaskan bahwa rombongan tersebut agaknya begitu penting sampai-sampai terjadi pengkhianatan yang berujung pertumpahan darah. Bidadari Sungai Utara bagai tersiram seember air, kewaspadaannya segar kembali.


“Saudara, mengapakah engkau membiarkan Jaka pergi? Kemungkinan besar, ini adalah jebakan. Seharusnya prajurit itu memberitahu siapa yang dikawalnya terlebih dahulu sebelum meminta bantuan.”


“Jika orang yang dikawal adalah orang yang teramat sangat penting, maka pengawalan sudah pasti dijaga ketat dan dirahasiakan.”


“Jadi menurut Saudara, yang dikawal kali ini adalah orang yang penting?”

__ADS_1


Mantingan menganggukkan kepalanya. “Demikian menurutku. Namun daku masih belum bisa memastikan kebenarannya.”


“Masih ada sesuatu yang aneh, Saudara.” Perkataan Bidadari Sungai Utara mengandung kecemasan. “Mengapakah prajurit itu membiarkan Jakawarman untuk melihat langsung orang yang sedang dikawalnya? Apakah dia tidak mencurigai Jakawarman akan membeberkan kabar perjalanan rombongannya?”


Mantingan tersenyum canggung sebelum berkata, “Jika Jakawarman berniat jahat, maka tidak akan bisa semudah itu untuk melakukannya. Rombongan mereka pastinya telah menyiapkan siasat untuk mendesak Jakawarman hingga dia tidak dapat membeberkan kabar ini ke mana-mana. Jika benar bahwa rombongan ini datangnya dari kerajaan, maka sudah pasti telah menyediakan seribu siasat untuk segala macam keadaan. Begitulah yang kutahu dari sebuah pengawalan tingkat tinggi.”


Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya. “Apakah kita akan membantu mereka sedang kita saja masih membutuhkan pertolongan?”


“Selama kita masih bisa menolong, maka berikanlah.”


Bidadari Sungai Utara kembali menganggukkan kepalanya. Perkataan Mantingan tidak salah, dan sama sekali dapat diterimanya. Tiada alasan untuk tidak membantu. Lagipula, selama ada Mantingan, pendekar seperti apakah yang mesti ditakutkan? Begitulah pikirnya.


“Apakah engkau akan terus berada di dalam tenda, Sasmita?” Mantingan tertawa pelan. “Keluarlah dan bantulah aku menyiapkan sedikit hidangan untuk tamu kita.”


Bidadari Sungai Utara keluar dari tendanya dan balas tertawa. “Tetapi bagaimanakah jika mereka ialah musuh kita?”


“Maka bantu aku mengasah pedang untuk menyambut mereka.”


Persediaan dendeng kering dikeluarkan. Air direbus hingga mendidih bersamaan dengan teh di dalamnya. Meskipun sederhana, setidaknya itu telah menunjukkan rasa hormat kepada anggota kerajaan yang akan datang nantinya.


Selagi membantu Bidadari Sungai Utara memasak, Mantingan juga melihat langit beberapa kali. Ia telah membekali Jakawarman dengan beberapa Lontar Sihir untuk menghadapi serangan mendadak, termasuk Lontar Sihir Cahaya yang akan memancarkan sinarnya ke atas langit. Mantingan tidak mengharapkan sesuatu yang buruk, tetapi menyiapkan untuk kemungkinan yang terburuk.


***


DERAP TAPAK kuda kembali terdengar sayup-sayup. Mantingan melirik Bidadari Sungai Utara yang duduk di sebelahnya; gadis itu mengangguk paham. Mantingan beranjak berdiri dan berjalan melewati semak belukar untuk sampai ke tepi jalan.

__ADS_1


Kini dilihatnya beberapa titik cahaya di ujung jalan yang lama kelamaan semakin terang. Setelah menajamkan penglihatan menggunakan Ilmu Mata Elang, Mantingan melihat sebuah kereta kuda yang ditarik oleh dua kuda hitam sekaligus. Kereta kuda itu dikawal oleh selusin penunggang kuda lainnya. Dapat diketahuinya bahwa itu adalah rombongan kerajaan yang dimaksud. Mantingan dapat berlega hati setelah melihat keberadaan Jakawarman yang berjalan cepat di barisan terdepan.


Lambat namun pasti, rombongan itu semakin mendekat. Mantingan mengeluarkan selembar Lontar Sihir Cahaya dan menyalakannya. Itu dapat menjadi penerangan yang jauh lebih baik ketimbang cahaya obor. Ia pula memasang senyum untuk menyambut mereka.


Rombongan itu melambatkan laju ketika hampir sampai di tempat Mantingan berdiri. Berhenti sempurna di sisi jalan. Satu per satu penunggang turun dari kudanya. Seorang dari mereka menghampiri Mantingan dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Sesekali diliriknya Lontar Sihir Cahaya yang diangkat Mantingan, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk mempedulikan hal itu.


“Selamat malam, Saudara. Apakah keberadaan kami mengganggumu sekalian?”


“Sama sekali tidak, Saudara.” Mantingan membalas tanpa mengendurkan senyumnya.


“Dan apakah Saudara tidak akan keberatan jika kami minta perlindungan?”


“Sebagai sesama yang memerangi kekacauan ini, tiadalah sedikitpun keberatan dalam diriku.”


Penunggang kuda itu menganggukkan kepalanya. Dia hendak mengeluarkan sepatah kalimat lagi, tetapi Jakawarman lebih dahulu sampai di sebelah Mantingan dan mengirim bisikan angin ke telinganya. Mantingan melebarkan matanya.


“Saudara, apakah benar bahwa rombongan ini ....”


“Benar, Saudara.” Penunggang kuda itu menjawab langsung. “Kami mengawal permaisuri menuju pelabuhan Sunda Kalapa. Nah, untuk lebih jelasnya, akan kujelaskan saja nanti. Kini demi keamanan, aku harus tahu siapakah Saudara terlebih dahulu.”


Mantingan menepis keterkejutannya dan segera menjawab, “Diriku ini bernama Mantingan, Saudara, daku termasuk bagian dari Perguruan Angin Putih.”


Penunggang kuda itu diam sesaat. Raut wajahnya menunjukkan keheranan yang teramat besar. Lalu bertanyalah ia, “Mantingan? Apakah yang Saudara maksud adalah Pahlawan Man? Telingaku tidak salah mendengar, bukan?”


Senyum Mantingan menjadi gugup. “Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan itu.”

__ADS_1


Sang penunggang kuda terlihat sedang mencerna kembali apa yang telah dikatakan Mantingan. Dilihatnya pula pemuda itu dari atas sampai bawah. Jubahnya yang keabu-abuan dan sebuah caping yang tergantung di punggungnya telah meyakinkan sang penunggang kuda bahwa ia adalah Pahlawan Man!


Penunggang kuda itu tidak dapat menahan suka-citanya. “Sungguh diriku tidak menyangka sebelumnya. Bertemu Pahlawan Man di keadaan seperti ini adalah sebuah anugerah besar yang diberikan Dewa kepada kami. Dengan kehadiran Saudara, daku yakin permaisuri akan baik-baik saja sampai tujuan. Maharaja Punawarman akan berterimakasih atas kebaikan yang telah engkau berikan!”


__ADS_2