Sang Musafir

Sang Musafir
Tiga Kitab Tentang Cinta


__ADS_3

DAN DIMULAILAH makan siang bersama itu setelah diawali dengan doa bersama. Bersyukur atas berkat yang diberikan Sang Pencipta. Disantaplah ikan bakar itu beramai-ramai, dengan masing-masing orang mendapat sepiring nasi hangat.


Kina terus memuji Bidadari Sungai Utara karena rasa ikan yang sangat lezat. Sedangkan saudaranya, Kana, hanya terdiam tanpa memuji Bidadari Sungai Utara. Bukannya ikan itu tidak terasa enak di lidahnya, melainkan ketakutannya akan kemarahan Mantingan yang menahannya. Lebih-lebih ia membayangkan kamarnya


Sedangkan Mantingan terlihat tidak memberi tanggapan apa pun. Padahal tanggapan dari Mantingan yang paling dinanti-nantikan Bidadari Sungai Utara. Mantingan tidak membiasakan makan sambil bercakap-cakap. Maka sepanjang acara makan bersama itu, dirinya terdiam.


Semua hidangan dapat dihabiskan tepat waktu. Tidak terlalu lambat, tidak pula terlalu cepat. Sehingga makanan benar-benar dapat dinikmati. Barulah saat itu Mantingan memberi tanggapan.


“Saudari berbakat dalam bidang memasak dan pengobatan. Kembangkanlah dua hal itu secara teratur dan berkesinambungan.”


Bidadari Sungai Utara tersenyum samar. “Saran Saudara, daku pahami.”


Mantingan mengangguk pelan. Dirinya kemudian bertanya kepada Kana, “Kana, apakah engkau sudah dapat menguasai ilmu tapak dan ilmu meringankan diri yang kuberikan padamu waktu itu?”


Kana mengangguk pasti. “Diriku berjuang siang-malam untuk menguasai jurus itu.”


Mantingan mengangguk bangga. “Sekarang, buktikanlah.”


“Saudara, Kana baru saja selesai makan.” Bidadari Sungai Utara menahan Kana dan Mantingan yang hendak beranjak pergi dari kursinya.


Kana yang berkata, membalasi Bidadari Sungai Utara, “Kaka Sasmita, tidaklah perlu engkau khawatirkan keselamatan diriku. Seorang lelaki harus siap bertarung di segala keadaan, teruntuk melindungi orang-orang tak berdaya di belakangnya. Jadi, simpanlah kerisauan Kak Sasmita yang teramat berharga.”


Bidadari Sungai Utara terdiam. Kina termenung tak percaya. Sedangkan Mantingan, berkedut alisnya.


Tak lama kemudian, Mantingan berkata cukup keras, “Kana, simpanlah kata-kata indahmu itu dan lekas lakukan apa yang tadi engkau katakan. Jika memang dirimu adalah seorang laki-laki, maka sedikitlah berkata dan banyaklah bertindak.”

__ADS_1


Kana meringsut mundur. Perkataan Mantingan itu kembali menyadarkannya, bahwa ia masih berada di dalam bahaya setelah merayu Bidadari Sungai Utara.


Namun kini, ia harus mempertanggungjawabkan perkataannya tadi. Kana masih memiliki harga diri seorang lelaki. Maka tanpa terlihat gentar, Kana segera melompat dari kursinya. Mantingan pun beranjak dari kursinya itu.


Bidadari Sungai Utara dan Kina memperhatikan dengan minat. Sedikit-sedikit mereka merasa khawatir.


Mantingan dan Kana berdiri tegak, keduanya terpisahkan jarak paling tidak satu depa. Kana menjura pada Mantingan, sikap yang biasanya dilakukan oleh murid kepada gurunya.


Kana langsung saja pasang kuda-kuda. Lengan kanannya terjulur ke depan dengan jari-jari merentang. Mantingan mengangguk pelan, itu adalah sikap silat yang harus dilakukan sebelum memulai serangan tapak.


“Engkau sudah menemukan nama yang cocok untuk ilmu tapak ini?” Mantingan bertanya sebelum Kana mulai mempraktikkan ilmu tersebut.


“Tentu saja,” katanya kemudian. “Izinkanlah kuberi nama jurus ini sebagai Jurus Tapak Tanpa Nama. Kupikir-pikir, hanya inilah nama yang cocok.”


