
LENYAPNYA api pancaka secara perlahan-lahan hingga akhirnya habis tak tersisa membuat Mantingan mulai bergerak mengambil abu 13 prajurit yang gugur. Masing-masingnya disimpan di dalam gucinya, nantinya akan diserahkan pada perwira. Ke manakah abu-abu itu akan dilarung adalah keputusan perwira, atau kemungkinan terbesarnya akan diserahkan pada keluarga prajurit-prajurit itu.
Setelah selesai, Mantingan melukis aksara pada guci-guci itu sesuai dengan nama mereka. Aksara-aksara yang dilukisnya bukanlah aksara biasa, melainkan bagian dari mantera sihir yang bisa dibentuk tanpa lontar. Mantera sihir itu akan membuat suhu di dalam guci terjaga dan abu akan bertahan lama, juga memperkuat guci agar tidak pecah sampai seribu tahun lamanya.
Mantingan ingin guci yang berisi abu mereka akan tetap dalam kondisi bagus sampai anak-cucu mereka melihatnya. Anak-cucu mereka harus mengetahui betapa kakek dari kakek mereka merupakan pahlawan pemberani.
Nama terakhir yang Mantingan lukis adalah Putu, selepas itu dari pintu halaman terdengar perwira memanggilnya. Mantingan meninggalkan kuas lukisnya dan segera berjalan ke halaman. Tampak perwira yang tersenyum tipis padanya.
“Perwira, silakan masuk.” Mantingan tidak tersenyum. Untuk saat ini ia tidak bisa tersenyum.
“Terima kasih, Mantingan, aku mau kita berbicara di dalam.”
Mantingan mengangguk, mereka berjalan sampai ke dalam bangunan rumah. Perwira menolak masuk ke rumahnya, ia berkata akan lebih nyaman berbicara di teras sambil menghirup angin pagi yang segar.
Jadilah saat itu Mantingan dan perwira duduk berdampingan di halaman teras. Keduanya terdiam beberapa lama, menatap kosong ke arah depannya. Mereka terbenam pada pikirannya masing-masing. Begitu banyak kehilangan membuat mereka berdua harus mengatur pikiran untuk tetap berkepala dingin.
“Mantingan, aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihku padamu dan pada 13 prajurit pemberani yang telah kau latih. Musuh dinyatakan mundur. Kalian semua berhasil.”
Mantingan masih terdiam. Ia sangat yakin dari pihak musuh tidak memiliki niatan untuk kembali menyerang di masa mendatang. Sebab mereka telah kehilangan sangat banyak kekuatan di kota ini, tentu mereka tidak bodoh untuk membuang-buang nyawa dan tenaga di sini, Mantingan tidak perlu khawatir lagi ke depannya.
“Itu kabar yang sangat baik, Perwira.”
Selepas Mantingan berkata, pagi itu kembali sunyi kecuali oleh suara kicau burung-burung, atau gersak pohon yang terlambaikan angin. Pagi yang indah, namun tidak bisa dinikmati.
“Musuh juga menawarkan perdamaian pada kota. Mereka meminta dirimu tidak menyerang mereka.”
__ADS_1
Mantingan mengangguk pelan. “Perwira lebih baik menerimanya.”
Perwira tersenyum. “Sungguh Mantingan, engkau sangat berhati mulia. Aku telah berburuk sangka dengan mengira kau akan menuntut pembalasan dendam.”
Mantingan membalasnya hanya dengan anggukan pelan. “Perwira, guci abu mereka sudah bisa kau ambil.”
Perwira mengangguk. “Guci abu mereka akan ditempatkan di tugu kepahlawanan Kota Angin Nyiur. Jasa mereka dan jasamu tidak akan pernah dilupakan.”
Mantingan tidak tahu harus menjawab apa sehingga ia memilih diam. Perwira merasa Mantingan memang membutuhkan waktu untuk sendiri, perwira juga memiliki banyak urusan yang harus ia selesaikan, maka ia berniat untuk pergi.
“Kalau begitu, Mantingan, aku mohon diri. Urusan perdamaian harus segera aku selesaikan, dan sepertinya dirimu perlu menenangkan diri. Jaga dirimu baik-baik, Mantingan, nantinya kita akan bertemu lagi.”
