
MANTINGAN MELESAT dengan sangat cepat ketika dirinya dan Kana tepat berada di dalam hamparan kabut yang dinginnya berkali-kali lipat dari halimun gunung itu. Dinginnya tetap bukan alang kepalang. Menusuk hingga ke dalam tulang.
Rasa dingin yang dirasakannya saat ini seolah tak ada bedanya dengan yang ia rasakan ketika pertama kali melintasi wilayah ini. Agaknya pula, kabut ini tidak akan berpengaruh pada tinggi atau rendahnya kemampuan pendekar, akan tetap terasa sangat dingin.
Tubuh Mantingan mulai menggigil hebat akibat udara dingin yang sudah tidak tertahankan lagi. Sekuat apa pun ia mengedarkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk menahan kedinginan, itu hampir tidak berpengaruh pada apa pun.
Seolah di kabut ini, sebuah pertarungan menggunakan tenaga dalam benar-benar tidak dapat dilaksanakan. Bukan hanya karena udara dingin yang teramat sangat tak tertahankan, melainkan pula dengan tenaga dalam yang seolah saja langsung terserap kabut-kabut tebal itu.
Mantingan memutuskan untuk berhenti mengedarkan tenaga dalamnya jika hal itu hanya dilakukannya tanpa menuai hasil. Maka hanya dengan keyakinan yang bersemayam di dalam kepalanya, Mantingan terus berkelebat secepat yang ia bisa.
Hingga kabut di pandangan matanya perlahan mulai menipis. Namun, bukan kabut itu yang bergerak meninggalkan Mantingan, melainkan Mantingan yang telah meninggalkan lautan kabut itu yang dinginnya tak dapat terbantahkan lagi.
Seiring dengan menipisnya kabut, dingin yang dirasakan Mantingan itu pula telah banyak sekali kurangnya. Tubuhnya tiada lagi menggigil.
Jalanan yang ia lewati semulanya hanya merupakan tanah yang dikeraskan saja, tetapi kini mulai dilapisi bata-bata putih. Tanda bahwa peradaban manusia telah dekat dengan Mantingan yang sedang menggendong Kana itu. Segera pemuda itu mengurangi laju kecepatannya.
“Kakanda tidak mengapakah?” Kana berkata setengah berteriak, mengalahkan deru angin yang menyeruak di telinga Mantingan.
“Dingin seperti itu tidak akan membuatku jatuh, Kana.” Mantingan tertawa setelah dirinya mencoba sedikit bergurau.
“Wajahku agaknya telah kaku membeku. Daku tidak pernah merasakan dingin yang seperti barusan itu ....” Kana melanjutkan perkataannya, “jadi inikah yang disebut-sebut sebagai Perguruan Angin Putih? Di manakah bangunannya? Atau justru, perguruan ini menempatkan diri di tengah hutan tanpa membangun satupun bangunan kecuali jalan berbata ini?”
Mantingan tersenyum, tidak menjawab melainkan terus berkelebat. Seharusnya sudah tidak jauh lagi.
Kabut tipis telah menghilang sepenuhnya. Pemandangan di depan mereka berdua benar-benar terpampang dengan begitu jelasnya. Betapa terperangah Kana menatapnya!
“Inikah ... Perguruan Angin Putih, Kakanda?!”
__ADS_1
Pemuda itu tersenyum lebar. “Benar, yang engkau lihat ini sesungguhnya adalah Perguruan Angin Putih.” Mantingan banyak menurunkan kecepatan lajunya sebelum memendaratkan kakinya di jalanan berbata.
Kana dengan sigap turun dari punggung Mantingan. Ingin menikmati segala pemandangan dan suasana dengan berjalan menggunakan kedua kakinya sendiri. Kana tersenyum sumringah.
Agak jauh di depan mereka, pepohonan yang tak jelas jenisnya berjejer pada dua sisi jalanan berbata. Angin dingin berembus pelan, seolah musim kemarau tidak berpengaruh di tempat ini sama sekali. Terlepas dari pemandangan pepohonan rindang nan menyejukkan itu, tersajilah pemandangan yang jauh lebih luar biasa lagi.
Sebuah gerbang besar berwarna perak berdiri begitu gagahnya. Menjulang belasan depa dari permukaan tanah. Seolah menjadi pemisah antara yang buruk dengan yang baik. Pintu masuk ke dalam surga. Dua prajurit berpakaian serba putih tampak menjaganya dengan sebatang tongkat panjang yang pula berwarna putih bagaikan pualam.