Mantingan kembali mengangguk pelan. “Ya, memang cocok. Sekarang buktikan kehebatan jurus itu. Jika engkau berhasil mendorongku ke belakang, barang sejengkal saja, maka engkau boleh menyudahi latihan ini.”


Tanpa berlama-lama lagi, Kana melompat maju. Menyerang. Dirinya berteriak keras. Tangan kanannya ditarik sampai ke pinggang, lalu dientakkannya ke depan. Dari telapak tangannya itu, muncul gelombang kejut yang menggumpal-gumpal, menciptakan suara nyaring. Bagai harimau elang memekik.


Mantingan tidak bergerak dari tempatnya. Tangannya masih pula tersilang di belakang pinggang. Hingga gelombang kejut itu menerpa dirinya kuat-kuat. Saat itu pula, tubuh Mantingan seolah diterpa badai. Pakaiannya berkibar-kibar laksana bendera. Punggung Mantingan tidak sanggup menahan dorongan keras di depannya, mulai menekuk ke belakang. Tak hanya itu, kaki Mantingan terseret belasan jengkal ke belakang.


Kana kembali menginjakkan kaki di atas lantai. Begitu pula dengan gelombang kejut yang mulai surut kekuatannya. Kana menatap Mantingan yang telah terdorong jauh ke belakang, sebelum memandangi dua telapak tangannya. Tidak percaya.


Mantingan terbatuk beberapa kali sebelum berucap, “Kemampuanmu lebih dari yang kuduga, Kana. Hal ini tidak terlepas dari latihan kerasmu selama ini. Tingkatkanlah dan jangan bosan-bosan melatih diri. Dan aku ingatkan sekali lagi, gunakan jurus ini semata-mata untuk kebaikan.”


Kana mengangguk mantap. “Diriku mengerti dan siap melaksanakannya.”

__ADS_1


“Dan daku ada tambahan ....”


Kana mengernyitkan dahi, sesaat kemudian ia bertanya, “Apakah itu, Kaka Man?”


“Engkau ingin jujur padaku secara sukarela atau engkau ingin daku memaksamu jujur? Kau ingin mengeluarkan kitabmu tentang rayuan cinta itu atau diriku sendiri yang mengeluarkannya?”


Kana menunduk. Merasa semua kebahagiaannya hilang begitu saja. Tetapi sebagai seseorang yang jantan, dirinya berkata tegas, “Biar daku yang membawanya kepada Kaka. Daku bersumpah untuk jujur, tidak akan menyembunyikan apa pun dari Kaka Man yang telah berjasa dalam hidupku.”


“Engkau tidak perlu memujiku seperti itu, sekarang bawa semua kitab cinta itu!”


Kana lekas berbalik. Namun sebelum berbalik, ia mendapati Kina dan Bidadari Sungai Utara mengangguk sambil tersenyum bangga. Maka pergilah dirinya sambil tersenyum pula.


Mantingan, Bidadari Sungai Utara, dan Kina saling bahu-membahu untuk membersihkan sisa makanan. Kina bersikeras bahwa dirinya ingin mencoba untuk mencuci piring meskipun Bidadari Sungai Utara telah melarangnya. Dua orang perempuan berbeda usia itu berdebat sebentar sebelum akhirnya Bidadari Sungai Utara mengalah, membiarkan Kina mencuci semua piring.


Tak lama kemudian, Kana kembali ke ruang makan. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara sudah lama menunggunya. Anak itu berjalan menuju meja makan dan meletakkan tiga keropak lontar di atasnya.


Mantingan menggeleng pelan dan menatapnya kecewa. Kana hanya bisa menyeringai malu.


“Daku ingin bertanya, dari mana kau mendapatkan tiga kitab ini?” Mantingan berkata tanpa menyentuh satupun keropak lontar di depannya.


“Diriku meminjamnya dari teman di perpustakaan.” Kana menjawab sangat pelan. Namun, Mantingan masih dapat mendengarnya.


“Berapa usia temanmu itu?”


Kana kembali menjawab jujur, “Sepantaran denganku.”

__ADS_1


“Dan dirinya turut membaca ketiga kitab ini?”


__ADS_2