Perwira membawa 13 guci abu prajurit muda pemberani itu menggunakan kain bundelan. Ia pergi menjauh dari kediaman Mantingan setelah berpamitan sekali lagi. Mantingan hanya bisa memandangi punggung perwira sampai ia menghilang, lalu ia mengembuskan napas perlahan dan menutup pintu halaman.
Mantingan ingat perkataan Kiai Guru Kedai sekarang. Jika pertempuran sedang terjadi, maka yang harus dilakukan adalah membunuh atau dibunuh. Bahkan ketika Kebenaran melawan Kesesatan sekalipun diperlukan tumpah darah.
Kiai Guru Kedai sering menekankan pada Mantingan untuk selalu membela kedamaian. Apalah arti membela jika mementingkan pendirian hidup hingga banyak orang tak bersalah yang tewas.
Bahkan Mantingan merasa sudah siap menerima hukuman jika sewaktu-waktu bertemu Kenanga. Hukuman mati pun akan ia jalani dengan tabah, karena ia telah berjanji tidak akan membunuh.
Setidaknya Mantingan telah menggenapi permintaan Kenanga yang lainnya, bahwa ia akan selalu menyebar kedamaian selama perjalanannya. Namun sayang, Mantingan tidak menyadari hal itu, ia tidak sadar bahwa apa yang telah dilakukannya sangat berarti bagi kedamaian.
***
Setelah seharian dilalui dengan duduk bersila di dalam ruangannya, Mantingan memutuskan untuk keluar. Saat itu siang telah menjadi malam. Dan malam ini adalah malam yang sungguh terasa lebih sepi.
__ADS_1
Walau rumah Mantingan sudah beberapa hari kosong ditinggal 13 prajurit muda itu bahkan saat mereka masih hidup, tetapi saat ini suasana jauh lebih terasa sepi setelah kematian mereka. Di malam hari selalu ada makan malam. Selain untuk mengisi perut, mereka menggelar makan malam setiap hari juga untuk meredakan pertikaian antar-prajurit, sehingga malam hari selalu penuh oleh tawa dan candaan.
Tetapi malam ini tidak.
Meja makan kosong. Tungku di dapur tidak mengepul asap. Jangkrik malam yang mengisi suara, bukan mereka.
Tidak ada yang menyapa Mantingan saat ia keluar dari ruangan. Tidak ada lagi yang bertanya “Apakah Saudara Man lapar?”.
Sesuai dengan perjanjian awal, tidak ada makan malam tanpa saudara yang lengkap. Kini hanya Mantingan yang tersisa dari mereka, makan malam enak dan mewah sekalipun tidak dirasa menggairahkan.
Mantingan membuka pintu dan pergi ke luar halaman, lalu menghela napas sekali lagi.
***
Dalam waktu lima hari, urusan perdamaian selesai diurus. Perwakilan pihak musuh tidak mau berlama-lama lagi dan segera keluar dari kota.
Perjanjian yang disepakati membuat kota terlindung dari serangan tiga kelompok aliran hitam: Perguruan Teratai Hitam, Perguruan Getih Asin, dan Penginapan Tanah. Yang mengherankan adalah bahwa Penginapan Tanah menolak menyatakan dirinya sebagai pihak yang ikut menyerang, mereka mengatakan hanya mengawasi jalannya pertempuran saja.
Hal itu membingungkan perwira dan seluruh pasukan sebab Penginapan Tanah jelas-jelas menyerang menggunakan pendekar-pendekar mereka. Tetapi bagi Mantingan, hal itu tidak terlalu mengejutkan.
Penginapan Tanah sepertinya masih memburu Mantingan. Mereka ingin menumpas masalah tiga tahun lalu sampai akar-akarnya. Berhasil kaburnya sesosok bunga raya bernama Arkawidya membuat mereka khawatir berita itu akan menyebar dan berdampak buruk bagi mereka.
Dalam lima hari terakhir Mantingan habiskan untuk membantu kota memulihkan diri. Banyak sekali bangunan yang berhasil ia bangun kembali. Tentu jangan meragukan kemampuan Mantingan dalam mencipta suatu bangunan, ia telah membuktikannya dengan mendirikan banyak bangunan di tengah jantung hutan.
Perlahan-lahan warga kota kembali ke kediamannya masing-masing. Sebagian lainnya menunggu sampai rumah mereka berhasil diperbaiki.
__ADS_1