Perguruan Angin Putih juga dikelilingi pagar. Jeruji-jeruji pagar yang pula berwarna keperakan itu menjulang begitu tingginya. Hampir menyamai ketinggian pintu gerbang. Dengan ujung lancip berwarna keemasan. Disebabkan karena pagar-pagar itu tersusun atas banyaknya jeruji yang menciptakan rongga, maka pemandangan indah di dalamnya pun dapat terlihat dari luar.
Terpampanglah ratusan bangunan serba putih dengan atap berbentuk kerucut laksana kuil-kuil suci. Bersinar indah dipantul sinar matahari.
Dan lebih jauh dari tempat Mantingan dan Kana berdiri, tampaklah sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi, menjadi bangunan tertinggi di antara segala bangunan di Perguruan Angin Putih. Itulah yang Mantingan kenal sebagai bangunan pusat tata laksana Perguruan Angin Putih.
Dua prajurit yang menjaga gerbang tampak memberi tanda pada Mantingan dan Kana untuk segera mendekat. Maka berjalanlah keduanya mendekati gerbang megah tersebut.
Mantingan balas menjura sebelum mengangguk. “Daku Mantingan.”
“Kalau begitu, kedatangan Saudara telah lama kami tunggu-tunggu. Rombongan Bidadari Sungai Utara telah sampai di sini sejak empat hari yang lalu. Segera masuklah ke dalam, Saudara.”
Dua menjaga gerbang itu kemudian bekerjasama untuk membuka pintu gerbang. Bukan dengan tenaga tangan, bukan pula dengan tenaga luar, melainkan dengan tenaga sihir.
Ditempelkan sebuah Lontar Sihir dengan ukiran yang teramat rumit pada gerbang itu. Hingga muncullah puluhan aksara di permukaan gerbang, sebelum akhirnya terpencar menjadi butiran-butiran cahaya berbarengan dengan dua pintu gerbang itu yang saling bergerak memisahkan diri.
“Silakan Saudara berdua masuk ke dalam, dan selamat datang di Perguruan Angin Putih!”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menjura sebelum melangkah masuk bersama Kana di sampingnya.
__ADS_1
Betapa setelah melewati gerbang, mereka berdua dibuat takjub dengan segala keindahan yang tersaji di dalam perguruan silat besar itu.
Terdapat banyak sekali kolam-kolam berisikan teratai dan ikan beraneka warna, dengan air yang terus mengalir melalui pipa-pipa bambu baik yang tertanam di bawah tanah maupun yang ada di atas permukaan. Gemericik air terdengar begitu syahdu, mampu menenangkan jiwa-jiwa manusia yang berantakan.
Setiap kali Mantingan berkunjung ke Perguruan Angin Putih dan kemudian melihat keindahan luar biasanya dapat menenangkan segala macam sukma, ia kembali teringat akan kehadiran Rara yang dalam keadaan utuh maupun hanya bayang-bayang sahaja.
Suara gadis itu mampu menenangkan jiwanya dalam segala keadaan, bagaikan gemercik air yang meluncur dari pipa-pipa bambu itu.
Ketika ia memandangi keanggunan bangunan-bangunan serba putih di tempat ini, ia teringat akan pakaian Rara yang anggun berkibar tatkala tertiup angin.
Dan tatkala dirasakannya angin segar merayapi tubuhnya, ia merasa berada di dalam buaian gadis itu. Nyaman di dalamnya. Seakan dapat ia mampu tinggal untuk selama-lamanya.
Tetapi betapapun, Rara telah meninggalkannya. Bahkan bayang-bayangnya pun telah meninggalkannya.
Mungkin sebagian dari raganya masih tersimpan di dalam kendi kecil yang sekarang dijadikan mata kalung oleh Mantingan. Tetapi bagaimanakah dengan jiwa gadis itu?
Mantingan teringat kembali ketika dirinya tak mampu menahan diri untuk tidak menempur Penginapan Tanah. Padahal, itulah larangan keras dari Rara yang telah dengan sejelas-jelasnya disampaikan.
Dan begitu Mantingan melanggarnya, bayangan Rara hilang begitu saja. Hilang tiada bersisa. Menyisakan ruang hampa yang tak mungkin dapat diisi kembali dengan sesuatu yang lain.
Mantingan sadar, betapa beratnya nasib yang harus diterimanya jika sudah bersinggungan dengan dunia persilatan.
Menyelamatkan Arkawidya sama saja mencari permusuhan dengan Penginapan Tanah yang tiada terduga merupakan jaringan bawah dunia persilatan. Kiranya, itulah kala pertama Mantingan bersinggungan dengan dunia persilatan.
Dan betapapun, dunia persilatan harus ditempuh melewati jalan yang sepi. Maka segala rasa cinta dan persahabatan harus segera dihilangkan, jika tidak mau hilang dengan sendirinya dan dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.
__ADS_1